
Suasana danau warna warni yang biasanya tenang dan dihiasi suara gemericik air terjun kini tampak sedikit mencekam saat Umbara tiba tiba muncul. Aura besar langsung memenuhi seluruh area hutan itu.
Candrakurama yang biasanya tenang tampak mulai gelisah dan memberi tanda pada pasukannya untuk bersiap.
"Siapa kau dan ada perlu apa disekte Api dan angin? jika kau ingin bertemu guru, sebaiknya datang lagi lain wakti karena saat ini dia tidak bisa diganggu," ucap Candrakurama.
"Aku bukan ingin bertemu gurumu namun aku ingin menghancurkan sekte Api dan Angin." Umbara tersenyum dingin.
"Apa kami memiliki masalah dengan mu?" tanya Candrakurama kemudian, dia ingin mengulur waktu sampai salah satu utusannya memberi tahu Wardhana jika musuh sudah muncul.
Umbara tersenyum sambil mengibaskan tangannya, tak lama ratusan pendekar muncul dihadapannya.
"Kalian tak perlu berpura pura, aku menginginkan pengguna Naga api itu. Hancurlah kalian bersamanya". Umbara memberi tanda untuk menyerang, begitu juga dengan Candrakurama.
Pagi itu, Danau warna warni seolah menjadi saksi pecahnya pertempuran dua kekuatan hebat dunia persilatan. Mereka bertempur dengan mempertahankan prinsip masing masing yang mereka anggap benar, pada akhirnya yang kuatlah yang bisa menentukan kebenaran.
Candrakurama langsung berhadapan dengan Umbara, walau dia masih sedikit terluka akibat pertarungan dengan Sabrang namun tak mengurangi sedikitpun kecepatannya.
Dia terus coba menekan Umbara dengan kecepatannya, gerakan pedangnya semakin lama semakin cepat walau Umbara terlihat bisa menghindari serangannya.
"Kau pikir bisa mengalahkan ku dengan kemampuanmu?," Umbara tiba tiba meningkatkan kecepatannya dan balik menekan.
Candrakurama tampak terkejut karena dia mengira Umbara telah mengeluarkan seluruh ilmu kanuragannya.
Dia mencoba menahan semua serangan Umbara namun tak semua bisa dihindari, terlihat beberapa tubuhnya mulai terluka.
"Dia lebih cepat dari Sabrang," umpat Candrakurama dalam hati.
Pertarungan menjadi tidak seimbang, Umbara yang menggunakan jurus ruang dan waktu benar benar merepotkan Candrakurama walau sesekali tebasan pedangnya mampu menyulitkan Umbara.
Umbara tidak terluka sampai saat ini karena dia selalu menghilang dalam ruang dan waktu saat tebasan Candrakurama tepat mengenai tubuhnya.
Umbara melihat bergerak mendekat saat melihat celah pertahanan musuhnya. Saat Candrakurama mengayunkan pedangnya, Umbara sedikit memutar tubuhnya dan langsung menyerang.
Candrakurama yang tidak siap berusaha menarik pedangnya namun kecepatan serangan Umbara lebih dulu mengenainya. Tubuh Candrakurama terpental dengan luka sabetan, beruntung dia sempat membentuk perisai tenaga dalam disaat terakhir.
"Apa kau sudah sadar kemampuanmu?," ucap Umbara sinis.
Candrakurama mencoba mengatur nafasnya, dia melihat kesekeliling nya, puluhan pasukannya mulai terdesak, Kalah dalam jumlah membuat mereka terdesak lebih cepat dari rencana.
"Hancurkan mereka tanpa sisa" teriak para pendekar aliansi Masalembo.
Keberadaan Mahawira lah yang mampu membuat pasukannya bertahan selama ini.
"Belum saatnya" gumam Candrakurama sambil bersiap kembali menyerang.
Mereka berdua kembalu bertukar jurus diudara dan tidak ada satupun yang berniat berhenti menyerang.
Melihat Candrakurama bertempur dengan seluruh kekuatannya membuat Mahawira ikut tersulut semangatnya.
Pertahankan tempat ini dengan nyawa kalian, jangan sampai ada yang mundur satu langkahpun sebelum kakang Kurama memberi perintah" teriak Mahawira sambil terus menyerang.
Suasana danau warna warni kini berubah mencekam, puluhan mayat bergelimpangan diantara orang bertarung, mereka seolah tak perduli ketika sesekali tak sengaja menginjak mayat itu, yang ada dipikiran mereka saat ini bagaimana mengalahkan musuh sebanyak mungkin.
Bau anyir darah dan suara pedang beradu terdengar kesegala penjuru.
__ADS_1
Setelah bertukar puluhan jurus, Umbara mulai menguasai situasi, dalam waktu singkat pedangnya terus melukai Candrakurama.
"Dia cukup kuat, sangat disayangkan aku harus membunuhnya" gumam Umbara sambil terus berusaha mendekat.
Ketika jarak mereka semakin dekat, Umbara tiba tiba merubah arah pedangnya sambil merapal sebuah jurus.
"Pedang pembasmi iblis" Umbara tiba tiba memutar tubuhnya dan bergerak kesamping, dia beberapa kali melepaskan tinju ketubuh Candrakurama sebelum sabetan pedangnya menghantam punggung Candrakurama.
Candrakurama berusaha menghindar saat sebuah pisau tiba tiba muncul dihadapannya dan menembus perutnya.
"Sial" umpat Candrakurama kesal, tubuhnya mulai limbung sebelum terjatuh dengan posisi duduk.
"Kakang" teriak Mahawira, dia berusaha mendekati kakak seperguruannya itu namun beberapa pendekar langsung menghadangnya.
"Kuakui kau pendekar yang sangat berbakat, sayang aku harus membunuhmu disini", Umbara bergerak sambil mengayunkan pedangnya, Mahawira yang melihat gerakan Umbara melempar beberapa pisau terbang untuk mengentikannya namun pisau itu menghilang begitu saja di udara.
"Aku tak boleh mati disini, guru masih membutuhkanku" Candrakurama berusaha bangkit dan menangkis serangan itu.
Umbara menarik serangannya saat melihat beberapa pisau es melesat kearahnya, dia berusaha menghindar namun gerakannya tiba tiba terhenti saat segel bayangan berhasil meraih bayangannya.
"Segel bayangan?" ucap Umbara sebelum sebuah pedang menghunus tubuhnya dari belakang.
"Cepat" gumamnya sebelum tubuhnya menghilang.
"Cih jurus aneh itu", umpat Mentari sambil melompat mendekati Candrakurama.
"Anda baik baik saja?."
Candrakurama mengangguk pelan. "Apa mereka sudah siap?" bisik Candrakurama.
"Bertempur?, tak ada yang kubiarkan lewat satu orangpun, bagaimana mereka bisa masuk?".
"Tempat itu ternyata memiliki beberapa pintu rahasia, mereka menyerang melalui pintu itu. Keadaan didalam sangat kacau, saat ini tuan Wardhana sedang berusaha mengatasi situasi karena korban di pihak kita banyak berjatuhan. Sampai dia menyusun ulang rencananya jangan biarkan dia masuk". ucap Mentari sambil menatap Umbara yang sudah muncul kembali.
Mentari terlihat mengangkat tangannya dan menciptakan puluhan pisau es diudara, saat dia menggerakkan tangannya, puluhan pisau es itu menghantam ratusan pendekar yang menyerang Mahawira.
"Pulihkan tenaga dalammu secepatnya lalu bantu aku menahan dia" Mentari bergerak sambil merapal jurus segel bayangan, beberapa perisai es dia ciptakan untuk menutupi arah gerakan bayangannya.
Mentari juga melemparkan beberapa pisau es sambil mendekati Umbara.
"Kau sepertinya lebih merepotkan dari pada dirinya, segel bayanganmu benar benar membuatku dalam kesulitan namun mau sampai kapan tenaga dalam mu mampu bertahan jika menggunakan beberapa jurus dalam satu waktu". Umbara menyambut serangan Mentari dengan pedangnya, dia bergerak lincah diantara serangan es yang melesat kearahnya.
***
"Pertahankan formasi, Arung jangan terlalu agresif menyerang mereka sengaja memecah pasukan kita". Wardhana tampak berteriak ditenga tengah pertempuran, ratusan pendekar yang muncul tiba tiba dari salah satu gerbang didekat air terjun gua pelangi membuat rencananya sedikit kacau.
Dia sudah memeriksa beberapa kali sebelumnya untuk memastikan tidak ada jalan keluar lainnya namun gerbang didekat air terjun benar benar luput dari pengamatannya.
Pasukannya telah kacau saat ini, mereka terus terdesak mundur, belasan pendekar meregang nyawa ditangan aliansi Masalembo. Teriakan Wardhana tenggelam diantara bunyi pedang beradu dan jeritan kesakitan, sungai yang merupakan gerbang masuk sekte sudah berwarna merah akibat tetesan darah.
Wardhana tampak tak diberi kesempatan berfikir setelah terus diserang, beruntung Krisna dan beberapa muridnya terus melindungi Wardhana.
"Bunuh dia secepatnya, dia adalah jendral yang mengatur pertempuran ini" ucap slaah satu pendekar aliansi Masalembo menunjuk Wardhana.
Umbara memang memerintahkan mereka untuk membunuh Wardhana secepatnya karena dialah otak dibalik strategi musuh. Pasukan meraka akan kacau jika Wardhana tewas.
__ADS_1
Wardhana kembali berteriak namun keadaan sudah sangat kacau, pasukannya sedang terdesak. Walau para pendekar Api dan Angin sebenarnya sedikit lebih unggul namun serangan tiba tiba yang mengacaukan formasi Wardhana dan kalah jumlah membuat mereka terus terdesak.
"Harus ada yang bisa melakukan serangan balasan" gumam Wardhana kesal.
Dia sebenarnya mengharapkan Arung karena kemampuannya tinggi tapi dia sedang dikepung oleh beberapa ketua sekte aliansi Masalembo agar tidak bisa bergerak. Masalembo kali ini benar benar menguasai situasi.
Sebenarnya cukup mudah bagi Wardhana membalikkan situasi jika rencananya didengar semua pasukannya namun keadaan sudah terlanjur kacau.
Sabrang yang memiliki kekuatan paling tinggi sedang bertarung didalam gua untuk melindungi Ciha. Masalembo memecah beberapa pasukan dan membuat Wardhana tersudut.
"Mereka lebih pintar dari yang kuduga" gumamnya sambil terus menyerang.
Saat pasukan Wardhana mulai turun semangatnya, Puluhan energi keris tiba tiba muncul di udara bersamaan dengan suhu udara yang meningkat cepat.
Wardhana tersenyum lega sesaat sebelum sebuah ledakkan mengguncang sekte Api dan Angin.
Sesosok tubuh bergerak cepat diudara sebelum tangannya menarik puluhan energi keris dan menghantam pasukan aliansi Masalembo.
"Energi keris penghancur," Ledakan ledakan kembali terdengar diantara sabetan pedang Sabrang yang bergerak sangat cepat. Belasan pasukan aliansi Masalembo meregang nyawa baik oleh energi keris ataupun sabetan Naga api. Beberapa pendekar bahkan menghilang entah kemana.
"Majulah semua, akan kukirim kalian semua ke neraka". Sabrang terus bergerak mengacaukan formasi Masalembo yang sudah tersusun rapih.
Kecepatan, aura yang meluap dari tubuhnya dan mata birunya benar benar menghancurkan formasi Masalembo dalam sekejap.
Krisna bahkan menelan ludahnya karena baru pertama kali ini melihat seorang pendekar dengan luapan energi yang sangat besar. Kobaran api yang menyelimuti tubuhnya mengingatkan dirinya pada sosok Banaspati yang pernah menghancurkan hampir separuh daratan Jawata.
"Atur ulang formasi, aku akan mencoba mengalihkan perhatian mereka" perintah Sabrang pada Wardhana.
"Baik Yang mulia" ucap Wardhana sambil menatap Rajanya yang sudah dipenuhi darah musuhnya.
Wajah Sabrang mengeras menandakan dia sedang menahan emosinya, aura ditubuhnya meluap tanpa batas. Sabrang telah melewati batas kekuatan manusia biasa.
Sabrang kembali bergerak dengan sangat cepat dan mengambil nyawa musuh yang berada dalam jangkauannya.
Wardhana bergerak mendekati pasukannya dan berteriak.
"Arung, gunakan formasi Kannaya Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan berbentuk lingkaran berlapis), susun kembali pasukanmu dan ikuti perintahku". teriak Wardhana sambil memberi tanda melalui gerakan tangannya.
"Ikuti perintah tuan Wardhan, bentuk formasi melingkar dan hancurkan musuh". teriak Arung kemudian.
Kehadiran Sabrang benar benar merubah situasi, mereka kembali bersemangat setelah Sabrang mampu membalikkan keadaan dengan cepat. Para pendekar Api dan Angin bergerak diantara ledakan ledakan energi keris penguasa kegelapan.
"Badai api neraka" Sabrang memutar pedangnya dan membakar semua musuh yang ada didekatnya.
"Kupastikan Masalembo hancur hari ini" teriak Sabrang sambil bergerak kearah beberapa pemimpin aliansi Masalembo.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ada yang bertanya tentang arti kata Masalembo yang merupakan musuh terbesar Sabrang.
Masalembu atau Masalembo adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, yang terdiri dari tiga pulau, yakni Masalembu, Masakambing, dan Kramian. Perairan di kepulauan ini kerap memakan korban. Musibah transportasi laut yang paling mengundang perhatian khalayak di perairan ini adalah peristiwa tenggelamnya Kapal Tampomas II pada 27 Januari 1981.
Jadi Masalembo adalah perairan yang mirip dengan Segitiga bermuda yang sering memakan korban kapal. Banyak kapal menghilang diperairan ini.
Seru? Vote!
__ADS_1