
"Jadi benar kabar yang kudengar jika pengguna Naga api seluruh tubuhnya akan diselimuti kobaran api?". Arung berdecak kagum melihat kobaran api bergerak kearahnya.
"Pertahankan formasi dan gunanakan pelindung raga geni untuk menekan panas apinya. Selama formasi bintang utara tetap menyatu tak perlu ada yang ditakutkan dari apinya". Petta memberi perintah dengan penuh percaya diri.
Ketika Sabrang sudah mendekat, dua pendekar terlihat bergerak memisahkan diri dan menyerang dari kedua sisi sedangkan yang lainnya menyerang bersamaan sambil terus mempertahankan formasi.
Sabrang terlihat sedikit kesulitan menembus pertahanan formasi bintang utara karena perubahan posisi dan gerakan mereka begitu cepat dan saling menutupi kelemahan masing masing, ditambah dua pendekar yang menyerang dari kedua sisi membuatnya sedikit kerepotan. Beberapa kali para pendekar itu berhasil melepaskan serangan yang mengenai tubuh Sabrang.
Yang membuat Sabrang sulit bergerak adalah dua pendekar yang menyerang dari dua sisi selalu bergantian. Setelah mereka berhasil memukul Sabrang mundur para pendekar itu akan kembali dalam formasi dan pendekar lainnya menggantikannya. Hal itulah yang membuatnya sulit menebak gerakan mereka.
"Aura yang melindungi tubuh mereka dapat menekan efek kobaran api hitam". Anom berdecak kagum saat melihat mereka sangat percaya diri menyerang Sabrang tanpa rasa takut terbakar.
"Bukankah ini menarik Anom? belum pernah ada yang benar benar berani menghadapi api hitamku". Sabrang menjadi lebih bersemangat terutama setelah satu purnama lebih dia tidak memiliki lawan yang sepadan.
Sabrang terus menyerang dengan jurus jurus andalannya sambil mengamati pola formasi bintang utara.Dia memutar tubuhnya dan menarik pedang Naga api kedalam ketika menemukan celah untuk menyerang namun sebuah serangan cepat hampir mengambil kepalanya andai mata bulan tidak melihat lebih cepat. Tubuh Sabrang terdorong mundur akibat benturan pedang dengan para pendekar itu.
"Dia masih belum bisa menembus pertahanan bintang utara, apa kami harus bekerja sama untuk merusak pertahanan mereka". Gumam Arung dalam hati. Arung berfikir jika terus seperti ini maka mereka akan kehabisan tenaga dalam.
"Apa kau pikir hanya dirimu yang bisa mengendalikan api? Suku api Celebes jauh lebih kuat darimu". Petta memberi tanda untuk menyerang kembali.
"Lebih kuat ya? mungkin benar apa yang kau katakan namun aku memiliki apa yang tidak kalian miliki". Sabrang menajamkan matanya sesaat sebelum kembali menyerang, Mata bulannya bersinar terang walaupun darah mulai menghiasi kedua bola matanya.
"Mata itu seolah mencoba menguliti tubuhku". Petta sedikit terkejut setelah tatapan matanya bertemu sesaat dengan mata biru itu.
Kali ini serangan serangan Sabrang semakin tajam dan cepat, beberapa pendekar yang berada dalam formasi bahkan terdorong mundur. Setiap kaki Sabrang menyentuh tanah selalu dibarengi dengan bebatuan yang beterbangan akibat tekanan tenaga dalamnya.
Namun para pendekar lereng merah darah tak membiarkan Sabrang begitu saja, mereka terus berusaha bertahan dari serangan cepat yang datang bertubi tubi.
"Sepertinya memang sulit, formasi bintang utara adalah formasi terbaik milik lereng merah darah". Arung tersenyum kecut sambil melihat kearah Sabrang yang terus menggempur namun belum membuahkan hasil apa apa.
Suasana jadi sangat mencekam bagi pendekar lereng merah darah ketika mereka sempat melihat senyum dingin sesaat sebelum tangan kiri Sabrang seperti memegang sesuatu ditangannya.
Belum sempat mereka berfikir apa yang akan dilakukan Sabrang sebuah aura hitam pekat muncul diantara mereka dan membentuk sebuah keris.
"Hancurkan formasi itu Anom!". Teriak Sabrang sambil mengayunkan pedangnya kearah dua pendekar yang menyerangnya dari arah berlawanan.
__ADS_1
Keris penguasa kegelapan mulai berputar dan menyerang siapa aja yang ada dalam jangkauannya. Keris itu menghilang tiba tiba dan muncul dari arah yang sulit ditebak. Beberapa pendekar mulai bertumbangan dengan lubang di bagian perut.
"Formasinya mulai hancur". Arung tidak menyianyiakan kesempatan itu, dia melesat cepat dan mengayunkan pedangnya. Aura hitam pekat yang keluar dari pedang Bara sangihe menembus tubuh lawan yang ada dalam jangkauannya.
Mendapat serangan dari dua sisi secara bersamaan membuat Formasi bintang utara mulai goyah.
"Sial! Keris itu penyebabnya". Petta menjadi geram, dia melesat cepat dan berusaha menangkap keris penguasa kegelapan namun belum sempat dia meraihnya keris itu kembali menghilang.
Sabrang menggunakan tangan kirinya sebagai pijakan untuk menghindari serangan pedang para pendekar yang menyerangnya sekaligus untuk memutar tubuhnya sedikit keatas. Pedang Naga api dia putar sedikit sebelum merapal sebuah jurus.
"Pedang pemusnah raga". Bersamaan dengan melompat nya Sabrang ke udara, dua pendekar yang berada didekatnya roboh ketanah tanpa tau apa yang menyerang mereka.
Arung memutuskan melompat mundur saat melihat keris penguasa kegelapan muncul di udara dan berputar cepat. Dia merasa Sabrang sedang merencanakan sesuatu.
Sabrang mengarahkan tangannya ke arah keris yang berputar cepat.
"Energi keris penghancur".
Aura hitam pekat tiba tiba menyelimuti seluruh area hutan itu sebelum ribuan energi berbentuk keris meluncur dan menghantam puluhan pendekar yang terus berusaha mempertahankan formasi bintang utara.
"Tenaga dalamnya besar sekali". Petta terdorong mundur beberapa langkah.
Melihat Sabrang terjatuh, Mentari bergegas turun dan memeriksa lukanya.
"Tuan muda luka anda masih belum sembuh, jangan terlalu memaksakan diri". Mentari memeriksa luka diperut Sabrang yang kembali mengeluarkan darah.
"Dia sedang terluka". Petta melesar cepat kearah Sabang, dia tidak ingin menyianyikan kesempatan membunuhnya.
"Dasar pendekar tak tau malu, menyerang saat lawan lengah dan terluka". Arung berusaha menghentikan Petta namun kalah cepat, Petta sudah berada di dekat Sabrang dengan pedang terhunus.
Sabrang menarik tubuh Mentari menjauh dan mengarahkan pedang Naga api untuk menyambut serangan Petta.
"Kau pikir pedangmu bisa menangkis seranganku? mungkin pedangmu adalah yang terbaik saat ini namun serangan cepat seperti ini tak akan mampu kau hindari dengan mudah".
"Aku tidak berniat menghindari seranganmu"..Sesaat setelah Sabrang selesai bicara Pedang ditangannya menghilang begitu juga api yang ada ditubuhnya.
__ADS_1
Sabrang membentuk es di telapak tangan kanannya dan menangkap pedang milik Petta. Dia menarik pedang Petta mendekat dan mendaratkan telapak tangan kirinya ditubuh Petta.
"Hembusan Dewa Es Abadi". Tubuh Petta membeku seketika, hanya menyisakan kepalanya.
"Kau menguasai dua unsur yang berlawanan?". Petta berusaha melepaskan diri namun bongkahan es terlalu kuat untuk dihancurkan.
"Dia sangat kuat". Arung berjalan mendekati Sabrang perlahan namun beberapa pisau es terbentuk di lengan Sabrang.
"Hei, tenang, aku di pihak yang sama denganmu. Sepertinya pisau itu sangat tajam". Arung terus melangkah hati hati sambil menelan ludahnya.
"Siapa kalian sebenarnya? aku belum pernah melihat jurus jurusmu".Tanya Mentari curiga.
"Namaku Arung nona, aku berasal dari daratan Celebes. Ada yang ingin aku bicarakan dengan temanmu ini".
"Bicara denganku?". Sabrang mengernyitkan dahinya.
Arung mengangguk pelan "Namun jika diperbolehkan bisakah kau lubangi es di bagian sini". Arung menunjuk saku baju Petta.
"Kurang ajar kau Arung! akan kubunuh kau". Petta terlihat marah besar.
"Apa yang sebenarnya kau cari?". Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu". Arung tersenyum kecil.
"Baiklah". Lengan Sabrang mulai diselimuti kobaran api hitam. Perlahan namun pasti dia mulai melubangi es dan mengambil sebuah gulungan di saku baju Petta.
"Akan kubunuh kau!". Petta menatap tajam Arung dan Sabrang bergantian.
"Sebaiknya kita cari tempat bicara, apakah dia akan baik baik saja?". Arung bertanya pelan.
"Dia akan baik baik saja, dalam beberapa jam Es itu akan mencari".
"Syukurlah, ayo ikuti aku". Arung melesat kedalam hutan diikuti Sabrang dan Mentari dibelakangnya.
Semetara Petta hanya menatap tajam tubuh mereka dari kejauhan.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=
《Api di Bumi Majapahit sudah bisa dibaca saat ini》