Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Dendam Lama Sabrang


__ADS_3

Seorang pendekar yang terluka terlihat berlari dilorong gua, dia sesekali menghentikan langkahnya karena batuk darah.


"Ketua, kita diserang" teriak pendekar itu.


Dongkel tampak berjalan mendekat dan menarik baju pendekar itu.


"Diserang? siapa yang berani menyerang sekte Iblis hitam?" ucap Dongkel geram.


"Aku datang untuk mencabut nyawamu senior" ucap Lingga dingin, dia muncul dengan tubuh penuh darah para pendekar Iblis hitam.


Dongkel tampak terkejut melihat adik seperguruannya itu muncul, dia tersenyum kecil sebelum mencabut pedangnya.


"Tak kusangka kau sudah kembali, kudengar kau berkhianat dan kini bersama aliran putih".


"Dimana ketua?" tanya Lingga dingin.


"Ketua? akulah ketua Iblis pedang saat ini" Dongkel terkekeh pelan.


"Aku tanya sekali lagi, dimana Ketua?".


"Jika maksudmu tua bangka lemah itu, dia berada disuatu tempat bersamanya" Dongkel melangkah mendekati Lingga.


"Dengarkan aku, ilmu Kanuragan dan bakatmu sangat kukagumi, tak ada yang bisa menghentikannya walau itu pengguna Naga api sekalipun. Satu satunya cara kita bertahan hidup adalah bergabung dengannya. Ikutlah denganku, aku akan memberikan posisi penting di sekte Iblis hitam padamu".


Lingga terkekeh mendengar ajakan Dongkel, dia melepaskan aura dari tubuhnya seakan menjawab ajakan Dongkel.


"Jika aku rakus sepertimu, maka saat ini posisi ketua Iblis hitam sudah berada ditanganku. Kedatanganku kemari bukan untuk bernegosiasi denganmu namun membunuhmu".


Dongkel menggeleng pelan, dia sangat menyesali dengan keputusan yang diambil adik seperguruan itu. "Apa kau pikir semua dosa dosa masa lalumu bisa terhapus dengan membantunya? satu hal yang tidak bisa kau ingkari adalah kaulah yang membunuh Arya Dwipa, ayah pengguna Naga api itu".


"Aku tak pernah mengingkarinya dan tak berniat membantunya, aku hanya mengikuti kata hatiku". Lingga bergerak menyerang.


Dongkel menyambut serangan Lingga dengan penuh percaya diri, pedang Langit yang direbutnya dari Kertasura membuatnya yakin mampu mengalahkan Lingga.


Pertempuran dua pendekar satu guru itu terjadi dilorong gua yang cukup sempit.


***


"Siapa kalian berani sekali menginjakkan kaki disini?" bentak salah satu pendekar Iblis hitam setelah melihat Sabrang dan Wardhana mencoba masuk melalui celah gua.


Sabrang menggeleng pelan saat melihat puluhan pendekar iblis hitam berkumpul didepan celah gua dengan pedang terhunus.


"Kalian pikir bisa menahanku? sudah sangat lama aku ingin menghancurkan Iblis hitam". Sabrang melepaskan aura Naga apinya. Kobaran api mulai menyelimuti tubuhnya seiring dengan munculnya puluhan keris diudara.


Wardhana melompat mundur, dia yakin Rajanya itu akan melampiaskan dendam masa lalunya.


"Hari ini, kupastikan kalian hancur tak tersisa". Sabrang menggerakan tangannya diudara dan dalam hitungan detik puluhan energi keris melesat kearah kumpulan para pendekar Iblis hitam.


Ledakan besar diikuti getaran ditanah muncul seiring dengan hancurnya celah gua itu.

__ADS_1


Sabrang melesat masuk dan menyerang para pendekar yang tersisa. Gerakan cepatnya diikuti dengan putaran keris diudara benar benar menghancurkan barisan pendekar Iblis hitam.


Sabrang bergerak tidak seperti biasanya, mata birunya menyala terang. Dia benar benar melepaskan seluruh energi Banaspati untuk membantai puluhan pendekar Iblis hitam yang pucat pasi.


Hancurnya Malwageni, terbunuhnya ratusan prajurit Malwageni bersama dengan ayahnya seolah dibalas tuntas hari ini. Dia tidak perduli apakah gua itu akan runtuh karena kekuatannya.


Wardhana tak berani berucap satu katapun karena dia tahu saat ini tak akan ada yang bisa menghentikan amarah Sabrang.


Setiap langkah Sabrang mencabut beberapa bahkan puluhan pendekar Iblis hitam. Wajahnya kini tampak menyeramkan dan berwarna merah akibat percikan darah lawannya yang tak sempat terbakar Naga api.


Bebatuan terlihat melayang diudara setiap dia melangkah karena tekanan aura yang terus dia lepaskan.


"Dia bukan manusia" ucap Salah satu pendekar yang mencoba melarikan diri. Sabrang mengarahkan tangannya kearah pendekar yang berlari itu dan dalam hitungan detik pendekar itu terhisap dan berakhir dicengkraman Sabrang.


Sabrang mengatur nafas sesaat sebelum memenggal kepala pendekar itu dan membuangnya bagai sampah tak berguna.


Puluhan pendekar tersisa berlari kocar kacir menyelamatkan diri dari cengraman sang Monster api itu.


Sabrang menempelkan telapak tangannya ditanah, tiba tiba kobaran api ditubuhnya menghilang.


Mata bulannya kembali bersinar walau darah mulai menetes dari bola matanya.


"Membekulah kalian semua, inilah balasan dari Malwageni". Sabrang menghentakkan tangannya ketanah dan menggunakan jurus hembusan dewa es abadi untuk membekukan seluruh gua.


Para pendekar itu bersama dengan seluruh dinding dan lantai gua membeku seketika.


Sabrang tak berhenti disana, dia kembali memunculkan pedang Naga api ditangannya dan melesat cepat kearah pendekar yang telah membeku.


Sabrang memang menggunakan jurus andalan Iblis hitam untuk membunuh mereka.


Sabrang mematung sesaat sambil menarik nafasnya panjang, wajah yang dilumuri darah ditambah tetesan darah dari matanya membuatnya bagai iblis pencabut nyawa.


Bau hangus dan anyir darah dengan cepat menyeruak keseluruh gua. Wardhana berjalan diantara potongan tubuh sambil menelan ludahnya.


"Yang mulia anda...." Wardhana tidak melanjutkan ucapannya saat lengan kanan Sabrang memberi tanda untuk diam.


"Untuk kali ini saja aku tak ingin mendengar apapun dari paman, aku harus melakukan ini paman" ucap Sabrang dingin.


"Hamba mengerti Yang mulia" Wardhana berlutut dihadapan Sabrang.


"Ayah hari ini sudah kubalaskan luka itu" Sabrang memejamkan matanya sesaat sebelum berteriak kencang.


Seluruh gua bergetar, bebatuan melayang saat Sabrang berteriak sambil melepaskan aura Naga api. Wardhana bahkan harus bersusah payah agar tubuhnya tidak terpental.


Anom menatap Naga api dan menggeleng pelan, ini pertama kalinya dia melihat Sabrang begitu emosi sejak dia mengikutinya.


Sabrang bahkan tanpa sadar telah menyerap seluruh energi alam disekitarnya.


Tak lama Tantri, gadis canti yang merupakan murid kesayangan Wulan sari yang juga murid paling berbakat kelompok teratai merah muncul bersama beberapa murid lainnya setelah merasakan aura menakutkan dari dalam gua.

__ADS_1


"Siapa kau?" hardik Tantri, dia tidak mengenali Sabrang karena wajah dan tubuhnya kini dipenuhi darah.


Gua kematian memang berdekatan dengan markas kelompok teratai merah.


"Kalian juga berasal dari sekte Iblis hitam?" ucap Sabrang dingin sambil menarik tangannya keudara dan dalam hitungan detik puluhan energi keris kembali muncul diudara.


"Yang mulia, mereka dari kelompok teratai merah. Harap anda menahan diri" Wardhana memberanikan diri berbicara setelah mengenali Tantri.


"Yang mulia? mungkinkan pangeran Sabrang?" ucap Tantri pelan sambil sesekali menatap puluhan energi keris yang berputar diudara. Dia sadar satu gerakan tangan Sabrang mampu membunuhnya dan puluhan murid yang bersamanya.


Sabrang menoleh kearah Wardhana sebelum menarik kembali seluruh energi keris.


"Paman, kuserahkan sisanya padamu. Aku akan memastikan tidak ada yang tersisa" ucap Sabrang sambil bergerak masuk kedalam gua.


"Bagaimana kau bisa mengalahkanku yang menggunakan pedang langit" umpat Dongkel yang berlutut dihadapan Lingga sudah terluka parah.


Walau Lingga juga terluka cukup parah namun dia masih mampu berdiri. Pedangnya kini sudah menempel dileher Dongkel.


"Pedang hanyalah perantara untuk ilmu pedangmu, Ketua pernah mengatakan jika yang terpenting bukan pedangnya namun kemampuanmu membaca pertarungan. Sejak awal kau tak pernah bisa melampauiku karena sifat rakusmu".


Dongkel tersenyum kecut, dia merasa kematiannya tak lama lagi.


"Kalian tak akan mampu mengalahkannya, ilmu kanuragannya jauh diatas kalian".


"Kami akan menghancurkannya, lihatlah dari neraka". Lingga mengayunkan pedangnya sekuat tenaga dan dalam sekejap tubuh Dongkel roboh ketanah dengan kepala terpisah dari tubuhnya.


Sabrang mengentikan langkahnya tepat dihadapan Lingga, matanya menatap tajam Lingga.


"Kau sudah membalaskan dendammu? apa aku selanjutnya?" ucap Lingga pelan.


"Jika Waktunya tiba, kau akan menyusul mereka ke neraka".


Lingga tertawa terbahak bahak sambil menjatuhkan pedangnya. Dia tertawa bukan karena hal lucu namun untuk menutupi tubuhnya yang bergetar akibat tekanan aura Sabrang.


Lingga bahkan tanpa sadar menjatuhkan pedangnya karena untuk pertama kalinya dia merasakan rasa takut yang sangat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bagi para Reader yang ingin memberi suport dalam bentuk lainnya pada Penulis dapat memberikannya di


https://karyakarsa.com/ Rickypakec


hapus spasi didepan huruf R


Kalian bisa memberi tips mulai dari 5ribu rupiah.


Semua dukungan kalian akan Author gunakan untuk membeli kuota dll.


Untuk hari ini kemungkinan satu Chapter karena saya ada sedikit kesibukan namun jika sempat agak malam saya akan update.. Jika sempat ya Mbang....

__ADS_1


Vote


__ADS_2