Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kekuatan Keris penguasa Kegelapan


__ADS_3

"Jadi ini tempatnya?". Sabrang terdiam sejenak memandang sebuah mulut gua yang terletak tepat dibawah batu besar di pinggir sungai.


Matanya teralihkan oleh sebuah serat pelindung berwarna putih seperti kabut menyelimuti seluruh mulut gua tersebut.


"Itulah aura aneh yang kuceritakan beberapa saat lalu. Setiap pendekar yang mencoba menyentuh aura itu tiba tiba tubuhnya terpental seperti terdorong oleh suatu kekuatan dari dalam gua. Sejak saat itu tempat ini menjadi sepi didatangi oleh para pendekar". Arkadewi berkata pelan sambil menunjuk serat pelindung di mulut gua.


"Ayah.....". Sabrang melangkah perlahan ke arah mulut gua tersebut.


Arkadewi terlihat cemas melihat Sabrang mendekati gua keramat itu, dia memutuskan menunggu diluar karena merasa hanya akan menjadi beban bagi Sabrang.


Saat Sabrang telah sampai dimulut gua dia merasakan aura yang mengintimidasi nya dari dalam. Sabrang berusaha mengalirkan tenaga dalamnya keseluruh tubuh untuk mengurangi tekanan kekuatan yang membuat tubuhnya kaku tak bisa digerakan.


"Tubuhku tak bisa bergerak". Sabrang menelan ludahnya, ini kali pertama dia merasakan aura menekannya sebesar ini.


"Cih dasar sombong, dia sedang memamerkan kekuatannya dihadapanmu. Akan kutunjukan kekuatan yang sebenarnya padamu Anom". Naga api mulai mengalirkan energinya keseluruh tubuh Sabrang.


"Terima kasih Naga api". Setelah mendapat kekuatan dari Naga api Sabrang kemudian menggunakan Energi bumi untuk melepaskan diri dari tekanan aura Keris penguasa kegelapan.


Perlahan tubuhnya mulai bisa digerakan walau masih terasa berat. Sabrang mulai memasuki mulut gua dan melewati serat pelindung. Tanah di sekitar mulut gua mulai bergetar akibat efek benturan 2 kekuatan yang saling menekan antara Energi bumi dan Keris penguasa kegelapan.


Arkadewi terlihat menelan ludahnya, dari jarak yang cukup jauh dari mulut gua dia merasakan tubuhnya lemas akibat tekanan aura dari dalam gua.


"Bagaimana tubuhnya bisa tahan terhadap tekanan sebesar ini?".


Sabrang terus berjalan didalam gua, kobaran api merah pekat menyelimuti seluruh tubuh Sabrang. Pedang Naga api yang ada dipunggungnya terus bergetar menandakan Naga api terus menekan kekuatan Keris penguasa kegelapan.


"Tak kusangka kekuatannya begitu besar". Naga api berkata dalam pikiran Sabrang.


Sabrang menghentikan langkahnya, matanya tertuju pada sebuah keris liuk 7 yang melayang dihadapannya. Aura hitam pekat terlihat menyelimuti keris tersebut.


"Inikah keris penguasa kegelapan?". Sabrang melangkah pelan mendekati keris tersebut dan mencoba memegangnya.


"Berhati hatilah, kita tidak tau apakah anom telah bisa menguasai kembali kekuatannya. Dia sudah lama meninggalkan keris itu dan bersemayam ditubuhmu". Naga api memperingatkan Sabrang.

__ADS_1


Saat tangannya berhasil menggenggam keris itu tiba tiba kekuatan besar melangir kedalam tubuhnya dengan sangat cepat.


Tubuh Sabrang terlihat melayang diudara, bola matanya perlahan menghitam dan kobaran api ditubunya menghilang berganti menjadi aura hitam pekat menyelimutinya.


"Apa yang terjadi denganku? tubuhku tak bisa digerakan sama sekali". Sabrang berusaha menggerakan jari nya namun tubuhnya seperti tak mau menuruti perintahnya.


Perlahan Sabrang melihat seorang pria setengah baya bertubuh kekar memakai baju hitam dalam pikirannya.


Pria tersebut berjalan di sebuah tempat yang ditutupi kabut tebal dengan keris berada dipinggangnya. Dia terlihat kebingungan seperti mencari sesuatu diantara kabut yang mengganggu penglihatannya.


Nafasnya tersenggal karena terlalu banyak menggunakan tenaga dalamnya untuk menekan efek kabut yang mencoba merasuki tubuhnya.


"Siapa paman itu?". Sabrang mencoba menajamkan matanya untuk melihat wajah pria tersebut.


Pandangan pria tersebut berhenti pada sebuah mulut gua yang terlihat diselimuti oleh sebuah segel. Dia mendekati gua tersebut dan merapal sebuah jurus. Perlahan segel dimulut gua itu menghilang.


Pria itu mulai memasuki gua dan berhenti disebuah batu yang terlihat seperti tempat pemujaan. Dia mengambil keris yang berada dipinggangnya dan menggoreskan ke ujung jarinya.


Pria itu meneteskan darahnya ke keris yang dibawanya sambil mulutnya merapal sesuatu. Tak lama kemudian keris itu mulai melayang diudara membuat pria itu sedikit terkejut.


"Aku ingin membuat perjanjian denganmu untuk menjaga tanah Malwageni".


Anom tiba tiba tertawa sambil memandang tajam pria tersebut.


"Apa yang membuatmu berfikir aku akan membantumu?".


"Kau seharusnya yang paling mengerti jika pusaka suling raja neraka yang merupakan pusaka terakhir yang diciptakan Mpu ken Panca tak akan selamanya terkurung di gerbang kegelapan. saat ini mungkin Lembah siluman telah dihancurkan oleh Ken panca namun siapa yang akan menjamin suatu saat mereka akan bangkit.


Tidak sulit buat mereka bertahan selama ribuan tahun karena telah meminum air kehidupan. Jika ada yang bisa membuka segel gerbang kegelapan maka dialah orangnya karena sebelum berkhianat dan membentuk Sekte Lembah siluman dia adalah murid kesayangan ken Panca".


Anom terdiam mendengar perkataan pria tersebut, dia yang paling mengerti betapa berbahayanya pusaka terakhir itu jika digunakan.


"Trah penguasa Malwageni merupakan keturunan terakhir Ken panca yang diberi tugas menjaga gerbang kegelapan. Kau tau untuk membuka segel gerbang kegelapan dibutuhkan 4 pusaka terkuat Dieng. Selain keris penguasa kegelapan ketiga pusaka lainnya tidak diketahui keberadaannya.

__ADS_1


Bagaimana jika Naga api, Pedang pusaran angin dan pendang langit jatuh ketangan mereka? hanya kau satu satunya harapanku untuk menjaga agar gerbang tersebut tidak terbuka. Aku akan menjauhkanmu dari Dieng, hanya itu satu satunya cara agak gerbang tersebut tidak pernah terbuka namun sebagai bayarannya kau harus menjaga Malwageni dan seluruh keturunanku kelak.".


Anom terkekeh mendengar permintaan Pria itu.


"Kau terlalu percaya diri Bratajaya Dwipa, kekuatan 4 pusaka Dieng sangat besar apakah kau menjamin keturunanmu kelak tidak akan termakan nafsu dan ambisi karena memiliki kekuatanku kelak? bagaimana jika kelak justru keturunanmulah yang memicu terbukanya gerbang kehelapan".


Bratajaya terdiam sesaat seletah mendengar perkataan Anom. Dia menyadari jika sifat manusia bisa berubah seiring dengan semakin besar kekuatannya.


"Aku akan mengikuti perjanjianmu dengan satu syarat, tidak semua keturunanmu dapat menjadi tuanku. Aku akan memilih sendiri siapa tuanku diantara keturunanmu. Kau tak perlu khawatir keturunanmu masih bisa menggunakan kekuatanku walau aku tak memilihnya menjadi tuan namun dia hanya bisa menggunakan separuh kekuatanku. Aku akan menyerahkan seluruh kekuatanku jika aku menemukan orang yang menurutku tepat".


Bratajaya terlihat berfikir sejenak sebelum mengangguk pelan. Setelah Bratajaya mengangguk Anom tiba tiba masuk kedalam tubuh Bratajaya dan menyatu dengannya.


"Hey nak sadarlah!! kau harus menekan dan mengendalikan kekuatannya". Suara Naga api mengagetkan Sabrang membuat penglihatan dalam pikirannya menghilang.


Terlihat tubuh Sabrang masih melayang diudara namun kini kobaran api merah mulai mencoba menekan aura hitam pekat yang tadi menyelimuti tubuh Sabrang.


Namun semakin Naga api menekan justru aura hitam itu semakin menekannya.


"Sial! Jika saja kekuatanku tidak disegel Anom sudah dari tadi aku menghanguskanmu!".


"Naga api?"Sakit dikepala Sabrang semakin sakit, kedua matanya telah berubah menjadi hitam pekat seluruhnya. Tubuhnya mulai menapak ke tanah dan dia melangkah berjalan keluar gua. Kobaran api ditubuhnya semakin kecil walau terlihat tetap berusaha menekan aura hitam itu.


Aura kekuatan yang berasal dari keris yang digenggamnya benar benar menekan seluruh yang ada disekitarnya.


"Gawat dia terus menekanku, kekuatanku tidak cukup untuk melawannya". Naga api terlihat meronta mencoba melepaskan diri dari segel 4 unsur.


***


"Di mana anak itu?" Lingga tiba tiba muncul dihadapan Arkadewi dan mencengkram lehernya. Wajahnya memerah menahan amarah. Masih tersisa beberapa bongkahan es di tubuhnya.


Arkadewi berusaha melepaskan diri dan menyerang Lingga namun sia sia, serat pelindung di tubuh Lingga tidak dapat ditembus dengan pedangnya.


Saat Arkadewi hampir kehabisan nafas tiba tiba tubuh mereka berdua terlempar terkena serangan yang berasal dari dalam gua.

__ADS_1


Lingga melompat dan menangkap tubuh Arkadewi yang hampir mengenai pohon didekatnya. Dia menarik Arkadewi kebelakangnya untuk melindunginya dari tekanan aura dari dalam gua.


"Apalagi ini". Lingga menatap sesosok tubuh yang mulai keluar dari dalam gua keramat.


__ADS_2