Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Ramuan Amrita dan Soma


__ADS_3

Sabrang menghentikan langkahnya ditengah ruangan dan memandang sekitarnya. Berbeda dengan empat rumah para dewa yang terlihat mewah dengan dinding yang terbuat dari emas, ruang terakhir ini terkesan sangat sederhana dengan dinding batu berwarna kehitaman.


Sebuah tulisan besar tampak mencolok didinding ruangan.


(Amrita dan Soma, sebuah cairan keabadian yang dapat membuat hidup abadi. Keserakahan dan ambisi membuat mereka mulai melakukan penelitian dan ujicoba untuk membuat ramuan keabadian. Banyak nyawa melayang akibat ujicoba yang dilakukan namun tak ada satupun yang berhasil.


Hingga suatu saat aku berhasil menanam jamur emas, tumbuhan dewa yang hanya bisa tumbuh di lingkungan Masalembo setelah penelitian panjangnya terhadap teks kuno.


Jamur emas adalah elemen paling penting untuk membuat ramuan keabadian. Ramuan Amrita dan soma selain mampu membuat tubuh abadi, juga bisa meningkatkan tenaga dalam dengan pesat.


Ayah selalu menanamkan dalam pikiranku jika trah Dwipa adalah pemimpin dunia. Kami manusia terpilih untuk membawa kedamaian dunia dalam konsep Dunia baru. Aku begitu mempercayai ucapan ayah, bahkan ikut membantu penelitian mengenai jamur emas.


Hingga aku tersadar jika trah dwipa melakukan kesalahan besar, kami bukan ditakdirkan membawa kedamaian namun justru menentang takdir yang sudah digariskan. Ambisi ayah dan yang lainnya telah membutakan mata hati mereka, hentikan mereka sebelum terlambat.


Aku putuskan untuk melawan, ku bakar semua catatan penelitian ku dan mencuri jamur emas yang telah tumbuh. Jamur emas tak bisa dibakar atau dimusnahkan karena jamur emas adalah tanaman abadi sesuai dengan efeknya. Siapapun keturunanku yang berhasil membuka gerbang ini simpan baik baik jamur emas karena tanpa tanaman ini para pemimpin dunia yang telah ku segel tak mungkin bisa bangkit.


Hindari mereka dan jangan melawan sebelum kau menguasai ilmu pedang jiwa karena Bramantya, komandan dewa penjaga Masalembo adalah satu satunya hasil ujicoba yang telah meminum ramuan Amrita dan Soma.


Pedang jiwa kuciptakan untuk menghancurkan pengguna ramuan Amrita dan Soma namun tak mudah menguasai jurus itu karena membutuhkan energi alam yang sangat besar. Hal yang paling mungkin adalah jauhi mereka semampu mu karena tanpa jamur emas mereka tak bisa bangkit.


Trah Dwipa memang melakukan kesalahan besar melawan takdir namun kuharap keturunanku akan mengambil sikap yang sama denganku dan meluruskan kesalahan leluhur kalian. Dunia baru tak boleh tercipta karena apapun alasannya akan menciptakan monster monster abadi.)


"Semua misteri yang selama ini menyelimuti trah Dwipa terjawab sudah, keserakahan dan ambisi leluhurku yang membuat semua kekacauan ini. Aku harus menghentikan secepatnya kekacauan ini," ucap Sabrang geram.


"Tapi Yang mulia", Wardhana tidak melanjutkan ucapannya saat Sabrang mengangkat tangannya.


"Lari? Naraya telah mencoba melakukannya namun tetap gagal bukan? Aku akan menghancurkan mereka dengan atau tanpa jurus pedang jiwa. Sebaiknya kalian tak usah mengikuti ku karena aku tak menjamin keselamatan kalian, kembalilah ke Rogo geni dan jaga dengan nyawa kalian", ucap Sabrang dingin.


"Hamba sudah memutuskan hidup dan mati untuk Yang mulia, mohon izinkan hamba berjuang bersama anda," Tungga dewi tiba tiba berlutut dihadapan Sabrang.


"Kau tak harus seperti ini Dewi jika pertimbangan mu karena perjodohan kita, lawan kali ini sangat berbeda dengan sebelumnya, aku pun tak yakin akan selamat namun jika aku mati maka jamur emas itu akan ikut mati bersamaku". Sabrang mengaktifkan mata bulannya dan memasukkan jamur emas kedalam ruang dan waktunya.


"Hamba sudah menyerahkan hidup hamba pada anda jauh sebelum mengetahui perjodohan itu, mohon untuk kali ini kabulkan permohonan hamba. Mati bersama orang yang paling hamba cintai adalah sebuah kehormatan".


Sabrang tersenyum kecil setelah mendengar pengakuan Tungga dewi.


"Kau memang gadis yang keras kepala, baiklah jika itu keputusanmu aku tak bisa berbuat apa apa", ucap Sabrang pelan.


"Paman..", belum selesai Sabrang bicara, Wardhana ikut berlutut dihadapan Sabrang.

__ADS_1


"Hamba sudah sampaikan pada tuan Wijaya yang mengikuti tim Lingga untuk menghubungi Sora saat sudah sampai di Jawata untuk mengerahkan seluruh pasukan angin selatan ke gunung Tidar. Jika Raja Malwageni tewas maka seluruh pasukan Malwageni akan ikut bersama anda Yang mulia namun hamba memohon maaf sebelumnya, Wardhana akan berusaha dengan seluruh kemampuannya untuk memastikan keselamatan anda. Hamba akan pergi walau anda tidak mengizinkannya".


"Paman melawan perintahku?", tanya Sabrang tiba tiba.


Raut wajah Wardhana pucat seketika setelah mendengar pertanyaan Sabrang.


"Bu...bukan seperti itu Yang mulia", balas Wardhana terbata bata.


Sabrang tertawa lantang mendengar jawaban Wardhana, dia seolah ingin melepaskan semua beban sebelum pertarungan hidup dan mati di Masalembo.


"Aku tau paman, jangan terlalu dibawa serius. Ayah sangat beruntung memiliki pasukan seperti kalian yang setia sampai mati. Aku akan berusaha menguasai ilmu pedang jiwa dalam beberapa hari ini sebelum kita masuk Telaga khayangan api, sampai saat itu tiba susunlah rencana sebaik mungkin paman Patih," ucap Sabrang pelan.


"Hamba menerima perintah Yang mulia Raja", balas Wardhana cepat.


"Maaf jika aku mencuri dengar karena aku khawatir saat ada suara pedang beradu dan kami langsung kemari. Kemampuan kami mungkin jauh dibawah mu namun tuan Wardhana pasti membutuhkan orang untuk memimpin pasukan dan kami sudah memutuskan untuk ikut dalam penyerangan kali ini," Arung dan Candrakurama berjalan mendekati mereka.


"Baiklah jika kalian sudah memutuskan, besok kita pergi ke Jawata. Aku ingin pergi ke makam ibu sebelum pertempuran sambil berlatih ilmu pedang jiwa. Terima kasih atas bantuan kalian semua", Sabrang menoleh kearah Tungga dewi yang masih berlutut dihadapannya.


"Ikutlah denganku ke makam ibu, dia akan senang melihat kau sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik", ajak Sabrang.


"Baik Yang mulia", jawab Tungga dewi dengan wajah memerah.


Setelah berlayar beberapa hari tim yang dipimpin Lingga akhirnya sampai di daratan Jawata. Mereka memutuskan berkumpul terlebih dahulu di sekte Tapak es utara untuk menyusun rencana.


Wijaya meminta ijin kembali ke Kadipaten Rogo geni untuk membawa seluruh pasukan Angin selatan ke sekte Tapak es utara.


Setelah berlari tanpa beristirahat, Wijaya akhirnya sampai di gerbang kadipaten.


Ada keraguan dalam dirinya untuk melangkah masuk setelah pengkhianatan yang dilakukannya.


Salah seorang prajurit Rogo geni yang melihat kedatangan Wijaya berlari mendekat dan langsung memberi hormat.


"Selamat datang tuan Patih", ucap prajurit itu sambil menundukkan kepalanya.


"Aku bukan Patih Malwageni lagi, jangan panggil seperti itu", balas Wijaya ramah.


Prajurit itu tampak bingung namun tak berani menanyakan maksud ucapan Wijaya.


"Ada hal yang harus aku sampaikan secepatnya pada Sora mengenai titah Yang mulia, antar aku bertemu dengannya".

__ADS_1


"Baik tuan", jawab prajurit itu.


Prajurit itu menghentikan langkahnya saat berada di depan ruangan yang terlihat paling mewah, dia mengetuk pintu dan mempersilahkan Wijaya masuk.


"Tuan patih, anda sudah kembali", Lembu sora menyambut kedatangan Wijaya dan memeluknya.


Wijaya lalu menjelaskan semua kejadian di Daratan Hujung tanah sampai keberadaan Masalembo yang merupakan musuh besar Sabrang dan semua aliansi aliran putih dunia persilatan.


"Yang mulia meminta kita membawa seluruh pasukan angin selatan ke gunung Tidar untuk membantu menyerang Masalembo. Ini akan menjadi pertempuran besar bukan hanya bagi dunia persilatan namun juga bagi Malwageni karena Yang mulia sendiri yang akan memimpin penyerangan. Kita harus membantunya dan memastikan keselamatan Yang mulia dengan nyawa kita. Jangan sampai kejadian Yang mulia Arya dwipa terulang lagi".


Lembu sora mengangguk pelan, "Aku akan persiapkan pasukan sekarang juga".


"Kita akan bertemu dengan tuan Patih di sekte Tapak es utara untuk mematangkan semua rencana penyerangan. Sore ini kita langsung bergerak menuju sekte Tapak es utara, bawa semua persenjataan yang kita miliki dan tinggalkan sepuluh orang saja untuk menjaga kadipaten", ucap Wijaya.


"Baik tuan", ucap Lembu sora cepat.


Wijaya tampak mengepal kedua lengannya sambil memejamkan matanya.


"Kali ini hamba akan menebus semua kesalahan yang hamba buat Yang mulia", gumam Wijaya dalam hati.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Oke pertempuran dengan Masalembo sudah semakin dekat..


Vote PNA jika menurut kalian menarik untuk membuat Author terus semangat...


Catatan Author :


Kali ini Pedang Naga api kembali memasukkan mitos atau legenda yang ada didunia salah satunya adalah ramuan keabadian Amrita dan Soma yang sedang dibuat oleh Masalembo.


Amrita dan Soma adalah sebuah minuman yang banyak sekali ditemukan dalam teks-teks kuno Hindu di India. Dalam teks ini disebutkan jika seseorang meminum cairan ini akan mendapatkan kehidupan yang sangat panjang. Beberapa dewa seperti Indra dan Agni juga meminum cairan ini hingga membuat mereka menjadi kian kuat dan abadi.


Author juga memasukan legenda Jamur emas atau lebih dikenal jamur keabadian / jamur Lingzhi.


Jamur keabadian dikenalkan oleh seorang alkemis dari Cina. Awalnya, alkemis tersebut disuruh raja untuk membuat ramuan keabadian. Alkemis tersebut telah mencoba membuatnya dengan berbagai bahan, seperti emas, belerang, hingga racun.


Akhirnya, si alkemis menemukan jamur yang saat ini dikenal dengan nama jamur Lingzhi. Jamur Lingzhi mengandung asam ganoderic yang bisa memicu pertumbuhan. Dengan mengonsumsi jamur ini, luka akan cepat sembuh, badan lebih sehat, dan katanya bisa memperpanjang umur.


Benar tidaknya biar semua menjadi rahasia alam agar manusia dan seluruh ciptaannya bergerak sesuai apa yang sudah ditakdirkan...

__ADS_1


Terakhir sore nanti akan Author rilis chapter kedua jika memungkinkan....


__ADS_2