Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Jalan yang dipilih Naraya dan Arjuna


__ADS_3

Kuntala terlihat memasuki ruangan kehidupan dengan tergesa-gesa didampingi tiga dewa penjaga yang tersisa. Ratusan pendekar Masalembo dan prajurit abadi berjaga mengelilingi bangunan kehidupan.


Dua orang tampak menyambut Kuntala sambil menundukkan kepalanya.


"Selamat datang komandan," sambut mereka.


Kuntala hanya mengangguk dan langsung masuk kedalam ruangan khusus yang berisi sepuluh tubuh dewa Kumari kandam yang tersimpan didalam bongkahan es.


Sebuah energi hitam pekat tampak menyelimuti bongkahan es tersebut.


"Bagaimana persiapannya?" tanya Kuntala pelan.


"Kebangkitan mereka sudah masuk tahap akhir tuan, saat ini sedang dalam proses memasukkan energi Mariaban, beberapa jam lagi mereka akan bangkit," jawab salah satu pendekar sambil menunjuk aura hitam yang menyelimuti bongkahan es.


"Apa kau sudah memasukkan apa yang kuminta?" tanya Kuntala lagi.


Pendekar itu menundukkan kepalanya, "Mereka akan menjadi pendekar tak tertandingi kali ini, energi Mariaban akan membuat mereka memiliki kekuatan seperti trah Dwipa."


"Percepat kebangkitan mereka, musuh sudah semakin dekat, aku ingin mereka semua dihancurkan," perintah Kuntala.


"Baik komandan," jawab prajurit tersebut.


Semua terlihat menunduk saat Kuntala bicara, tak terkecuali para dewa penjaga Masalembo. Hal yang wajar mengingat Kuntala adalah pemimpin tertinggi Masalembo selama para pemimpin dunia belum bangkit.


Kekuatannya yang sangat tinggi ditambah dialah satu satunya hasil percobaan yang meminum ramuan Amrita dan soma membuatnya semakin ditakuti.


Kuntala tampak memejamkan matanya sambil menarik nafas panjang, dia kembali teringat pada persahabatannya dengan dua orang yang menjadi pengkhianat Masalembo.


Kuntala, Arjuna dan Naraya memang tumbuh bersama dan menjadi sahabat sejak kecil. Kedekatan keluarga mereka yang merupakan pemimpin tertinggi Malasembo atau biasa disebut para pemimpin dunia membuat mereka cepat menjadi dekat.


Lima pemimpin dunia memang berasal dari tiga trah besar yang memiliki kemampuan istimewa. Jika trah Dwipa memiliki tubuh tujuh bintang dan mata bulan, trah Tumerah yang merupakan keluarga Arjuna memiliki energi murni yang tidak terbatas dan ilmu telepati. Sedangkan trah Ampleng, keluarga Kuntala memiliki keistimewaan tenaga dalam yang besar dan dapat mengendalikan benda apapun yang ada disekitarnya.


"Kalian telah salah memilih jalan hidup, harusnya dengan kekuatan kita bertiga dunia akan takluk dikaki Masalembo," gumam Kuntala sambil mengingat kembali sesaat sebelum sahabatnya terbunuh di daratan Hujung tanah.


***


Candrakurama tiba tiba melesat dan bergerak lincah diantara bangunan sebelum melompat dan menyambar tubuh Sabrang ketika Sabrang tiba tiba terjatuh saat dia bergerak diudara.


"Yang Mulia," teriak Wardhana panik.


Saat Candrakurama hendak mendarat di tanah tiba tiba tubuhnya terpental dan membentur bangunan akibat dorongan aura aneh yang meluap dari tubuh Sabrang.


"Jangan dekati dia," teriak Candrakurama saat Wardhana bergerak mendekati tubuh Sabrang yang masih melayang diudara.


Langkah Wardhana terhenti dam menoleh kearah Candrakurama.


"Aura aneh itu bisa membunuhmu," ucap Candrakurama sambil mengalirkan tenaga dalamnya.


"Aura apa itu? kenapa bisa bisa muncul dari tubuh Yang mulia," tanya Wardhana khawatir.


"Energi murni, energi itu hampir mirip dengan milikku namun jauh lebih kuat," jawab Tungga dewi pelan.


"Energi murni?" Wardhana mengernyitkan dahinya.


"Tidak mungkin, tidak mungkin segel itu aktif saat ini," ucap Eyang wesi dengan wajah terkejut.


"Segel?," Anom bertanya bingung.


"Arjuna adalah pengguna pedang Megantara pertama walau Naraya yang membuat perjanjian denganku dan menciptakan pusaka Megantara.


Saat mengetahui ambisi Masalembo yang mengerikan, Naraya memutuskan membuat sebuah pedang yang bisa melawan keabadian dan menciptakan jurus pedang jiwa, namun saat itu kemampuannya belum cukup karena dia masih sangat muda.


Naraya memutuskan menyegelku di gunung merapi karena Masalembo juga mengincarku sebagai salah satu elemen untuk membangkitkan para pemimpin dunia. Naraya hanya mengambil sedikit kekuatanku untuk menciptakan pedang pusaka Megantara.


Disaat pusaka Megantara hancur, Arjuna menyegel energi murninya kedalam energiku sebelum aku kembali ke gunung Merapi. Segel itu hanya bisa aktif jika seluruh kekuatanku masuk kedalam tubuh pengguna baruku namun bagaimana anak ini mampu mengaktifkan segel Arjuna?," ucap Eyang wesi bingung.


Tubuh Sabrang masih melayang di udara, matanya bersinar terang dan tak lama tubuhnya bergetar hebat.


"Kita harus membantunya," ucap Mentari sambil bergerak maju diikuti Tungga dewi, namun langkah mereka terhenti ketika puluhan energi keris muncul dihadapan mereka dan siap menyerang.


"Yang mulia," gumam Mentari pelan.


"Dimana aku?," Sabrang mengernyitkan dahinya saat melihat rumput hijau disekelilingnya.


"Seingatku tadi aku sedang bergerak menuju ruang kehidupan, bagaimana aku tiba tiba berada disini?" gumamnya.

__ADS_1


Wajah Sabrang terkejut ketika ada sebuah pertarungan dihadapannya dan dia mengenali salah satu pendekar sebagai Naraya Dwipa, orang yang menemuinya saat berada diatas kapal.


"Naraya?," Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Kembalilah kawan, aku akan mempertaruhkan kepalaku untuk meminta pengampunanmu pada Masalembo," ucap Kuntala lirih sambil menatap Naraya yang sudah terluka parah.


Naraya tertawa lantang saat mendengar ajakan sahabatnya itu. "Apa yang kita lakukan selama ini salah Kuntala, keinginan hidup abadi merubah kita menjadi monster, aku melihatnya sendiri dari perubahan sikap ayah. Melawan garis hidup dengan mencoba hidup abadi akan membuat alam murka, tanpa harus abadi kita masih bisa menikmati hidup bahkan kita akan jauh lebih menghargainya".


"Apa aku terlihat berubah setelah meminum ramuan Amrita dan soma? aku akan tetap menjadi sahabatmu bersama Arjuna, kumohon kembalilah pada kami," ucap Kuntala sambil melirik Arjuna yang mematung menatap Naraya.


"Sifat manusia akan selalu berubah seiring dengan kekuatan yang dimilikinya, semakin besar kekuatan akan membuat ambisinya juga membesar. Mungkin saat ini kau belum merasakannya namun perlahan kau akan berubah, itu yang terjadi dengan ayahku dan ayah kalian," balas Naraya.


"Apa kita salah jika menguasai dunia? kita dilahirkan dengan semua keistimewaan dan itu kehendak alam, bukankah itu artinya alam merestui?


"Kau salah Kuntala, kita diberi keistimewaan bukan untuk melakukan segala percobaan demi ambisi dan menguasai dunia, tapi menggunakannya untuk melindungi alam dan isinya. Alam tak akan pernah menentang garis hidup."


Kuntala menggeleng pelan dengan wajah menyesal. "Prinsip kita sudah jauh berbeda namun aku benar benar tidak menyangka harus membunuh sahabatku sendiri. Kemampuanmu sebenarnya jauh di atasku, kau menyianyiakan bakat besarmu," Kuntala merapal jurusnya sebelum bergerak menyerang.


Naraya hanya tersenyum pasrah, tubuhnya sudah tidak dapat digerakkan lagi.


"Mati ditangan sahabat baikku sepertinya tak terlalu buruk," gumamnya.


Saat pedang Kuntala hampir memenggal Naraya, tiba tiba Arjuna sudah muncul dihadapannya dan mematahkan serangan Kuntala dengan mudah, lengan kiri Arjuna menghantam tubuh Kuntala hingga terdorong beberapa meter.


Kekuatan Arjuna memang diatas kedua sabahatnya itu, energi murni tak terbatas dalam tubuhnya bahkan bisa mengalahkan trah Dwipa sekalipun.


"Arjuna, apa yang kau lakukan? kau ingin berkhianat seperti dirinya?" teriak Kuntala.


"Apa kau bergurau? aku bisa membunuh kalian semua saat ini jika aku berniat berkhianat, kau harus mengukur kemampuanmu jika bicara padaku," ejek Arjuna.


Kuntala terdiam, dia sangat paham Arjuna tidak bicara omong kosong. Kemampuannya memang diatas dirinya dan Naraya.


Arjuna menarik pedangnya, lengan kirinya menyentuh tubuh Naraya.


"Telepati?" Naraya mengernyitkan dahinya.


"Apa yang kau lakukan membuatku sangat repot, trah Dwipa selalu menggunakan kekuatan tanpa berfikir sedikitpun. Akan sangat baik jika kau memiliki rencana terlebih dahulu sebelum bertindak karena lawan yang kau hadapi adalah Masalembo," ucap Arjuna dalam pikiran Naraya.


"Kau?," balas Naraya pelan.


Naraya merasakan energi murni mengalir ditubuhnya diantara rasa sakit akibat tusukan pedang. "Aku harus membunuhmu atau rencanaku bisa hancur berantakan namun aku mengalirkan energi murniku untuk membantumu hidup beberapa jam, lakukan apa yang harus kau lakukan dengan sisa hidupmu," ucap Arjuna sambil menarik pedangnya.


"Terima kasih kawan, pergilah ke gua rahasia tempat kita bertiga bermain bersama dulu, aku menyembunyikan sebuah pusaka buatanku. Walau belum sempurna namun kurasa bisa membantumu. Sekali lagi terima kasih, senang mati ditangan orang yang memiliki pikiran yang sama denganku," tubuh Naraya roboh ketanah, dia menutup matanya untuk mengelabui Kuntala.


Arjuna berjalan mendekati Kuntala sambil menatap tajam.


"Dia adalah sahabat kita dari kecil, kau harus memberinya kematian terhormat," ucap Arjuna dingin sambil melangkah pergi meninggalkan Kuntala dan dewa penjaga Masalembo lainnya.


Pertarungan tiga sahabat itu tiba tiba hilang dari pandangan Sabrang dan berganti menjadi sesosok pria tegap yang memandangnya heran.


"Kau bukan keturunan murniku, bagaimana kau bisa mengaktifkan segel yang kubuat?," ucap pria itu bingung.


"Segel?," Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Lupakan, boleh kuperiksa tanganmu?," tanya pria itu sopan.


"Anda siapa?," tanya Sabrang pelan.


"Kau boleh memanggilku Arjuna, berikan tanganmu," balas Arjuna.


"Arjuna?," gumam Sabrang sambil mengingat nama itu.


Arjuna memeriksa energi ditubuh Sabrang dan tersentak kaget.


"Bagaimana kau memiliki energi Dwipa? apa kau hasil percobaan mereka?," tanya Arjuna.


Sabrang menggeleng pelan, "Ayahku adalah Arya dwipa dan ibuku bernama Sekar pitaloka yang merupakan trah Tumerah, apa ada yang salah?," jawab Sabrang.


Arjuna tampak terkejut sebelum tertawa keras sambil menatap Sabrang.


"Ketika leluhurnya gagal, alam memiliki rencana lain dengan menyatukan dua trah menjadi satu. Kini aku paham bagaimana segelku bisa aktif walau energi Eyang wesi kecil ditubuhmu, tahanlah sebentar ada yang harus kulakukan sebelum segelku habis," Arjuna menyentuh punggung Sabrang dan mengalirkan sisa energi dalam tubuhnya.


"Ibumu sepertinya wanita yang sangat pintar, dia memasukkan energi murni untuk menekan sisi gelap Mariaban milik trah Dwipa namun itu belum cukup untuk menekan Mariaban, dia akan bangkit lagi saat kau lemah.


Aku cukup terkejut kau masih bisa hidup dengan banyak energi ditubuh mu, kau benar benar bodoh," Arjuna menarik pedang Naga api dan keris penguasa kegelapan dari tubuh Sabrang dan menancapkan nya di tanah.

__ADS_1


"Energi iblis api dan iblis kegelapan adalah dua energi yang tak bisa menyatu tanpa energi murni, tubuhmu perlahan akan rusak jika dua energi ini terus bertentangan," Arjuna terlihat mengalirkan energinya kedalam dua pusaka Dieng itu.


Tak lama muncul tiga sosok energi dihadapan Arjuna.


"Lama tak jumpa Megantara," ucap Arjuna tersenyum.


"Keturunanmu benar benar membuatku kagum Arjuna," balas Eyang Wesi.


"Cukup basa basinya, aku ingin energi kalian semua menyatu didalam anak ini," ucap Arjuna pelan yang langsung diprotes Eyang wesi.


"Aku masih bisa membantu anak ini tanpa bantuan mereka?," balas Eyang wesi meremehkan Naga api dan Anom.


"Kau lupa kita pernah gagal dan pusaka Megantara hancur? ini bukan tentang siapa yang paling kuat, kau pikir mereka lebih lemah darimu? kau salah, mereka telah lama bersemayam didalam tubuh anak ini dan secara tidak sengaja menyerap energi trah Dwipa, aku hanya perlu memberikan sentuhan sedikit untuk membangkitkan kekuatan mereka yang sebenarnya.


Lupakan egomu dan ikuti perintahku, jangan lupakan aku adalah tuanmu," Arjuna menarik tiga energi itu dan memasukannya kedalam tubuhnya sambil menekan Eyang wesi yang mencoba menolak.


"Leluhurmu ini tak bisa memberikanmu apa apa nak, namun aku cukup senang mendengar keturunanku dan Naraya bersatu, hal yang tidak bisa kami lakukan dulu karena ego masing masing. Mungkin kau bisa melakukan hal yang dulu tak bisa kami lakukan.


Berhati hatilah terhadap dewa penjaga Kumari kandam, dia jauh lebih kuat dari Kuntala sekalipun.


Jangan percaya dengan apa yang kau lihat disini, Masalembo penuh muslihat dan tipu daya jangan sampai kau tertipu seperti kami.


Tubuh para pemimpin dunia tidak bisa dibawa keluar Masalembo karena akan langsung membusuk tanpa suhu Masalembo, mereka disini namun Tidak terlihat walau dekat, hanya itu yang kutahu tentang letak tubuh para pemimpin dunia.


Mereka memindahkan tubuh para pemimpin dunia setelah pengkhianatan Naraya namum aku yakin masih berada didalam sini," tubuh Naraya perlahan berubah menjadi aura dan masuk kedalam tubuh Sabrang.


Energi Naga api, Anom dan Megantara yang selama ini saling bertolak belakang kini menyatu didalam tubuh Sabrang berkat energi murni Arjuna.


Kekuatan besar terasa mengalir deras ditubuh Sabrang, perlahan namun pasti matanya mulai terbuka saat kakinya menyentuh tanah.


Tungga dewi dan Mentari terlihat menatapnya cemas.


"Maaf sedikit terlambat, ada yang harus kuselesaikan dengan leluhurku tadi," ucap Sabrang pelan sesaat sebelum Mentari berteriak.


"Yang Mulia," Mentari mencoba membentuk dinding es disekitar Sabrang saat salah satu dewa penjaga Masalembo muncul tiba tiba dibelakang Sabrang sambil menghunuskan pedangnya.


Kecepatan pendekar itu begitu cepat sampai membuat semua tak mampu bereaksi termasuk Candrakurama.


"Mati kau," teriak Bima, salah dewa penjaga Masalembo yang diperintah Kuntala menghandang mereka.


Bima terkenal dengan kecepatannya, dia bahkan lebih cepat dari Kuntala walau kemampuan ilmu kanuragannya masih dibawah Umbara.


Namun tanpa diduga, Sabrang mampu bereaksi lebih cepat, dia memutar tubuhnya dan menarik pedang Bima dengan lengan kanannya sambil memunculkan keris penguasa kegelapan ditangan kiri dan menancapkannya ditubuh Bima.


Gerakan cepat Sabrang tak mampu diimbangi Bima, butuh waktu bagi bima untuk menyadari jika tubuhnya sudah berlubang oleh Anom.


"Tidak mungkin ada yang lebih cepat dariku," gumam Bima sebelum tubuhnya hangus terbakar.


Semua menatap Sabrang ngeri, mereka sangat yakin Sabrang tidak bergerak satu inci pun dari posisinya namun bagaimana mungkin Bima sudah terbakar detik berikutnya.


"Paman, tubuh para pemimpin dunia masih ada di Masalembo. Tidak terlihat walau dekat, itu petunjuk yang diberikan padaku, kuharap paman menemukan tempat mereka menyembunyikannya melalui petunjuk itu. Ayo kita hancurkan mereka," teriak Sabrang.


"Hamba menerima perintah," jawab Wardhana sambil memberi tanda untuk bergerak. Mereka semua bergerak mengikuti Sabrang yang berada paling depan.


Setelah berlari cukup lama, Sabrang memberi tanda untuk berhenti ketika melihat Kuntala sudah menyambutnya bersama ratusan prajurit abadi dan dua penjaga Masalembo yang tersisa.


Tak lama tim yang dipimpin Lingga muncul dan langsung bergabung dengan pasukan utama.


Kuntala mulai melayang di udara diikuti Sabrang kemudian.


"Trah Dwipa, kalian tidak pernah bosan mencoba melawan Masalembo walau hasilnya selalu sama, gagal," ejek Kuntala.


"Kau tak perlu khawatir, kali ini aku membawa trah Dwipa dan Tumerah sekaligus untuk memastikan tidak ada kegagalan lagi," Sabrang memberi tanda untuk menyerang.


"Dia berbeda," gumam Brajamusti saat melihat aura Sabrang.


"Serang," teriak Wardhana.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Apakah Dewa penjaga Kumari kandam yang dikatakan Arjuna lebih kuat dari Kuntala akan bangkit? atau Sabrang mampu lebih dulu menghancurkan tubuh mereka?


Ketemu lagi besok, mungkin dengan kejutan yang jauh lebih tidak terpikirkan.. mungkin ya...


Mbang baca gak VOTE itu kayak jajan di kantin makan Bakwan 3 ngaku 1 (Ah pengalaman gw wkwkwkwkwkw)

__ADS_1


__ADS_2