Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Akhir Tragis Seorang Pengkhianat


__ADS_3

"Sebaiknya anda berhenti tuan atau aku akan membunuh tuan Putri," komandan pasukan elite topeng galah yang awalnya melindungi Andini tiba tiba menarik tubuh gadis itu dan mengalungkan pedang dilehernya.


"Lepaskan aku Hansa!" teriak Andini sambil berusaha berontak namun pendekar itu dengan cepat menotok tubuh Andini yang membuatnya kaku tak bisa bergerak.


Candrakurama tersentak kaget dan menoleh sambil menatap penuh amarah.


"Sebaiknya anda tidak mendekat," Hansa mengalirkan tenaga dalam ke pedangnya dan siap menariknya.


"Apa kalian akan diam saja?" teriak Candrakurama pada pasukan topeng galah yang berada didekat Andini.


"Berani kalian bergerak maka aku akan membunuh putri Andini dihadapan kalian. Dengarkan aku, saat ini trah Saung Galah telah hancur dan tak lama lagi Malwageni akan bernasib sama, apa kalian memilih mati bersama mereka?" ucap Hansa cepat.


Pasukan Topeng galah terbelah dua, separuh prajurit langsung melindungi Hansa dan sebagian lagi memilih melangkah mundur, suasana menjadi sangat tegang karena pasukan Topeng Galah yang berpihak pada Andini tidak mau menurunkan pedangnya.


Suara tawa Pancaka tiba tiba memecah ketegangan, dia tampak puas melihat kesetiaan Hansa padanya.


"Candrakurama, apa kau pikir aku bodoh dan tidak mempersiapkan semuanya dengan baik? untuk menggerakkan pasukan aku harus memastikan komandan pasukan berpihak padaku. Sepertinya keadaan berubah dengan cepat," ucap Pancaka mengejek.


"Pengecut memang selalu menggunakan cara kotor seperti ini," balas Candrakurama sambil menggeleng pelan.


"Letakan pedangmu, cepat!" bentak Pancaka.


"Harusnya sejak awal aku membunuhmu," jawab Candrakurama sambil melempar pedangnya.


"Ikat dia, aku akan mengurusnya setelah bersenang senang dengan tuan putri yang agung," ucap Hansa pelan, dia membelai leher Andini perlahan.


"Jauhkan tangan kotor itu!" bentak Andini kesal.


"Anda sebaiknya tidak melawan tuan Putri, saat ini tak akan ada yang bisa membantumu," balas Hansa sambil tertawa.


Beberapa prajurit Suang Galah kemudian melangkah mendekati Candrakurama untuk mengikatnya namun langkah mereka menjadi berat saat luapan aura keluar dari tubuh ketua Hibata itu.


"Mendekat lah jika kalian mampu," ucap Candrakurama dingin.


Hansa yang juga merasakan tekanan tenaga dalam itu tampak terkejut, dia tidak menyangka Candrakurama memiliki tenaga jauh lebih besar darinya.


"Apa kau memang ingin membuatnya mati?" Hansa kembali mengalungkan pedangnya di leher Andini.


"Jadi hanya sampai disini kesetiaan komandan tertinggi Topeng Galah?" balas Candrakurama sinis.


"Kesetiaan? aku bukan orang bodoh yang rela mati hanya demi kesetiaan, sejarah hanya akan mengenang pemenang bukan pendekar yang mati hanya demi kesetiaan," jawab Hansa sinis.


"Dan kau pikir kalian akan menang?" ejek Candrakurama pelan.


Wajah Pancaka berubah seketika saat melihat Candrakurama begitu percaya diri mengatakan hal itu.


"Apa maksud ucapanmu itu?" tanya Pancaka cepat.


Candrakurama menoleh kearah Pancaka sambil tersenyum kecil.


"Sudah terlambat untuk menyerah saat ini Pangeran, kalian seharusnya sadar siapa lawan yang saat ini kalian hadapi," balas Candrakurama tepat sebelum tubuhnya menghilang dan muncul dihadapan Hansa.


"Cepat sekali," Hansa berusaha menarik pedangnya untuk memenggal kepala Andini namun gerakan Candrakurama lebih cepat, dia mencengkram lengan lawannya sebelum melepaskan tapak dewa bumi.


"Kau pikir aku hanya menguasai ilmu pedang?" tubuh Hansa terlempar jauh akibat ledakan tenaga dalam Candrakurama.


Candrakurama merangkul tubuh Andini sebelum melompat mundur dan keluar dari kepungan pasukan Topeng Galah.


"Kau! sejak awal kau bisa mengalahkan aku..." ucap Hansa terkejut.


"Akhirnya kita bertemu pangeran," Wardhana dan pasukannya muncul dari dalam hutan dan langsung mengepung pasukan Pancaka.


"Paman?" Pancaka tampak panik, dia mulai menyadari sudah masuk Wardhana.


"Anda memang benar benar pintar membaca situasi tuan," ucap Candrakurama dalam hati sambil mengingat kembali pembicaraannya dengan Wardhana sebelum menyerang Pancaka.


"Anda tidak ikut langsung menyerang?" tanya Candrakurama terkejut saat Wardhana meminta dia dan Andini muncul lebih dulu.


"Akan sangat beresiko merebut pasukan Saung Galah saat situasi seperti ini, kita tidak bisa menjamin semua akan setia pada Putri Andini. Aku ingin memancing mereka semua keluar sebelum menghancurkan pangeran.


"Kau tak perlu khawatir karena aku dan pasukan Angin selatan akan mengamati dari jauh dan siap bergerak kapanpun. Setelah Yang mulia memancing Agam pergi, kau muncul bersama tuan Putri," jawab Wardhana pelan.


"Kau salah memilih lawan Pangeran," ucap Candrakurama sambil bersiap menyerang.


"Bentuk Formasi tempur!" teriak Pancaka cepat, kini dia tidak punya pilihan lain selain melawan bersama pasukan yang masih setia padanya.


"Dengan segala hormat pangeran, sebaiknya anda menyerah," ucap Wardhana sambil mengambil sesuatu dari bungkusan kain yang terikat di pinggangnya.


"Menyerah? paman lupa jika separuh lebih pasukan topeng Galah masih berpihak padaku, selain itu aku yakin tidak ada tempat bagiku untuk kembali bukan?"

__ADS_1


Wardhana menarik nafasnya panjang sebelum menggeleng pelan.


"Kesalahan anda memang tidak dapat diampuni lagi tapi setidaknya anda bisa menyerah dan menghindari korban jatuh lebih banyak," jawab Wardhana tenang.


"Jangan harap!" Pancaka menarik kembali pedangnya dan bergerak menyerang bersama pasukan Topeng Galah.


"Aku akan menghadapi pasukan Topeng galah, pastikan dia terbunuh dengan cepat," ucap Wardhana sebelum memerintahkan pasukan Angin selatan untuk bersiap.


"Tapi tuan.. bukankah Yang mulia meminta kita untuk tidak membunuhnya?" ucap Candrakurama terkejut.


"Dia akan selalu menjadi masalah bagi Malwageni jika dibiarkan hidup. Usahakan dia terbunuh seolah tidak sengaja karena melawan tapi jika kau tidak mampu, aku akan melakukannya sendiri setelah membereskan semuanya," jawab Wardhana sebelum bergerak bersama pasukannya.


"Kau ingin beradu strategi perang denganku? jangan bermimpi!"


"Serang!" teriak Pancaka keras.


"Gunakan Formasi kedua, serang dan hancurkan mereka," balas Wardhana cepat.


Ratusan pasukan dari kedua belah pihak tampak berlarian seperti ombak dan saling menyerang, sebagian pasukan Topeng Galah yang berpihak pada Andini tampak memisahkan diri dan berlari kerah Andini untuk melindunginya. Mereka sadar jika ikut bertempur hanya akan mengacaukan formasi Wardhana.


Wardhana yang memimpin paling depan tampak berusaha menekan pasukan Topeng Galah yang terkenal kuat, sesekali dia menggerakkan tangan kanannya seolah memberi tanda untuk berganti formasi.


Formasi Wardhana disambut oleh Wukir Sagara Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan berbentuk bukit dan samudera) pasukan Saung Galah dengan Pancaka sebagai komando utama.


Candrakurama bergerak ke sisi kiri bersama sebagian pasukannya dan sebagian lagi ke sisi kanan seolah membentuk bulan sabit saat Wardhana menggunakan formasi Wulan Tumanggal.


Perubahan formasi tiba tiba itu mengejutkan Pancaka dan pasukannya, mereka mulai tertekan setelah serangan yang dipimpin Candrakurama mulai menusuk dari kiri dan menghancurkan formasi Wukir Sagara Wyuha.


Belum sempat Pancaka berfikir, belasan anak panah menghujani mereka dari berbagai arah, dan seolah mengerti jika anak panah itu adalah tanda serangan terakhir, prajurit Angin selatan mundur secara bersamaan namun tetap membentuk lingkaran yang semakin melebar.


"Mereka mundur?" merasa sesuatu akan terjadi, Hansa memimpin pasukannya menyerang ke satu sisi untuk membuka jalan namun suara ledakan disertai kobaran api mengejutkan semua orang tak terkecuali Candrakurama saat Wardhana tiba tiba melempar bola kecil yang terbuat dari tanah liat kearah pasukan Hansa.


Sebagian pasukan Hansa terbakar dengan cepat dan menjerit kesakitan dan sebagian lagi berlari ke segala arah untuk meyelamatkan diri.


"Tenaga dalam? bukan.. itu seperti tanah liat yang diisi sesuatu," Pancaka tersentak kaget dan berusaha menjauh dari pasukannya yang terbakar api.


Pasukan yang di pimpin Candrakurama memisahkan diri seolah memberi jalan bagi mereka namun dari jauh sudah berdiri puluhan pasukan pemanah yang dipimpin Arung yang mengarahkan busur panahnya.


"Serang!" teriak Arung cepat.


Puluhan busur panah melesat cepat kearah prajurit Saung Galah yang tampak bingung akibat ledakan yang dibuat oleh Wardhana.


Melihat puluhan prajurit Saung Galah tak berdaya oleh formasi yang digunakan Wardhana dan meregang nyawa dihadapannya membuat nyali Pancaka ciut, dia kemudian memutuskan menyerah.


"Letakkan senjata kalian," teriak Pancaka saat melihat Wardhana hendak melempar bola tanah liat itu lagi.


"Paman, kami sudah menyerah, tolong hentikan semua ini," ucap Pancaka mengiba.


"Api Malwageni ciptaan tuan Ken Panca benar benar hebat," ucap Wardhana pelan sambil memberi tanda pasukannya untuk berhenti menyerang.


Semua pasukan Angin selatan menghentikan serangan dan membentuk lingkaran dengan pedang dan busur panah masih terarah pada Pancaka.


"Sudah kukatakan sejak awal untuk menyerah, anda telah membuang nyawa sia sia," ucap Wardhana sambil melangkah mendekati Pancaka.


Pancaka dan pasukan Topeng Galah sebenarnya masih cukup mampu mengimbangi prajurit Angin selatan dengan formasinya namun bola dari tanah liat yang disebut Wardhana sebagai Api Malwageni lah yang menghancurkan mereka seketika.


Andini yang melihat pertempuran dari jarak yang cukup jauh pun tak bisa menutupi rasa kagumnya pada Wardhana. Kedua pasukan itu sebenarnya cukup berimbang namun pengalaman berperang patih Malwageni itulah yang menjadi kunci kemenangan perang yang sangat singkat itu.


"Malwageni tak akan bisa dihentikan," ucapnya dalam hati seraya bersyukur telah memilih Wardhana sebagai kawan.


Wajah Pancaka menjadi pucat saat Wardhana mengarahkan pedang padanya.


"Tuan Patih, sebaiknya kita bicarakan dulu dengan Yang mulia mengenai masalah ini," ucap Candrakurama pelan.


"Paman, aku ingin bicara dengan Kakang Sa..." suara Pancaka terhenti saat pedang Wardhana menusuk jantungnya hingga tembus sampai punggung.


"Tuan!" teriak Candrakurama dan Arung bersamaan, mereka tidak menyangka jika Wardhana berani membunuh adik tiri Sabrang itu.


"Paman? kau..." Pancaka batuk darah sebelum kesadarannya perlahan menghilang.


"Aku sudah berkali kali memberi anda kesempatan untuk hidup tapi selalu berakhir dengan sebuah pengkhianatan dan aku tak akan membiarkan itu terjadi lagi," ucap Wardhana dingin sambil menarik pedangnya.


"Pangeran tidak sengaja terbunuh saat sedang melakukan perlawanan, situasi yang sangat kacau membuat kita tak menyadari kehadirannya. Apa kalian semua dengar?" teriak Wardhana kemudian.


Semua terdiam sambil mengangguk cepat, wajah mereka menunjukkan rasa takut yang besar karena untuk pertama kalinya melihat sisi gelap Wardhana yang sangat kejam dan tanpa ampun.


Wardhana kemudian memerintahkan pasukannya untuk mengikat para tahanan dan memanggil Arung, Candrakurama, putri Andini kesebuah tenda untuk membicarakan rencana berikutnya. Dia seolah tidak perduli dengan tatapan takut pasukannya.


"Anda mulai berubah tuan, aku tidak tau ini baik atau justru buruk untuk Malwageni tapi anda baru saja menunjukkan sisi kejam yang bahkan aku tak pernah membayangkannya," ucap Candrakurama dalam hati sambil mengikuti Wardhana masuk kedalam tenda.

__ADS_1


***


"Sepertinya sudah cukup jauh, aku hanya perlu menunggunya untuk menyerang, tiba tiba" ucap Sabrang sambil menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.


Namun betapa terkejutnya Sabrang saat Agam sudah berada di dekatnya, dia sangat yakin lawannya itu tadi tertinggal cukup jauh.


Sabrang langsung membentuk perisai es untuk menahan serangan tiba tiba itu.


"Pedang Cahaya Bulan kegelapan tingkat dua : Energi pedang penghancur," Agam mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.


Ledakan besar terdengar di udara saat perisai es milik Sabrang hancur dengan mudah. Tubuhnya terlempar cukup jauh akibat terkena energi pedang Agam.


"Cepat sekali," ucap Sabrang sambil menancapkan pedangnya di tanah untuk mengentikan tubuhnya.


"Apa pemilik Naga Api hanya bisa bermain es seperti anak kecil?" tanya Agam mengejek.


"Berhati hatilah, aku merasakan kekuatan yang sangat besar bersemayam di dalam tubuhnya," ucap Naga Api tiba tiba.


"Aku tau, serangannya tadi tidak mengandung tenaga dalam yang besar tapi efek hancurnya sangat mematikan. Jurus aneh apalagi itu?" balas Sabrang kesal.


"Kau tau, tugas pasukan kuil suci bukan hanya untuk membangkitkan ayahku kembali tapi jauh lebih besar dari itu dan aku membutuhkan orang orang kuat sepertimu. Bergabunglah denganku, kami akan melindungi Malwageni dan menjadikannya kerajaan terbesar di Nuswantoro," ucap Agam pelan.


"Bergabung denganmu? jangan bercanda, aku tak akan pernah mau tunduk pada siapapun," balas Sabrang sambil menarik energi Naga Api.


"Kau membuat pilihan yang salah," ucap Agam tepat sebelum tubuhnya menghilang.


"Sebelah kananmu!" teriak Anom.


"Aku tau," Sabrang menarik pedangnya dan siap menyambut serangan tapi Agam muncul di sisi berlawanan dan langsung menyerang.


"Bagaimana mungkin?" Sabrang sangat yakin merasakan energi besar di sisi kanannya namun bagaimana mungkin Agam muncul di arah yang berbeda. Dia berusaha melompat menghindar tapi serangan serangan lainnya terus menghantam tubuhnya.


Agam seperti bergerak secepat Angin dan menyerang dengan jurus yang berbeda beda.


Serpihan es beterbangan di udara bercampur darah Sabrang yang hancur karena tidak mampu menahan serangan Agam.


Sabrang merubah gerakannya di udara sambil menggunakan Ajian inti lebur saketi tingkat enam. Saat pedang Agam hampir mengenai tubuhnya kembali, dia menggunakan jurus pedang Sabdo Palon tingkat satu.


Benturan kedua pusaka itu menimbulkan ledakan tenaga dalam yang membuat mereka berdua terlempar bersamaan.


"Jadi kau masih menyembunyikan kemampuanmu ya? menarik!" ucap Agam sambil tersenyum dingin.


"Apa kau merasakan serangannya sangat aneh?" tanya Sabrang dalam pikirannya.


"Kau benar nak, aku sangat yakin merasakan dia bergerak ke sisi kananmu tapi bagaimana dia muncul di sisi kiri," jawab Anom bingung.


"Kecepatannya juga tidak wajar, mata bukan milikku bahkan tak bisa melihat gerakannya," balas Sabrang.


"Apa kau berubah pikiran? aku masih menerimamu jika ingin bergabung," ucap Agam.


"Terima kasih atas tawarannya, mungkin aku bisa memikirkannya setelah membunuhmu," jawab Sabrang mengejek.


"Kau benar benar tidak bisa mengukur kemampuan lawan, apa kau pikir dengan kekuatan Naga Api mampu melawanku? akan aku tunjukkan apa itu perbedaan kekuatan," Agam kembali bergerak menyerang.


"Anom, amati gerakan pedangnya, aku akan berusaha membaca gerakan kakinya dengan mata bulan," Sabrang bergerak menyambut serangan itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ada beberapa hal yang akan saya jelaskan di chapter ini....


formasi Wulan Tumanggal adalah salah satu formasi terkuat dalam dunia pewayangan. Siasat ini diibaratkan seperti bentuk bulan sabit, dimana seolah-olah wujudnya tidak membahayakan. Tetapi sesungguhnya siasat ini membahayakan karena di ujung sudut dan di tengah barisan selalu siap sedia dengan gerakan yang mudah dilakukan.


Lihatlah malam dikala bulan muncul di awal, sinar bulan sabit begitu teduh dan menenangkan, namun dalam perang, siasat “Wulan tumanggal” menyimpan serangan serangan kejutan di ujung sudut dan di tengah yang tidak akan di duga lawan.


Dalam rencana Wardhana, kunci strategi ini adalah Api Malwageni dan pasukan pemanah yang menjadi ujung "Sudut" bulan sabit.


Lalu apa itu Api Malwageni yang berbentuk bola kecil dan lapisan luarnya terbuat dari tanah liat?


Api Yunani adalah senjata sejenis bom paling menakutkan yang pernah dibuat pada zaman Yunani Kuno. Tapi sejauh ini bahan-bahan rahasia dan teknologi yang dibutuhkan untuk membuat apa yang dijuluki sebagai "Api Yunani" masih belum diketahui oleh para ilmuan.


Api Yunani adalah senjata yang merupakan suatu campuran bahan yang mudah terbakar. Api akan menempel di daging dan terus menyala dan tidak dapat dipadamkan dengan air. Ramuan mematikan ini diciptakan oleh keluarga ahli kimia dan insinyur dari Konstantinopel, dan resep rahasia ini pun mati bersama dengan kematian mereka.


Tidak seperti granat modern sekarang ini, granat kuno ini terbuat dari tanah liat berat serta memiliki permukaan indah yang timbul.


(Sumber mbah Google)


Terinspirasi dari api Yunani ini, Pedang Naga Api memunculkan "Bom" Api Malwageni yang juga terbuat dari tanah liat yang diciptakan oleh Ken Panca di sisi gelap alam semesta.


Bagaimana Ken Panca membuatnya dan dari mana dia mendapatkan bahan bahan membuat Api Malwageni? tunggu kelanjutannya......

__ADS_1


__ADS_2