Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Menuju Gua Keramat


__ADS_3

"Bagaimana persiapannya?" Wijaya tampak sedikit gelisah menatap Wardhana.


"Untuk saat ini semua masih sesuai dengan rencana kita tuan namun aku berpesan pada tuan Mada untuk selalu mengamati setiap pergerakan Majasari di Kadipaten Rogo geni karena yang kita hadapi saat ini adalah Paksi".


"Begitu ya, untuk misi kali ini Pangeran memintamu untuk memimpin dan aku yakin kau adalah orang yang paling tepat kuharap kau benar benar harus berhati hati mengambil setiap langkah".


"Aku akan berusaha semampuku tuan.....". Wardhana berhenti sesaat sambil menatap Wijaya. Dia merasa gerak tubuh Wijaya memperlihatkan kegelisahan.


"Apakah ada yang mengganggu pikiran tuan Patih?".


"Aku tidak khawatir dengan rencana kita merebut kadipaten Rogo geni apalagi yang kudengar jika Iblis hitam memutuskan untuk menarik diri dari dunia persilatan". Wijaya menarik nafasnya panjang.


"Lalu apa yang anda khawatirkan?". Wardhana berkata pelan.


"Ini mengenai Wahyu Keprabon untuk Pangeran".


"Wahyu keprabon?" Wardhana mengernyitkan dahinya.


"Pangeran Sabrang adalah keturuan langsung Yang mulia raja dari ratu Sekar pitaloka dan calon penerus raja baru Malwageni. Namun sampai saat ini belum ada tanda tanda kemunculan Keris penguasa kegelapan.


Keris penguasa kegelapan sudah dianggap sebagai simbol Wahyu keprabon bagi Malwageni. Keris itu dipercaya akan memilih siapa yang pantas menjadi raja baru diantara keturunan Yang mulia raja. Selain Pangeran Sabrang ada satu pangeran lagi dari selir Yang mulia namun saat ini tidak diketahui keberadaanya.


Setelah selir Anjani ketahuan bekerja sama dengan para pemberontak , Yang mulia raja mengasingkannya di suatu tempat yang dirahasiakan.


Kuharap Keris penguasa kegelapan segera menampakan diri dan memilih Pangran Sabrang sebagai penerus Yang mulia raja". Wijaya memejamkan matanya sesaat.


"Bukankah Pangeran sudah dinobatkan sebagai Putra mahkota? apalagi yang anda khawatirkan tuan".


Wijaya mengangguk pelan " Namun salah satu perjanjian antara Malwageni dan Keris penguasa kegelapan adalah siapapun yang dipilih keris itu maka dialah yang layak memimpin Malwageni. Sejak Yang mulia terbunuh oleh Majasari keris itu seakan hilang ditelan bumi".


"Lalu jika sampai saatnya tiba Pangeran berhasil merebut Malwageni namun keris itu belum muncul menurutmu apa yang terjadi?" Wijaya melanjutkan sambil menoleh kearah Wardhana.


"Legitimasi Pangeran Sabrang sebagai raja akan dipertanyakan oleh rakyat Malwageni dan jika ini dimanfaatkan oleh selir Anjani maka akan terjadi perang saudara dan perebutan kekuasaan". Wardhana berkata pelan sambil menatap Wijaya.


"Itu yang kutakutkan kelak, kau harus mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi kelak Wardhana karena wasiat terakhir Yang mulia raja adalah menunjuk Pangeran Sabrang sebagai penerusnya, itu yang harus kita pastikan".


"Baik tuan, akan kupertaruhkan hidupku untuk Pangeran Sabrang".


***


"Apa yang kau cari sebenarnya di tempat itu?" Arkadewi bertanya sambil berjalan disebelah Sabrang.


Sabrang tersenyum mendengar pertanyaan Arkadewi "Bukankah perjanjian kita kemarin adalah kau mengantarku ke gua keramat tanpa bertanya apa tujuanku disana?".


"Tapi aku penasaran apa yang sebenarnya dilakukan oleh seorang Pangeran di tempat yang jarang dikunjungi oleh orang".

__ADS_1


"Apapun yang ku cari disana tidak ada hubungannya dengan Mata elang". Sabrang tersenyum sambil mempercepat langkahnya.


Sabrang menghentikan langkahnya saat 4 orang menghadang jalannya. Aura yang dipancarkan 4 pendekar itu walaupun kecil namun Sabrang merasa aura itu berusaha menekannya.


"Mereka yang mengejarku kemarin". Arkadewi berbisik pada Sabrang.


"Kau pikir bisa lari dariku nona, serahkan pedang siluman kembar itu kau tak pantas memegangnya atau aku terpaksa berbuat kasar padamu". Seorang pendekar yang terlihat paling tinggi ilmunya berbicara keras.


"Lalu menurutmu Lembah tengkorak yang pantas memilikinya?" Arkadewi tersenyum sinis.


"Kau!" Pendekar itu menatap tajam Arkadewi.


"Maaf tuan kami sedang terburu buru, bisakah anda memberi kami jalan?" Sabrang masih bersikap sopan, dia tidak ingin mencari keributan karena prioritasnya kini menemukan Keris penguasa kegelapan sebelum Lembah siluman menemukannya lebih dulu.


"Kau tidak usah ikut campur! suruh temanmu menyerahkan pedang yang dibawanya mungkin aku akan mengampuni kalian".


Sabrang menggelengkan kepalanya, sepertinya mereka tidak bisa diajak bicara baik baik.


"Sampai kapanpun tak akan kuserahkan pedangku pada orang seperti kalian". Suara Arkadewi meninggi.


"Kau yang memaksaku nona, Serang dia!". Sesaat setelah dia berbicara, para pendekar dibelakangnya langsung melesat menyerang Arakdewi namun gerakan cepat Sabrang berhasil menghentikannya. Tubuh Sabrang tiba tiba sudah muncul dihadapannya dengan bongkahan es di kedua tangannya.


"Cepat sekali". Para pendekar itu terpental terkena serangan Sabrang.


"Sebaiknya kalian pergi atau aku akan berubah pikiran". Sabrang melepaskan auranya untuk menekan pendekar itu.


"Kau pikir aku takut?" Salah satu pendekar bersiap menyerang. Aura aneh mulai menyelimuti tubuh pendekar itu.


"Benar kata nona Arkadewi ini bukan ilmu milik Lembah tengkorak". Sabrang memberi tanda pada Arkadewi untuk mundur beberapa langkah.


Pendekar itu menyerang cepat kearah Sabrang, dalam beberapa tarikan nafas telah terjadi pertukaran jurus antara Sabrang dan pendekar itu. Sabrang terlihat lebih unggul dengan jurus tapak es utaranya.


Beberapa kali serangan pendekar itu mengenai perisai es yang mengelilingi tubuh Sabrang.


Dalam waktu singkat Sabrang berhasil memaksa pendekar itu mundur beberapa langkah.


"Tak kusangka ilmu kanuragannya sangat tinggi, siapa sebenarnya pemuda ini? bahkan jurus milik Lembah siluman tak berhasil mendesaknya".


Pendekar itu berusaha menjaga jarak karena sadar bukan tandingan Sabrang. Perlahan pendekar itu menyadari jika kemampuan lawannya jauh diatasnya.


Sabrang memutuskan menggunakan sedikit energi Naga api karena ingin segera menyelesaikan pertarungan secepatnya, dia merasa sudah terlalu lama menunda perjalanan menuju gua keramat.


Kobaran api mulai menyelimuti tubuhnya membuat pendekar itu menelan ludahnya.


"Ilmu apa lagi yang digunakannya?" Dia melompat mundur berusaha mencari celah untuk kabur.

__ADS_1


Saat dia mulai merasa tertekan tiba tiba Sabrang muncul dibelakangnya.


"Tinju kilat hitam" serangan Sabrang tepat mengenai pendekar itu membuat tubuhnya terpental mundur.


"Kecepatannya setara dengan ketua". Raut wajahnya berubah seketika setelah melihat ilmu yang dimiliki Sabrang.


Sabrang berjalan mendekatinya namun tiba tiba matanya berubah merah dan kepalanya mulai merasakan sakit.


"Oh jangan sekarang". Sabrang menghentikan langkahnya, dia mengalirkan tenaga dalamnya keseluruh tubuhnya untuk menekan rasa sakit dikepalanya.


"Anom bantu aku menghilangkan rasa sakit ini". Sabrang memegang kepalanya yang merasakan sakit luar biasa.


"Anom tidak ada disini, dia telah kembali ke Keris Penguasa kegelapan untuk mempersiapkan pertemuan denganmu". Naga api berbicara dipikiran Sabrang.


"Sial!, kepalaku sakit sekali". Sabrang mengatur nafasnya perlahan.


Merasa mendapat kesempatan Pendekar itu berusaha menyerang Sabrang. Dia menggunakan seluruh sisa tenaga dalamnya untuk menyerang.


"Gawat dia mengambil kesempatan untuk menyerang, apa yang sebenarnya yang terjadi dengan tuan muda". Arkadewi melompat menyambut serangan pendekar Lembah tengkorak.


"Pedang bulan kembar". Arkadewi menyerang pendekar itu membuatnya terpaksa mundur beberapa langkah.


"Kau masih berani menghadapiku? kupastikan kali ini kau akan mati ditanganku". Tubuh pendekar itu tiba tiba menghilang dari pandangan Arkadewi.


"Ulurkan tanganmu, akan kugunakan energiku untuk menekan rasa sakitmu". Naga api menyambut uluran tangan Sabrang.


Arkadewi terlihat mulai terdesak oleh jurus pendekar dari Lembah tengkorak. Beberapa bagian tubuh nya mulai tersayat pedang lawannya.


Jika pendekar itu tidak terluka akibat pertarungan dengan Sabrang mungkin Arkadewi sudah tewas ditangan pendekar itu.


"Darimana sebenarnya Lembah tengkorak mendapatkan ilmu ini". Arkadewi memutuskan mundur beberapa langkah untuk mengambil mengambil nafas. Menangkis serangan cepat pendekar itu benar benar membuat tenaganya terkuras.


"Harusnya tadi kau lari saat ada kesempatan". Pendekar tersebut menyeringai.


Saat Arkadewi mencoba kembali mundur tubuh pendekar itu telah muncul dihadapannya. Tangannya mencengkram leher Arkadewi.


"Ajian tapak siluman".


"Kini pedang itu jadi milikku". Serangan tapaknya tepat mengenai tubuh Arkadewi namun tiba tiba tubuh pendekar itu terpental mundur.


"Bagaimana bisa gadis itu mempunyai tenaga dalam setinggi ini". Pendekar itu memegang tangannya yang terasa panas seperti terbakar.


"Aku lawanmu". Sabrang tiba tiba muncul dari balik tubuh Arkadewi menatap tajam Pendekar itu.


"Sejak kapan dia berada disana". Pendekar itu menelan ludahnya.

__ADS_1


__ADS_2