Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Keanehan Kuil Khayangan


__ADS_3

Aula tamu milik Saung Galah terletak di sisi selatan keraton utama, letaknya yang sedikit terpencil membuat suasana begitu tenang. Hanya ada beberapa prajurit yang berjaga di gerbang utama aula.


Agam yang sedang berada di salah satu kamar tampak menutup kitab Sabdo Loji setelah merasakan kehadiran seseorang.


"Ku harap kau memiliki alasan yang kuat menggangguku malam malam begini," ucap Agam tiba tiba.


Tak lama seorang pendekar yang mengenakan topeng memasuki ruangan itu, dia terlihat menundukkan kepalanya sebelum mulai bicara.


"Naradipta memberi hormat pada ketua," ucapnya sopan.


"Apa terjadi sesuatu?" balas Agam cepat.


"Maaf ketua, aku ingin menyampaikan hal penting pada anda, Iblis api muncul di sekitar Kuil Khayangan," jawab Naradipta.


"Iblis api muncul di dekat kuil khayangan? apa kau yakin?" tanya Agam terkejut.


"Aku melihatnya sendiri dia sedang bertarung dengan seorang pendekar misterius," balas Naradipta.


"Apakah pendekar Kalang yang menjadi lawannya?"


"Aku tidak tau tuan karena suasana malam saat itu sangat gelap tapi yang pasti lawannya tak mampu berbuat banyak," jawab Naradipta.


Agam mengangguk pelan, "Jadi dia memang masih hidup ya, apa yang sebenarnya dia lakukan di tempat itu."


"Apa mungkin dia sudah mengetahui rahasia di dalam kuil itu ketua?"


"Tidak mungkin, hanya kitab Sabdo loji yang menyimpan rahasia kuil Khayangan kecuali mereka sendiri yang memberitahukannya," balas Agam geram.


"Jadi maksud anda?"


"Sepertinya Hanggareksa tidak berhasil mengalahkan mereka dan mungkin terjadi sesuatu dalam pertarungan itu. Jika iblis api sampai ikut campur maka masalah ini akan menjadi jauh lebih rumit," jawab Agam sambil menggeleng pelan.


Agam memang sengaja mengusik Malwageni agar perhatian Sabrang teralihkan dari kuil khayangan dan sibuk memecahkan misteri dalam kitab Sabdo Loji palsu yang sengaja diletakkannya di makam kuno.


Dia yang mulai mengamati Sabrang setelah kabar pertarungannya di Dieng merasa sedikit khawatir saat mengetahui mereka masuk ke Nagari Siang padang terlebih dengan kehadiran Wardhana di sisinya.


Dia takut Wardhana menemukan petunjuk mengenai peradaban terlarang di tempat yang dulu mereka gunakan bersembunyi itu.


"Lalu apa yang akan kita lakukan ketua?" tanya Naradipta.


"Sebaiknya kita jangan bergerak dulu karena akan sangat sulit jika harus berhadapan dengan iblis api di saat seperti ini, masih ada beberapa hal yang harus kulakukan untuk membuat ayah semakin kuat termasuk mencari keberadaan pusaka Bilah Gelombang.


Kau awasi mereka dari jauh untuk sementara waktu dan laporkan padaku jika terjadi sesuatu di kuil itu. Sebelum ayah selesai mempersiapkan semuanya, kita hanya bergerak ketika terpaksa," jawab Agam pelan.


"Baik ketua," jawab Naradipta cepat.


"Wardhana, siapa kau sebenarnya? seumur hidupku baru kali ini aku tidak bisa membaca gerakan orang, sangat disayangkan kau tidak berada di pihak kami," ucap Agam dalam hati sambil menarik nafas panjang. Sudah terbayang dalam pikirannya betapa sulit berhadapan dengan semua siasat licik Wardhana.


"Apa aku harus membunuhnya?" Agam larut dalam pikirannya dan tanpa sadar tertidur di sebuah kursi.


***


Wardhana menatap keluar dari celah yang ada di sudut kamarnya, suasana di sekitar danau purba itu tampak sedikit terang akibat pantulan sinar bulan.


"Besok malam, bulan purnama akan mencapai puncaknya dan itu artinya Ajidarma akan duduk semalaman di puncak Kuil... apa yang sebenarnya ingin dilihatnya dari puncak Kuil Khayangan itu?" ucap Wardhana dalam hati.

__ADS_1


Saat Wardhana sedang berfikir, pintu kamarnya tiba tiba diketuk.


"Tuan," panggil Cokro pelan.


"Masuklah," balas Wardhana pelan.


Cokro kemudian membuka pintu kamar dan melangkah masuk.


"Maaf tuan aku sedikit terlambat," ucap Cokro.


"Ayo kita pergi," jawab Wardhana singkat, dia sudah tidak sabar untuk melihat pemandangan danau dari puncak Kuil Khayangan saat bulan purnama.


Kuil Khayangan terdiri dari lima teras berundak yang semuanya di hubungkan oleh tangga batu. Setiap teras terdapat beberapa bangunan kecil yang semuanya menghadap ke arah matahari terbit.


Satu yang akhirnya disadari Wardhana, bebatuan yang digunakan untuk membangun kuil khayangan sama persis dengan bebatuan yang ada di Kuil khayangan dan Kenteng Songo.


Setelah menaiki puluhan anak tangga, mereka akhirnya sampai di puncak Kuil. Wardhana tampak takjub saat melihat pemandangan di sekitarnya dari atas. Kuil Khayangan seperti bunga teratai yang terapung di atas air.


"Kuil ini berbeda dari dua bangunan lainnya, jika kenteng songo dan Nagari siang padang dikelilingi oleh sungai, tempat ini benar benar dibangun di atas air," ucap Wardhana dalam hati.


Wardhana sebenarnya sudah bisa sedikit menebak jika semua bangunan peninggalan peradaban terlarang selalu berhubungan dengan air dan sinar bulan tapi dia tidak menyangka Kuil Khayangan dibangun tepat di atas air yang menyebabkan sinar bulan tidak terfokus di satu titik seperti di kenteng songo.


"Apa mungkin kali ini tidak berhubungan dengan sinar bulan?"


Wardhana kemudian melangkah mendekati salah satu bangunan kecil di puncak kuil dan menatap ke arah barat.


"Tuan Agung biasanya duduk di sini sepanjang malam saat purnama mencapai puncaknya," ucap Cokro sambil menunjuk sebuah batu besar di pinggir bangunan.


"Apa selalu setiap purnama?" Wardhana menoleh dan melangkah mendekati batu itu.


"Apa dia pernah mengatakan sesuatu padamu?" tanya Wardhana sambil duduk di batu itu. Dia mencoba memperkirakan apa yang sebenarnya yang dilihat Ajidarma.


"Tuan Agung tak pernah bicara sepatah katapun saat dia duduk di sini namun saat tuan Arda Sukma menghilang bersama kitab Sabdo Loji dia pernah mengatakan jika Tuan Sukma telah melakukan kesalahan besar, tak ada yang bisa menghalangi sinar bulan membuka apa yang telah terkubur walau kuncinya hilang sekalipun.


Aku tidak tau apa maksud ucapannya karena dia tidak pernah menjelaskan maksud kata kata itu tapi malam itu, untuk pertama kalinya tuan agung turun dari tempat ini sebelum pagi tiba," jawab Cokro pelan.


"Sinar bulan ya...sudah kuduga, semua bangunan peninggalan peradaban terlarang selalu berhubungan dengan sinar bulan," Wardhana terus menatap ke segala arah dan sesekali kepalanya mendongak keatas melihat bulan.


Cukup lama Wardhana duduk mematung di atas batu itu sambil berfikir tapi sampai pagi hampir tiba dia masih belum mengerti apa yang sebenarnya dilihat Ajidarma.


"Apa kau ingat kemana arah pandangan mata tuan Darma jika sedang duduk di tempat ini?" tanya Wardhana pelan.


"Arah pandangannya? aku tidak terlalu memperhatikannya tuan tapi jika aku tidak salah ingat ketika hampir di penghujung malam, dia selalu menatap ke arah barat," jawab Ajidarma.


"Penghujung malam? tunggu dulu... sinar bulan biasanya menghilang di saat penghujung malam kecuali ketika purnama mencapai puncaknya yang justru semakin terang sebelum tenggelam dan berganti pagi. Jika dia menatap kearah barat dan bulan sedang berada di posisi sekarang berarti..." Wardhana terlihat menoleh ke segala arah sebelum pandangannya terhenti di satu titik.


Wardhana mengernyitkan dahinya saat melihat gelembung gelembung air kecil tepat berada di tengah danau purba itu. Dia menoleh ke sekitarnya untuk mencari gelembung air lainnya tapi tidak ditemukan.


"Bagaimana gelembung itu bisa muncul saat kondisi air danau sangat tenang, atau jangan jangan ada udara di dasar danau itu?" ucapnya dalam hati.


Wardhana kemudian mencari batu kecil dan melemparnya tepat di gelembung air itu.


"Apa anda menemukan sesuatu tuan?" tanya Cokro penasaran.


"Aku tidak yakin karena harus ku pastikan terlebih dahulu. Kau pernah mengatakan jika lantai di kamar tuan Ajidarma seperti membentuk suatu simbol bukan?"

__ADS_1


Cokro mengangguk pelan, "Simbol aneh seperti gambar bulan purnama, air dan puluhan orang memegang pedang."


"Besok adalah puncak purnama dan tuan Agung akan duduk semalaman di tempat ini, apa aku bisa masuk diam diam untuk memeriksanya?" tanya Wardhana pelan.


"Aku tidak yakin tuan, kamar itu selalu di jaga para pendekar Kalang kepercayaannya, akan sulit meminta izin pada mereka," balas Cokro cepat.


"Bukankah kalian satu keluarga di bawah pimpinan Hanggareksa? sepertinya tak akan menjadi masalah jika aku meminta padanya," jawab Wardhana.


"Tidak semudah itu tuan," Cokro terlihat ragu untuk menjelaskan sesuatu.


"Sejak tuan Arda Sukma menghilang bersama kitab Sabdo Loji, sebagian pendekar kalang seolah menyalahkan tuan Hanggareksa atas kelakuan adiknya. Beberapa pendekar bahkan terang terangan menunjukkan ketidaksukaan pada ketua, dan entah kebetulan atau tidak mereka adalah orang kepercayaan tuan Agung. Sejak saat itu pendekar Kalang seolah terbelah menjadi dua.


Anda adalah orang baru dan juga keturunan tuan Sukma yang sampai saat ini di anggap sebagai pengkhianat, sepertinya cukup sulit meminta mereka memberi jalan untuk menyelidiki kamar tuan agung," jawab Cokro.


Wardhana cukup terkejut mendengar pengakuan Cokro, dia tidak menyangka jika di dalam tubuh pendekar Kalang pun terbelah dua.


"Apa tidak ada cara lain untuk aku masuk? aku yakin ada petunjuk penting di kamar itu tentang semua misteri besar ini," ucap Wardhana cepat.


"Sebenarnya ada satu jalan untuk masuk ke kamar itu tanpa melewati penjagaan mereka tapi ini akan sangat berbahaya," balas Cokro ragu.


"Katakanlah, akan jauh lebih berbahaya jika aku tidak berhasil membongkar semua misteri ini karena aku yakin sesuatu sedang disembunyikan oleh pemimpin tertinggi kalian," jawab Wardhana.


"Kamar tuan Agung berada di teras ke empat atau satu tingkat lagi dari puncak kuil dan itu artinya kamarnya berada di tempat yang cukup tinggi. Teras keempat adalah tempat yang paling banyak terdapat bangunan.


Terdapat sebuah celah kecil diantara bangunan itu yang biasa digunakan ketua untuk bertapa. Jika anda masuk ke celah itu, ada sisa pinggiran teras yang bisa di gunakan untuk merayap kearah jendela luar kamar tuan Agung.


Namun jika pijakan kaki tergelincir sedikit saja, anda akan jatuh ke danau yang dingin itu dan tuan Agung pasti langsung menyadarinya. Belum lagi pantulan bayangan anda oleh sinar bulan di air danau akan terlihat oleh tuan Agung. Anda harus bergerak di waktu yang paling tepat tuan," ucap Cokro khawatir.


"Apakah jendela kamarnya tidak terkunci?" tanya Wardhana.


"Tuan agung tidak pernah mengunci kamarnya karena dijaga hampir separuh pendekar Kalang disaat seperti ini," jawab Cokro.


"Baik, besok malam aku akan masuk," jawab Wardhana cepat.


"Tapi tuan, jatuh ke dalam danau malam hari akan sangat berbahaya. Tubuh anda akan langsung membeku sebelum tenggelam ke dasar danau."


"Langsung membeku dengan kondisi hutan yang tidak terlalu dingin ini?" ucap Wardhana terkejut.


"Itulah yang terjadi tuan, pernah ada salah satu pendekar kalang yang sedang berjaga terpeleset dan jatuh ke danau itu, besoknya dia ditemukan mengapung dengan tubuh diselimuti bongkahan es. Sepertinya udara di tempat ini memang unik karena jauh lebih dingin dari hutan lainnya," jawab Cokro.


Senyum Wardhana langsung mengembang seolah mengetahui sesuatu.


"Tidak mungkin dengan suhu udara khas Jawata yang cukup panas bisa membekukan orang dalam sekejap, jika memang tempat ini sangat dingin pasti ada yang menciptakannya dengan suatu cara dan aku akan membongkar semua keanehan tempat ini cepat atau lambat," balas Wardhana yakin.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Selamat siang dan selamat meratapi nasib di pojokan kamar sambil menatap foto mantan yang sudah menjadi milik orang.


Sakit? pasti.... tapi jangan berputus asa, pepatah mengatakan jika barang BAGUS DAN MAHAL pasti akan sulit terjual seperti mobil sport yang berharga miliaran. Begitu juga dengan para Jomblowan jomblowati...


Tapi kalau sampai gak laku laku sudah setua ini berarti kalian Barang rekondisi wkwkwkwkw


Yuk dari pada bermuram durja dan sesekali melirik botol obat nyamuk di pojokan kamar lebih baik bantu Vote Pedang Naga Api yang sedang ikut lomba..Gw doain cepet dapet jodoh, disayang mertua dan istri tetangga...


Bonus Chapter kemungkinan malam hari....

__ADS_1


terakhir.. buat teman teman, khusus hari ini mungkin saya tidak bisa membalas semua komentar kalian karena sedang ada acara, mohon dimengerti.....


__ADS_2