Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Serangan Balik Malwageni II


__ADS_3

Suasana senja keraton Saung galah yang biasanya sepi kini terlihat ramai, puluhan prajurit elit topeng galah tampak mengelilingi seorang pendekar muda.


Sabrang yang dikelilingi puluhan prajurit yang cukup ditakuti itu tampak tersenyum kecil. Ledakan yang dia timbulkan saat merusak gerbang utama Saung galah sukses menarik perhatian seisi keraton.


Jaladara dan Pancaka bahkan langsung berlari ketika mendengar suara ledakkan keras di gerbang utama.


"Kakang?" wajah Pancaka nampak pucat, dia menoleh kearah Mandaka yang juga tampak pucat.


Masih segar dalam ingatan Pancaka bagaimana Sabrang mengancamnya jika berani macam macam pada Malwageni.


"Sepertinya ini tidak baik pangeran," ucap Mandaka setengah berbisik.


"Paman terlalu khawatir, pasukan topeng galah bukan prajurit sembarangan. Mungkin kakang adalah pendekar hebat namun melawan puluhan topeng galah aku yakin akan sangat," balas Pancaka pelan.


"Apa yang sebenarnya dia rencanakan?" Jaladara menatap Wardhana yang duduk bersama Paksi tak jauh dari area pertarungan geram.


Jaladara melangkah maju mendekati Sabrang dan para prajurit topeng galah.


"Sepertinya tindakan anda sudah sangat keterlaluan pangeran, apa yang anda lalukan ini bisa memicu perang dengan Saung galah," ucap Jaladara.


"Aku ingin bertemu dengan rajamu," jawab Sabrang tenang.


"Yang mulia sedang tidak ingin ditemui siapapun, kembalilah lain waktu," jawab Jaladara kesal.


"Jika begitu maka aku akan memaksa," ucap Sabrang sambil melepaskan aura dari tubuhnya.


Seketika suasana di gerbang utama begitu mencekam, aura Naga api yang bercampur dengan energi Megantara benar benar membuat tekanan yang sangat besar, bahkan beberapa dinding benteng Saung galah tampak retak akibat tekanan tersebut.


"Tenaga dalamnya benar benar mengerikan," ucap Jaladara panik.


"Apa yang sebenarnya anda incar guru? aku takut Yang mulia terluka," tanya Wardhana khawatir.


"Kau pikir manusia dengan aura sebesar ini bisa terluka dengan mudah?," balas Paksi tenang.


"Dengar Wardhana, kau mungkin ahli dalam bernegosiasi namun aku yakin selama ini kau belum pernah bernegosiasi dengan seorang raja. Berbeda saat kau bernegosiasi dengan Jaladara, bernegosiasi dengan raja sama saja kau berhadapan dengan banyak kepentingan dari para mentri dan orang kuat. Kau harus benar benar memastikan posisimu berada diatas angin."


"Maksud anda?" Wardhana mengernyitkan dahinya.


"Kunci keberhasilan dalam bernegosiasi ada beberapa hal namun dua yang paling menentukan, Kekuatan dan psikologis lawan. Kekuatan akan menentukan posisi tawar kita. Apa kau akan tenang jika duduk bersama seorang pendekar yang mampu menghancurkan pasukanmu seorang diri. Itu yang ku incar sebagai salam pembuka, Saung galah harus tau seberapa besar kekuatan kita walau tanpa membawa pasukan.


Ketika kekuatan kita telah menekan mereka maka langkah kita selanjutnya hanya perlu memainkan psikologis mereka. Manusia cenderung tidak dapat berfikir jernih saat rasa takut menguasainya, itulah titik lemah yang akan kita manfaatkan dalam negosiasi kalo ini. Ingat Wardhana, selama negosiasi kau tak boleh sedikitpun memperlihatkan sisi lemahmu, berubahlah menjadi manusia paling kejam."


Wardhana mengangguk pelan, dia sangat kagum dengan strategi Paksi yang dapat membaca sisi psikologis manusia.


Tiga puluh prajurit elit topeng galah langsung bergerak bersamaan saat Jaladara memberi tanda untuk menyerang.


"Tangkap dia apapun caranya," teriak Jaladara geram.


Pancaka tampak tersenyum dingin, dia merasa inilah saatnya Sabrang dilenyapkan. Pancaka menoleh kearah Mandaka dan memberi tanda untuk bergerak menyerang ketika Sabrang terluka, dia ingin seolah Sabrang mati oleh Saung galah sehingga dia memiliki kesempatan untuk menekan Saung galah.


"Kalian beruntung aku datang dengan niat bukan untuk membunuh," ucap Sabrang sambil memunculkan pedang Naga api dan memutarnya sedikit, dia menggunakan punggung pedang untuk menyerang agar tidak ada yang mati ditangannya.


"Tarian iblis pedang," Sabrang tiba tiba bergerak cepat sambil terus melepaskan auranya, beberapa lantai gerbang keraton yang terbuat dari batu alam seketika melayang di udara seiring dengan semakin cepat gerakannya.


Dalam sekejap formasi tempur kebanggaan Saung galah hancur berantakan, belasan pendekar terlempar saat punggung pedang Sabrang menghantam mereka.


"Pertahankan formasi," teriak komandan topeng galah.


Sabrang menarik belasan pendekar lainnya dalam jurus ruang dan waktu kemudian melempar mereka kembali di udara.


Belum selesai rasa terkejut mereka saat tiba tiba berpindah di udara, Sabrang sudah muncul dengan ayunan pedangnya.


"Pedang pemusnah raga," Sabrang seolah menghilang di udara, dia bergerak secepat angin. Yang terjadi berikutnya para prajurit itu terhempas ketanah tanpa tau apa yang menyerangnya.


Kejadian yang sangat cepat itu membuat semua orang terkejut, Paksi bahkan terlihat takut.


"Anda harus mulai terbiasa melihatnya guru, apa yang ditunjukkan Yang mulia masih jauh dari kekuatan dia yang sebenarnya," ucap Wardhana pelan.


Sabrang kembali turun diantara kepungan prajurit yang tersisa namun kali ini para prajurit itu terlihat mengambil jarak, mereka mundur beberapa langkah karena tau seberapa mengerikan lawan yang dihadapi.


Puluhan prajurit yang terkena serangan Sabrang tak mampu bergerak lagi, walau Sabrang hanya menggunakan punggung pedang namun efek kekuatannya membuat para prajurit itu mengalami patah tulang dibeberapa bagian.


"Jika aku menggunakan mata pedangku maka kalian semua sudah terbelah jadi dua," ancam Sabrang.


"Kekuatannya benar benar diluar akal sehat," gumam salah satu prajurit topeng galah takut.


Puluhan prajurit lainnya yang dari tadi hanya diam mencoba membantu namun Jaladara menghentikannya.


Dia tidak ingin para prajuritnya banyak yang terluka. "Kalian bukan lawannya, bahkan jika aku mengerahkan seluruh prajurit kerajaan mungkin kita bisa melukainya namun aku tak ingin membayangkan kehancuran yang ditimbulkan monster itu."


Sabrang kembali merapal jurus sebelum menghentakkan kakinya dan mengarahkan tangannya kearah prajurit yang menjauhinya.


Tiba tiba tubuh para prajurit topeng galah roboh ketanah, mereka berusaha sekuat tenaga bergerak namun tak berhasil. Tubuh mereka seolah ditimpah beban yang sangat berat.


"Jurus menekan langit dan bumi, membuat tekanan udara dengan tenaga dalam. Kalian tidak akan bisa bergerak sama sekali, perlahan beberapa tulang kalian akan patah dan menusuk organ dalam. Aku tidak bisa membayangkan seberapa sakit yang akan kalian rasakan," ucap Sabrang pelan.

__ADS_1


Wajah mereka pucat pasi, tak ada yang berani menatap Sabrang.


Mandaka menelan ludahnya setelah melihat kekuatan besar itu, dia yakin hanya dalam satu gerakan jurus saja Sabrang mampu membunuhnya.


"Pangeran," ucap Mandaka yang melihat tubuh Pancaka bergetar.


"Bagaimana dia bisa begitu kuat? bahkan alam pun mendukungnya," gumam Pancaka geram.


"Jangan pernah bermain main dengan Malwageni atau aku akan membakar kalian semua," Sabrang menancapkan pedang Naga api, sesaat dia menoleh kearah Pancaka dan Mandaka.


Tatapan sesaat itu hampir membuat mereka berdua hilang kesadara. Mereka sadar itu adalah ancaman untuk mereka berdua.


Tak lama api keluar dari pedang itu dan mulai menjalar di tanah mendekati para prajurit itu.


Mereka semua panik dan berusaha bergerak sekuat tenaga, api itu bahkan terasa sangat panas walau masih jauh.


"Hentikan," teriak Jaladara ketika api hampir mengenai prajuritnya. Sabrang langsung menarik energi Naga api itu ketika mendengar suara Jaladara.


"Kini kita memegang kendali," ucap Paksi tersenyum setelah melihat reaksi Jaladara.


"Aku tak menyangka kekuatan Yang mulia begitu mengerikan," ucap Paksi dalam hati.


"Tuan patih, sebaiknya kita kerahkan seluruh prajurit untuk menangkap dia, ini kesempatan kita satu satunya saat di tidak bersama prajuritnya," ucap Pancaka tiba tiba.


"Apa kau sudah gila?" umpat Jaladara kesal.


"Tapi tuan..." belum selesai Pancaka bicara, Sabrang sudah berada didekatnya dan mencengkram lehernya.


Mandaka langsung bereaksi, dia mencoba mencabut pedangnya namun puluhan energi keris muncul dihadapannya dengan aura yang menekan. Madaka tak mampu bergerak sedikitpun karena tekanan aura itu.


"Cobalah bergerak," ancam Sabrang pelan.


"Tamatlah riwayatku," ucap Mandaka dalam hati.


"Kau sepertinya ingin sekali membunuhku?" tanya Sabrang pada Pancaka.


"Kakang," balas Pancaka terbata bata.


"Sebaiknya kita bicarakan baik baik masalah ini," ucap Jaladara pelan.


"Bicara baik baik? kalian yang membuat masalah denganku," Sabrang merapal jurus es abadi dan dalam sekejap tubuh Pancaka membeku.


"Kau memang adikku namun akan kupastikan kau menerima hukuman berat karena pengkhianatan mu," ucap Sabrang pelan.


Jaladara terdiam, melihat kekuatan Sabrang yang jauh lebih kuat dari pertemuan sebelumnya membuat dia harus hati hati bertindak.


Semua orang tampak terkejut kecuali Wardhana, dia memang meminta Hibata muncul untuk berjaga jaga.


"Maaf guru, aku harus memastikan keselamatan Yang mulia," ucap Wardhana dalam hati saat melihat Paksi terkejut.


"Siapa lagi dia?," umpat Jaladara.


"Apakah Hibata juga ingin mencari masalah denganku?" tanya Sabrang pelan, dia langsung memunculkan puluhan energi keris yang mengelilingi Candrakurama.


Candrakurama tersenyum dari balik topengnya, dia merasa setelah sadarkan diri Sabrang bertambah kuat.


"Sampai kapan anda akan terus berkembang Yang mulia," ucap Candrakurama dalam hati.


"Hibata tidak akan cukup gila mencari masalah dengan anda tuan, aku datang hanya ingin melihat keadaan Saung galah yang masuk dalam daftar Hibata untuk dihancurkan, kuharap anda mengerti," balas Candrakurama.


"Menghancurkan Saung galah?" Jaladara tersentak kaget, wajahnya benar benar buruk, belum selesai satu masalah, masalah lain muncul. Dia tidak bisa membayangkan jika Majasari mengetahui masalah kali ini.


"Guru bukankah sebainya anda bicara?," ucap Wardhana pelan, dia tau gurunya sedang membaca posisi Candrakurama berada di pihak siapa.


"Baiklah, sepertinya dia tidak berpihak pada siapapun," ucap Paksi berjalan maju.


"Lama tak jumpa Jaladara, sepertinya kau meroket dengan cepat menggapai posisi Mahapatih," sapa Paksi sopan.


"Paksi? bagaimana kau?" Jaladara tersentak kaget, seingatnya Paksi adalah pengkhianat Malwageni yang saat ini dipenjara.


"Yang mulia mengampuni kesalahanku dan kini aku bekerja untuknya, hidup semudah itu Jaladara, kau harus pintar membaca situasi," balas Paksi tenang.


"Apa yang kau inginkan?," tanya Jaladara tajam, dia benar benar merasa terpojok saat ini.


"Aku ingin bernegosiasi dengan rajamu, aku akan mewakili Yang mulia untuk bicara mengenai perjanjian dengan Malwageni. Berbeda dengan muridku Wardhana, aku adalah orang yang pemarah yang tak segan mengibarkan perang, ku harap kau tak membuatku tersinggung," ancam Paksi.


Jaladara terdiam, dia menoleh keatas, Candrakurama masih melayang mengamatinya. Situasi yang dihadapinya kali ini benar benar berbahaya.


"Biar kubantu membaca situasinya, Pasukan Malwageni sudah siap bergerak kapanpun menerima perintah, ditambah pendekar misterius yang melayang itu kurasa tak sulit menerobos masuk mencari rajamu namun itu adalah pilihan terakhir yang tidak ingin aku lakukan karena musuh kita sama, Majasari.


Majasari mencampakkan ku begitu saja, mereka bahkan tidak berusaha membebaskanku."


"Aku harus bicara dengan Yang mulia terlebih dulu," balas Jaladara menahan amarah.


"Aku akan sabar menunggu namun jangan paksa aku melakukan hal bodoh," jawab Paksi pelan.

__ADS_1


Jaladara tak menjawab ucapan Paksi, dia langsung melangkah pergi dengan wajah merah.


"Yang mulia, apa aja yang anda inginkan dari Saung galah? kini semua kontrol ada ditangan kita," ucap Paksi sambil menundukkan kepalanya.


"Tak banyak paman," balas Sabrang penuh makna.


Candrakurama yang melihat situasi telah dikendalikan sepenuhnya memilih pergi sebelum menundukkan kepalanya pada Sabrang.


***


Setelah menunggu agak lama, mereka dijemput oleh beberapa prajurit untuk menemui Raja Saung galah di aula utama.


"Yang mulia, hamba ingin meminta sesuatu," ucap Paksi saat mereka berjalan menuju aula utama keraton.


"Katakan paman," jawab Sabrang.


"Jangan tunjukkan rasa hormat yang terlalu berlebihan pada Raja Saung galah, dia dan Yang mulia Arya dwipa sempat dekat namun politik kerajaan sangat cair, kali ini kita sedang bernegosiasi untuk menekan mereka. Mahawira pandai bersilat lidah, hamba bersama Wardhana yang akan mematahkannya."


"Baik paman," jawab Sabrang pelan.


"Silahkan masuk tuan," ucap prajurit sopan sambil membuka pintu aula utama Saung galah.


Mereka masuk kedalam aula megah yang berwarna corak emas dan langsung disambut beberapa mentri kerajaan Saung galah.


"Selamat datang di Saung galah," ucap Jaladara menyambut ramah.


"Yang mulia, beliau adalah Pangeran dari Malwageni," Jaladara memperkenalkan Sabrang.


"Maaf tuan patih, ada yang harus aku luruskan, beliau adalah Raja Malwageni," ucap Wardhana bereaksi.


Jaladara tampak ingin menyanggah ucapan Wardhana karena sampai saat ini Saung galah belum mengakui Malwageni namun dicegah Mahawira dengan memberi tanda untuk diam.


"Maafkan atas ketidaktahuan patihku, selamat datang di kerajaanku, maaf jika sambutan ku kurang berkenan," sapa Mahawira pada Sabrang.


"Tak perlu sungkan paman, aku belum terbiasa dengan segala sambutan kerajaan," jawab Sabrang sopan.


"Aku dan ayahmu adalah sahabat lama, dia adalah raja yang hebat. Jika ada.yang bisa kubantu maka akan kubantu, katakan apa tujuan anda datang kemari," balas Mahawira.


Sabrang menoleh kearah Paksi dan memberi tanda untuk bicara.


"Maaf Yang mulia, hamba akan mewakili Rajaku untuk bicara," ucap Paksi tiba tiba.


"Tuan Paksi? aku selalu menjadi pengagum mu," jawab Mahawira sedikit terkejut.


"Anda terlalu memuji hamba," jawab Paksi pelan.


"Katakan apa yang kau inginkan," ucap Mahawira sambil tersenyum.


"Beberapa hari ini hubungan yang sempat dekat kembali renggang akibat tindakan Saung galah yang tidak menghargai Malwageni. Jika pertempuran lalu kalian tidak dibantu oleh Malwageni mungkin aku sudah menguasai Saung galah bersama Majasari.


Kalian bukannya berterima kasih pada Malwageni, kalian justru berusaha menekan kami dan dengan sepihak mengakui Rogo geni sebagai wilayah kekuasaan Saung galah.


Ditambah kalian justru melindungi pengkhianat Malwageni, pangeran Pancaka adalah anak dari seorang selir yang berkhianat. Jika Yang mulia tadi katakan teman baik Raja kami maka tindakan ini patut dipertanyakan. Kalian benar benar menganggap kami sahabat atau hanya siasat."


Suasana ruang utama itu langsung tegang, Paksi tanpa basa basi menyerang Saung galah telak, tak ada kata kata yang berusaha diperhalus.


"Hamba sempat tak bisa menahan tawa saat mendengar kabar dari Wardhana jika Saung galah mencari masalah saat ini." ucap Paksi melanjutkan.


"Apa maksud perkataanmu? kau pikir kami tidak berani melawan kalian?" Jaladara tak mampu menahan emosinya, dia merasa Paksi merendahkan Saung galah.


"Apa kalian pikir aku tidak tau masalah intrernal Saung galah mengenai penerus Raja? Sudah menjadi rahasia umum jika Majasari bernafsu menaklukkan Saung galah.


Konflik internal mengenai penerus raja akan menguras pikiran kalian, aku tak bisa membayangkan jika masalah ini bocor ke Majasari.


Kalian dalam posisi lemah saat ini, aku bahkan bisa menyerang kalian tanpa bantuan Majasari sekalipun." ucap Paksi penuh percaya diri.


"Aku telah bicara pada Hibata dan berhasil meyakinkan mereka untuk mendukungku dengan imbalan besar. Seperti kata guru, kami datang bukan untuk meminta bantuan namun memberi bantuan. Suka tidak suka Saung galah sedang terjepit


Aku akan merebut Malwageni dengan atau tanpa bantuan Saung galah, namun satu yang perlu anda pahami, uluran bantuan kami tidak datang dua kali dan aku akan sangat senang jika suatu saat dapat mencoba kekuatan pasukan Saung galah." ucap Wardhana menambahkan.


Jaladara terdiam, ancaman Wardhana bukan isapan jempol, dia sudah melihat sendiri seberapa mengerikannya siasat Wardhana saat memukul mundur Majasari, ditambah hampir seluruh sekte aliran putih berada dipihaknya.


"Kau sangat menarik tuan Paksi, apa yang bisa kulakukan untukmu?," tanya Mahawira pelan, dia ingin membaca kemana arah Paksi akan melangkah.


"Tak sulit, Aku hanya ingin pengkhianat itu dibawa ke rogo geni sesuai aturan Malwageni. Selain itu aku ingin pengakuan Saung galah atas keberadaan Malwageni dengan menghadiri penobatan Ratu kami besok.


Kita akan bicara banyak disana, termasuk rencana penyerangan ke Majasari tak lama lagi," ucap Paksi sambil tersenyum.


"Menyerang Majasari?," Mahawira tersentak kaget, dia bahkan merubah posisi duduknya karena terkejut.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Chapter panjang untuk bonus hari selasa cerah...


Selamat beraktifitas dan terima kasih atas dukungannya..

__ADS_1


Masih ditunggu vote lanjutannya.....


__ADS_2