Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Daratan Hujung Tanah


__ADS_3

Sabrang terlihat duduk dibawah pohon rindang didekat danau, tempat dia pernah tertidur dipundak Mentari beberapa waktu yang lalu.


Tangannya sesekali memunculkan Anom dan melempar kearah danau sebelum dia menariknya kembali. Ada rasa gugup terpancar jelas dari wajahnya.


"Kau selalu gugup jika bertemu dengan gadis ini, sama seperti Arya Dwipa saat bertemu ibumu" ucap Anom terkekeh.


"Apa aku benar benar terlihat gugup?" tanya Sabrang pelan.


Anom belum sempat menjawab Mentari sudah berada didekat Sabrang.


"Yang mulia memanggil hamba?" tanya Mentari sopan.


Sabrang mengangguk pelan "Duduklah" ucapnya pelan.


Sejak dia mencium Mentari di alam bawah sadar entah kenapa Sabrang selalu gugup saat berada didekat gadis itu.


"Anda baik baik saja Yang mulia?" tanya Mentari khawatir setelah melihat wajah Sabrang pucat.


"Apa aku terlihat gugup?" tanya Sabrang panik.


"Gugup? hamba tidak mengatakan itu Yang mulia". Mentari mengernyitkan dahinya.


"Ah lupakan, aku salah bicara" Sabrang mengalihkan pembicaraan.


"Besok kami akan pergi ke Hujung tanah, paman Wardahana telah membagi beberapa tim untuk mengelabui Masalembo. Hanya aku, Paman, Ciha dan Arung yang akan pergi. Sepertinya kami kekurangan orang karena Lingga memiliki tugas sendiri. Ikutlah denganku, aku membutuhkanmu".


"Hamba? sebaiknya Yang mulia mengajak Dewi karena anda telah melatihnya begitu keras" ucap Mentari pelan, tampak gurat gurat kecemburuan diwajahnya.


Sabrang mengernyitkan dahinya "Apa kau marah padaku?".


"Hamba tak mungkin marah pada anda" balas Mentari.


"Kalau begitu ikutlah denganku".


Mentari terdiam sambil menundukkan kepalanya. Dia sadar orang yang dicintainya itu adalah seorang Raja yang tak mungkin dimiliki sepenuhnya.


"Kejadian akhir akhir ini membuatku bingung, banyak hal yang terbengkalai termasuk Malwageni. Semua masalah tak sesederhana yang kau pikirkan, mungkin kau sedikit marah padaku karena sikapku pada Tungga dewi dan Emmy namun kuharap kau mengerti. Aku tak memaksamu ikut, maafkan atas semua sikapku padamu". Sabrang merebahkan tubuhnya di tanah dan mulai memejamkan matanya.


Mentari menatap wajah Sabrang sambil tersenyum, dia kembali teringat saat pertama kali bertemu Sabrang.


Sabrang lah yang menyelamatkan hidupnya dari cengkraman para perampok kejam. Mentari yang saat itu tidak mengetahui identitas asli Sabrang mulai jatuh cinta.


"Kadang hamba berharap anda bukan seorang raja Yang mulia" gumam Mentari dalam hati.

__ADS_1


Mentari larut dalam pikirannya sendiri, sejak terkena racun dan mempelajari ajian lebur sukma dia sudah berusaha menekan perasaannya pada Sabrang namun kebaikan dan kepolosan pemuda itu selalu meluluhkan hatinya.


Dia menggenggam kalung pemberian Sabrang saat teringat ciuman di alam bawah sadar itu. Mentari kemudian memberanikan diri menyentuh rambut Sabrang, seperti yang dia lakukan sebelumnya di tempat yang sama namun kali ini berbeda karana Sabrang langsung memegang lengannya.


"Maaf Yang mulia" wajah Mentari pucat setelah Sabrang menatapnya sambil tersenyum hangat.


Sabrang terlihat menajamkan matanya sebelum dia dan Mentari menghilang tiba tiba.


Sebuah pemandangan indah menyambut Mentari saat dia membuka matanya. Air terjun bertingkat yang membentuk pelangi makin terlihat indah dengan rumbunnya pepohonan disekitarnya.


"Yang mulia" ucap Mentari pelan.


"Air terjun ini tersembuyi didalam hutan tapak es utara, bibi mengatakan ibu sering datang kesini saat sedang marah dan bingung sebelum ayah mengangkatnya jadi ratu Malwageni. Ibu juga berada disini seharian sebelum memutuskan menerima pinangan ayah menjadi Ratu Malwageni. Jika saat ini pikiranmu sedang bingung, aku akan menemanimu seharian sampai waktunya aku pergi ke Hujung tanah. Semoga ibu membantumu mengambil keputusan".


Sabrang berlari kearah air terjun dan langsung menceburkan diri kesungai itu. Sabrang seolah melepaskan sejenak beban yang selama ini berada dipundaknya. Dia menggunakan aura naganya untuk membuat air disekitarnya melayang sebelum menjatuhkannya tepat diatas kepalanya.


"Yang mulia Ratu, kau telah melahirkan seorang anak yang sangat hebat" gumam Mentari sambil tersenyum melihat tingkah Sabrang.


Setelah hari sudah terlihat sore dan Matahari mulai tenggelam, Sabrang mengajak Mentari kembali.


"Ayo kita kembali" ucap Sabrang menggandeng lengan Mentari. Dia bersiap menggunakan jurus ruang dan waktunya.


"Hamba akan ikut anda Yang mulia" ucap Mentari tiba tiba.


Tubuh mereka menghilang sebelum muncul kembali didanau tempat mereka duduk tadi.


"Beristirahatlah, besok pagi kita pergi". ucap Sabrang yang dibalas anggukan Mentari.


***


Hujung tanah adalah daratan terluas yang berada di Nuswantoro dan juga merupakan daratan paling misterius.


Beberapa hutan yang jauh lebih mengerikan dari hutan kematian milik kelompok teratai merah berada ditempat ini.


Puluhan sekte terkuat Nuswantoro baik aliran hitam maupun putih berada ditempat ini salah satunya adalah sekte angin dan api. Walau tidak sekuat sekte Elang langit dan Kekelawar penghisap darah yang menguasai hampir seluruh daratan Hujung tanah namun sekte Angin dan api cukup ditakuti oleh beberapa sekte menengah lainnya.


Keberadaan markasnya yang sampai saat ini tidak diketahui berada dimana dan keberadaan Candrakurama yang dijuluki Iblis Hujung tanah membuat sekte lainnya enggan berhubungan dengan mereka.


Kesaktian Candrakurama sudah diakui dunia persilatan Hujung tanah walaupun dia masih begitu muda.


Disalah satu hutan yang cukup terisolasi dari dunia luar karena dikelilingi rawa dan lumpur penghisap terdapat sebuah daratan yang cukup besar bernama Saranjana.


Berbeda dari markas Sekte angin dan api yang tersembunyi didasar danau, Saranjana bisa dilihat dari gunung yang anda disekitarnya namun tak ada orang yang berani mendekat karena selain medan yang cukup sulit untuk sampai ketempat ini, Saranjana juga dikenal sebagai markas sekte Elang langit yang merupakan terbesar di Hujung tanah.

__ADS_1


Elang langit sangat ditakuti dihujung tanah karena ketua sektenya memiliki pedang pusaka Taring merah yang didalamnya bersemayam mahluk terkuat hutan pedalaman Hujung tanah bernama Mariaban.


Bangunan markas Elang langit terlihat megah diantara rimbunnya hutan khas tropis. Beberapa bangunan bahkan terlihat jauh lebih maju dari Wentira. Hal inilah yang menjadi pertanyaan besar dunia persilatan Hujung tanah. Elang langit seperti memiliki ilmu pengetahuan yang sangat maju.


Prabaya, Ketua sekte Elang langit lah yang membangun semua itu. Dia selalu menutupi wajahnya saat keluar sekte membuatnya terkesan misterius.


Prabaya tampak duduk dikursi kebesarannya, beberapa orang kepercayaannya duduk berjajar di samping kanan kirinya.


"Apa kita sudah akan bertindak ketua?" tanya Wasta, salah satu tetua Elang langit yang dijuluki pendekar tengkorak.


Prabaya menggeleng pelan "Paraton dan telaga khayangan api hanya sebagai alat untuk menutupi sesuatu yang jauh lebih besar, jika aku menginginkan kitab itu sudah lama sekte Angin dan api hancur".


"Apa anda masih menunggu pemuda misterius itu muncul kembali?".


"Dulu, aku hampir menangkap pemuda sayangnya saat itu aku belum bisa menaklukkan Mariaban. Ilmu aneh yang digunakannya itu yang membuat kita sulit menangkapnya namun saat ini aku telah menguasai pusaka ini, tak akan sulit menangkapnya jika dia muncul kembali".


Prabaya kembali mengingat pertarungannya dengan Umbara puluhan tahun lalu saat Umbara hendak menyerang salah satu sekte aliran hitam yang berada dibawah kekuasaan Elang langit.


Pertarungan seimbang itu hampir dimenangkan Prabaya andai Umbara tak menghilang menggunakan jurus ruang dan waktu.


Walau Prabaya saat itu terluka parah namun Umbara pun terluka, jika saat itu dia sudah menaklukkan pusaka taring merah mungkin nyawa Umbara sudah mati diujung pedang pusakannya.


Pusaka Taring merah merupakan pusaka terkuat didaratan Hujung tanah namun sifat haus darah Mariaban yang bersemayam dalam pusaka itu kadang menyulitkan Prabaya. Mariaban selalu meminta persembahan darah gadis perawan setiap purnama jika ingin menggunakan kekuatannya secara maksimal.


"Lalu apa rencana anda ketua?" tanya Wasta.


"Aku yakin pengguna Naga api akan datang kesini untuk mencari kitab paraton, kita hanya perlu mempersiapkan semuanya. Pemuda misterius itu akan muncul saat pengguna Naga api itu datang. Saat itu tiba kita bisa membunuh mereka semua dan mendapatkan pusaka Naga api beserta rahasia yang disembunyikan pemuda itu, aku sangat tertarik dengan pusaka Naga api yang konon didalamnya bersemayam energi Banaspati".


"Baik ketua". jawab Wasta pelan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sedikit Informasi


Saranjana hampir sama dengan Wentira, kota Emas yang berada di Pulau Sulawesi. Saranjana digambarkan sebagai kota yang maju dan modern. Bahkan, penghuninya dikenal punya paras yang sangat cantik dan tampan. Sama seperti Wentira, Saranjana tak diketahui keberadaannya apakah memang ada atau hanya mitos.


PNA terinspirasi dari Saranjana untuk memasukkaannya dalam novel PNA sebagai markas sekte Elang Langit.


Sedangkan Mariaban konon merupakan suatu sosok siluman yang sangat menyeramkan yang tinggal didalam hutan yang belum pernah tersentuh manusai di Kalimantan.


Sedikit bocoran karena Author lagi baik, Pusaka Mariaban akan menjadi lawan terberat Naga api kali ini.


Terakhir terima kasih yang sudah bantu Vote PNA sehingga posisi Rankingnya jadi lebih baik dan tetap ditunggu dukungannya.

__ADS_1


__ADS_2