Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Permintaan Brajamusti


__ADS_3

Tungga dewi tampak berjalan menuju ruangan ketua Tapak es utara dengan wajah bingung. Saat matahari belum menampakkan sinarnya, Sabrang sudah meminta Tungga dewi menemuinya diruang ketua sekte.


Tungga dewi menemukan Sabrang sedang bermeditasi saat memasuki ruangan.


"Yang mulia" ucap Tungga dewi pelan. Wajah Tungga dewi tampak gembira saat melihat kalung pemberiannya melingkar dileher Sabrang.


"Duduklah" balas Sabrang sambil membuka matanya.


"Sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu namun aku harus memastikan sesuatu terlebih dahulu".


"Bantuanku?" Tungga dewi mengernyitkan dahinya.


"Aku ingin kau mempelajari ilmu pedang pemusnah raga" ucap Sabrang tiba tiba.


Tungga dewi tersentak kaget mendengar permintaan Sabrang. Dia sudah pernah mendengar kehebatan pedang pemusnah raga yang konon dapat menghentikan waktu sesaat.


"Anda memintaku mempelajari jurus itu?" tanya Tungga dewi bingung.


"Aku sedang membentuk pasukan khusus untuk menghadapi masalah ini. Paman Wardhana membutuhkan semua informasi tentang Masalembo sekecil apapun untuk membantunya membuat siasat perang. Aku ingin kau memimpin pasukan ini sementara waktu sampai aku menemukan orang yang tepat". Sabrang menarik nafasnya sesaat sebelum melanjutkan ucapannya.


"Pertempuran kali ini akan jauh lebih berbahaya terutama bagi pasukan Hibata, untuk itulah aku memintamu mempelajari pedang pemusnah raga".


"Tapi Yang mulia, bukankah anda dikelilingi oleh para pendekar pilih tanding. Apa tidak sebaiknya anda memilih salah satu dari mereka?".


Sabrang menggeleng pelan "Aku ingin ketua Hibata diisi oleh orang yang kupercaya dan diantara orang yang kupercaya, kau yang memiliki ilmu kanurahan paling tinggi".


Tungga dewi tampak ragu menjawab, bukan karena dia tidak ingin membantu Sabrang namun lebih karena dia takut mengecewakannya".


"Ku harap kau mau membatuku, dan lagi ini hanya untuk sementara Waktu sampai aku menemukan orang yang tepat" ucap Sabrang sambil mengeluarkan gulungan dari pakaiannya. "Itu adalah daftar nama anggota Hibata dari beberapa sekte aliran putih. Mulai hari ini mereka ada dibawah perintahmu".


Tungga dewi tampak tak mampu menolak, dia menganggukkan kepalanya. " Hamba akan berusaha sekuat tenaga tidak mengecewakan Yang mulia".


Sabrang mengangguk pelan sambil menatap Tungga dewi.


"Lalu mengenai perjodohan yang dilakukan orang tua kita bagaimana menurutmu?".


"Yang mulia" Tungga dewi menundukkan kepalanya, dia tak berani menatap Sabrang.


"Apa kau tidak menginginkannya?" tanya Sabrang.


"Bu.. bukan seperti itu Yang mulia" jawab Tungga dewi gugup.


Sabrang tersenyum melihat reaksi Tungga dewi. "Jika kau tidak menginginkannya jangan paksakan. Aku sudah sangat berterima kasih kau mau membantuku".


"Hamba akan mengikuti apa yang ibu dan Yang mulia Ratu inginkan".


Sabrang mengangguk lega, dia merasa keputusannya menunjuk Tungga dewi sebagai ketua sementara Hibata sudah tepat.


"Ikut denganku, aku akan mulai mengajarkan pedang pemusnah raga padamu".


"Baik Yang mulia". jawab Tungga Dewi pelan.


***

__ADS_1


"Sepertinya anda sudah pulih tuan Adipati" ucap Brajamusti saat menyambut kedatangan Wardhana bersama Ciha.


"Semua berkat pil obat Angin biru yang anda berikan tetua" balas Wardhana sambil menundukkan kepalanya.


"Jadi siapa yang dipilihnya sebagai ketua Hibata?" tanya Brajamusti penasaran.


"Nona Tungga dewi" balas Wardhana.


Brajamusti terlihat mengangguk setuju "Pilihannya saat ini sudah tepat, tak mudah mencari orang yang dia percaya saat ini dalam waktu singkat. Tungga dewi pilihan yang terbaik saat ini karena selain ilmu kanuragannya sudah meningkat, dia juga akan menjadi istrinya".


"Istri Yang mulia?" Wardhana tersentak kaget setelah mendengar ucapan Brajamusti.


"Orang tua mereka adalah sahabat lama dan kebetulan ibu Tungga dewi adalah muridku. Mereka telah dijodohkan sejak lahir. Dia sudah mulai pintar dalam memainkan perannya sebagai calon Raja Malwageni".


"Hibata adalah organisasi yang terpisah dari Malwageni dan hanya beberapa orang saja yang tau mengenai masalah ini, aku harap tetua dapat membimbing nona Tungga dewi".


"Tak perlu ada yang dicemaskan dari gadis itu, selain energi langka yang ada didalam tubuhnya dia adalah gadis yang sangat berbakat jauh melebihi ibunya. Dia akan jauh lebih berkembang dibawah bimbingan Sabrang".


"Lalu apa yang anda ingin bicarakan denganku tetua?" tanya Wardhana.


"Sebenarnya ini mengenai Angin biru dan pengunduran diriku dari dunia persilatan saat masalah ini selesai". Brajamusti memejamkan matanya sesaat sebelum melanjutkan ucapannya.


"Aku berencana mundur dari dunia persilatan dan hidup tenang menghabiskan masa tuaku disuatu tempat. Awalnya aku ingin menjadikan Tungga dewi sebagai penerusku karena ibunya adalah muridku namun saat ini dia adalah ketua Rajawali emas dan mungkin calon Ratu Malwageni.


Aku sudah memikirkannya secara matang beberapa hari ini dan aku ingin meminta anda untuk menggantikanku sebagai ketua Sekte Angin biru".


"Aku menggantikan anda tetua?" ucap Wardhana terkejut.


Salah satu muridku telah kutunjuk untuk menggantikanku sementara waktu sampai aku kembali. Setelah urusan anda selesai kuharap anda menyempatkan waktu membantuku mengurus Angin biru, dengan kemampuan yang anda miliki aku yakin Angin biru akan berkembang lebih besar".


"Tapi tetua, kemampuan ilmu kanuraganku jauh dibawah anda bahkan mungkin dibawah murid murid anda".


Brajamusti mengambil sebuah kitab dalam sakunya dan memberikan pada Wardhana. "Itu adalah kitab ilmu kanuragan Angin biru, aku menulis semua jurusku disana. Anda mengatakan jika pertempuran kali ini akan sangat berbahaya dan anda perlu meningkatkan ilmu kanuragan jika ingin membantu Sabrang. Pelajari kitab itu dan bantu Angin biru berkembang pesat, kuharap anda mau mengabulkan permintaanku".


Wardhana terdiam mendengar permintaan Brajamusti. Dia sangat terkejut Brajamusti tiba tiba memilihnya sebagai penerusnya.


Wardhana sebenarnya ingin berkonsentrasi penuh membantu Sabrang namun jika Angin biru yang selama ini selalu memutuskan netral bisa bergabung maka akan menambah kekuatan Malwageni.


"Jika memang anda percaya padaku maka tak ada alasanku menolaknya namun kuharap dalam beberapa waktu kedepan anda mau membimbingku".


Brajamusti mengangguk pelan "Jadikanlah Angin biru sebagai penyeimbang dunia persilatan. Kadang ambisi dan kekuasaan bisa mengaburkan aliran putih dan hitam, aku percayakan Angin biru padamu".


"Terima kasih ketua" Wardhana menundukan kepalanya.


***


"Dia benar benar meningkat pesat" Sabrang menggunakan Mata bulannya untuk menghindari serangan Tungga dewi. Bukan hal mudah menghindari pedang pemusnah raga dengan mata biasa walau Tungga dewi baru menguasai beberapa jurus saja.


"Yang mulia" Tungga dewi tampak sedikit khawatir.


"Tidak apa apa, gunakan seluruh tenaga dalammu. Aku ingin melihat sejauh mana kau menguasainya". Sabrang menajamkan mata bulannya sebelum menyerang Tungga dewi.


Sabrang hanya menggunakan sedikit tenaga dalamnya kali ini karena Tungga dewi masih dalam tahap awal latihannya.

__ADS_1


Pertarungan sepasang pendekar ini cukup sengit, Tungga dewi terlihat mulai bisa memaksimalkan energi murni dalam tubuhnya dan sesekali menekan Sanbrang.


Sabrang menciptakan beberapa energi keris untuk membalas serangan dan membatasi gerakan Tungga dewi. Dia menarik energi keris itu sambil bergerak mendekat.


Pandangan mata mereka tak sengaja saling bertemu saat Sabrang mendekat membuat konsentrasi Tungga dewi hilang seketika. Dia terlihat mematung dan tidak berusaha menghindar sedikitpun.


"Apa yang kau lakukan" umpat Sabrang sambil meningkatkan kecepatannya. Dia menarik tubuh Tungga dewi dan memeluknya untuk melindungi serangan energi keris yang terlanjur dia lepaskan.


Sabrang dengan cepat memusatkan tenaga dalam dimatanya sebelum memindahkannya dalam ruang dan waktu mata bulan.


Raut wajah Tungga dewi makin memerah dalam pelukan Sabrang.


"Kau baik baik saja?" tanya Sabrang khawatir.


Tungga dewi hanya mengangguk pelan "Maaf" ucapnya pelan.


"Sebaiknya kita beristirahat dulu" ucap Sabrang sambil melepaskan pelukannya.


"Hampir saja aku melukainya" gumam Sabrang dalam hati.


***


"Apa aku terlalu keras padamu?" tanya Sabrang saat mereka beristirahat dibawah pohon.


Tungga dewi menggeleng pelan "Tidak Yang mulia".


"Lawan yang akan kita hadapi kali ini sangat berbeda dengan yang selama ini kita hadapi. Aku hanya ingin kau secepatnya menguasai jurus pedang pemusnah raga".


"Hamba mengerti Yang mulia, hamba akan berusaha menguasai pedang pemusnah raga secepatnya".


"Terima kasih dan maaf aku selalu merepotkanmu".


"Anda jangan berkata seperti itu Yang mulia, hamba sama sekali tidak merasa direpotkan".


"Syukurlah" balas Sabrang lega.


"Yang mulia, sebenarnya ada yang ingin hamba katakan pada anda" ucap Tungga dewi tiba tiba.


"Katakanlah".


"Setelah anda memintaku memimpin Hibata, beberapa hari ini hamba sudah berfikir. Hamba akan mengundurkan diri dari ketua Rajawali emas dan berkonsentrasi di Hibata. Aku sudah meminta bibi Lasmini untuk menggantikanku".


"Kau yakin dengan keputusanmu?".


"Aku ingin membantu anda membesarkan Hibata, lagipula aku merasa bibi Lasmini jauh lebih layak memimpin Rajawali emas".


"Baikah, jika itu bisa meringankan bebanmu aku akan mendukungnya".


"Terima kasih Yang mulia" jawab Tungga dewi pelan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Vote Mbang

__ADS_1


__ADS_2