
"Guru, kakak seperguruan telah kembali, kami menemukannya di sekitar wilayah Hutan Kematian."
Seorang wanita berambut putih keluar dari ruangannya, “Apakah dia terluka?” tanya wanita tersebut.
Tantri mengangguk pelan dan menjawab, "Lukanya sangat dalam guru tapi kami sudah mengobatinya. Semoga dalam beberapa hari ini kakak akan pulih,” jawab Tantri.
Wanita itu tampak tersenyum lega, “Antarkan aku ke kamarnya! ada yang ingin aku tanyakan.”
“Baik guru,” jawab Tantri.
Mereka melangkah menuju balai pengobatan kelompok Teratai Merah sambil membicarakan kondisi gadis itu.
Sesampainya di balai pengobatan terlihat seorang gadis sedang berbaring. Menyadari kehadiran gurunya, dia pun bangkit dan memberi hormat.
“Ratna Dewi member hormat pada guru.” Wanita tersebut mengangguk kemudian duduk di hadapan Ratna dewi.
“Apakah lukamu sudah membaik?” tanyanya lembut.
Ratna mengangguk dan berucap, "Maaf membuat guru khawatir.” Ratna menoleh menatap Tantri adiknya kemudian tersenyum manis.
“Apakah yang menyerangmu kelompok iblis Hitam?”
“Benar guru, mereka ingin menyanderaku untuk ditukar dengan Kitab dewi obat,” jawab Ratna dewi pelan.
Wajah wanita itu sedikit mengeras menahan amarah, dia terlihat berpikir sejenak dan bertanya,
“Bagaimana mereka bisa tau kau berasal dari Teratai Merah? Apakah ada penghianat di Kelompok Teratai Merah?”
Ratna menggeleng pelan, dia pun tak habis pikir bagaimana jati diri nya sebagai Anggota kelompok teratai merah, diketahui banyak orang dunia persilatan.
__ADS_1
Pikiran wanita itu kembali ke beberapa puluh tahun lalu saat, dia menemukan tubuh Suliwa tak sadarkan diri di sungai kematian.
Saat itu nama kelompok Teratai Merah tidak pernah terdengar di dunia persilatan. Dia kemudian membawa Suliwa ke padepokan dan mengobatinya.
Saat Suliwa tersadar dan mengetahui bahwa sedang berada di padepokan Teratai Merah, dia bertanya tentang ilmu Segel Kegelapan Abadi.
Wanita itu terlihat terkejut saat Suliwa mengetahui ilmu kuno milik leluhurnya.
“Bagaimana kau bisa mengetahui ilmu rahasia teratai merah?” tanyanya bingung.
Suliwa tersenyum lembut, dia tak percaya ilmu yang dulu menjadi rebutan dunia persilatan dan sudah dianggap menghilang, masih ada dan tersembunyi di Hutan Kematian. Dia kemudian menawarkan pertukaran dengan kitab Dewi Obat yang dimilikinya.
Suliwa mencoba menjelaskan bahwa dia hanya ingin mempelajarinya untuk menekan kekuatan Pedang Naga Api yang dibawanya.
"Pedang Naga Api?" Wanita itu tampak terkejut mendengar Suliwa menyebut nama pedang pusaka terkuat itu.
Setelah diyakinkan bahwa dia hanya ingin belajar dan tidak berniat membawa pergi kitab Segel Kegelapan Abadi, wanita itu menyetujuinya. Sejak saat itu kelompok Teratai Merah terkenal akan ilmu pengobatan dan obat obatan untuk meningkatkan tenaga dalam.
Hal yang membuat kitab itu aman sampai saat ini adalah karena lokasi padepokan Kelompok Teratai Merah yang tidak diketahui keberadaannya.
Iblis Hitam yang saat ini menjadi sekte terkuat pun ikut bergerak untuk menguasai Teratai Merah untuk kepentingan sendiri.
Tak mengherankan jika Kitab Dewi Obat selalu menjadi rebutan sejak ratusan tahun lalu. Semua Rahasia pengobatan, penawar racun dan racikan racun mematikan tersimpan di Kitab itu.
“Tantri, perketat penjagaan di sepanjang Hutan Kematian! aku takut mereka mengikuti Ratna saat melarikan diri. Iblis Hitam tak akan menyerah begitu saja saat mereka menginginkan sesuatu," perintah wanita itu.
Tantri mengangguk, dia kemudian pergi untuk melaksanakan perintah gurunya.
“Kau istirahatlah beberapa hari, setelah tubuhmu benar benar pulih bergabunglah dengan adikmu!” Wanita tersebut kemudian pergi meninggalkan Ratna.
__ADS_1
***
Selesai bermeditasi, Sabrang kemudian diajak Suliwa memasuki sebuah ruangan tempat Pedang Naga Api berada. Dia membawa dua buah ranting pohon di genggamannya. Suliwa kemudian memperagakan beberapa gerakan ilmu pedang.
“Ini adalah Ilmu Pedang Api Abadi tingkat dua,” ucap Suliwa.
“Ilmu Pedang api abadi tingkat pertama lebih terpusat pada kelenturan gerakan pedang, sedangkan tingkat dua yang akan kau pelajari ini berpusat pada kecepatan langkahmu dan berpikirmu.”
Sabrang tampak terkejut melihat Suliwa mampu memperagakan Ilmu Pedang api abadi milik sektenya.
“Bagaimana kakek bisa menguasai jurus Pedang sekte kami?” tanya Sabrang bingung.
Suliwa terkekeh melihat kepolosan Sabrang, “Kau memang murid yang bodoh nak," ucap Suliwa sambil melempar ranting pohon di tangannya ke arah Sabrang.
"Sekarang lakukan apa yang tadi sudah aku tunjukan, perhatikan setiap langkah kakimu!"
Sabrang kemudian mulai mengingat dan mempraktekan apa yang sudah Suliwa ajarkan tadi.
Mata Suliwa terbelalak, melihat setiap gerakan pedang yang dilakukan oleh Sabrang. Perubahan gerakan jurus tingkat pertama ke tingkat kedua ilmu Pedang Api Abadi sangat halus. Dia berpikir bahkan dirinya sendiri pun tidak akan sanggup mempelajari ilmu Api Abadi dalam waktu singkat.
“Anak ini benar benar unik, entah dimana Ageng menemukannya, tidak lama lagi akan lahir pendekar terkuat di dunia persilatan. Semoga Ageng mendidiknya dengan baik selama ini,” gumam Suliwa.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
SELAMAT MALAM ... DI CHAPTER 17 INI SAYA MEMBERANIKAN DIRI UNTUK MENYAPA TEMAN TEMAN SEMUA... MUNGKIN PEDANG NAGA API MASIH JAUH JIKA DIBANDINGKAN DENGAN NOVEL SENIOR SEMUA.. NAMUN SAYA BERHARAP PEDANG NAGA API BISA MENJADI BACAAN ALTERNATIF SAMBIL MENUNGGU TEMAN TEMAN SENIOR LAINNYA MENG UPDATE NOVELNYA.
SARAN KRITIK MASIH SAYA BUTUHKAN UNTUK NOVEL INI AGAR DAPAT MENGALAMI PERBAIKAN DI MASA YANG AKAN DATANG.
TERAKHIR SAYA JUGA BERHARAP DUKUNGAN TEMAN TEMAN SEMUA UNTUK MEMBERIKAN LIKE PADA SETIAP CHAPTER "PEDANG NAGA API".. INI MENJADI SEMANGAT TAMBAHAN BAGI SAYA UNTUK TETAP BELAJAR MENULIS.
__ADS_1
TERIMA KASIH UNTUK SEMUANYA