
Pertarungan di pintu masuk Lembah Penghisap sukma berjalan sengit, walau para pendekar Guntur Api memiliki ilmu kanuragan di atas rata rata namun formasi tempur saung galah dan lesatan anak pemanah dari atas cukup menyulitkan mereka.
"Sial, panah panah itu sangat merepotkan! Salim, bawa dua orang dan hancurkan pasukan pemanah itu," ucap Andini kesal.
"Baik nona," Salim dan dua pendekar Guntur Api memisahkan diri dan bergerak mendekati bukit dibawah hujan panah, gerakan lincah mereka mampu menghindari setiap serangan panah.
Salim kemudian memberi tanda untuk menyebar saat berusaha menaiki bukit untuk memecah serangan panah yang kini terfokus pada mereka.
"Gawat, mereka mengincar kami, aku harus mencegahnya karena pasukan pasukan pemanah masih dibutuhkan," Kuncoro mencabut satu anak panah dan mengalirkan tenaga dalamnya sebelum membidik salah satu pendekar Guntur Api.
Anak panah Kuncoro melesat lebih cepat dari anak panah lainnya kearah Salim.
"Panah itu mengandung tenaga dalam?" Salim yang sedang melompat diantara batu tersentak kaget dan tak mampu menghindar.
"Kena kau!" ucap Kuncoro dalam hati, namun saat panahnya menembus tubuh Salim, dia berubah menjadi asap hitam dan menghilang.
"Apa tidak aneh untuk seorang prajurit biasa memiliki tenaga dalam yang besar?" Salim muncul dibelakang Kuncoro dan langsung menyerang.
Kuncoro mencoba menghindar, membungkukkan tubuhnya sambil melompat mundur, namun saat tebasan pedang berhasil dihindarinya, sebuah tendangan justru menghantamnya.
Kuncoro terdorong mundur beberapa langkah, "Jurus apa yang digunakannya tadi?" ucapnya bingung. Dia sangat yakin tadi melihat Salim masih berada di tebing bukit namun setelah tubuhnya menghilang, tiba tiba sudah berada di dekatnya.
"Bunuh mereka semua," ucap Salim pada dua temannya yang sudah berada dipuncak bukit.
Dua pendekar itu bergerak cepat membunuh para prajurit panah Saung Galah, Kuncoro yang mencoba menghentikan tak mampu berbuat apa apa karena Salim terus mendesaknya.
Kuncoro hanya bisa melihat pembantaian yang ada di depannya, satu persatu prajurit Saung Galah terbunuh tanpa bisa memberi perlawanan berarti.
Kuncoro meningkatkan kembali kecepatannya untuk mengimbangi serangan Salim, dia ingin mengakhiri pertarungan dengan cepat sebelum dua pendekar Guntur api lainnya selesai membunuh pasukan Saung Galah.
Kuncoro sadar jika dua pendekar itu ikut membantu menyerang maka keadaan akan semakin sulit.
Kuncoro dan Salim yang masih bertukar jurus di udara tiba tiba menghentikan pertarungan dan melompat mundur saat aura membunuh yang sangat besar menekan mereka semua. Bukan hanya Kuncoro dan salim, tapi semua pendekar yang berada di bawah termasuk Andini meningkatkan kewaspadaannya ketika tubuhnya sulit di gerakan.
"Siapa pemilik aura ini?" Andini mencoba menatap sekelilingnya sambil terus menyerang pasukan Topeng Galah karena saat ini posisinya mulai unggul, dia tidak ingin menyianyiakan kesempatan untuk menghancurkan formasi Saung Galah yang mulai kacau.
Saat semua perhatian terarah keatas bukit, sebuah kobaran api merah melesat dari udara dan menghantam pinggir bukit membuat dua pendekar Guntur api yang bersama Salim terjatuh bersama puluhan batu yang longsor akibat kobaran api itu.
Kuncoro berlari menjauh sekuat tenaga menjauhi tebing longsor itu bersama Salim, mereka bergerak dan melompat keatas pohon besar yang jauh dari longsoran tebing.
Tubuh Sabrang terlihat melayang di udara dan turun perlahan diantara debu yang beterbangan akibat jurus badai api neraka miliknya.
"Siapa lagi pemuda itu?" umpat Andini dalam hati, dia terpaksa menghentikan pertarungan dengan Saung Galah untuk menghindari bebatuan besar yang jatuh dari atas.
Pertanyaan Andini segera terjawab saat ratusan pasukan muncul dari dalam hutan bersama Wardhana, teriakan para prajurit dan genderang perang menggema di seluruh area pertempuran.
"Kita dijebak, mundur!" Antoro memerintahkan pasukannya mundur dan masuk kedalam jalur Lembah Penghisap Sukma saat melihat ratusan pasukan pimpinan Wardhana menyerang.
Malang bagi Antoro dan pasukan Topeng Galah, saat mereka bergerak mundur, Tungga Dewi bersama pasukannya muncul dari balik bukit bersamaan dengan puluhan anak panah yang melesat kearah mereka.
Mendapat serangan tiba tiba, formasi Topeng Galah hancur seketika. Tungga Dewi yang mengenakan pakaian hitam bergerak lincah diantara bebatuan diikuti pasukannya.
"Jurus pedang pemusnah raga," dia melompat diantara pasukan topeng galah sambil mengayunkan pedangnya.
"Pertahankan formasi," teriak Antoro panik, namun teriakan Antoro seolah tenggelam oleh suara genderang perang yang terus di tabuh prajurit Malwageni.
Keadaan semakin kacau karena formasi Topeng Galah sudah terlanjur hancur berantakan, serangan panah dan gempuran pasukan yang dipimpin Tungga Dewi menyulitkan mereka menyusun kembali formasi.
"Tarian pedang Rajawali," Tungga Dewi menari diantara pasukan Saung galah yang terus menekannya, gerakannya masih terlihat lincah walau perutnya mulai membesar.
"Jangan biarkan mereka mundur! hancurkan dan kibarkan panji kebesaran Malwageni di tempat ini," teriak Tungga Dewi memberi semangat.
__ADS_1
"Ada yang salah," ucap Sabrang saat menyaksikan pertarungan pasukan Wardhana dan Guntur api.
"Yang mulia!" teriak Kuncoro saat melihat Salim tiba tiba bergerak kearah Sabrang, dia meningkatkan tenaga dalamnya untuk mengejar salim namun terlambat, Salim sudah berada di dekat Sabrang.
"Jurus pedang matahari," Salim mengayunkan pedangnya sekuat tenaga kearah Sabrang.
"Duaaar," suara ledakan terdengar bersamaan dengan serpihan es yang beterbangan di udara.
"Sejak kapan dinding es itu muncul?" Salim tampak terkejut saat serangannya membentur dinding es, dia cukup yakin tak merasakan hawa dingin saat berada di dekat Sabrang.
Wajahnya makin pucat saat Sabrang bergerak diantara serpihan es dan dengan cepat mencengkram lehernya.
"Gawat!" bongkahan es dengan cepat menyelimuti seluruh tubuhnya sebelum tapak dewa bumi Sabrang menghancurkan tubuhnya bersama serpihan es.
"Aku paling tidak suka ada orang yang mengarahkan pedangnya padaku saat aku sedang berfikir," ucap Sabrang dingin.
Kuncoro menelan ludahnya saat melihat kecepatan Sabrang, dia begitu mudah mengalahkan lawan yang sempat membuatnya terdesak.
"Yang mulia, Guntur Api sepertinya membagi dua kelompok, saat ini tuan Paksi dan pasukannya dalam bahaya," ucap Kuncoro sambil memberi hormat.
"Sudah kuduga, mereka terlalu sedikit. Bantu paman Wardhana dam yang lainnya, aku akan mengejar Paman Paksi," ucap Sabrang sambil bersiap pergi.
"Baik Yang mulia," balas Kuncoro cepat.
Saat Sabrang hendak melesat pergi, Andini muncul dari bawah bukit, tubuhnya melayang sebelum melesat kearah Sabrang.
Sabrang sudah bersiap dengan jurus esnya namun sesosok tubuh bergerak cepat dan menangkis serangan itu.
"Jurus Serbuk bunga penghancur iblis," Sekar Pitaloka terus menekan Andini dan menjauhkannya dari Sabrang. Dalam sekejap mereka sudah bertukar belasan jurus sebelum saling melompat mundur untuk mempelajari kekuatan lawan.
"Pergilah nak, biar ibu dan Wardhana yang mengurus mereka," ucap Sekar Pitaloka.
Andini berusaha mencegah namun Sekar terus menyerangnya.
"Lawanmu adalah aku nona, jika kau memaksa menghadapi anakku, kau tak akan bertahan dalam lima jurus," ucap Sekar Pitaloka mengejek.
"Apa kau tidak terlalu memandangnya tinggi?" balas Andini sinis.
"Kau akan percaya saat dia membawa kepala ketua Guntur Api kehadapan mu, itupun jika kau masih hidup," Sekar melepaskan aura tenaga dalamnya untuk menekan Andini.
Dua pendekar Wanita itu kembali bertarung di udara, sedangkan Kuncoro langsung bergerak turun dan membantu Wardhana dan pasukannya.
"Kepung mereka, Lembu sora saatnya membentuk formasi Wukir Sagara Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan berbentuk bukit dan samudera)," teriak Wardhana.
Di saat pasukan Saung Galah mulai tersudut oleh Tungga Dewi, Wardhana justru belum memegang kendali. Dia sudah beberapa kali merubah formasi namun belum bisa terlalu mendesak para pendekar Guntur Api.
Ilmu kanuragan mereka yang cukup tinggi diluar perkiraan Wardhana, selain itu formasi Wukir Sagara Wyuha kurang maksimal karena tidak ada pendekar yang mumpuni yang bertugas sebagai penyerang cepat yang akan memecah konsentrasi lawan.
Beberapa murid Angin biru yang diberi tugas oleh Wardhana belum mampu menandingi pendekar Guntur api.
"Tuan Rubah Putih, dimana anda saat ini?" umpat Wardhana bingung.
Rubah Putih dan Ken Panca memang lebih dulu berangkat menuju Lembah Penghisap Sukma untuk melihat situasi dan harusnya dia sudah lebih dulu sampai dan menyempurnakan strateginya.
Namun sampai detik ini, dua pendekar masa lalu itu masih belum terlihat, itulah yang membuat Wardhana bingung. Situasi semakin sulit karena Wardhana harus cepat bergerak masuk untuk mengepung perkemahan Jaladara, sebelum dia mendapat kabar dan melarikan diri lebih dulu.
"Tuan patih, maaf aku terlambat," ucap Kuncoro yang langsung masuk pertempuran.
"Syukurlah kau muncul, dengar aku ingin kau melakukan sesuatu untukku," ucap Wardhana sambil bergerak mundur.
"Lindungi aku," teriak Wardhana cepat.
__ADS_1
***
"Tuan Rubah Putih? bagaimana anda bisa menyusul melalui jalur utama? bukankah anda bersama tuan Patih?" tanya Arung bingung saat melihat Rubah Putih dan Ken Panca mendekati jebakan mereka.
Ken Panca tampak bingung, dia menoleh kearah Rubah Putih yang juga tampak bingung.
"Saat kami melakukan pengintaian, kami melihat rombongan Guntur api menuju Lembah Penghisap Sukma, namun yang aneh, jumlah mereka terlalu sedikit, jadi kami putuskan untuk mengejar mereka di jalur utama karena aku yakin mereka melalui jalur utama. Apa kalian tidak melihat mereka melewati tempat ini?" tanya Ken Panca.
"Sejak tuan Paksi memberitahukan ada perubahan rencana, kami langsung bergerak ke titik ini dan membuat perangkap namun sampai anda muncul, aku pastikan tak ada yang melewati jalur ini," balas Arung.
"Bagaimana mungkin, aku sudah pastikan jika jalur menuju Gunung Padang hanya bisa dilewati melalui dua jalur karena tempatnya yang dikelilingi lembah dan jurang yang sangat dalam. Jika mereka tidak melewati Lembah Penghisap Sukma, seharusnya inilah jalur satu satunya yang tersisa," jawab Ken Panca makin bingung.
"Gawat, sepertinya kita masuk jebakan, para pendekar yang anda liat sepertinya hanya sebagai jebakan agar kita semua tertahan di tempat ini," ucap Paksi cepat, wajahnya terlihat berubah seketika.
"Jebakan? apa maksudmu?" tanya Rubah Putih pelan.
"Gunung Padang penuh dengan misteri, dan kita tidak tau apakah ada jalur rahasia lain. Aku pernah mendengar dari beberapa pendekar yang pernah naik ketempat itu jika puncak gunung padang memiliki lima tingkatan di puncaknya yang semuanya memiliki makna tersendiri.
Jika memang gunung padang dijadikan tempat untuk menyegel Pagebluk Lampor, apa anda akan melalui jalur utama yang kemungkinan besar dilihat orang saat membawa orang orang yang terkena wabah penyakit itu?
Jika aku ingin menyembunyikan barang berhargaku di suatu tempat, aku akan memilih jalur tersembunyi yang tidak diketahui orang lain," balas Paksi.
"Jalan rahasia!" ucap Ken Panca menimpali.
"Benar, aku yakin siapapun yang menyembunyikan Pagebluk Lampor telah membuat jalan rahasia dan kemungkinan besar Guntur Api mengetahui jalur rahasia itu.
Kita dan Saung Galah telah masuk perangkapnya, saat ini mungkin mereka sudah mendekati gunung padang melalui jalur itu, dan yang membuatku khawatir adalah mereka memiliki kunci segelnya.
Kita harus segera memberitahu Wardhana dan bergerak ke puncak gunung. Arung pergilah ke Lembah Penghisap Sukma dan katakan pada Wardhana mengenai masalah ini, sisanya ikut aku naik ke gunung padang," ucap Paksi cepat.
"Baik tuan," ucap Arung sebelum melesat pergi.
"Kita harus cepat atau semua akan terlambat, tak kusangka mereka memiliki rencana sebaik ini," ucap Paksi khawatir.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mitos Lima Teras Punden Berundak di puncak Gunung Padang
Nanang sebagai juru kunci Gunung Padang, mengungkap bahwa gunung yang berada tepat di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka itu, merupakan tempat mencari petunjuk. Tapi bukan tempat pemujaan.
Secara rinci, Nanang menjelaskan bahwa Gunung Padang merupakan punden berundak yang memiliki 5 tahapan spiritual. Sebab, punden berundak yang berada di puncak bukit setinggi 885 meter di atas permukaan laut itu memiliki 5 teras. Permukaan tanah teras ke lima lebih tinggi dari teras keempat, begitu seterusnya sampai teras ke satu yang paling rendah permukaan tanahnya.
Teras-teras itu yang sampai sekarang menjadi simbol 5 tahapan spiritual.
Nanang menceritakan, sebelum masuk ke teras 1 terdapat pembuka lawang atau 'pintu masuk atau pintu gerbang' ke punden berundak Gunung Padang. Pembuka lawang ini berbentuk dari 2 batu persegi panjang yang berdiri menancap ke tanah seperti 2 tiang. Kedua batu itu menancap tegak lurus dengan tinggi hampir sama.
Masuk ke teras 1 terdapat bukit bukit bersujud. Nanang menjelaskan, bukit bersujud ini punya arti sebagai tempat bersujud. Masih di teras 1, terdapat 2 batu musik. Satu terletak di sebelah barat bernama Batu Bonang. Satu lagi bernama Batu Kacapi terdapat di sebelah Timur.
Di batu yang konon bisa menimbulkan alunan suara merdu jika diketuk terdapat relief seperti 4 jari.
Naik ke teras ke-2 terdapat Bukit Mahkuta Dunia. Artinya bukan mahkota, melainkan simbol dari jiwa sosial yang saling mengasihi. Di teras ke-3, tepatnya di sebelah timur, ada Batu Tapak Maung. Menurut Nanang, Maung di sini bukan seperti dalam bahasa Sunda berarti Harimau. Melainkan Ma dan Ung, yang artinya manusia unggul.
Di teras ke-4, terdapat Batu Kanuragaan. Konon, batu yang bisa diangkat ini dapat mewujudkan keinginan siapa saja yang bisa mengangkatnya. Namun, Nanang tak sependapat. Mitos itu menurut Nanang justru menyesatkan.
Bagi Nanang, Batu Kanuragan punya makna batu penguji. Di sini adalah ujian terakhir bagi siapa saja yang melakukan spiritual sebelum mencapai level pamungkas di teras ke-5. Di mana di teras yang permukaan tanahnya lebih tinggi itu terdapat Batu Singgasana Raja dan Batu Pendaringan.
Batu Singgasana Raja ini adalah level terakhir sebagai tempat perenungan dari teras 1 sampai teras 5.
Jadi pada intinya, pundek berundak dengan 5 teras ini mempunyai simbol sebagai level atau tahapan-tahapan yang harus dilalui. Bahwa apapun yang diinginkan manusia tak bisa instan. Semua harus ada proses.
Itulah cerita yang berhasil Author dapatkan saat melakukan riset, benar tidaknya tidak ada yang tau karena sampai saat ini masih menjadi misteri.
__ADS_1