Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Serangan Balik Malwageni


__ADS_3

"Jadi mereka benar benar hilang?" tanya Sabrang pelan, raut wajahnya menunjukkan rasa kecewa yang dalam.


Sabrang merasa saat itu dia hanya berjarak satu langkah lagi untuk memusnahkan Masalembo namun tiba tiba harus memulai pengejaran dari awal.


Wardhana yang duduk dihadapannya hanya bisa menunduk sambil menganggukkan kepalanya.


"Hamba mohon maaf Yang mulia atas keputusan yang hamba ambil, namun saat anda tak sadarkan diri, mundur adalah satu satunya jalan yang paling mungkin kita lakukan," balas Wardhana.


Sabrang mengangguk pelan, dia dapat memahami keputusan Wardhana demi melindungi semua orang. Dia hanya kecewa pada dirinya sendiri yang ternyata masih belum cukup kuat.


"Apa mungkin hilangnya tubuh para pemimpin dunia karena mereka telah berhasil mengembangkan ruang dimensi paman?" tanya Sabrang khawatir.


"Hamba masih belum mengerti Yang mulia namun jika petunjuk yang diberikan Arjuna adalah Tidak terlihat walau dekat maka kemungkinan terbesar seperti itu. Mereka berada didekat kita namun di dimensi lain."


"Lalu apa rencana paman selanjutnya?"


"Maaf Yang mulia sepertinya sudah saatnya kita merebut Malwageni."


"Merebut Malwageni?," Sabrang mengernyitkan dahinya, dia memang berencana untuk menyerang Majasari namun setelah urusan dengan Masalembo selesai agar bisa fokus dengan satu musuh.


"Hamba sempat bingung dengan sikap Naraya yang seolah membuat beberapa jalan menuju Masalembo pada kita namun kini hamba paham, Masalembo bukan lawan yang mudah. Mereka menguasai ilmu pengetahuan dan kanuragan sekaligus.


Naraya menyadari itu, dan dia membuat banyak rencana cadangan untuk mengantisipasinya. Kita bukan gagal Yang mulia, kita sudah melangkah semakin dekat sesuai rencana Naraya.


Hamba sedang mencoba mempelajari jurus ruang dan waktu bersama gusti ratu untuk mencari cara menghubungkan ruang dimensi antar pengguna jurus itu, jika hamba berhasil maka kesempatan kita menemukan mereka menjadi lebih besar. Namun mempelajari jurus itu butuh waktu dan ruangan khusus jadi hamba memutuskan pilihan terbaik adalah merebut Malwageni terlebih dahulu sebelum menyerang kembali.


Setelah berhasil merebut kembali Malwageni, hamba ingin menjadikannya sebagai pusat kekuatan baru untuk menekan Masalembo dengan bantuan gulungan milik Naraya," ucap Wardhana pelan.


Sabrang tersenyum lega setelah mendengar rencana yang disusun Wardhana.


"Aku memang selalu bisa mengandalkan paman," ucap Sabrang memuji.


"Hamba hanya menjalankan tugas Yang mulia."


"Lalu kapan rencana penyerangan itu?"


"Setelah purnama Yang mulia, hamba ingin mengincar kelengahan mereka. Tuan Wijaya saat ini sedang menemui patih Jaladara di Saung galah untuk meminta bantuan pasukan. Setelah semuanya siap hamba akan menjelaskan rencananya namun sebelum itu ada sesuatu yang hamba minta jika diizinkan."


"Katakan paman," jawab Sabrang.


"Pertarungan di Masalembo telah menguras banyak energi dan pikiran kita termasuk pasukan angin selatan, saat ini mereka butuh suntikan semangat sebelum kembali memulai perang.


Kehadiran anda pasti akan sangat berpengaruh dalam membangkitkan semangat juang mereka namun jika gusti Ratu muncul mendampingi anda itu akan jauh lebih membakar semangat kami semua Yang mulia."


"Begitu ya...apa Dewi sudah tau masalah ini?"


"Sesuai perintah anda saat itu, hamba sudah menugaskan Candrakurama memimpin Hibata menggantikan gusti Ratu. Acara penobatan sudah hamba persiapkan, tinggal menunggu titah anda Yang mulia namun gusti ratu meminta sesuatu pada anda" jawab Wardhana.


"Meminta sesuatu?" Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Gusti ratu ingin penobatannya bersamaan dengan nona Mentari dan Emmy, hamba dapat memahami perasaan mereka yang tidak ingin saling menyakiti. Hamba harap Yang mulia dapat mengabulkannya," ucap Wardhana pelan.


Sabrang tersenyum kecil setelah mendengar ucapan Wardhana, dia tidak menyangka Tungga dewi sangat memikirkan perasaan Mentari dan Emmy.


"Dia memang selalu seperti itu, jika memang itu yang diminta lakukan saja paman," jawab Sabrang.


Wardhana mengangguk pelan sambil mengeluarkan sebuah gulungan.


"Sesuai aturan dan tradisi Malwageni, mohon tuliskan titah penobatan ratu dan selir kerajaan Yang mulia. Hamba akan mengusahakan besok acara penobatan sudah dapat dilaksanakan karena menurut tetua Brawijaya besok adalah hari yang sangat baik untuk menggelar sebuah acara."


"Baik paman," jawab Sabrang pelan.


***

__ADS_1


Hancurnya sekte pedang ilusi oleh Hibata membuat geger tanah Jawata tak terkecuali Majasari dan Saung galah. Dua kerajaan yang saling berebut pengaruh di dunia persilatan itu tentu mengincar Hibata sebagai partner.


Menghancurkan sekte pedang ilusi dalam satu hari sudah menunjukkan seberapa kuat mereka.


Teliksadi terbaik dari kedua kerajaan itu disebar untuk mencari keberadaan Hibata, mereka menawarkan kekayaan dan kedudukan.


Patih Jaladara bahkan mengutus pasukan elit topeng galah untuk mencari keberadaan Hibata demi mengajak bergabung dengan Saung galah.


Kacaunya dunia persilatan dan renggangnya hubungan Saung galah dengan Malwageni dimanfaatkan dengan baik oleh Pancaka yang sejak awal memang berniat merusak hubungan Malwangeni dengan Saung galah.


Dia menghasut beberapa mentri Saung galah yang memang tamak untuk mendukungnya. Sebagai salah satu pangeran Malwageni, Pancaka meminta mereka untuk memutus hubungan dengan Sabrang dan berbalik mendukungnya dalam merebut Malwageni, dia berjanji jika Malwageni berhasil dikuasainya dia akan tunduk dibawah Saung galah, hal yang tidak akan dilakukan oleh Sabrang.


Beberapa mentri berpengaruh akhirnya menekan Raja Saung galah untuk memutuskan hubungan dengan Sabrang karena bekerja sama dengan Pancaka akan jauh lebih menguntungkan.


"Tuan patih maaf jika aku lancang bertanya, apa tidak sebaiknya pernikahanku dengan tuan putri segera dilaksanakan sebelum kita merebut Malwageni?" tanya Pancaka saat menghadap Jaladara.


"Pernikahan? bukankah permintaan tuan putri sudah jelas, dia akan menikahimu ketika kau dinobatkan sebagai raja Malwageni," balas Jaladara.


"Aku adalah pangeran Malwageni tuan, dan aku memiliki hak yang sama dengan kakang Sabrang. Jika Saung galah membantuku merebut Malwageni lebih dulu daripada dia aku otomatis akan menjadi Raja Malwageni yang baru," jawab Pancaka.


"Kau pikir mudah merebut Malwageni dari Majasari? mereka bukan lawan yang mudah dihadapi, belum lagi perlawanan dari pihak Wardhana. Aku bahkan lebih takut menghadapi Wardhana daripada Majasari.


Bukankah kau sudah berjanji untuk membawa puluhan sekte bergabung dengan Saung galah sebagai perjanjian pernikahan dengan tuan putri, namun sampai hari ini hanya beberapa sekte kecil yang berhasil kau bawa. Kau tidak berfikir itu cukup untuk meyakinkan Saung galah menerimamu bukan?" ucap Jaladara sinis.


Raut wajah Pancaka berubah kecut, dia bukan tidak berusaha mempengaruhi sekte aliran putih untuk bergabung dengannya namun hampir semua sekte aliran putih memilih memihak Sabrang, sebagian lagi memilih netral.


Sulit bagi Pancaka menandingi pengaruh Sabrang saat ini. Sabrang adalah pendekar terkuat Nuswantoro, tak ada yang benar benar gila ingin bersebrangan dengannya.


Sudah menjadi rahasia umum jika sekte besar seperti Tapak es utara, angin biru, Pedang naga api dan tentu saja Rajawali emas berada di pihak Sabrang.


"Kau masih memiliki satu kesempatan jika ingin membuat tuan putri luluh. Saat ini Hibata adalah satu satunya kelompok kuat yang belum memihak siapapun, jika kau bisa membuat mereka bergabung dengan Saung galah maka kakakmu bukan lagi ancaman besar. Bawa Hibata ke Saung galah maka aku akan bicara dengan Yang mulia mengenai pernikahan mu dengan tuan putri."


"Hibata?," tanya Pancaka pelan.


"Beberapa teliksandiku sudah menyebar di dunia persilatan, kau bisa membantuku menemukan mereka. Bukankah kau katakan jika Mandaka adalah pendekar hebat? tak sulit bukan baginya untuk melacak mereka?"


"Jika aku bisa mengajak Hibata bergabung, apakah Yang mulia akan segera mengabulkan pernikahan ku dengan tuan putri?" tanya Pancaka pelan.


"Aku yakin Yang mulia akan mempertimbangkannya, Hibata saat ini menjadi Magnet dunia persilatan dan aku yakin Yang mulia akan senang," jawab Jaladara.


"Akan ku usahakan," ucap Pancaka pelan sambil melangkah keluar ruangan.


Pancaka melangkah gontai di koridor keraton Saung galah sambil mengumpat dalam hati.


Dia hampir saja mempersunting putri mahkota Saung galah namun kehadiran Wijaya kemarin merubah segalanya.


Saung galah sempat berfikir hilangnya Sabrang dan Wardhana beberapa waktu lalu merupakan kesempatan untuk merebut Rogo geni dan menjadikan Pancaka sebagai raja boneka namun kedatangan Wijaya tiba tiba membuat mereka berfikir ribuan kali untuk berhadapan sebagai musuh.


Kepintaran Wardhana bahkan pernah membuat Majasari tak berdaya walau saat itu mereka memiliki ahli siasat terbaik bernama Paksi.


"Dimana aku harus mencari Hibata," gumam Pancaka dalam hati. Mandaka yang berjalan dibelakangnya hanya diam tak berani berkata apa apa.


"Kenapa selalu kakang yang istimewa, apa karena dia adalah anak ratu, lalu aku sebagai keturunan selir tak berhak memiliki apa yang dimilikinya?"


Pancaka larut dalam pikirannya, dia benar benar ingin merebut semua yang dimiliki Sabrang apapun caranya.


***


"Apa? Saung galah membatalkan perjanjian yang kita buat bersama?" suara Wardhana sedikit meninggi setelah mendengar laporan dari Wijaya, andai Sabrang tak ada disebelahnya mungkin Wardhana sudah berteriak saking kesalnya.


Wijaya hanya mengangguk pelan, dia pun sangat terkejut dengan perubahan sikap Saung galah.


"Apa yang membuat mereka berubah pikiran? mereka benar benar tidak dapat dimaafkan," ucap Wardhana geram.

__ADS_1


"Sebenarnya ada satu hal yang ingin hamba sampaikan pada Yang mulia," ujar Wijaya ragu.


"Katakan paman, informasi sekecil apapun akan membantu paman Wardhana mengambil sikap," jawab Sabrang.


"Sebenarnya saat hamba meninggalkan ruangan Jaladara, hamba berpapasan dengan pangeran Pancaka, yang membuat semakin aneh adalah dia menggunakan pakaian kebesaran Saung galah. Hamba tidak berani berasumsi namun sepertinya perubahan sikap Saung galah ada hubungannya dengan pangeran," ucap Wijaya pelan.


"Dia memakai pakaian kebesaran Saung galah? bukankah dia menjadi tahanan mereka? Sabrang tersentak kaget.


"Hamba juga tidak mengerti Yang mulia."


"Paman?" Sabrang menoleh kearah Wardhana.


"Maaf Yang mulia namun sepertinya apa yang dikatakan tuan Wijaya benar, sudah menjadi rahasia umum jika pangeran menginginkan kekuasaan. Sepertinya semua ini ulah pangeran, hamba benar benar tidak mengerti jalan pikirannya, harusnya dia membantu anda sebagai kakaknya," Wardhana terlihat menahan amarah.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?," tanya Sabrang.


"Anda harus tegas Yang mulia, Ayahanda anda pernah membuang selir Anjani ke pengasingan demi melindungi Malwageni. Maaf jika anda tersinggung namun situasinya hampir sama dengan saat itu, saat ini pangeran bisa dikatakan membelot pada Saung galah."


Sabrang terdiam sejenak, selama ini dia berusaha melindungi Pancaka dengan menempatkannya dalam pasukan angin selatan namun Pancaka justru berkhianat.


"Dalam setiap peperangan, akan selalu ada pengkhianat, itu tak akan bisa dihindari namun hamba memiliki jalan keluar untuk menangkap pengkhianat itu Yang mulia," seorang pria muncul dari balik pintu dan langsung berlutut dihadapan Sabrang.


"Maaf jika hamba mencuri dengar, hamba pantas mati," Paksi menundukkan kepalanya.


"Guru?," raut wajah Wardhana berubah seketika saat melihat Paksi berlutut, Lembu sora menyusul dibelakangnya dan tersenyum pada Wardhana.


Wardhana bernafas lega, dia benar benar bersyukur gurunya mau membantu bertempur.


"Paman?" Sabrang meminta penjelasan pada Wardhana.


Wardhana kemudian menjelaskan tentang rencananya dan sikapnya yang meminta bantuan dari Paksi, dia merasa Majasari bukan lawan yang mudah dan bantuan dari Paksi akan sangat berguna bagi Malwageni.


"Namun semua keputusan ada ditangan anda Yang mulia," ucap Wardhana sopan.


"Maaf jika si tua ini lancang Yang mulia, hamba pernah berkhianat pada Yang mulia Arya dwipa, hal yang wajar jika anda tak percaya pada hamba namun jika diizinkan hamba hanya ingin memperbaiki segala kesalahan masa lalu sebelum kematian menjemput," ujar Paksi pelan.


Sabrang terlihat berfikir sejenak, dia sebenarnya sedikit ragu namun karena ini adalah rencana Wardhana, dia pun menyetujuinya.


"Lalu apa rencana paman?" tanya Sabrang pada Paksi.


"Kita hanya perlu datang menemui Jaladara dan sedikit menekannya, hamba sudah sangat mengenal Jaladara, dia akan ragu jika dihadapkan dengan tekanan besar.


Kehadiran murid bodohku ini akan membuat Jaladara bimbang, hamba akan membantu menekan mereka melalui beberapa mentri kenalan hamba. Saung galah saat ini berada dalam posisi tidak menguntungkan, mereka tidak memiliki putra mahkota.


Mengangkat putri akan menimbulkan gejolak dan ketidakseimbangan kekuasaan dan Majasari akan memanfaatkan ini. Situasi mereka saat ini tak akan membuat mereka berani menjadikan kita musuh, tekan mereka dari berbagai sisi maka Saung galah akan tunduk pada anda tanpa harus berperang."


"Lalu apa yang harus kulakukan?," tanya Sabrang.


"Maaf Yang mulia jika merepotkan, anda hanya perlu menghancurkan beberapa pasukan elit Saung galah untuk meruntuhkan mental mereka, sisanya serahkan padaku dan Wardhana namun kita hanya akan datang bertiga untuk menunjukkan seberapa kuat Raja Malwageni walau tanpa pasukan."


Sabrang tersenyum kecil, "Menarik, aku pun sudah tak sabar mencoba pedang baruku," jawab Sabrang berapi api.


"Paman sora dan paman Wijaya persiapkan penobatan Ratu sebaik mungkin, aku ingin penobatan itu dihadiri Saung galah sebagai tanda mereka mengakui Malwageni," perintah Sabrang pada Lembu sora dan Wijaya.


"Hamba menerima perintah Yang mulia," jawab Lembu sora.


"Paman, kita berangkat."


"Baik Yang mulia," jawab Wardhana dan paksi berbarengan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Terima kasih atas dukungannya karena kemarin PNA untuk pertama kalinya menduduki posisi 8 dalam rank Vote...

__ADS_1


Semua ini berkat bantuan kalian semua..


Dan saat ini setelah kembali di reset, PNA masih berada diposisi 53.. Mohon dukungan Votenya kembali jika.merasa cerita ini menarik... terima kasih...


__ADS_2