Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Menyusun Persiapan Perang II


__ADS_3

Sabrang melesat cepat dari atas pohon diikuti Candrakurama dan pendekar Hibata lainnya, suasana remang malam itu menyamarkan pergerakannya.


Dua pendekar Bintang kegelapan yang sedang berjaga tampak terkejut setelah melihat kedatangan Sabrang. Mereka langsung mencabut pedang dan bersiap menyerang namun serangan energi keris yang muncul tiba tiba lebih dulu menghentikan pergerakan mereka.


"Ada penyusup," teriak salah satu pendekar Bintang kegelapan saat melihat kehadiran Sabrang.


Candrakurama berniat menyerang untuk membungkam pendekar itu namun Sabrang menahannya.


"Biarkan dia memanggil yang lainnya, itu akan membuat kita lebih mudah menghabisi mereka," ucap Sabrang pelan.


"Baik Yang mulia," jawab Candrakurama.


Teriakan pendekar itu membuat puluhan anggota lainnya muncul termasuk Fusena, wakil ketua Bintang kegelapan yang ditugaskan memimpin misi kelompoknya di Jawata.


"Siapa kalian? berani sekali mencari masalah denganku," bentak Fusena kesal setelah melihat dua anggotanya sudah menjadi mayat.


"Apa kau pemimpinnya?" tanya Sabrang dingin.


Fusena mengangguk, dia berusaha melihat wajah Sabrang yang tertutup topeng.


"Dia masih sangat muda namun kemampuannya sudah tinggi," gumam Fusena dalam hati.


"Kebetulan sekali, aku datang untuk menghabisi kalian," balas Sabrang.


"Menghabisi kami? apa kita pernah memiliki masalah?," Fusena bertanya penasaran.


"Bintang kegelapan telah membunuh banyak nyawa, semua orang pasti memiliki masalah dengan kalian," Sabrang terkekeh mengejek.


"Jika kalian datang untuk membalas dendam atas kematian orang yang kami bunuh sebaiknya lupakan, kalian tidak tau sedang berurusan dengan siapa. Kuakui kemampuanmu cukup tinggi namun itu tak akan berarti di hadapanku. Pergilah dan jangan tampakkan wajah kalian di hadapanku, aku akan mengampunimu kali ini," balas Fusena.


"Jika Bintang langit memang begitu hebat maka aku ingin minta petunjukmu," Sabrang langsung melepaskan aura yang sangat besar untuk menekan mereka.


Fusena tersentak kaget, dia tidak menyangka pendekar muda dihadapannya memiliki aura sebesar itu.


"Tenaga dalamnya benar benar mengerikan," gumam Fusena.


Sabrang memberi tanda pada Candrakurama untuk bergerak sesaat sebelum tubuhnya menghilang.


Fusena mencabut pedangnya dengan cepat dan bersiap menyambut serangan namun belum sempat pedangnya tercabut sepenuhnya Sabrang telah muncul dengan serangannya.


"Bagaimana dia bisa bergerak secepat ini?" Fusena mengumpat dalam hati sambil berusaha menghindar.


Mata biru Sabrang tampak bersinar terang saat lengannya berhasil mencengkram ujung sarung pedang dan mendorongnya cepat membuat pedang Fusena kembali masuk kesarungnya.


Sabrang bergerak memutar dan menyentuh punggung Fusena dengan telapak tangannya.


"Cakar dewa bumi," sebuah hentakan tenaga dalam keluar dari lengannya, membuat Fusena terpental beberapa langkah. Beruntung dia sempat melindungi tubuhnya dengan perisai tenaga dalam.


Sabrang menoleh kearah Candrakurama yanh sudah mulai bertarung, dia tersenyum melihat kemampuan Candrakurama terus meningkat.


"Apa hanya ini kemampuan Bintang kegelapan? kalian membuatku kecewa. Aku akan sedikit mengalah padamu, jika kau bisa mencabut pedangmu maka aku mengaku kalah dan akan pergi dari sini," tepat setelah dia menyelesaikan ucapannya, dia kembali bergerak menyerang.


"Dia meremehkanku," ucap Fusena geram, dia kembali mencabut pedangnya namun tiba tiba sebuah energi keris muncul dan menghantam ujung sarung pedang membuat pedangnya kembali tersarung.


"Tarian rajawali," Sabrang terus mendesak, mata kirinya terus menatap pedang ditangan Fusena.


Fusena tak mampu berbuat banyak, dia terpaksa menangkis serangan dengan pedang yang masih tersarung.


Dalam beberapa kali gerakan sudah terlihat perbedaan kekuatan yang cukup jauh, serangan Sabrang terus mengenai tubuh Fusena cukup telak.


Setiap kali Fusena berusaha mencabut pedangnya, Sabrang selalu bergerak lebih cepat dan mendorong sarung pedang itu membuat pedang Fusena kembali tersarung. Mata bulan membuat dia bisa membaca semua gerakan lawannya.


Fusena tampak sedikit frustasi, dia terus berusaha menjauh namun Sabrang tak membiarkannya, beberapa serangan telaknya membuat gerakan Fusena melambat.


"Sial, dia benar benar kuat," umpatnya dalam hati.


Fusena terus menghindar sekuat tenaga sambil sesekali mencoba mencabut pedangnya jika ada kesempatan namun lagi lagi Sabrang lebih cepat, Pedang Naga api menyentuh ujung sarungnya dan kembali mendorong masuk sebelum dia melepaskan tinju kilat hitamnya.

__ADS_1


Fusena kembali terpental namun wajahnya sedikit cerah kali ini karena jaraknya cukup jauh dari Sabrang.


Dia sudah yakin tak mampu mengalahkan Sabrang dan satu satunya cara lepas darinya hanya dengan mencabut pedangnya sesuai janji Sabrang tadi.


Fusena tak menyianyiakan waktunya, dia langsung mencabut pedangnya untuk menagih janji Sabrang tadi namun wajahnya kembali buruk saat pedangnya tidak bisa tercabut. Dia melirik pedangnya yang sudah terbungkus es di bagian sarung dan gagang pedangnya.


"Sejak kapan dia menggunakan jurus es? ucap Fusena terkejut.


Sabrang menggeleng pelan, pandangan tajamnya membuat Fusena begidik.


"Kau benar benar menyedihkan, kau bukannya menyerangku malah menggunakan janjiku untuk menyelamatkan diri, dimana kekejaman kalian saat membunuh banyak orang?" ucap Sabrang sinis.


Fusena terdiam sambil terus berusaha mencabut pedangnya, dia sudah tak lagi memiliki niat bertarung. Melanjutkan pertarungan hanya akan membuatnya mati konyol, ditambah lagi Candrakurama terlihat membantai anggotanya satu persatu.


"Apa kau dibayar untuk membunuh kami? jika memang demikian maka akau akan membayar dua kali lipat," Fusena mencoba membujuk Sabrang.


"Membayarku?" Sabrang mengernyitkan dahinya sambil tersenyum kecil.


"Tiga kali lipat," Fusena terus membujuk Sabrang, dia lebih baik kehilangan uang daripada nyawanya.


"Aku tak butuh uangmu, Hibata bergerak bukan karena uang," balas Sabrang sambil menggunakan ajian cakra manggilingan, dia ingin menyudahi pertarungan secepatnya.


"Hibata? kalian organsiasi misterius itu?," Fusena tersentak kaget.


"Kau tak perlu membayarku dengan uang jika ingin selamat, bukankah sudah kukatakan jika kau berhasil mencabut pedangmu maka aku akan pergi," Sabrang kembali bergerak namun kini dia melepaskan hampir separuh tenaga dalamnya.


Fusena kembali mengumpat dalam hati, dia benar benar merasa dipermainkan oleh Sabrang.


Fusena menoleh kearah pedangnya yang terkunci es, wajahnya sedikit lega karena bongkahan es itu mencair dan semakin menipis. Ada secercah harapannya untuk selamat kali ini.


"Aku harus mencari cara mencabut pedangku," Fusena bergerak menyambut serangan Sabrang, dia mengalirkan tenaga dalamnya kedalam pedang agar bongkahan es itu mencair dan dia bisa mencabut pedangnya. Fusena merasa hanya perlu mengulur waktu sebentar sebelum es itu mencair dan mencari kesempatan mencabutnya.


"Ketika kau sudah tidak memiliki niat bertarung maka saat itulah kau sudah kalah," Sabrang merubah gerakannya tiba tiba, jurus tarian rajawali yang dia gunakan dari awal berubah lebih mematikan.


Fusena terus menjaga jarak, dia terus melompat mundur sambil sesekali melirik pedangnya.


Luka ditubuhnya sudah semakin parah karena tak semua serangan mampu dihindarinya.


"Aku bisa mencabut pedangku," teriak Fusena sambil menarik pedangnya dari sarungnya, wajahnya tampak lega karena berfikir dia akan selamat namun sesaat sebelum ujung mata pedangnya keluar dari sarungnya, Sabrang muncul dibelakangnya dengan jurus ruang dan waktunya.


Lengan Sabrang mencengkram sarung pedang dan mendorongnya kembali membuat pedang Fusena kembali masuk kesarungnya.


"Jangan pernah bermain main dengan Malwageni," bisik Sabrang pelan.


"Malwageni?" Fusena tersenyum kecut sesaat sebelum pedang Naga api menembus tubuhnya.


"Bahkan sampai akhir pun aku tak mampu mencabut pedang, kau benar benar mengerikan," Fusena batuk darah, tubuhnya roboh ke tanah saat pedang naga api tercabut dari tubuhnya.


Candrakurama yang sudah menyelesaikan pertarungannya lebih dulu tampak takjub melihat Sabrang, dia menoleh kearah tubuh Fusena yang sudah terbaring di tanah dengan pedang yang masih tersarung.


"Melihat anda bertarung membuatku semakin takjub Yang mulia, entah akan seperti apa kekuatan anda kelak," gumam Candrakurama dalam hati.


"Bakar semuanya tanpa sisa dan berikan tanda jika Hibata pelakunya, aku tidak ingin mereka tau Malwageni bergerak sebelum hari penyerangan," perintah Sabrang pada salah satu anggota Hibata.


"Baik Yang mulia," jawab pendekar itu.


***


Kertapati tampak duduk disebuah meja penginapan di kadipaten Karang waringin sambil menyantap makanannya, sesekali dia menoleh kearah pintu keluar seperti sedang menunggu seseorang.


Tak lama seorang pemuda memasuki penginapan dan langsung berjalan mendekatinya.


"Kau yakin tidak ada yang mengikutimu?" tanya Kertapati pelan.


Pemuda itu menggeleng pelan sambil memberikan sebuah batu kecil sebagai penanda identitasnya.


"Apa Yang mulia benar benar akan menyerang Majasari tuan? aku hampir tak mempercayainya karena semua sangat tiba tiba," ucap Restu yang merupakan teliksandi kepercayaan Wardhana.

__ADS_1


Kertapati mengangguk pelan, "Kapan iringan logistik yang biasa membawa bahan makanan untuk keraton Majasari?"


"Pasokan bahan makanan biasa dibawa oleh beberapa pedagang dari Saung galah, besok adalah waktu pengirimannya namun tak semua bersamaan tuan. Beberapa pedagang biasa datang siang hari dan sisanya malam hari," ucap Restu menjelaskan.


"Besok ya," Kertapati terlihat berfikir sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. "Dimana titik lokasi yang tepat untuk menyerang mereka? aku tidak ingin penyerangan ini terlalu mencolok, cari tempat yang cukup sepi."


"Ada beberapa titik yang bisa kita gunakan sebelum memasuki kadipaten Karang waringin, salah satunya adalah hutan Werno getih. Jalur itu cukup sepi karena jarang dilewati orang, kita bisa menyerang rombongan mereka disana," jawab Restu.


"Kau yakin tak ada penjagaan di sana?," tanya Kertapati.


Restu menggeleng pelan, "Iring iringan mereka hanya dijaga oleh sepuluh orang pasukan tangan besi tuan, tak ada yang benar benar berani mengganggu perjalanan mereka."


"Baik, pastikan lokasinya terlebih dahulu, besok aku dan Arung akan menemui mu didekat pos perbatasan," balas Kertapati.


"Anda yakin akan menyerang iringan pasokan makanan Majasari tuan? mereka akan marah besar jika diusik," tanya Restu sedikit ragu.


Wajah Kertapati sedikit mengeras, dia menatap tajam Restu.


"Apa kau meragukan titah Yang mulia? sepertinya tugas sebagai teliksandi membuatmu lupa jika kau adalah pasukan Angin selatan. Meragukan perintah Yang mulia sama saja memilih mati," ucap Kertapai kesal, jika bukan ditempat ramai mungkin dia sudah memukul Restu.


"Maaf tuan atas kesalahanku, aku hanya..," belum selesai Restu bicara, Kertapati sudah memotong ucapannya.


"Sudah lupakan, jika kau bicara seperti itu aku akan memenggal kepalamu."


"Aku tidak akan mengulanginya," balas Restu sambil menunduk.


"Besok pagi aku dan tuan Arung akan membawa beberapa pasukan untuk menghentikan iringan pasokan makanan ke Majasari. Temui aku di pos penjagaan kadipaten karang waringin, kami akan menyamar sebagai pedagang. Cari tempat bersembunyi yang tidak mencolok sampai rombongan iringan itu datang, aku tidak ingin ada sedikit saja kesalahan."


"Baik tuan, aku sudah menyuap beberapa penjaga perbatasan untuk memudahkan anda masuk, aku beralasan kalian adalah pedagang baru yang ingin mencari peruntungan di Karang waringin.


Penjagaan disini tidak terlalu ketat tuan karena posisinya sedikit jauh dari ibukota," balas Restu.


"Aku harus pergi untuk melaporkan ini pada Yang mulia. Pergilah kesebuah pohon didekat perbatasan, ada tanda ranting pohon yang kutancapkan di dekat pohon besar.


Gali lah tanah yang ada ranting tertancap diatasnya, ada sepuluh pedang yang ku kuburkan di sana. Ambil dan simpan pedang itu sampai besok kami datang." ucap Kertapati sambil berdiri.


Dia menatap Restu agak lama sebelum bicara.


"Sudah lama harga diri dan tanah leluhur kita di injak injak Majasari. Dua hari lagi Malwageni membutuhkan bantuan kita, jika kau merasa darah dan semangatmu adalah Malwageni maka berikan semua yang kau miliki termasuk jika itu harus nyawamu," ucap Kertapati pelan namun tegas sambil melangkah pergi.


"Hamba akan mengingat pesan anda tuan," ucap Restu sambil menundukkan kepalanya.


***


Wardhana terlihat berlutut didepan kuburan sambil membawa beberapa bunga, Arung yang ikut bersamanya tampak berdiri sedikit jauh dibelakang.


Wardhana memutuskan mengunjugi makam Sekar pitaloka setelah kembali dari Saung galah.


"Hamba menghadap Gusti ratu," ucap Wardhana pelan, dia membersihkan kuburan itu sebentar sebelum menaburkan bunga yang dibawanya.


"Gusti ratu, maafkan hamba karena baru mengunjungi anda. Hamba terlalu malu untuk menunjukkan wajah dihadapan anda. Kegagalan saat itu membuat hamba tak pernah tidur dengan nyenyak, hamba bahkan tak tau dimana tubuh Yang mulia raja dikuburkan oleh mereka, mohon ampuni hamba gusti ratu.


Hari ini hamba memberanikan diri untuk menemui anda," Wardhana menarik nafasnya panjang sebelum melanjutkan ucapannya.


"Dua hari lagi, hamba akan mendampingi Yang mulia raja untuk merebut kembali Malwageni. Jika anda sedang bersama Yang mulia Arya dwipa mohon sampaikan pada beliau jika kami akan merebut kembali apa yang telah direbut Majasari," Wardhana menundukkan kepalanya cukup lama.


Tak lama Arung melangkah mendekat, dia memegang pundak Wardhana seolah memberi semangat.


"Maaf tuan, sudah saatnya kita pergi, nanti malam akan ada pertemuan dengan patih Jaladara dan Yang mulia untuk mematangkan semua rencana penyerangan," ucap Arung pelan.


Wardhana mengangguk pelan, dia menundukkan kepalanya beberapa saat sebelum melangkah pergi.


"Hamba akan pastikan kemenangan berada ditangan Yang mulia, mohon anda beristirahat dengan tenang."


\=\=\=\=\=\=\=


Ada pertanyaan menarik dari salah satu Reader PNA.

__ADS_1


Thor kalo Sabrang lagi Malam pertama, Naga api sama Anom yang bersemayam ditubuh Sabrang bisa ngintip dong?


Bisa bantu jawab? hehehehe


__ADS_2