Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Latihan Sabrang Damar


__ADS_3

"Perhatikan sekelilingmu, jangan terlalu fokus pada seranganku, dengan kecepatan yang kumiliki aku dapat muncul dari mana saja," Wulan menambah kecepatannya, dia merubah gerakan jurus tiba tiba dan menyerang dari sisi kiri.


Sabrang membentuk dinding es sambil mengalirkan tenaga dalam murni ke tangan kanannya.


"Bertahan lagi? pertahanan terbaik adalah menyerang," Wulan yang hendak menghancurkan dinding es tersentak kaget ketika dinding itu mulai retak.


"Tipuan?" dia dengan cepat menarik serangannya dan melompat mundur.


"Tinju Naga api" sebuah energi kuning melesat saat dinding es hancur dan hampir mengenai Wulan.


"Sudah kukatakan jangan...," belum selesai Wulan bicara Sabrang sudah bergerak maju sambil melepaskan beberapa tinju naga api, dia terus berusaha mendekati Wulan.


"Tinju Naga api dengan energi naga api namun kali ini aku menggunakan energi murni, tidak menyalahi aturan bukan?"


"Dia sudah mulai terbiasa tanpa mata itu," Wulan terus menghindar sambil sesekali berusaha menyerang balik.


Sabrang tak menyianyiakan kesempatan yang didapatnya kali ini, dia terus menekan Wulan dengan kekuatannya walau semua serangannya berhasil dihindari dengan sempurna oleh lawannya.


Pertarungan dua pendekar itu berlangsung sengit, saling serang dan menekan terus terjadi.


"Kau masih meninggalkan celah," Wulan memancing Sabrang mendekat sebelum dia bergerak sedikit memutar dan mengayunkan pedangnya kearah punggung Sabrang.


Namun saat pedang Wulan hampir menghantam, Sabrang memunculkan pedang Naga api dan menangkis serangannya.


"Menarik, namun aku unggul satu langkah karena berada di titik buta pandanganmu."


"Satu," Wulan kembali menghitung sambil merapal jurusnya sesaat sebelum sebuah tinju naga api menghantam tubuhnya dengan keras.


"Dia membaca gerakanku?" Wulan memperhatikan mata Sabrang saat tubuhnya terpental, tak ada tanda tanda dia menggunakan mata bulannya.


"Aku berdiri tepat dititik buta nya, bagaimana dia bisa membaca gerakanku?" belum selesai rasa terkejut Wulan, Sabrang sudah bergerak cepat dan kembali menyerang dengan tangan kosong.


Pertarungan sengit dengan Wulan membuat Sabrang tanpa sadar menggunakan cakra manggilingan, dia terus menarik energi murni yang membuat gerakannya semakin cepat.


"Bagus, kau mulai bisa mengendalikan energi murni namun disinilah kelemahan terbesar trah Tumerah. Mata manusia memiliki batas untuk melihat dalam kecepatan tinggi, percuma saja gerakan semakin cepat jika mata mu tak mampu mengikuti, apa yang bisa kau lakukan dengan mata bulanmu dalam dua detik," Wulan terus meningkatkan kecepatannya untuk mengimbangi Sabrang.


Dia terus menajamkan matanya untuk mengimbangi kecepatan tubuhnya, mereka berdua bergerak semakin cepat dan saling menyerang.


"Dia memancingku untuk mengikuti kecepatannya, aku tak mungkin terus meningkatkan kecepatan, pandangan mataku akan mulau mengabur. Aku harus segera melumpuhkannya,"


Sabrang terus meningkatkan kecepatannya, aura kuning terus meluap seolah tanpa batas.


"Perasaan ini," Sabrang merasakan tubuhnya sangat ringan sehingga dia bisa terus bergerak cepat.


Wulan memperlambat gerakannya perlahan dan memancing Sabrang mendekat, saat Sabrang sudah berada didekatnya dia kembali meningkatkan kecepatannya dan menarik pedangnya.


"Gerakan kakinya?" Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Jurus pedang kegelapan tingkat II : Pelebur raga," Pedang Wulan mengeluarkan aura khas energi trah Tumerah.


"Malam ini kau akan dihukum kembali," gumam Wulan percaya diri, dia menggunakan hampir separuh energi murninya untuk memaksa Sabrang menggunakan mata bulannya.


"Menarik, Wulan memaksa anak itu memilih, gunakan mata bulan dan kau kembali ke awal atau mencoba berteman dengan kematian dan membangkitkan bakat terpendammu.


Kuharap kau tak membencinya, Wulan selalu memberi pilihan demi kebaikanmu dan kau hanya perlu mengambil resiko atau mengulang sebagai pecundang," Rubah putih yang bersembunyi disalah satu pohon tampak menantikan keputusan Sabrang.


Sabrang bukannya menghindar atau menggunakan mata bulannya, dia memutuskan bertaruh pada sesuatu yang dari awal pertarungan seperti mengajarkannya bergerak.


Serangan serangan yang sejak awal dilancarkan Wulan memang seolah berniat membunuhnya, dan dalam beberapa kali terkena serangan itulah Sabrang seolah merasakan tubuhnya bergerak sendiri dalam beberapa detik.


Sensasinya sangat berbeda dari biasanya, jika selama ini dia harus memperkirakan arah gerakan musuh lalu memutuskan bergerak kearah mana, kini dia merasa bisa bergerak kearah manapun dengan pertahanan yang tetap kuat tanpa celah.


Sabrang mengeluarkan pedang naga api di detik terakhir dan langsung menangkisnya, tubuhnya seolah bergerak sendiri kearah pertahan Wulan. Sabrang kembali memasukkan pedangnya karena waktu sudah hampir dua detik.


Dia memutar tubuhnya dan kembali menghantam tubuh Wulan.

__ADS_1


"Gerakan ini yang ingin ku lihat sejak awal, reflek dan kecepatan alami mu yang selama ini tertutupi oleh mata bulan," Rubah putih melompat turun karena yakin pertarungan telah berakhir.


Sabrang bergerak mengejar tubuh Wulan yang terpental, dia tidak memberi waktu Wulan berfikir sedikitpun.


"Cakar dewa bumi," tangan Sabrang berusaha menjangkau tubuh Wulan.


Wulan tidak tinggal diam saat merasa terdesak, dia memperbaiki kuda kudanya di udara dan siap menyambut serangan.


Namun wajah Wulan menjadi buruk saat gerakan Sabrang kembali berubah, dia merendahkan tubuhnya seolah tau dimana Wulan akan menyerang.


Ketika ayunan pedang Wulan hanya membelah udara, Sabrang memunculkan pedangnya dengan cepat dan merapal jurus yang sangat dikenalnya.


"Jurus pedang kegelapan tingkat II : Pelebur raga" dua detik yang cukup buat Sabrang untuk melumpuhkan Wulan namun dia memilih kembali menghilangkan pedang naga api tepat sebelum memotong leher Wulan.


Wulan tersentak kaget ketika hanya aura panas yang menyentuh lehernya.


"Maaf aku terlalu terbawa suasana pertarungan," ucap Sabrang yang berdiri dibelakang Wulan.


"Seorang pendekar selalu berteman dengan kematian, reflekmu akan semakin baik disaat tubuhmu merasa terancam, sepertinya kau sudah mengerti apa itu ilmu kanuragan," ucap Wulan sambil tersenyum untuk menutupi rasa takut yang tadi sempat dia rasakan.


"Kau telah kembali menjadi dirimu dulu nak," ucap Anom pelan.


Wulan menatap Rubah putih yang memberinya tanda untuk mengikutinya.


"Mata bulan bukan tidak berguna namun akan menjadi kelemahan jika kau terlalu mengandalkannya. Besok aku akan mulai mengajarimu ajian inti lebur saketi, berlatihlah menggabungkan mata bulan dan reflek alami tubuhmu, jika kau berhasil maka Rubah putih bukan lagi lawan yang tidak mungkin kau kalahkan.


Ingat pesanku, energi iblis api ataupun energi murni dalam tubuhmu akan menjadi maksimal jika reflek dan insting alamimu bekerja. Kau harus tau kapan menyerang dan bertahan untuk mengamati terlebih dulu lawan sebelum melepaskan jurus terbaikmu," ucap Wulan sambil melangkah pergi bersama Rubah putih.


"Terima kasih guru," balas Sabrang sambil menundukkan kepalanya.


***


"Sebaiknya kau memiliki alasan yang kuat karena berani mengganggu latihan anak itu," ucap Wulan sinis.


"Apa kau masih kesal jurusmu ditiru anak itu? goda Rubah putih.


"Bukankah ini menarik? aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksi dia ketika melihat dua trah bersatu dalam tubuh anak itu," Rubah putih tertawa keras sebelum mengeluarkan sebuah lempengan batu kecil yang tampak dipahat.


"Kau mengenali benda ini?" tanya Rubah putih pelan.


"Sorik marapi?" Wulan tersentak kaget.


"Aku sangat yakin sudah menghabisi mereka semua saat itu, entah bagaimana mereka bisa selamat," ucap Rubah putih.


"Dari mana kau mendapatkan batu itu?"


"Aku sudah menyelidiki siapa pendukung anak itu selama ini dan tapak es utara adalah salah satunya. Aku berniat bernegosiasi dengan tapak es utara untuk membantu kita namun sesuatu terjadi saat aku datang.


Seluruh anggota sekte tewas oleh serangan misterius dan aku menemukan batu ini diantara tumpukan mayat.


Misi kali ini sepertinya akan semakin sulit dengan kehadiran Sorik Marapi, jika Sorik Marapi masih ada berarti orang itu masih hidup. Kau tentu tau seberapa besar kekuatannya bukan?"


Wulan mengangguk pelan, "Lalu apa yang akan kau rencanakan?"


"Hanya anak itu harapan kita untuk mengimbangi mereka, setelah kau selesai melatihnya aku akan mengajaknya ke suatu tempat dan selama aku pergi aku ingin kau mengajarkan seseorang seluruh ilmu kanuraganmu. Inilah saat yang tepat untuk menghancurkan mereka."


"Mengajarkan seseorang?" Wulan mengernyitkan dahinya.


"Aku akan mencoba membawanya kesini setelah anak itu selesai berlatih denganmu, kita harus cepat karena mereka mulai bergerak," balas Rubah putih.


"Tunggu dulu," ucap Wulan saat Rubah puth hendak pergi.


"Jangan katakan jika kau akan mengajak Sabrang ketempat itu?"


"Kau selalu bisa membaca gerakanku," balas Rubah putih sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kau sudah gila, anak itu tak akan mampu bertahan ditempat itu," balas Wulan.


"Kau lupa dia memiliki darah dua trah besar Masalembo?" tepat setelah selesai bicara, Rubah putih menghilang.


"Kau benar benar gila," Wulan menggeleng pelan.


***


Suasana keraton Malwageni tampak sunyi malam itu walau ada beberapa prajurit yang sedang berjaga.


Seorang wanita yang menggunakan pakaian kebesaran kerajaan tampak berjalan kearah taman.


Dia sesekali menatap langit malam itu sambil menarik nafas panjang.


"Tak kusangka aku akan mengenakan pakaian seperti ini. Ibu, aku sudah memutuskan untuk mengabdi pada orang yang kucintai, kuharap ibu mengerti jika aku tidak memilih menjadi pendekar," ucapnya pelan.


"Pakaian aneh itu sama sekali tak bisa menutup bakat yang kau miliki," Rubah putih terlihat melayang di udara.


Wanita itu langsung bereaksi cepat, dia memasang kuda kuda sambil menatap tajam Rubah putih.


"Siapa kau?" teriak Emmy, dia mencoba mencabut pedang yang biasa terselip di pinggangnya.


"Sial aku lupa pedang dilarang di dalam keraton," umpatnya dalam hati saat menyadari dia tidak membawa pedang.


"Aku melihatmu bertarung saat pertama kali kita bertemu dalam pertempuran. Gaya bertarungmu sangat mirip dengan seseorang yang kukenal.


Hancurnya Masalembo membuat para pemimpin dunia murka, saat ini mereka mulai bergerak mengincar rajamu. Sekte tapak es utara hanya awal peringatan mereka, kau tentu sudah mendengar hancurnya sekte itu bukan?"


Emmy mengangguk pelan, dia hampir tidak percaya saat Wardhana mengatakan Mantili tewas bersama seluruh muridnya saat diserang oleh pendekar misterius, dengan kekuatan Mantili tak banyak yang bisa melawannya.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Emmy pelan.


"Lawan kita bukan hanya para pemimpin dunia, aku membutuhkan banyak bantuan untuk menghadapi mereka.


Aku sangat tertarik dengan gaya bertarungmu, temanku akan mengajarimu ilmu kanuragan dan menjadikanmu pendekar wanita terkuat, apa kau tertarik?"


"Aku sudah memutuskan mundur dari dunia persilatan sejak menjadi selir, kuharap kau mengerti," balas Emmy pelan.


"Saat ini rajamu sedang bersamaku bertaruh hidup dan mati demi melindungi Malwageni dan isinya, bukankah tugas selir membantu rajanya?"


"Yang mulia bersamamu?," Emmy tampak tersentak kaget.


"Kau tidak percaya? aku bisa mengajakmu menemuinya," balas Rubah putih.


"Tak perlu, seorang selir tak bisa keluar tanpa izin Yang mulia," Emmy melangkah pergi meninggalkan Rubah putih yang masih melayang di udara.


"Jadi apa jawabanmu?"


"Titah raja adalah mutlak, jika aku menerima titah Yang mulia maka aku akan pergi," balas Emmy tanpa menoleh sedikitpun.


"Baiklah, aku akan bicara dengan rajamu," ucap Rubah putih sebelum kembali menghilang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Catatan Sikil


Sorik Marapi adalah organisasi pelindung trah Dwipa, semacam Hibata yang melindungi Malwageni.


Banyak yang bertanya apa itu Sorik Marapi...


Sorik Marapi adalah adalah sebuah gunung yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Batang Gadis, secara administratif berada di Desa Sibanggor Julu, Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara.


Sama seperti Hibata, Sorik Marapi juga konon diselimuti misteri.


Satu lagi mengenai roh yang bersemayam di di dalam golok Rubah putih yang bernama Suanggi.

__ADS_1


Menurut mbah gugel, Suanggi adalah roh jahat terkuat yang berasal dari indonesia bagian timur. Saya kurang paham daerah mana karena ada beberapa versi di gugel namun setau saya berasal dari Papua (Koreksi jika salah)


itu saja penjelasannya.. terima kasih banyak atas semua dukungan kalian..


__ADS_2