Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Hancurnya Pedang Naga Api


__ADS_3

Sabrang bergerak cepat sambil menghunuskan pedangnya kearah Kuntala, seiring dengan kecepatannya yang terus meningkat, puluhan energi keris muncul di udara.


Aura besar terus meluap dari tubuhnya membuat bebatuan disekitarnya ikut melayang.


"Matanya menunjukkan rasa percaya diri yang tadi sempat hilang, apa sebenarnya yang dia rencanakan?" ucap Kuntala waspada.


Udara disekitarnya terus memadat, Kuntala yakin ada yang direncanakan Sabrang dan dia harus memastikan tak ada celah sedikitpun dalam pertahannya.


Kuntala terlihat mengernyitkan dahinya sesaat ketika gerakan Sabrang sangat mirip Arjuna, dia seolah melihat Arjuna namun dengan aura Dwipa.


"Dia?" ucap Kuntala sambil menggerakan tangannya untuk mengendalikan udara disekitarnya.


"Apa yang sebenarnya kau incar?" tanya Eyang wesi bingung.


"Memadatkan udara bukan tanpa resiko, tubuh kita tak akan mampu bernafas dengan udara yang padat. Dia harus menyisakan udara normal disekitarnya untuk bernafas, aku menyadari saat mendekatinya.


Tubuhku memang terkunci dinding udaranya tadi namun lengan kananku yang sangat dekat dengan tubuhnya masih bisa bergerak untuk beberapa saat.


Berkat energimu, mata bulanku kembali berevolusi, kini aku bisa melihat aura tenaga dalam seseorang. Udara disekitarnya berwarna sedikit kemerahan karena bercampur dengan tenaga dalamnya namun untuk beberapa detik aura merah itu menghilang disekitar wajahnya sebelum kembali memerah.


Aku yakin waktu beberapa detik itu dia gunakan untuk bernafas, jika aku mampu melakukan serangan yang tepat saat dia bernafas maka pedangku mampu melukainya," ucap Sabrang pelan.


"Jadi maksudmu dia harus menormalkan udara selama beberapa detik saat bernafas?"


Sabrang mengangguk pelan, "Itulah kelemahan terbesar trah Ampleng dan Arjuna menggunakan itu untuk mengalahkannya,"


Sabrang terus menarik energi keris di udara sambil menjaga jarak, dia masih menghitung ritme aura kemerahan yang menghilang disekitar wajah Kuntala selama beberapa detik.


"Tiga puluh detik?," gumam Sabrang menatap Kuntala dengan mata bulannya.


"Apa kau sudah putus asa menyerangku dengan energi kerismu? pusaka mainanmu itu tak akan mampu melukaiku," Kuntala memutuskan menyerang, dia sangat yakin Sabrang sudah tidak memiliki rencana apapun karena serangannya sudah membabi buta.


Sabrang tersenyum dingin sebelum menoleh kearah Tungga dewi yang terus menatapnya dari salah satu bangunan.


"Aku mengandalkanmu Dewi," gumam Sabrang sambil menyambut serangan Kuntala.


"Aku harus bisa... aku harus bisa merapal jurusku tepat waktu atau Yang mulia dalam bahaya," ucap Tungga dewi pelan.


Dia terus mengingat ucapan Sabrang sesaat sebelum melesat menyerang.


"Aku butuh bantuanmu dewi," ucap Sabrang pelan.


"Yang mulia?" Tungga dewi mengernyitkan dahinya.


"Aku perlu menghitung ritme gerakan Kuntala sebelum menyerangnya, aku akan masuk kedalam dinding udaranya. Mata bulanku akan kugunakan untuk memastikan gerakannya jadi aku tak akan bisa menggunakan ruang dan waktuku.


Carilah tempat tinggi untuk mengamati pertarunganku, jika aku salah menghitung kau harus memindahkan tubuhku seperti tadi, apa kau mengerti?


Tungga dewi sedikit ragu sebelum mengangguk pelan, " Tapi Yang mulia, aku hanya bisa menggunakan jurusku sekali lagi, butuh energi murni yang sangat besar untuk menggunakannya didalam dinding udara miliknya."


"Tidak apa apa, itu sudah cukup, ingat ucapanku, jika kau berhasil menarik tubuhku masuk ruang dan waktumu dekati dia secepatnya dan munculkan aku kembali tujuh detik setelah aku menghilang di sekitar wajahnya. Tidak lebih tidak kurang hanya tujuh detik itu kesempatan kita menang, ucap Sabrang sambil melesat pergi.


Sabrang bergerak sambil merapal jurusnya, dia menyambut serangan Kuntala dengan sekuat tenaga.


"Masalembo tak akan pernah bisa dihancurkan karena kami adalah manusia pilihan," Kuntala terus bergerak mendekat sambil melepaskan aura untuk memadatkan udara.


Sabrang memunculkan energi keris dan langsung menariknya, dia tetap ingin menjaga jarak sampai hitungannya tepat.


"Tiga detik lagi," Sabrang bersiap merapal jurus pedang pemusnah raga.


"Mau sampai kapan kau lari seperti tikus?," umpat Kuntala kesal.


"Sekarang," Sabrang memperlambat gerakannya sambil merubah ayunan pedangnya, dia tiba tiba bergerak maju.


Tubuhnya kembali kaku dan tak bisa digerakkan saat memasuki dinding udara Kuntala. Melihat lawannya tak bisa bergerak, Kintala bergerak cepat mendekatinya.

__ADS_1


"Mati kau," Kuntala mengayunkan pedangnya ketika sudah berada didekatnya, saat jarak mereka sudah sangat dekat, lengan Sabrang kembali bisa digerakkan.


"Pedang pemusnah raga," Sabrang menangkis serangan Kuntala, dan dengan cepat mengayunkan pedangnya kewajah Kuntala.


Mendapat serangan tiba tiba itu membuat Kuntala tidak siap, dia memadatkan kembali udara disekitar wajahnya.


"Crassss." wajah Kuntala untuk pertama kalinya terluka.


"Belum cukup cepat," gumam Sabrang pelan.


Wajah Kuntala menjadi murka, dia masih ingat betul Arjuna lah orang terakhir yang mampu melukai tubuhnya.


"Kau akan menerima balasannya," Kuntala menyerang dengan jurus terkuatnya, dia sadar Sabrang sudah mengetahui kelemahannya dan harus dihabisi secepatnya.


"Pedang kilat penghancur tingkat III : Energi kilat penghancur", Kuntala menghujamkan pedangnya sekuat tenaga ke tubuh Sabrang namun disaat bersamaan tubuh Sabrang kembali menghilang saat Tungga dewi menarik tubuhnya masuk energi ruang dan waktunya.


"Sekarang," Tungga dewi bergerak mendekat, dia melepaskan aura dari tubuhnya dan merapal jurus pedang pemusnah raga.


"Kau benar benar pengganggu, akan kubunuh kau terlebih dahulu," Kuntala bergerak mendekat kearah Tungga dewi.


"Enam," hitung Tungga dewi, tubuhnya tiba tiba kaku dan tak mampu digerakkan saat masuk dinding udara.


"Tujuh," Tungga dewi menggunakan sisa tenaga dalamnya untuk memunculkan Sabrang tepat didekat Kuntala.


"Gawat," Kuntala berusaha memadatkan udara disekitar wajahnya saat merasakan energi Sabrang namun terlambat, memadatkan udara membutuhkan waktu.


"Pedang jiwa tingkat V : Gelombang penghancur sukma", Sabrang muncul saat Kuntala belum berhasil memadatkan udara disekitar wajahnya, pedang Naga api melesat cepat dan menghantam tubuh Kuntala.


Tubuhnya terkoyak sesaat sebelum terbelah menjadi dua, serpihan pedang Naga api yang hancur seolah menjadi tanda kemenangannya.


Pusaka terkuat yang diciptakan Ken Panca berisi Iblis api tak mampu menahan gelombang energi pedang jiwa dan hancur berkeping keping.


"Bagaimana kau bisa sekuat ini? aku sudah meminum ramuan Amrita dan soma, harusnya tidak bisa mati."


"Jurus pedang jiwa khusus diciptakan diciptakan untuk menghancurkan kalian, tak ada yang bisa abadi di dunia ini, akan selalu ada orang yang menjaga semua sesuai dengan garis takdir," balas Sabrang pelan.


"Kita harus mencegah ada perkawinan silang antar trah untuk menjaga keseimbangan kekuatan Masalembo, aku sudah menyiapkan segel khusus agar tak pernah tercipta keturunan jika ada yang memaksa menikah silang diantara tiga trah besar," ucap Gentala Dwipa, pemimpin tertinggi trah Dwipa.


"Apa maksudmu dengan menjaga keseimbangan?" tanya Dierja, pemimpin trah Ampleng.


"Tiga trah besar Masalembo masing masing memiliki kekuatan besar, dan harus tetap seperti itu. Apa kau bisa bayangkan jika Trah Dwipa dan Ampleng menikah kemudian memiliki keturunan? keturunannya akan menjadi pendekar kuat dan tidak terkalahkan karena mengalir dua energi besar. Itu bisa menjadi bumerang kita kelak jika anak itu berkhianat.


Biarkan kita saling mengontrol dengan kekuatan masing masing agar keseimbangan tetap terjaga. Dunia baru tak boleh lagi ada peperangan, kita akan mengontrol dunia baru menjadi tempat yang aman dan nyaman," ucap Gentala Dwipa.


Kuntala menggeleng pelan disisa sisa kesadarannya.


"Bukan Naraya atau Arjuna yang menjadi senjata rahasia pertempuran ini. Tak kusangka Raja lemah Malwageni itu lah yang menjadi kunci penggabungan dua kekuatan besar Masalembo kedalam tubuh anak ini.


Arya Dwipa, harusnya kau kubunuh sejak kecil," Kuntala meregang nyawa dihadapan keturunan dua sahabat baiknya itu.


Perjalanan hidup tiga sahabat yang sebenarnya saling menyanyangi itu berakhir tragis, mereka mati dijalan yang dipilih masing masing.


Keserakahan dan ambisi membuat tiga pendekar terbaik yang pernah dimiliki Nuswantoro itu saling membunuh, yang tanpa mereka sadari jika mereka hanya pion yang dipersiapkan para pemimpin dunia dalam mencapai ambisi mereka.


Seiring dengan kematian Kuntala, udara disekitarnya kembali normal, tubuh Tungga dewi kembali bisa bergerak.


Sabrang melirik kearah pedang Naga api yang tinggal menyisakan gagangnya.


"Kau sepertinya tak memiliki wadahmu lagi Naga api," ucap Sabrang tersenyum.


"Bersemanyam ditubuh mu sudah cukup bagiku, kau bisa mengalirkan energiku menggunakan pedang lainnya," balas Naga api.


"Kau ingat aku tadi berjanji padamu untuk memberikan sesuatu jika kau membuatku kagum? aku akan menepatinya," ucap Eyang wesi tiba tiba.


Sabrang mengernyitkan dahinya, dia tidak menganggap serius ucapan Eyang wesi tadi.

__ADS_1


"Aku tidak tau siapa dan bagaimana pembuat pedangmu bisa menciptakan pedang itu namun pedang itu sangat mirip dengan pedang yang dibuat Naraya untuk menjadi wadahku.


Sebelum Naraya membuat pusaka Megantara, dia sempat membuat pedang bercorak naga persis seperti milikmu namun karena pedang itu tak mampu menahan kekuatanku dia membuat lagi pedang Megantara. Walau tak sekuat pusaka Megantara namun aku yakin lebih kuat dari pedangmu."


"Maksudmu pedang ini dibuat Ken Panca dengan meniru pusaka yang dibuat Naraya?" tanya Sabrang.


"Sepertinya seperti itu, Naraya menyembunyikan pedang itu disebuah gua, kau hanya perlu mencari gua itu untuk mengganti pedangmu yang hancur."


"Terima kasih Megantara, aku akan mencarinya setelah menyelesaikan masalah ini," Sabrang menoleh kearah Tungga dewi.


"Bantu Candrakurama, aku akan membantu Lingga," ucap Sabrang sambil bergerak mendekati pertarungan Lingga dan para tetua aliran putih.


"Baik Yang mulia," balas Tungga dewi.


***


Sabrang muncul tiba tiba ditengah pertarungan dan langsung melepaskan jurus tinju kilat hitamnya kearah Jalapati.


Lingga dan para tetua serentak melompat mundur saat melihat Sabrang kendekat.


Kemunculan tiba tiba Sabrang membuat Jalapati terkejut, dia menoba menusukkan pedangnya sekuat tenaga namun gerakan Sabrang jauh lebih cepat.


Lengan kirinya menangkis serangan itu dan lengan kanannya mencengkram lengan Jalapati.


"Cakar dewa bumi," Sabrang melepaskan jurus cakar milik Masalembo yang membuat Jalapati terpental mundur.


"Dia?," Jalapati menoleh kesamping dan menemukan tubuh Kunlata sudah terbelah menjadi dua.


"Komandan," teriak Jalapati.


Wajah Jalapati menjaduli buruk, dia selalu mendampingi Kuntala selama ini dan tak ad yang pernah bisa melukai komandan dewa penjaga Masalembo itu.


"Pergilah dan hancurkan tubuh dewa kumari kandam, aku akan membereskannya," ucap Sabrang pelan.


Lingga mengangguk pelan sebelum melesat bersama para tetua sekte aliran putih, Jalapati hanya bisa melihat kepergian mereka. Dia tidak mau bertindak gegabah karena tidak tau kapan Sabrang akan menyerang.


Jaladara mengernyitkan dahinya ketika menyadari Sabrang tidak memegang pedang ditanganya.


"Apa kau tidak terlalu meremehkanku? kau bahkan tidak memegang senjatamu."


"Tak banyak pendekar yang bisa memaksaku mencabut pedang dan kau bukan salah satunya," ejek Sabrang yang langsung menyerang.


"Kau akan menyesal telah meremehkan ku," Jalapati mencabut pedangnya dan bersiap menyambut serangan, namun gerakannya terhenti ketika sebuah keris melubangi tubuhnya.


"Bagaimana bisa ada pendekar sekuat dia tanpa melalui hasil percobaan, melihat bakatnya membuatku teringat pada Yang mulia Gentala Dwipa ," Jalapati masih berusaha menghindar walau dia tau percuma.


Melihat kecepatan Sabrang membuatnya sadar kemampuan ilmu kanuragannya jauh dibawahnya.


Sabrang mendekat sambil menggenggam keris penguasa kegelapan, dia merendahkan sedikit tubuhnya sebelum mencengram bahu Jalapati dan menariknya mendekat.


"Energi keris penghancur tingkat II : Pusaran kegelapan," Sabrang menusukan keris itu ke tubuh Jalapati sebelum mengalirkan energi Naga api untuk membakarnya.


"Sudah kukatakan aku akan menghancurkan Masalembo," ucap Sabrang pelan.


Tubuh Jalapati hangus menjadi abu tanpa bisa melakukan perlawanan sedikitpun.


Sabrang terus mengatur nafasnya sambil mengalirkan tenaga, tubuhnya terasa sakit akibat memaksakan menggunakan Cakra manggilingan, namun dia sedikit lega karena bisa mengalahkan Kuntala.


"Semoga mereka belum terlambat dan bisa menghancurkan tubuh dewa Kumari kandam," gumam Sabrang dalam hati.


Sementara itu tim yang dipimpin Wardhana mulai memasuki ruang kehidupan, formasi tempurnya yang berpusat pada Emmy dan Arung mampu meluluhlantakkan prajurit abadi, sedangkan Candrakurama dan yang lainnya mulai bisa mengimbangi dewa penjaga terakhir Masalembo.


"Kau tidak ingin mencoba melepas segel Naraya? aku dengan senang hati menerimamu sebagai tuanku," ucap Eyang wesi menawarkan diri.


"Akan kupikirkan tawaranmu namun saat ini aku hanya ingin makan yang banyak dan tidur sepuasnya, tubuhku benar benar mencapai batasnya," balas Sabrang sambil tersenyum.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Vote Mbang


__ADS_2