
"Sepertinya ada yang tidak menginginkan kita mendekati Dieng". Suliwa menggelengkan kepalanya saat melihat puluhan pendekar menghalangi jalan mereka. Suliwa mencabut pedangnya dan bersiap menyerang.
"Pakaian yang mereka kenakan berasal dari racun selatan, berhati hatilah pada jarum beracun mereka tetua". Wulan sari mengeluarkan aura dari tubuhnya untuk menekan pendekar yang menghalangi jalannya.
"Tak kusangka bisa bertemu dengan mantan pendekar terkuat ditempat terpencil ini, aku sungguh beruntung". Ki Saprana tersenyum kecil.
"Kau terlalu memuji Saprana, sepertinya dengan bantuan Lembah siluman sektemu makin besar ya". Suliwa tertawa mengejek.
"Kau pernah merasakan menjadi pendekar terkuat yang ditakuti dunia persilatan, kau tak akan mengerti perasaanku". Ki Saprana mendengus kesal.
"Aku mungkin tak mengerti situasimu namun jika aku menjadi dirimu aku tak akan menjual jiwaku pada Lembah siluman. Kau benar benar tidak mengetahui betapa berbahayanya ambisi mereka". Suliwa berkata pelan.
"Tak usah banyak bicara, aku tau mereka sedang merubah tatanan dunia persilatan. Setelah ini tidak ada lagi yang lebih berkuasa, kita semua akan sejajar. Apapun yang kau katakan aku tak akan mengizinkan kalian melewati tempat ini". Ki Saprana memberi tanda anak buahnya untuk bersiap.
"Kalian memaksaku bertindak". Suliwa menarik nafasnya panjang. Dia memutar pedangnya kedepan, tak lama suhu udara mulai naik disekitarnya.
"Jurus api abadi tanpa pedang Naga api? Sepertinya hanya jurus biasa". Ki Saprana terkekeh.
"Kau akan mengetahuinya secepatnya". Suliwa melesat cepat menyerang Ki Saprana,. Wulan sari mengikuti dibelakangnya dan bergerak kearah kerumunan pendekar racun selatan.
"Sepertinya kau mulai melambat". Ki Saprana tersenyum angkuh sambil menghindari serangan Suliwa dan sesekali menyerang balik. Ki Saprana jelas terlihat lebih cepat namun pengalaman bertarung Suliwa bisa menutupi kekurangannya.
"Kuakui kau sangat cepat namun banyak celah yang kau tinggalkan". Gerakan pedang Suliwa berubah dengan cepat. Pola serangannya seperti tidak beraturan namun terus menekan Ki Saprana.
"Jika kau bertemu denganku puluhan tahun lalu saat ini kepalamu sudah terpisah dari tubuhmu". Suliwa menghilang dari pandangan dan menyabetkan pedangnya ke lengan kiri Ki Saprana.
"Kau.. bagaimana?". Ki Saprana menatap tajam Suliwa.
"Pengalaman!. Kau bisa mempelajari jurus yang sangat rumit sekalipun namun tidak dengan pengalaman bertarung karena pengalaman tidak bisa dipelajari".
"Insting bertarungnya tidak berkurang sedikitpun". Gumam Wulan sari dalam hati.
***
Ketika matahari sudah berada di atas kepala rombongan Sabrang telah sampai di sebuah tebing tinggi yang menghadap lautan lepas.
"Kita sudah sampai". Ciha melangkah mendekati bibir tebing dan menatap kebawah.
"Tepat dibawah kakiku saat ini gerbang itu akan terbuka nanti malam".
"Jadi disini tempat yang selama ini dicari ratusan pendekar dunia persilatan?". Lingga merasakan aura aneh yang berasal dari dalam batu.
"Kita akan menunggu disini sampai gerbang terbuka?". Tanya Sabrang pelan.
"Jika kita terus berjalan kearah sana kita akan menemukan sebuah desa kecil, ada dermaga kecil yang sering digunakan mereka untuk menambatkan kapal. Seperti yang kukatakan satu satunya akses menuju ke bawah sana melalui dermaga itu dan menumpang kapal mereka". Ciha menunjuk kesatu arah.
Sabrang berjongkok dan terlihat mengetuk ngetuk tebing yang dipijaknya.
"Batu ini keras sekali, apa benar ada pintu rahasia disini?".
"Itu batu yang kemarin aku katakan, aku yakin batu itu tidak tersusun secara alami". Ciha menunjuk batu disalah satu tebing yang sedikit menonjol keluar.
"Tebing ini benar benar curam, sepertinya sulit untuk melihat batu itu dari sini". Sabrang berfikir untuk menggunakan ilmu meringankan tubuhnya namun mustahil membawa Ciha ke sana apalagi tak ada pijakan sama sekali.
__ADS_1
"Aku akan mencoba melihatnya dari dekat". Sabrang terlihat melayang di udara dengan kobaran api menyelimuti tubuhnya. Perlahan dia melayang turun mendekati batu itu.
Dia menatap sekitarnya mencari celah batu untuk pijakan namun tidak menemukan celah apapun, tebing itu begitu curam dan rata.
Sabrang mengeluarkan Keris penguasa kegelapan dan menancapkan di dinding tebing untuk menahan tubuhnya.
"Apa kau melihat sesuatu?". Ciha berteriak dari atas.
"Tidak, selain batu yang sedikit menonjol ini semua tampak sama".
"Aneh sekali, aku yakin batu itu tidak terbentuk secara alami". Ciha bergumam dalam hati.
"Ah tunggu, ada 4 batu kecil lainnya yang berbentuk aneh". Sabrang berteriak dari bawah.
"Apa maksudmu aneh?". Wajah Ciha mulai berbinar.
"Empat batu ini seperti membentuk sesuatu, aku tidak paham namun aku yakin membentuk pola. Hanya 4 batu ini yang warnanya berbeda".
"Tidak bisakah kau membawaku ke sana?". Ciha menoleh kearah Lingga, wajahnya terlihat tidak sabaran.
Lingga terlihat berfikir sejenak sebelum mengangguk ragu.
"Aku akan mencobanya". Dia menoleh kebawah "Bisakah pedangmu menancap di dinding tebing itu seperti kerismu. Dan tolong katakan pada yang bersemayam di pedangmu untuk tidak berbuat sesuatu padaku saat menyentuh gagangnya atau kami berdua akan mati terjatuh kebawah sana".
"Dia terlalu banyak permintaan". Sabrang menggeleng pelan. "Kau dengar permintaannya Naga api?". Ucap Sabrang.
"Aku tau". Kobaran api ditubuh Sabrang membentuk sebuah pedang dan berputar cepat di udara sebelum meluncur ke dinding tebing.
"Turunlah". Teriak Sabrang.
"Apa kau takut mati?". Jawab Sabrang mengejek.
"Anak itu akan kubunuh ketika semua ini selesai". Ucap Lingga kesal. "Berpegangan lah ketubuhku, jangan sampai kau melepaskan peganganmu atau kau akan mati".
"Kalian benar benar gila". Ciha merangkul tubuh Lingga dan perpegangan erat.
"Akan ada sedikit benturan bersiaplah". Lingga mulai melayang di udara namun tidak bertahan lama karena beban yang dibawanya berat. Tubuhnya meluncur kebawah dengan cepat, tangannya bersiap meraih pedang Naga api yang tertancap dibawahnya.
"Aku akan mati, aku akan mati". Ciha berteriak keras ketika tubuh Lingga meluncur makin cepat.
"Grap" Lingga berhasil memegang pedang Naga api, tubuh mereka berayun kencang akibat goncangan.
"Sekarang cepat pecahkan kode itu, tenaga dalamku akan habis jika terlalu lama bergelantungan seperti ini".
Ciha segera melihat susunan batuan itu dan berusaha mengingat ingat.
"Batu Ini seperti membentuk burung yang sedang terbang". Dia berusaha menggeser dan menekan nekannya namun tetap tidak bisa.
"Hei cepatlah, kita kedatangan tamu". Mentari berteriak dari atas saat melihat belasan pendekar menghampirinya.
"Apa yang kau lakukan disini nona?". Salah satu pendekar Lembah siluman mendekatinya.
"Bukankah itu bukan urusan kalian". Mentari mengeluarkan aura hitam dan mencabut pedangnya.
__ADS_1
"Kau tidak ingin bicara baik baik? kau yang memaksa". Pendekar itu memberi tanda untuk menyerang.
Belasan pendekar langsung menyerangnya tanpa bada basi. Mentari menyambut serangan mereka dengan tenang.
"Sial! Cepatlah, dia diserang". Sabrang berteriak pada Ciha.
"Aku sedang berusaha". Ciha terus mengutak atik batu itu.
"Burung.... burung.... lautan". Ciha terus bergumam sambil berfikir.
"Ah sepertinya aku tau, burung akan berpindah tempat disaat tertentu. Mereka akan melakukan perjalanan mencari tempat yang hangat sebelum kembali diwaktu yang berbeda. Jika perkiraanku tidak salah harusnya ada didekat sini". Ciha terlihat mencari sesuatu.
Pandangannya berhenti disebuah dinding yang sedikit menjorok kedalam. Jika tidak melihat dari dekat dinding itu akan terlihat sama dengan yang lainnya.
"4 batu ini menggambarkan burung laut yang sedang berpindah ke suatu tempat. Ini menunjukan kita harus berpindah tempat jika ingin selamat, jika perkiraanku tidak salah dinding yang sedikit menjorok kedalam itu tujuan burung ini".
"Kau bisa menekan dinding itu?". Ciha bertanya pada Sabrang.
"Akan kucoba". Sabrang mengayunkan tubuhnya beberapa kali sebelum melepas keris penguasa kegelapan. Tubuhnya terlempar kearah batu cekung itu, Tangannya terlihat berusaha menghantam dinding cekung itu. Perlahan keris penguasa kegelapan kembali terbentuk ketika tangannya hampir menghantam tebing itu.
"Duar". Keris itu kembali menancap didinding tebing.
Terjadi getaran kecil didinding sebelum batu menonjol itu terlihat terbelah dua. Sebuah lubang cukup besar terlihat seiring dengan terbelahnya batu itu.
"Ayunkan tubuhmu". Ciha berusaha meraih celah gua yang baru muncul itu. Ciha berusaha naik saat tangannya sudah berhasil memegang celah di gua tersebut. Lingga menyusulnya setelah Ciha memasuki gua itu.
Pedang Naga api kembali menjadi kobaran api dan menghilang di udara.
"Tunggu di sana, aku akan menyusul bersama Mentari". Sabrang menjadikan keris penguasa kegelapan sebagai pijakan sebelum dia melesat keatas.
"Mereka seperti tidak mempunyai rasa sakit dan bagaimana stamina mereka tidak pernah habis". Mentari mengatur nafasnya sesaat sebelum kembali menyambut serangan pendekar Lembah siluman.
Setiap serangan Mentari mengenai tubuh para pendekar yang Lembah siluman mereka akan bangkit dan kembali menyerang seolah tidak memiliki rasa sakit.
"Aku paling tidak suka menghadapi pengguna Ajian pembakar sukma". Sabrang muncul dari dari balik tebing dan melayang di udara sebelum tubuhnya menghilang tiba tiba.
Yang terlihat berikutnya oleh Mentari hanya sekelebat api hitam yang bergerak sangat cepat membakar semua pendekar Lembah siluman yang dilewatinya tanpa bisa bereaksi satu gerakan pun.
"Dia benar benar telah bertambah kuat". Gumam Mentari takjub.
Sabrang kembali muncul tiba tiba di hadapan Mentari.
"Ayo kita harus cepat". Sabrang menggenggam lengan Mentari dan merangkulnya kemudian meloncat turun sambil membelakangi tebing.
Sabrang menancapkan pedangnya saat sudah berada dekat gua dan memutar tubuhnya melompat ke mulut gua.
"Kau tidak bisa mengatakan permisi terlebih dulu sebelum menyentuh tubuhku?". Mentari bersingut untuk menutupi wajahnya yang merah merona. Sabrang hanya tertawa mendengar ucapan Mentari.
"Bagaimana Ciha?". Sabrang mendekati Ciha yang duduk di atas batu bersama Lingga.
Ciha menggeleng pelan "Tempat ini buntu, sepertinya ini hanya sebuah tempat untuk beristirahat sambil menunggu gerbang itu terbuka. Kita harus tetap melewati gerbang itu".
Sabrang tersenyum kecut "Setidaknya kita punya tempat untuk bersembunyi sambil menunggu gerbang itu terbuka".
__ADS_1
Lingga melangkah mendekati pinggir gua dan menatap kebawah, terlihat ombak air laut berlarian membentur dinding tebing.
"Sepertinya tempat itu memang diciptakan hanya dengan satu pintu agar sesuatu yang ada didalam sana tidak keluar tanpa melalui segel penjaga".