Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Ahli Siasat Perang dari Malwageni


__ADS_3

"Kalian akan menyesal telah berani melawan Majasari" Wikarta menyerang Wardhana penuh amarah.


Wardhana yang telah memprediksi keadaan akan memanas telah siap dengan pedangnya. Dia melompat mundur menangkis serangan Wikarta.


Gardika yang dari tadi menahan emosi ikut menyerang prajurit tangan besi lainnya. Dalam hitungan detik Pendopo tamu berubah menjadi medan pertempuran.


Pertarungan menjadi seimbang karena walaupun kali ini kalah jumlah, pasukan tangan besi memiliki kemampuan setara pendekar menengah sehingga menyulitkan prajurit Wanajaya.


"Kalian akan membayar atas apa yang kalian lakukan di Kadipatenku". Gardika terus menekan beberapa Pranjurit yang mengepungnya. Serangan pedangnya sangat cepat membuat beberapa prajurit tangan besi terpukul mundur.


Wardhana terlihat mulai terdesak oleh ilmu kanuragan Wikarta. Kemampuan pedang Wikarta yang sangat tinggi di luar perhitungan Wardhana. Bagaimanapun Wardhana adalah seorang ahli siasat dan negosiator, ilmu silatnya tidak terlalu tinggi.


Wardhana mundur beberapa langkah untuk mengambil nafas. Dia tersenyum kecil menatap Wikarta.


"Kau bahkan masih bisa tersenyum saat nyawamu di ujung tanduk" Wikarta tersenyum sinis.


"Aku telah melalui puluhan peperangan, beberapa kali nyawaku hampir putus di ujung pedang. Aku tidak akan mengobarkan perang jika tidak yakin menang". Wardhana berusaha mengacaukan pikiran Wikarta dengan menunjukan keyakinannya.


Wajah Wikarta berubah begitu mendengar perkataan Wardhana.


"Aku tidak tau apa yang kau rencanakan, namun aku telah membaca gerakan kalian jauh hari sebelum aku datang kemari. Kalian pikir aku hanya membawa pasukan tangan besi? Kalian salah besar".


Wikarta kembali menyerang Wardhana dengan cepat membuat Wardhana sedikit terpojok. Gardika yang melihat Wardhana mulai terpojok mencoba membantunya, dia ikut menyerang Wikarta.


Mendapat serangan dari Gardika membuat Wikarta memutuskan melompat mundur.


"Kau tidak apa apa?" Gardika menoleh ke arah Wardhana.


"Terima kasih tuan atas bantuannya, kelihatannya aku salah perkiraan tentang kemampuannya. Komandan Pasukan tangan besi memang berbeda" Wardhana tersenyum kecut.


Belum selesai keterkejutan Wardhana akan kemampuan Wikarta tiba tiba Pasukan gabungan beberapa pendekar aliran hitam datang mengepung mereka.


Gardika kembali menoleh ke arah Wardhana "Ku harap rencanamu berjalan dengan baik atau kita akan berada dalam kesulitan".


Wardhana menatap beberapa Pendekar aliran hitam mengepungnya. Dia sudah memprediksi jika Majasari akan melibatkan pendekar aliran hitam namun dia tidak mengira gerakan mereka akan secepat ini.


"Sepertinya kita harus sedikit bersabar lagi tuan". Wardhana kembali melesat menyerang pasukan tangan besi. Dia berharap dapat mengulur waktu sampai bantuan yang direncanakannya tiba.


Wikarta terlihat gelisah seperti menunggu sesuatu, matanya beberapa kali menatap keluar. Dia merasa heran Pasukannya sampai detik ini belum sampai sedangkan beberapa pendekar aliansi aliran hitam telah sampai lebih dulu.


"Harusnya mereka telah tiba sesuai rencana".


..........................


Puluhan Pasukan tangan besi tertahan tidak jauh dari perbatasan wilayah Kadipaten Wanajaya. Tampak puluhan orang menghadang jalan yang akan mereka lewati.

__ADS_1


Bukit bukit tinggi di kanan dan kiri jalan membuat mereka tak ada jalan lain untuk dapat sampai ke Kadipaten Wanajaya selain menerobos hadangan orang di hadapannya.


"Kalian tidak akan kubiarkan lewat" Lasmini memimpin para pendekar aliran putih yang menghadang jalan.


Salah satu pimpinan Pasukan Tangan besi maju menghunuskan pedangnya "Kalian pikir bisa menghalangi kami dengan kekuatan kalian".


"Kita tidak akan tau jika tidak mencoba" Lasmini melesat cepat menyerang Pasukan tangan besi diikuti pendekar lainnya.


"Bentuk formasi dan serang mereka" Salah satu prajurit memberi perintah.


Puluhan prajurit Tangan besi tiba tiba memisahkan diri menjadi empat kelompok. Pasukan utama berada di garis depan menggunakan pedang.


Dua pasukan tombak membentuk sayap melindungi pasukan utama dari samping dan pasukan panah berada paling belakang dengan busur siap melepaskan anak panah.


Gerakan lasmini tertahan karena serangan pasukan pedang ditambah puluhan anak panah menghujani dirinya. Dia dan pasukannya dapat mengimbangi bahkan hampir memukul mundur pasukan pedang tangan besi namun serangan anak panah benar benar merepotkan mereka.


Lasmini mundur beberapa langkah dan terlihat tangannya memberi tanda pada sesuatu di atas bukit.


Tiba tiba puluhan batu besar meluncur cepat ke bawah membuat formasi serangan Pasukan tangan besi berantakan. Lasmini dan pasukannya serentak mundur beberapa langkah.


"Gawat kita masuk perangkap, Mundur namun tetap pertahankan formasi".


Pasukan tangan besi serentak mundur menghindari puluhan batu yang mengarah ke arah mereka.


Tiba tiba dari arah belakang Sabrang bersama beberapa pendekar dari sekte Merpati putih ikut menyerang membuat Pasukan tangan besi terkepung.


Lasmini kembali maju menyerang setelah formasi tangan besi berantakan.


Serangan dari dua arah membuat pasukan musuh langsung terdesak. Serangan Sabrang dan aliansinya dari arah belakang mampu melumpuhkan pasukan panah.


"Jurus pedang penghancur tulang" Sabrang bergerak cepat menyerang pasukan Tombak yang melindungi pasukan utama. Dalam beberapa tarikan nafas Sabrang dapat menghancurkan pasukan pelindung tangan besi.


"Tarian iblis pedang" Sabrang kembali menyerang dengan kekuatan penuh, kobaran api mulai terlihat menyelimuti pedangnya.


Suhu udara disekitarnya mulai naik, namun hanya beberapa detik sebelum tiba tiba udara menjadi dingin.


Dia melompat ke atas seperti melayang, tangannya tiba tiba mengeluarkan butiran es yang semakin lama menjadi bentuk pisau.


"Hujan Es Utara" puluhan es berbentuk pisau dari tangannya meluncur cepat ke arah pasukan tangan besi. Mereka mencoba menghindar namun kecepatan pisau es membuat mereka tak sempat menghindar, puluhan pasukan tangan besi meregang nyawa.


"Apakah ini kekuatan manusia?" Mereka menatap Sabrang penuh ketakutan yang berdiri melayang seolah memiliki sayap.


Lasmini menatap kagum kearah Sabrang dia merasa hanya dalam waktu singkat ilmu Sabrang meningkat pesat.


Sabrang bergerak kearah Lasmini yang sedang bertarung.

__ADS_1


"Bibi kuserahkan sisanya pada anda, aku akan menyusul paman Wardhana".


Lasmini mengangguk pelan "Berhati hatilah pengeran, nyawa anda lebih penting dari apapun saat ini".


"Baik bi serahkan padaku". Sabrang melesat cepat menuju pendopo Wanajaya.


Lasmini sempat menoleh ke arah Sabrang pergi, entah kenapa perasaannya mengatakan ada yang berbeda kali ini pada diri Sabrang. Dia seolah melihat sesosok pembunuh berdarah dingin yang haus darah.


Saat menyerang tadi Lasmini sempat melihat Sabrang benar benar mengeluarkan seluruh kekuatannya. Dia seperti ingin menunjukan bahwa kekuatannya jauh di atas mereka.


Berkat serangan yang dilancarkan Sabrang membuat mental pasukan tangan besi sedikit menurun. Mereka seolah melihat tembok yang tidak akan mampu mereka lewati.


"Anda benar benar mengerikan Pangeran, bahkan formasi tempur Pasukan elit Majasari dengan mudah dihancurkan".


.......................


"Anda seperti sedang menunggu sesuatu tuan" Wardhana mencoba bangkit setelah terkena serangan Wikarta yang membuatnya terpental beberapa meter.


"Bagaiman jika yang anda tunggu tidak akan pernah datang". Wardhana tersenyum sinis, nafasnya mulai tak beraturan.


Beberapa bagian tubuhnya dipenuhi luka pedang. Dia menoleh ke arah Gardika yang juga mulai kewalahan menerima serangan pendekar aliansi aliran hitam.


Wikarta terkejut mendengar perkataan Wardhana, dia seperti menyadari sesuatu.


"Apa yang kau lakukan pada prajuritku?" Wikarta menatap tajam.


"Apa yang seharusnya kulakukan sejak dulu" Wardhana kembali mengangkat pedangnya


"Sejak kapan kau menyadarinya?".


"Tak mudah mencari informasi tentang pasukan tangan besi. Bahkan kali inipun aku bertaruh sangat besar untuk menghadapi kalian. Seekor serigala sekalipun tak akan mampu berburu dengan baik jika tidak mengenali area tempatnya berburu".Wardhana kembali batuk darah.


"Aku hanya perlu mengenali area berburunya untuk dapat menangkap serigala tersebut dan sedikit bertaruh rute yang akan kalian gunakan".


"Kau hanya membual mengulur waktu agar aku tidak membunuhmu". Wikarta terlihat mulai goyah, dia sudah melalui banyak peperangan namun baru kali ini dia kalah telak adu siasat perang.


"Jika perkiraanku benar kalian akan bersembunyi disekirar perbatasan Kadipaten Wanajaya. Akan sangat mencolok jika pasukan tempur datang hanya untuk menyampaikan pesan. Dan tempat persembunyian paling cocok untuk pasukan dalam jumlah besar agar tidak mencolok adalah di sekitar bukit. Namun apakah kalian menyadari bahwa tempat persembunyian yang paling aman justru tempat yang paling berbahaya. Dan tempat yang terdapat beberapa bukit hanya ada di selatan Perbatasan Wanajaya".


Wikarta benar benar dibuat tak berkutik oleh Wardhana, semua yang dikatakan Wardhana benar adanya. Namun bagaimanapun dia telah mempersiapkan rencana ini dengan matang, bagaimana mungkin Wardhana bisa mematahkannya begitu mudah.


"Siapa kau sebenarnya dan bagaimana kau bisa membuat skenario sebesar ini?" suara Wikarta bergetar menahan amarah. Dia benar benar telah masuk perangkap yang dipersiapkan Wardhana.


"(Kenali dirimu, kenali musuhmu, dan kenali medan tempurmu. Dan kau akan memenangi seribu pertempuran) aku hanya mengikuti nasehat seseorang padaku" Wardhana kembali bersiap menyerang.


"Kau memang seorang ahli perang yang sangat mengerikan, harus ku akui hari ini aku telah masuk perangkapmu. Kau tak boleh kubiarkan hidup atau akan membahayakan Majasari".

__ADS_1


Wikarta melesat cepat menyerang Wardhana dengan pedangnya.


__ADS_2