
Mentari masih mencoba mempelajari situasinya sambil terus menyerang prajurit tangan besi yang mengepungnya. Puluhan prajurit meregang nyawa terkena racun mawar hitam dari tubuh Mentari, sementara Restu dan pasukan angin selatan ikut menyerang membantu Mentari.
"Kekuatannya tidak berimbang, sebenarnya apa yang direncanakan paman Wardhana". Walaupun kini Mentari menguasai ajian pelebur sukma yang merupakan salah satu ilmu kanuragan tingkat tinggi namun menghadapi puluhan ribu pasukan akan membuatnya kehabisan tenaga.
Selain itu Ajian pelebur sukma membutuhkan tenaga dalam yang besar untuk mengikat racun dalam tubuhnya. Jika tenaga dalamnya habis dalam pertarungan racun itu akan menjadi senjata makan tuan bagi tubuhnya.
Belum lagi dia harus menghadapi beberapa pendekar hebat dari Golok setan.
Saat sedang bertarung sambil berfikir dengan prajurit tangan besi perhatian Mentari tiba tiba teralihkan setelah merasakan aura besar yang menekannya.
Raksaka menyeringai menatapnya tajam "Tak kusangka gadis secantik dirimu memutuskan belajar ajian terkutuk itu, sungguh disayangkan".
Raksaka menyerang Mentari secara tiba tiba namun Mentari bisa menghadapinya dengan tenang. Keduanya bertukar jurus menggunakan jurus andalannya masing masing.
Puluhan prajurit yang mengepung Mentari bergerak mundur setelah Raksaka maju menyerang, bukan pilihan bijak menurut mereka masuk dalam pertarungan dua pendekar hebat.
"Kemampuanmu tidak buruk untuk seorang pendekar muda yang belum memiliki nama di dunia persilatan". Raksaka tersenyum dingin sesaat sebelum dia kembali meingkatkan kecepatannya.
"Tunju racun pelebur sukma". Mentari melepaskan jurusnya saat jarak keduanya cukup dekat. Raksaka melepaskan tapak dewa buminya untuk menahan serangan Mentari. Keduanya terdorong mundur hampir bersamaan.
Mentari mengernyitkan dahinya, selama ini tak banyak yang berani menerima tinju racun pelebur sukma menurut cerita Sumbi.
"Jangan terlalu kaget nona, kuakui Sumbi mengajarimu dengan cukup baik namun pengalaman bertarungmu sangat minim dan itu yang terpenting dalam pertarungan". Tubuhnya menghilang sesaat setelah berbicara dan muncul tak jauh dari Mentari.
Mentari yang terkejut tak dapat bereaksi tepat waktu membuat serangan Raksaka mengenainya tubuhnya.
Mentari terdorong mundur beberapa langkah sebelum dia kembali menyerang.
Keduanya kembali bertukar beberapa serangan namun tak butuh waktu lama buat Raksaka memojokan Mentari. Raksaka seolah tidak takut dengan tenaga dalam Mentari yang mengandung racun.
Dengan kemampuannya Mentari memang bisa sedikit mengimbangi Raksaka namun pengalaman bertarung dan reaksi Mentari jauh tertinggal dari Raksaka.
"Kau meninggalkan banyak celah nona". Raksaka meningkatkan kecepatannya membuat Mentari semakin terpojok.
__ADS_1
"Tapak Dewa bumi". Serangan Raksaka mendarat telak ditubuh Mentari membuatnya terpental mundur.
Setelah serangannya mengenai Mentari dia kembali menotok beberapa jalan darah di tubuhnya untuk menekan racun yang masuk ketubuhnya saat tapaknya menyentuh Mentari.
"Aura hijau itu sungguh merepotkan, jika nona ini memiliki sedikit saja pengalaman bertarung aku akan kerepotan dibuatnya". Raksaka mengendus kesal.
"Nona Mentari". Restu mencoba membantunya namun serangan cepat Patih Tunggul umbara membuatnya terdorong mundur.
Mentari memegang dada kirinya, serangan tapak Raksaka membuatnya terluka. Dia mencoba mengalirkan tenaga dalamnya sedikit untuk menekan rasa sakitnya.
"Kau mengorbankan tubuhmu untuk mempelajari Ajian lebur sukma namun kini kau akan meregang nyawa dengan jurusmu sendiri, akan kuhabisi kau perlahan sampai tenaga dalammu tidak mampu mengikat racun mawar hitam dan racun itu akan berbalik menyerangmu". Raksaka tertawa keras sesaat sebelum dia kembali menyerang Mentari.
***
Kertapati dan Nagata terus bertarung dan menyerang satu sama lain. Tak ada yang berniat menghentikan serangannya. Kertapati mendaratkan beberapa jurus pada Nagata namun diapun tak luput dari serangan Nagata.
"Bagaimana dia bisa sehebat ini? Bukankan menurut informasi yamg diterima tuan Paksi hanya Pengguna naga api dan patihnya yang memiliki ilmu cukup tinggi". Belum sempat dia berfikir serangan pedang Kertapati telak mengenai tubuhnya. Butuh waktu bagi Nagata untul menyadari lengan kirinya sudah terpisah dari tubuhnya.
"Arggkkk". Nagata menjerit kesakitan. Dia melompat mundur menjaga jarak dari Kertapati.
"Ku akui pedangmu sangat mengerikan namun kau tidak memiliki apa yang aku miliki selain ilmu kanuragan". Kertapati menunjuk dadanya.
"Tekad untuk menang dan merebut apa yang seharusnya menjadi milik kami. Pendekar bayaran seperti mu tak akan mengerti arti berjuang untuk tamah leluhurmu". Sesaat setelah Kertapati selesai berbicara tubuhnya menghilang dari pandangan dan muncul kembali dengan pedang terhunus dibelakang Nagata.
"Jurus pedang Angin selatan". Beberapa detik kemudian kepala Nagata terpisah dari tubuhnya.
"Pasukan angin selatan adalah pasukan penjaga Malwageni, dan akan tetap seperti itu walau tubuh kami hancur". Kertapati berusaha berjalan ke arah kadipaten Rogo geni untuk membantu yang lainnya namun tiba tiba tubuhnya terhunyung dan jatuh di tanah.
Seluruh tenaga nya telah habis saat bertarung dengan Nagata.
***
Ratusan Pasukan Topeng galah berhasil menyudutkan pasukan Majasari, dengan jumlah yang jauh lebih sedikit ditambah strategi yang diterapkan Wardhana membuat mereka benar benar tersudut dan terkepung.
__ADS_1
"Jatuhkan pedang kalian, tak perlu mengorbankan nyawa sia sia saat kesempatan menang kalian sangat kecil". Jaladara mengeluarkan auranya untuk menekan musuhnya.
Salah satu komandan pasukan tangan besi terkekeh mendengar ancaman Jaladara.
"Kalian pikir sudah memenangkan pertarungan? ini semua baru awal kehancuran kalian. Beberapa saat lagi senyum kalian akan hilang seketika berganti tangisan. Kalian semua hancur oleh seni tempur tuan Paksi".
"Apakah kau tidak menyadari jika pasukan Saung galah terlalu sedikit untuk sebuah kerajaan besar? Bahkan Malwageni yang kalian taklukan mempunyai pasukan lebih banyak dari ini". Jaladara tersenyum geli melihat kepercayaan prajurit Majasari.
Raut wajah prajurit itu berubah seketika, senyum angkuhnya tadi hilang dengan cepat. Dia seperti menyadari sesuatu setelah mendengar perkataan Jaladara.
Dia diberi tugas untuk mengawasi dan memastikan pengguna Naga api ada di dalam pertempuran itu namun dia melupakan hal yang jauh lebih penting. Untuk ukuran sebuah kerajaan besar prajurit yang dibawa Jaladara terlalu sedikit.
"Kau!". Prajurit itu menatap tajam Jaladara.
"Harus kuakui jika ahli siasat Majasari benar benar mengerikan namun kami juga memiliki bantuan yang juga sama mengerikannya dengan kalian". Jaladara menarik nafas panjang sebelum melanjutkan perkataannya "Mungkin saat ini bala bantuan telah sampai di Kadipaten Citra jaya". Jaladara tersenyum menatap prajurit itu.
"Ku bunuh kau". Prajurit tersebut melesat cepat sambil mengunuskan pedangnya. Jaladara dengan sigap mencabut pedangnya. Namun prajurit tersebut merubah arahnya dengan cepat membuat Jaladara tak sempat mengatasinya.
"Dia? Dari awal dia tidak mengincarku". Jaladara menoleh kearah prajurit tersebut bergerak.
Prajurit tersebut melesat cepat kearah Sabrang yang berdiri tak jau darinya "Setidaknya aku bisa membunuh keturunan Arya Dwipa".
Wardhana mencoba bereaksi menangkis serangan tersebut namun dia terlambat.
Sabrang mencoba menangkis serangan prajurit tersebut dengan pedang yang direbutnya dari prajurit Saung galah yang ada disebelahnya.
"Trang". Sabrang terpukul mundur dan terjatuh beberapa meter.
"Tidak mungkin! Kau bukan Pengguna Naga api itu". Prajurit itu tidak merasakan ada tenaga dalam saat kedua pedangnya beradu.
"Pantas saja dari pertama bertempur tidak sekalipun dia mencabut pedang yang ada dipunggungnya".
Menyadari dia telah masuk perangkap, prajurit itu semakin menggila namun saat dia akan bergerak tiba tiba tubunya terpental mundur terkena serangan cepat dari sisi kanannya.
__ADS_1
"Akan sangat berbahaya jika aku kehilangan Naga api, dia akan membunuhku". Arkadewi melangkah kearah pendekar bertopeng itu dan mengambil pedang Naga Api dipunggungnya hati hati.
"Jika dia bukan pengguna naga api lalu dimana dia berada". Raut wajah prajurit itu terlihat putus asa.