
"Kau sudah mau pergi nduk?". Sumbi berbicara pada Mentari yang sedang bersiap pergi.
Mentari mengangguk pelan, ada rasa ragu dalam dirinya untuk menemui Sabrang dengan kondisi tubuhnya saat ini. Sebagai pengguna ajian lebur sukma tubuh Mentari kini dipenuhi racun yang terikat pada tenaga dalamnya. Hidupnya kini akan berakhir seperti Sumbi menyendiri disebuah tempat terpencil.
Dengan kondisinya saat ini pupus sudah harapan harapannya pada Sabrang. Sebagai gadis muda yang baru pertama merasakan jatuh cinta Mentari tidak bisa menyembunyikan rasa putus asanya. Namun dia sudah membulatkan tekadnya untuk mengabdi pada oranga yang telah menyelamatkan hidupnya.
"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk mengabdi pada Pangeran, kelak jika Pangeran berhasil merebut kembali Malwageni mungkin aku akan mengunjungi guru dan menetap bersama guru". Mentari berusaha menahan air matanya keluar dari kelopak matanya.
"Kau terlalu memaksakan diri nduk". Sumbi menggeleng pelan. Sebagai sesama perempuan Sumbi mengerti jika Mentari hancur dengan keadaannya saat ini.
"Lalu kemana kau akan mencarinya?".
"Aku tidak tau guru, aku akan mencoba mencari tuan Wardhana terlebih dahulu lalu memikirkan rencana selanjutnya".
Mentari menundukan kepalanya memberi hormat pada gurunya.
"Jaga diri baik baik guru dan terima kasih atas semuanya".
Sumbi hanya mengangguk sambil memandang kepergian Mentari.
"Aku tidak tau apa yang akan terjadi kelak namun sepertinya kau ditakdirkan untuk membantu anak itu mengendalikan Naga api".
***
Lembu sora terus berlali di dalam hutan, pandangannya sesekali melihat kebelakang seolah tidak ingin ada yang tau kemana tujuannya.
Langkahnya terhenti setelah melihat beberapa gubuk yang sengaja di bangun di bawah pohon rimbun membuatnya sulit dilihat dari jauh.
Dua orang berpakaian serba hitam menyambutnya sambil menundukan kepalanya memberi hormat.
"Selamat datang tuan sora". Salah satu prajurit menyapanya. Lembu sora mengangguk pelan sambil tersenyum kepada kedua orang yang menyambutnya.
"Aku ingin bertemu tuan Wardhana dan tuan Wijaya".
__ADS_1
"Baik tuan, silahkan ikuti aku". Salah satu prajurit menunjukan jalan pada Lembu sora.
Lembu sora berjalan sambil memperhatikan keadaan sekitarnya.
"Jadi disini mereka membentuk kembali Pasukan angin selatan". Gumamnya dalam hati.
Berkat negosiasi Wardhana dengan kerajaan Saung galah beberapa waktu lalu akhirnya Saung galah mengijinkan mereka tinggal di sebuah hutan yang terletak di Kadipaten Ligung.
Wijaya merubah hutan itu menjadi tempat persembunyian sekaligus tempat berlatih prajurit yang tersisa dan masih setia pada Malwageni.
Prajurit itu berhenti disebuah gubuk yang terlihat paling besar dari yang lainnya dan mempersilahkan masuk.
"Tuan Wardhana ada di dalam". Prajurit tersebut menundukan kepalanya sebelum meninggalkan Lembu sora untuk kembali berjaga.
"Ah kakang silahkan duduk kami sudah menunggumu". Wijaya dan Wardahan menyambut Lembu sora bersamaan.
"Jadi informasi apa yang kau dapatkan Sora?". Ucap Wardahan setelah mereka bertiga duduk.
"Semenjak kabar Iblis hitam memutuskan menarik diri dari dunia persilatan Majasari sepertinya sedikit menahan diri karena praktis hanya sekte Racun selatan dan Golok setan yang mendukung mereka kini sedangkan Lembah tengkorak lebih dulu berkhianat.
Wijaya menoleh kearah Wardhana yang terlihat sedang berfikir.
"Apa kakang tau kemana arah pasukan itu?" Wijaya bertanya pada Lembu sora.
"Aku kurang yakin tuan namun sepertinya mereka menuju Kadipaten Warangasem, Waringin dan Dayu geni. Itu perkiraan ku setelah melihat arah mereka tuan".
"Ketiga kadipaten itu jarak nya agak jauh dari Rogo geni, jika mereka berniat menghindari kecurigaan Saung galah dengan memecah pasukan sepertinya terlalu jauh jika harus bergerak setiap saat. Rogo geni akan lebih dulu ditaklukan sebelum mereka sampai, apa yang sebenarnya Paksi rencanakan". Wijaya memejamkan matanya sambil sesekali menoleh kearah Wardhana yang masih tetap diam.
"Lalu apa tindakan kita selanjutnya?" Wijaya akhirnya bertanya pada Wardhana yang dari tadi hanya diam.
Wardhana terlihat sedikit terkejut setelah mendapat pertanyaan tiba tiba Wijaya.
"Tuan pernah mendengar Taktik perang Putar pasukan (Author terinspirasi dari seni perang Sun Tzu, salah satu ahli siasat terbaik tiongkok jaman dulu)?" Wijaya mengernyitkah dahinya. Dia pernah mendengar siasat perang seperti itu namun hanya sekilas karena taktik perang itu sudah hilang bersama penciptanya yang tewas dalam peperangan antara dua kerajaan ratusan tahun lalu.
__ADS_1
"Siasat putar Pasukan?". Wijaya meminta penjelasan pada Wardhana.
"Siasat putar pasukan adalah sebuah seni perang kuno yang kini jarang diketahui orang, akupun hanya beberapa kali mendengar saat masa pelarianku dulu. Siasat putar pasukan akan mengorbankan sesuatu yang mereka miliki untuk mendapatkan kemenangan besar. Jika Majasari benar menggunakan siasat ini maka mereka akan mengorbankan Kadipaten Rogo geni demi kemenangan besar terhadap Saung Galah". Wardhana berkata pelan.
"Jelaskan padaku sejelas jelasnya". Wijaya terlihat tidak puas dengan penjelasan Wardhana.
"Mereka menarik sebagian pasukan dari Rogo geni beberapa waktu lalu untuk memancing kita dan Saung galah menyerang Rogo geni. Pasukan Saung galah akan terpusat dikeraton karena perayaan putri mahkota mereka. Saat kita melihat celah yang Majasari tinggalkan di Kadipaten Rogo geni maka kita tidak akan menyianyiakan kesempatan merebut kadipaten terpenting Mawlageni itu dan paksi sudah memperkirakan jika Saung galah akan membantu kita.
Seluruh adipati Saung galah pasti akan hadir mengucapkan selamat pada putri mahkota sehingga penjagaan di kadipaten yang ada di Saung galah akan longgar. Saat itu pasukan Majasari yang dilihat Sora berpencar akan menyerang kadipaten kadipaten itu. Jika Majasari berhasil merebut banyak kadipaten maka Saung galah akan terguncang.
Ketika Saung galah sudah menyadari jebakan itu, mereka tidak akan sempat mengerahkan pasukan untuk membantu karena kita tidak tau kadipaten mana yang menjadi sasaran Majasari.
"Jadi Paksi menggunakan siasat itu?". Ucap Wijaya sambil menatap Wardhana penasaran.
"Aku sendiri kurang yakin tuan namun beberapa gerakan yang Paksi perlihatkan beberapa waktu ini hampir sama dengan siasat Putar pasukan". Wardhana berbicara sambil memijat keningnya, sebuah kebiasaannya dari dulu jika sedang berfikir keras.
Wijaya menarik nafas perlahan, dia tidak menyangka jika rencana yang mereka buat selama ini dapat terbaca oleh Paksi dan jika rencana paksi berhasil bukan hanya Saung galah yang akan hancur tapi juga mereka akan semakin sulit merebut Malwageni.
"Apa kau tidak bisa mengatasinya?". Wijaya masih berharap pada orang dihadapannya yang dijuluki Naga yang tertidur dari Malwageni itu.
"Aku tidak yakin tuan namun ada satu rencana yang bisa kita jalankan". Wardhana berhentu sejenak sambil memejamkan matanya sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
"Namun kita harus meminta persetujuan pada Pangeran dan kerajaan Saung galah karena rencanaku kali ini sangat berbahaya bagi kita maupun Saung galah".
"Kau tau dimana Pangeran saat ini?" Wijaya menatap Lembu sora.
"Yang aku dengar dari teliksandi kita pangeran terlihat di sekitar Alas roban beberapa hari laku tuan".
"Cepat kirim orang untuk menemui pangeran dan berbicara dengannya lalu kirim pesan pada Mada untuk mengirim utusan kesini, kita tidak punya banyak waktu untuk berfikir. Resiko apapun dari rencanamu harus kita lakukan sebelum terlambat".
"Baik tuan secepatnya akan ku kirim utusan mencari pangeran". Lembu sora menundukan kepalanya.
"Yang masih belum kupahami kadipaten mana yang akan mereka serang pertama kali, ada puluhan kadipaten di Saung galah. Ahhh kepalaku mau pecah memikirkan masalah ini". Wardhana mendengus kesal.
__ADS_1
"Percayalah pada kemampuanmu sendiri Wardhana, Kali ini kau ditunjuk langsung Pangeran untuk memimpin misi ini dan kuharap ini menjadi awal kemenangan kita sebelum kita merebut kembali Malwageni". Wijaya memegang pundak Wardhana dan memberikannya semangat.