Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Gua Emas di Danau Embun II


__ADS_3

Danau embun adalah sebuah danau yang terletak dipuncak gunung Kerinci. Suku Hutan dalam menyebutnya danau embun karena air yang ada didanau itu sejernih embun, bakan danau yang cukup dalam itu masih terlihat dasarnya dari atas.


Yang membuat danau embun makin unik adalah danau itu tampak tak bisa keruh walau hujan deras mengguyur gunung Kerinci.


Wardhana memberi aba aba pada Emmy dan Ciha untuk mengambil nafas sebelum menyelam, mereka harus membawa persediaan udara karena akan menyelam cukup lama.


Wardhana menyelam lebih dulu untuk menggeser beberapa batu bersusun membentuk pola tiga pulau berjejer sesuai dengan penjelasan Ciha. Dia kembali mengingat penjelasan terakhir Ciha sebelum mereka menyelam.


"Apa maksudmu menggeser tiga batu susun itu membentuk pola tiga daratan?" tanya Wardhana penasaran.


Ciha menunjuk gambar daratan digulungan yang mereka temukan di Wentira.


"Saat aku melihat batu bersusun itu, aku merasa pernah melihat bentuk batu itu sebelumnya. Coba anda bandingkan dengan gambar tiga daratan ini, bukankah sama?". Ciha menunjuk Daratan Swarnadwipa, Jawata dan Walidwipa.


"Jika anda memperhatikan batu yang berbentuk sama dengan tiga daratan ini maka posisi batu itu salah karena Walidwipa berada ditengah yang seharusnya adalah Jawata. Jika kita menggeser dan meletakan sesuai dengan urutan gambar ini aku yakin akan terjadi sesuatu".


"Jika tidak salah seperti ini urutannya" ucap Wardhana setelah menggeser batu terakhirnya. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Wardhana kembali naik keatas untuk mengambil nafas.


"Semua sudah kususun sesuai dengan gambar ini, sekarang kita tinggal menunggu apakah akan terjadi sesuatu" ucap Wardhana pelan.


Sabrang dan yang lainnya ikut penasaran apa yang akan terjadi setelah batu itu disusun sesuai dengan gambar di gulungan.


Tak lama dari dasar danau perlahan tapi pasti muncul tuas berbentuk lingkaran, tuas itu muncul seperti didorong sesuatu dari dalam dan untuk pertama kalinya danau embun yang terkenal sangat jernih itu terlihat keruh.


Raut wajah Ciha tampak sumringah sambil menatap Wardhana.


"Tuan" ucap Ciha bersemangat.


Wardhana mengangguk pelan sebelum memberi perintah. "Kita akan menyelam bersama dan memutar tuas itu. Setelah satu menit aku ingin kau naik dan mengambil nafas, setelah Emmy kembali menyelam giliranmu Arung yang mengambil nafas baru setelah itu aku. Kita tidak tau apakah tuas itu masih berfungsi karena lama terendam air jadi berhati hatilah" ucap Wardhana yang langsung menyelam diikuti Emmy dan Arung.


Lenny hanya mematung setelah melihat mereka kembali menyelam "Ayah, sepertinya gua emas itu kini akan terbuka".


Mereka bertiga mulai memutar tuas itu, setelah beberapa kali mengambil nafas dan berputar tiba tiba tubuh mereka seperti terhisap sesuatu.


Air danau surut dengan cepat saat dinding selatan danau terbuka seperti terbelah, air masuk kedalam celah itu dengan cepat.


Arung memegang tubuh Emmy yang hampir terhisap bersama air danau. Saat air danau benar benar habis, sebuah celah besar terlihat jelas.


Wardhana menoleh keatas dan menatap Sabrang.


"Sepertinya gua emas ada didalam Yang mulia".


Sabrang tersenyum kecil sebelum melompat turun diikuti Lingga dan Lenny.


"Jaga tempat ini, jika terjadi sesuatu beri tanda padaku" ucap Lenny pada pengikutnya sebelum melompat turun.


Mereka mulai memasuki celah gua itu, walau terlihat kecil dari luar namun lorong gua semakin besar saat mereka masuk lebih dalam.


Sisa sisa air yang terisap masuk masih terlihat membuat tanah gua menjadi licin, mereka harus berjalan pelan agar tidak tergelincir.


Bau tak sedap dan pengap menambah mencekam suasana gua itu.

__ADS_1


Gambar gambar bangunan menjulang tinggi lengkap dengan detail sudutnya menghiasi dinding lorong gua itu.


"Apa ini adalah gambar Kumari kandam sebelum hancur?" gumam Wardhana dalam hati.


"Pola bagunan dan kunci batu bersusun sama persis dengan dua rumah para dewa lainnya, aku jadi penasaran dari mana sebenarnya pemuda misterius itu mendapatkan kitab ilmu pengetahuan itu".


Semua terlihat takjub pada apa yang meleka lihat, sebuah gua yang cukup besar, dengan lubang angi yang sepertinya terhubung keatas sehingga asupan oksigen tetap terjaga meski sudah lama tidak dibuka menandakan tempat itu dibangun dengan perhitungan yang sangat matang.


Wardhana menghentikan langkahnya saat melihat sebuah gerbang berwarna kuning emas yang mencolok didepannya.


Wardhana melangkah mendekat dan meraba gerbang itu perlahan.


"Apakah bisa dibuka?" Ciha berjalan mendekat.


"Pola setiap rumah para dewa hampir sama, menandakan semua dibangun dengan ilmu pengetahuan yang sama. Ciri khas batu bersusun sepertinya menjadi ciri peradaban mereka, jika batu ini kuputar sesuai dengan kebiasaan kunci lainnya maka aku yakin pintu akan terbuka" Wardhana memutar sedikit batu disebelah gerbang emas itu dan tak lama, perlahan tapi pasti gerbang itu mulai terbuka.


Sebuah ruangan yang diselimuti emas menyambut mereka saat gerbang itu sudah terbuka lebar.


"Inilah Rumah para dewa ketiga, sebaiknya kita cepat mengambil serpihan kunci itu" Wardhana melangkah masuk ruangan dan mulai mencari serpihan kunci Telaga khayangan api.


Saat Wardhana melangkah masuk tiba tiba tanah yang diinjaknya bergeser kedalam.


"Sial jebakan" Wardhana mencoba mundur namun puluhan tombak melesat dari dinding ruangan menuju kearah Wardhana.


Sabrang memegang punggung Wardhana dan dalam hitungan detik tubuhnya sudah diselimuti bongkahan es.


Wardhana menelan ludahnya, jika perisai es terlambat sedikit saja melindungi tubuhnya maka mungkin saat ini dia sudah meregang nyawa.


"Terima kasih Yang mulia" ucap Wardhana pelan.


"Ini aneh" gumam Wardhana sambil menoleh kearah Ciha.


Ciha mengangguk setuju sambil berjalan masuk hati hati.


"Aneh? " Lingga yang mendengar ucapan Wardhana mengernyitkan dahinya. Bagi dirinya sebuah jebakan di ruang rahasia adalah hal wajar mengingat apa yang tersimpan didalamnya sangat penting.


"Dua rumah para dewa lainnya juga menyimpan kepingan kunci telaga api namun mengapa hanya tempat ini yang dilengkapi dengan jebakan mematikan? apa kau tidak merasa aneh".


"Mungkin saja yang membangun tempat ini baru berfikir jika mereka butuh jebakan untuk melindungi ruang penyimpanan kunci telaga api setelah dua ruangan sebelumnya sudah terbangun, jangan terlalu dipikirkan" Lingga menepuk pundak Wardhana untuk menenangkannya.


"Begitu ya" ucap Wardhana ragu, dia masih merasa semua ini aneh. Tidak mungkin mereka lupa memasang jebakan saat bangunan yang mereka buat begitu detail sampai memikirkan sirkulasi udara dari atas.


Setelah memastikan ruangan aman, Sabrang mendekati Wardhana sambil membawa pecahan kunci telaga khayangan api yang dia temukan disudut ruangan.


"Kuncinya paman" Sabrang menyerahkan potongan kunci itu pada Wardhana.


"Paman" panggil Sabrang lagi setelah Wardhana tidak merespon ucapannya.


"Ah maaf Yang mulia" Wardhana cepat cepat menerima kunci itu dan menyimpannya dibalik pakaiannya.


"Paman baik baik saja?".

__ADS_1


"Hamba baik baik saja Yang mulia, mohon jangan terlalu khawatir. Hamba hanya merasa ada yang aneh dengan ruangan ini".


"Mungkin paman hanya lelah, sebaiknya kita istirahat semalam sebelum mencari pecahan berikutnya" ajak Sabrang sambil melangkah keluar ruangan.


"Misteri bersusun" ucap Wardhana tiba tiba yang menghentikan langkah Sabrang dan yang lainnya saat keluar dari gua emas itu.


Semua menoleh bingung kecuali Ciha yang sepertinya juga menyadari sesuatu setelah mendengar ucapan Wardhana.


"Misteri bersusun?" Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Apa Yang mulia ingat kita menemukan ruang rahasia di rumah para dewa Wentira? aku menemukan gulungan gambar daratan disana, bagaimana jika disini ada ruang rahasia didalam ruang rahasia?".


"Ruang rahasia didalam gua emas? bukankah kita sudah menemukan pecahan kunci itu?"


"Puluhan tombak tidak mungkin muncul tiba tiba dari balik batu, aku yakin ada ruangan khusus untuk meletakkan tombak itu" Wardhana berjalan kearah asal tombak tadi muncul dan meraba dinding emas itu.


"Semoga aku salah, jika benar ada ruang rahasia didalam gua emas maka masalah yang kita hadapi tak sesederhana hanya Telaga khayangan api" Wardhana meninju dinding gua emas itu kuat.


Wajahnya berubah buruk saat dinding ruangan yang dia pukul tadi bergeser, sebuah ruangan yang jauh lebih besar terlihat dibalik dinding yang bergeser.


Dia tersenyum kecut sambil menarik nafas panjang.


"Paman" ucap Sabrang takjub setelah melihat dinding ruangan bergeser.


"Aku takut mengakuinya Yang mulia namun jika tebakanku benar, Telaga khayangan api hanya pengalih perhatian. Ada suatu rahasia besar yang coba mereka tutupi dengan mengarahkan kita pada telaga khayangan api".


"Maksud paman" Sabrang masih belum mengerti ucapan Wardhana.


"Kita sengaja dibimbing menuju Telaga khayangan api untuk menutupi sesuatu ditempat lain. Jika kalian datang kesini mencari kepingan kunci telaga khayangan api dan menemukannya, apakah kalian masih berfikir ada ruang rahasia lain?. Kunci telaga khayangan api sengaja ditaruh ditempat mencolok untuk menyamarkan sesuatu yang jauh lebih besar dari Kumari kandam" Ciha membantu menjelaskan pada Sabrang.


"Misteri yang lebih besar dari Telaga khayangan api?"


"Seorang pemuda yang dulu memberikan kitab ilmu pengetahuan pada Kumari kandam dan juga pemuda yang menemui ayah nona Lenny adalah orang yang sama. Dia sengaja memberikan kitab pengetahuan itu untuk mengalihkan perhatian kita semua pada sesuatu yang dia sembunyikan. Aku yakin di ruang rahasia sekte tapak es utara ada ruangan lain yang belum terbuka".


Wardhana menarik nafasnya perlahan sambil memberi tanda pada Ciha untuk ikut masuk ruangan itu.


"Jika di Wentira pemuda itu meninggalkan gulungan berupa gambar daratan didunia, aku penasaran apa yang dia sembunyikan di ruangan ini" Wardhana melangkah masuk diikuti Ciha dan yang lainnya.


Sabrang bersiap membentuk dinding es jika sewaktu waktu ada jebakan yang menyerang mereka.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


PNA sudah memasuki babak ketiga dari rahasia terbesar Nuswantoro. Mungkin agak sedikit membingungkan bagi yang tidak terlalu mengikuti dari awal.


Akan ada sesuatu yang besar dan mengejutkan yang sangat berhubungan dengan perjalanan Arya di Api di Bumi Majapahit, jadi mari nikmati bersama apa yang akan ditemukan Sabrang diakhir nanti.


Ada satu permintaan dari beberapa Reader untuk membuat chanel Youtube dan khusus membahas misteri misteri di Nusantara yang pernah disebutkan di PNA termasuk kota emas Wentira disulawesi. Saya akan coba kabulkan permintaan teman teman. Dan jika banyak peminatnya saya akan selipkan juga konten konten mengenai Trilogi Naga api yang tidak terbahas dicerita ini.


Terakhir saya ingin menjelaskan sesuatu tentang Tulisan tebal Walidwipa.


menurut Wikipedia Pulau bali atau Pulau dewata dulu dikenal sebagai Walidwipa atau Balidwipa.

__ADS_1


Kalian luar biasa.....


__ADS_2