
Sabrang berjalan mendekati Lenny yang terlihat pucat, dia sadar kemampuannya jauh dibawah pendekar muda bermata biru itu. Dia terus berusaha mencari alasan yang tepat namun percuma, Sabrang sudah melihat sendiri dia mau menyerang Lingga.
Puluhan energi keris yang diselimuti kobaran api muncul diatas kepala setiap anggota suku Hutan dalam tak terkecuali Lenny. Sabrang hanya butuh menggerakan satu lengannya untuk membunuh seluruh suku Hutan dalam.
"Aku bisa menjelaskannya tuan" ucap Lenny terbata bata.
"Jelaskan" Sabrang berkata dingin.
Melihat Rajanya diselimuti amarah, Wardhana memberanikan diri menenangkannya. Bagaimanapun mereka masih membutuhkan suku Hutan dalam untuk mencari gua emas. Jika Sabrang membunuh semuanya maka akan sangat sulit bagi mereka mencari gua itu ditengah hutan yang belum pernah mereka datangi sama sekali.
"Yang mulia, mohon bersabar" ucap Wardhana pelan sambil menoleh kearah Lingga untuk meminta bantuan menenangkan Sabrang.
Lingga yang sebenarnya malas dengan urusan seperti ini akhirnya menuruti Wardhana karena sadar tak mudah mencari sendiri gua emas itu.
"Sebaiknya kau menahan diri atau gua itu tak akan pernah kita temukan" Lingga ikut menenangkan. Dia lalu menatap tajam Lenny yang mulai mengeluarkan keringat dingin.
Sabrang bergeming, dia masih belum menarik energi keris yang berputar diudara.
"Ak..aku hanya takut kalian akan membunuh kami setelah menemukan gua itu tuan, harap kalian mengerti karena bagaimanapun aku tidak mengenal kalian. Ditambah penyerangan yang dilakukan sekte Gunung merah membuatku harus berhati hati" Lenny mulai menjelaskan alasannya.
"Lalu jika kau membunuhnya, apa kau pikir aku akan melepaskan kalian?" tanya Sabrang sinis.
Lenny terdiam tak bisa menjawab pertanyaan Sabrang, dia menoleh kesekelilingnya dan mendapatkan para anggotanya berwajah pucat seperti dirinya.
Dia menggeleng pelan sambil menarik nafas panjang.
"Aku akan mengantar kalian ke gua emas itu tapi kumohon lepaskan mereka, kau bisa membunuhku jika sudah sampai di gua itu".
Wardhana tersenyum kecil sambil melangkah maju mendekati Lenny.
"Kami tak sekejam itu, jika kau mengantarkan kami dan tidak bertindak bodoh maka aku pastikan kalian semua selamat".
Raut wajah Lenny sedikit terlihat lega setelah mendengar ucapan Wardhana walaupun energi keris masih berputar diatas kepala mereka.
"Jika aku boleh bertanya, sebenarnya apa yang ada didalam gua emas itu?".
"Apapun yang ada didalam sana akan sangat membahayakan dunia persilatan, kami akan menghancurkannya".
Lenny terdiam mendengar ucapan Wardhana, dia kembali teringat ucapan Ayahnya sebelum tewas tenggelam didanau embun.
"Kesalahan terbesar dalam hidupku adalah menemukan tempat ini nak, aku mengira apa yang ada didalam sana dapat membuat hidup kita nyaman namun sepertinya aku salah. Petunjuk petunjuk yang kutemukan semakin menjelaskan bahwa apa yang ada didalam sana sangat berbahaya. Kau harus berjanji pada ayah untuk menjaga tempat ini dan tak membiarkan siapapun menemukannya nak"
Lenny menggeleng pelan sambil menatap Wardhana.
"Apakah kalian mau berjanji padaku untuk tidak menyalahgunakan apa yang ada didalam sana".
"Apa kau terlihat memiliki pilihan nona?" ucap Lingga sinis.
"Kau bisa mempercayaiku nona" Wardhana tersenyum lembut.
Setelah berfikir beberapa saat Lenny akhirnya mengangguk pelan.
"Aku akan mengantarkan kalian kesana namun bisakah anda meminta tuanmu menarik pusakanya?" ucap Lenny hati hati sambil menunjuk keris yang masih berputar diudara.
__ADS_1
Wardhana mendekati Sabrang dan menundukkan kepalanya. "Yang mulia".
"Aku tau paman" Sabrang menarik seluruh energi keris dan memasukannya kembali ketubuhnya.
"Terima kasih tuan, mari ikuti aku".
***
Perjalanan menuju gua embun ternyata jauh lebih sulit dari yang diperkirakan Wardhana. Lereng gunung kerinci yang curam, ditambah beberapa hewan buas yang berbisa membuat mereka tak bisa berjalan terlalu cepat.
Sesekali mereka harus memutar jalan karena jalan yang mereka lalui terlalu curam dan berbahaya. Sinar matahari yang tak mampu menembus lebatnya pepohonan tinggi membuat hawa lembab dan mencekam.
Lenny yang berjalan paling depan bersama Wardhana sesekali menghentikan perjalanan untuk beristirahat sejenak.
"Aku dan ayahku menemukan tempat ini setelah puluhan tahun mengikuti petunjuk yang dia dapatkan digulungan tua. Sampai saat ini kamu tidak tau apa sebenarnya yang tersimpan didalam sana".
"Ayahmu seorang pendekar?" tanya Wardhana.
Lenny menggeleng pelan, "Ayahku hanya seorang pedagang yang kebetulan menguasai beberapa jurus pedang namun hidup kami berubah saat bertemu seorang pemuda. Dia memberi kami beberapa kitab ilmu pengetahuan namun entah kenapa ayahku membakarnya setelah mengetahui isinya.
"Seorang pemuda? apakah seperti ini ciri cirinya?". Wardhana menjelaskan ciri ciri pemuda yang pernah diceritaka Tanwira yang juga memberikan kitab ilmu pengetahuan pada kumari kandam.
Lenny mengernyitkan dahinya heran "Anda mengenal dia?".
Wardhana menggeleng pelan, raut wajahnya berubah seketika.
"Kapan ayahmu bertemu dengan pemuda itu?".
Lenny berfikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Wardhana.
"Umur nona saat ini?".
" 27".
Wardhana terdiam mendengar jawaban Lenny, dia benar benar bingung dengan semua misteri ini. Jika pemuda yang memberikan kitab pada Lenny adalah orang yang sama dengan yang dikatakan Tanwira maka akan semakin aneh.
Peradaban kumari kandam sudah jutaan tahun lalu berdiri dan dia muncul kembali dihadapan ayahnya Lenny dua puluh enam tahun lalu. Bagaimana manusia bisa hidup selama jutaan tahun.
"Apakah mereka orang yang berbeda? namun bagaimana bisa ciri ciri mereka berdua bisa begitu mirip" gumam Wardhana dalam hati.
Sepanjang perjalanan Wardhana hanya diam sambil memikirkan keanehan pemuda misterius itu.
"Apa yang direncanakan pemuda itu sebenarnya? dia memberikan kitab ilmu pengetahuan yang sangat tinggi pada orang tidak dikenal lalu menghilang dan meninggalkan masalah besar, dan dari mana pemuda itu berasal?". Wardhana terus larut dalam pikirannya sampai suara Lenny mengagetkannya.
"Kita sudah sampai" Lenny menunjuk danau yang sangat jernih dihadapannya.
Semua memandang takjub danau embun yang ada dihadapan mereka. Rindangnya pepohonan disekitar danau seolah melindungi danau itu dari sinar matahari.
Airnya yang sangat jernih dan tenang seolah menyembunyikan sesuatu yang besar dari dunia yang penuh angkara murka itu.
Wardhana melangkah pelan mendekati danau itu dan mendapati dasar danau yang terlihat jelas. Beberapa ikan berukuran sedang terlihat berenang kesana sini karena terganggu atas kehadiran Wardhana.
"Susunan batu yang berada didinding itu adalah gerbang menuju gua emas, setidaknya itu yang dikatakan ayahku namun sampai detik ini kami tak pernah berhasil membukanya" ucap Lenny pelan.
__ADS_1
"Yang mulia, sebaiknya kita istirahat sejenak. Aku akan mencoba mencari cara untuk membuka gerbang itu" ucap Wardhana pelan sambil menundukan kepalanya.
"Baik paman" jawab Sabrang sambil duduk dibawah pohon rindang yang berada dipinggir danau.
"Makanlah, aku yakin kau lapar setelah mengeluarkan banyak tenaga dalam" Emmy mengulurkan beberapa buah buahan yang dia ambil sepanjang perjalanan tadi.
Emmy duduk disebelah Sabrang sambil terus memandang danau indah itu.
"Aku sudah memiliki kekasih" ucap Sabrang tiba tiba, dia merasa harus berkata jujur pada wanita dihadapannya itu.
"Aku sudah tau" jawab Emmy.
Sabrang mengernyitkan dahinya heran, seingatnya dia belum pernah mengatakan apa apa pada Emmy. "Kau sudah tau?".
"Kau jangan meremehkan insting seorang wanita, walau mulutmu tak bicara apapun namun matamu tak bisa membohingiku".
Sabrang menelan ludahnya setelah mendengar jawaban Emmy. Dia merasa wanita disampingnya itu memiliki ilmu kanuragan tinggi karena bisa membaca matanya. Jika selama ini mata bulannya selalu membuat lawannya bertekuk lutut namun bagaimana mungkin Emmy bisa mengalahkan mata bulannya dengan sekali lihat.
"Apa kau berniat mencari selir?"
Mendapatkan pertanyaan tiba tiba seperti itu menbuat Sabrang kelabakan.
"Aap maksudmu? aku tak memikirkan sampai sejauh itu, saat ini fokusku adalah menemukan semua kunci telaga khayangan api dan merebut kembali kerajaan ayahku".
Emmy kembali tertawa setelah mendengar ucapan Sabrang, dia merasa dibalik kekuatan mengerikan yang dimiliki pemuda itu tersimpan sifat polos dan baik hati. Sifat itulah yang membuat Emmy jatuh hati pada Sabrang.
"Kau tau, sejak awal aku sudah mempersiapkan semua kemungkinan yang ada. Aku tidak takut bersaing dengan siapapun" Emmy bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Wardhana sambil tersenyum kecil.
"Bersaing?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Aku paling mengetahui sifat adik seperguruanku itu, kau dalam masalah" Arung yang sejak tadi duduk tak jauh dari mereka mendekati Sabrang.
"Bersaing? apa aku pernah mengajaknya bersaing ilmu kanuragan?" tanya Sabrang bingung.
"Apa kau sebodoh ini?" Arung menggeleng pelan.
***
Emmy mendekati Wardhana yang terlihat berdiri sambil menatap bebatuan aneh yang tersusun disalah satu sudut dinding. Wardhana sesekali berdiskusi dengan Ciha sambil menunjuk dasar danau.
"Apa ada yang bisa kubantu tuan?" ucap Emmy pelan.
Wardhana mengernyitkan dahinya saat menatap Emmy.
"Apa terjadi sesuatu?" Wardhana merasa selama ini Emmy banyak diam namun kali ini dia sangat bersemangat.
Emmy menggeleng pelan "Aku hanya ingin membantu kalian" ujar Emmy sambil sesekali melirik Sabrang yang masih duduk dengan wajah bingung.
"Tuan sepertinya aku menemukan kuncinya" ucap Ciha sedikit berteriak.
Ciha terlihat menggambar sesuatu dan menunjuk dasar danau.
"Kau bisa berenang?" tanya Wardhana pada Emmy.
__ADS_1
Emmy mengangguk pelan.
"Bantu aku membuka gerbang gua emas".