Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Arung Dalam Bahaya


__ADS_3

Para Pendekar Muda Hibata tengah berkumpul di ruangan khusus milik kelompok Teratai Merah ketika Wulan Sari dan Rubah Putih datang. Mereka masih tampak bingung karena Wulan tiba tiba mengusir dengan paksa.


Rubah Putih awalnya ingin membawa mereka semua ke keraton tapi demi merahasiakan hubungan Hibata dengan keraton, Mentari akhirnya mengungsikan mereka ke markas Kelompok Teratai Merah sekaligus meminta bantuan Wulan Sari untuk mengobati Sabrang.


Mentari berharap Kelompok Teratai Merah bisa mengobati racun yang terus menyebar Sabrang dengan kitab Dewi Obatnya.


"Guru, bagaimana kondisi Yang mulia?" tanya Tantri pelan sambil menyambut mereka.


"Kondisinya masih buruk, racun Kalajengking Neraka adalah racun paling mematikan yang bahkan bisa membunuh seseorang dalam hitungan detik, beruntung didalam tubuhnya bersemayam Naga Api, jika tidak mungkin dia sudah tewas," jawab Wulan lemas.


"Apa yang sebenarnya dipikirkan nenek itu, meracuni dan mengusir orang seenaknya," umpat Minak Jinggo kesal.


"Kalian semua dengarkan aku, saat ini adalah situasi paling sulit yang pernah kita hadapi. Hilangnya tuan Wardhana dan terlukanya Yang Mulia membuat kekuatan kita berkurang hampir separuhnya. Dalam situasi seperti ini walau sebenarnya kalian belum siap aku ingin meminta bantuan untuk pergi ke Gua Surupan untuk menemui seseorang," ucap Wulan Sari pelan.


"Gua Surupan?" tanya Gendis terkejut.


"Kau tau tentang gua itu?" balas Wulan Sari cepat.


"Aku belum pernah datang ketempat itu tapi menurut kabar seorang wanita aneh tinggal di gua itu," jawab Gendis.


"Nyai Sumbi namanya, wanita yang kau sebut aneh itu adalah guru dari Tari. Aku ingin kalian menemui dan membujuknya untuk datang ketempat ini karena mungkin dia satu satunya orang yang bisa menyelamatkan Yang Mulia," ucap Wulan Sari.


"Guru, bukankah akan lebih baik jika nyonya selir yang membujuknya? hubungan guru dan murid mungkin akan membuat wanita aneh itu luluh," sahut Gendis cepat.


"Saat ini Tari tidak bisa pergi kemana mana karena untuk menahan racun Kalajengking Neraka menyebar Naga api membutuhkan bantuan Tongkat Cahaya Putih. Tuan Rubah Putih akan menemui para tetua sekte aliansi dan aku harus menjaga tempat ini dan mendampingi Tari, hanya kalian yang tersisa," balas Wulan Sari.


"Tapi kalian harus berhati hati karena dunia persilatan sedang kacau saat ini, sejak kemarin banyak pendekar pendekar aneh menyerang sekte sekte kecil dan memaksa mereka bergabung. Kudengar, tadi malam beberapa sekte menengah diserang puluhan pendekar tak dikenal," ucap Rubah Putih cepat.


"Pendekar tak dikenal?" tanya Wicaksana bingung.


"Sesuatu sedang terjadi di dunia persilatan saat ini dan anehnya itu bertepatan dengan hilangnya tuan Wardhana dan terlukanya Yang mulia. Aku yakin semua ini memiliki hubungan, untuk itulah aku meminta kalian membawa Nyai kemari. Berhati hatilah, hindari sebisa mungkin pertarungan dan bawa wanita itu secepatnya kemari karena sekarang yang terpenting adalah keselamatan Yang mulia," jawab Wulan Sari sambil menatap Minak Jinggo dan Wicaksana bergantian.


"Mungkin saat ini para pendekar misterius itu hanya mengincar sekte sekte menengah tapi bisa saja Pedang Naga Api dan Angin Biru adalah yang berikutnya jadi tolong untuk kali ini kalian berdua bekerja sama, bukan demi Yang mulia atau siapapun tapi demi sekte kalian sendiri," tambah Wulan Sari.


"Aku akan mengingat pesan anda," jawab Wicaksana dan Minak Jinggo bersamaan.


"Tantri, kau yang memimpin kali ini, pergi dan berhati-hatilah, guru mengandalkanmu," ucap Wulan Sari pelan.


"Baik guru, kami pergi dulu," jawab Tantri cepat, dia menundukkan kepalanya sebelum melangkah pergi bersama yang lainnya.

__ADS_1


"Semoga mereka baik baik saja," ucap Wulan Sari khawatir.


"Semua akan baik baik saja, percayalah padaku, Saat ini lakukan saja apa yang kita bisa sambil menunggu kepingan terakhir Hibata untuk menyempurnakan kekuatan mereka," balas Rubah Putih sambil tersenyum.


"Lalu Yang Mulia..." Wulan Sari tak melanjutkan ucapannya, bayangan kematian Sabrang terus berputar dipikirannya. Dia bahkan tidak yakin Sumbi mampu menyembuhkan racun itu.


"Dia akan selamat, jika Nagari Siang padang saja tak bisa menguburnya aku yakin ada cara untuk mengeluarkan racunnya," jawab Rubah Putih sambil melangkah pergi.


***


"Sekte Bulan Merah diserang para pendekar misterius? kau yakin?" tanya seorang pemuda pada temannya.


"Apa aku terlihat berbohong? bukan hanya mereka tapi ada empat sekte lainnya juga di serang tadi malam, berita ini sudah menyebar di dunia persilatan," jawab temannya.


"Tapi bagaimana mungkin, bukankah sekte itu memiliki hubungan cukup baik dengan Rajawali Emas? siapa yang berani mencari masalah dengan Malwageni?" balas pemuda itu.


"Aku tidak tau tapi kudengar para pendekar yang menyebut diri mereka Carang Lembayung memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi, bahkan ketua sekte Bulan Merah yang terkenal cukup kuat tak mampu menghadapi mereka. Sepertinya dunia persilatan akan mengalami kekacauan besar terlebih jika Rajawali emas memutuskan membalas dendam."


"Carang Lembayung? aku belum pernah mendengar nama itu," ucap Arung dalam hati yang kebetulan sedang beristirahat di penginapan itu setelah kembali dari sekte Angin Biru untuk menyampaikan undangan pertemuan pada Brajamusti.


"Tapi jika kau perhatikan ada yang aneh dengan penyerangan semalam, hampir semua sekte yang diserang memiliki hubungan baik dengan Malwageni atau aliansi nya," bisik pemuda itu lagi.


"Jaga ucapanmu bodoh, apa kau mau cari mati? siapapun mereka itu bukan urusan kita."


"Benar juga....semua sekte yang diserang memiliki hubungan dengan Rajawali emas, Angin biru bahkan Pedang Naga Api. Sepertinya ada yang tidak beres, aku harus memberitahu Gusti ratu dan tuan Patih mengenai masalah ini," Arung memanggil pelayan dan membayar semua makanannya sebelum bergegas pergi.


***


Arung terus memikirkan ucapan dua pemuda di penginapan tadi selama perjalanan, dia baru menyadari jika sekte yang malam tadi diserang secara bersamaan memiliki hubungan dengan aliansi Malwageni.


"Mereka sepertinya tidak menyerang sekte sekte itu secara acak, jika semua berhubungan dengan keraton jangan jangan..." Arung menghentikan langkahnya saat dua pendekar tiba tiba muncul dan menghadang jalannya.


"Apa kau yang bernama Arung?" tanya pendekar itu pelan.


"Apa kita saling mengenal?" balas Arung cepat.


"Jadi kau benar benar Arung ya... ikutlah denganku ada yang ingin bicara padamu," jawab pendekar itu.


"Ikut dengan kalian? apa kalian pikir aku akan mengikuti orang yang bahkan tidak kukenal begitu saja?" jawab Arung pelan.

__ADS_1


Kedua pendekar itu saling menoleh sebelum menggeleng pelan.


"Sepertinya aku memang harus memaksamu," dua pendekar itu tiba tiba bergerak dan langsung menyerang Arung bersamaan.


Dua pendekar itu melakukan serangan bertubi tubi yang memaksa Arung terus bertahan, walau sebenarnya dia mampu mengimbangi kecepatan keduanya tapi formasi mereka dan kondisi pepohonan di hutan itu yang cukup rapat membuat Arung sedikit kesulitan melakukan serangan balik.


"Sial, aku harus mencari tempat yang lebih terbuka, pepohonan ini membatasi gerakanku," umpat Arung kesal sambil sesekali memperhatikan sekitarnya.


Salah satu pendekar misterius yang menyadari perhatian Arung mulai terpecah langsung meningkatkan kecepatannya sambil melempar belasan pisau energi yang dia ciptakan sedangkan pendekar satunya menyerang dari arah berlawanan.


Arung mencoba menghindar sambil mencari celah untuk melarikan diri, dia sadar kemungkinan menangnya kecil jika terus bertarung di hutan itu karena para pendekar misterius itu sepertinya terbiasa bertarung di tempat sempit.


"Formasi ini tidak terlalu rumit, jika aku bisa memisahkan mereka seharusnya ada celah untuk melarikan diri," Arung mulai berusaha menyerang balik setelah mengamati pergerakan mereka.


Namun betapa terkejutnya Arung saat tubuhnya terasa berat seketika, aura aneh yang meluap dari tubuh pendekar itu seolah merontokkan tulang tulang ditubuhnya.


"Gawat, mereka masih menyimpan kekuatan sebesar ini," Arung berusaha bergerak mundur namun kecepatannya sudah jauh berkurang.


"Jurus pedang Lembayung tingkat tiga," sabetan pedang kedua pendekar itu hampir memenggal kepala Arung andai dia terlambat menggunakan jurus pedang kabutnya.


Pedang kedua pendekar itu hanya menebas udara saat tubuh Arung berubah menjadi aura hitam.


"Kau meremehkan aku, hampir semua jurus pedang yang kau gunakan berasal dari kitab Sabdo Loji," pendekar misterius itu mengayunkan kembali pedangnya kearah aura hitam yang berusaha menjauh dan tiba tiba tubuh Arung terlempar dari dalam aura hitam itu dan membentur pohon besar.


"Tidak mungkin...bagaimana bisa dia menyerang...." Arung tak mampu melanjutkan ucapannya saat pandangannya mulai gelap sebelum hilang kesadaran.


Darah segar yang keluar dari luka menganga di punggungnya mulai membasahi tanah hutan itu.


"Ayo pergi, masih banyak tugas yang harus kita lakukan sebelum penyerangan dimulai," ucap pendekar itu pelan.


"Tapi kakang, apa tidak sebaiknya kita periksa dulu kondisi pendekar itu, bagaimana jika..."


"Tak ada yang bisa selamat setelah terkena serangan pedang Lembayung, andaikan saat ini dia belum mati, bau darahnya akan mengundang hewan buas di hutan ini," potong pendekar itu sebelum melesat pergi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Maaf hari ini agak terlambat karena saya harus menghadiri acara pernikahan kawan sepermainan di dua tempat... Ingat, jangan tanya kapan saya menyusul karena saya percaya barang mahal itu sulit laku dan tak semua orang bisa memilikinya...


Kemarin ada Reader yang meminta PNA DI STOP dulu beberapa waktu karena katanya alurnya mulai bias dan gak jelas....Kalo gua sih oke oke saja malah kebetulan bisa liburan wkwkwkkww.. Gimana pendapatnya Mblo?

__ADS_1


__ADS_2