Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Daratan Swarnadwipa II


__ADS_3

Sedikit berbeda dengan daratan lainnya, Daratan Swarnadwipa tidak terdapat aliran hitam maupun putih. Mereka cenderung membaur walaupun tetap memiliki ambisi masing masing.


Ada tiga Sekte besar yang paling ditakuti di tanah Swarnadwipa karena kemampuan ilmu kanuragannya yang tinggi. Sekte Tengkorak merah adalah sekte yang saat ini merupakan yang terkuat dan paling kejam diantara yang lainnya. Dengan ilmu pedang bulan darahnya mereka merajai daratan Swarnadwipa.


Berada diurutan kedua adalah sekte Gunung batu yang merupakan sekutu utama Tengkorak merah. Walau masih dibawah tengkorak merah namun ilmu pedang ilusi milik mereka cukup ditakuti bahkan oleh tengkorak merah sekalipun.


Kelompok terakhir yang masuk dalam tiga sekte besar Swarnadwipa adalah suku hutan dalam. Walau tergolong sekte yang paling lemah diantara dua lainnya namun suku ini dipimpin oleh pendekar wanita terkuat daratan Swarnadwipa.


Suku hutan dalam terkenal karena mendiami lereng gunung kerinci yang merupakan gunung paling menakutkan di Swarnadwipa bahkan Tengkorak merah akan berfikir ratusan kali untuk masuk kelereng gunung kerinci.


Namun sejak kabar yang menyebar mengenai keberadaan gua emas didasar danau embun dipuncak Indrapura yang konon menyimpan kitab ilmu kanuragan tanpa tanding, Suku hutan dalam kini menjadi incaran seluruh sekte di Swarnadwipa.


Lenny Darow jelas menyadari itu, dia terlihat duduk dipinggir danau indah yang sangat jernih. Saking jernihnya air danau itu, dasar danau yang sangat dalam itu masih dapat dilihat dari atas.


Terlihat susunan batu didasar danau yang merupakan pintu masuk ruang misterius. Lenny bukan tidak berusaha membuka pintu itu saat kabar keberadaan gua emas belum tersebar namun bertahun tahun dia mencoba membuka gerbang itu tetapi selalu gagal.


"Siapa sebenarnya yang membuat gua emas itu dan untuk apa?". Gumamnya dalam hati sambil membaca gulungan yang ada ditangannya. Hanya gulungan itu yang menjadi petunjuknya mengenai gua emas namun dia tidak bisa membaca aksara palawa.


Gulungan kuno itu dia temukan dipinggir danau saat mereka menggali tanah disekitar danau.


"Air danau ini bahkan tidak pernah keruh walau hujan deras mengguyur". Dia menggeleng pelan.


Lamunannya buyar saat mendengar langkah kaki seseorang, dia menoleh kearah suara itu dan tersenyum ramah.


"Ketua". Ucap Parbo pelan.


"Katakanlah". Jawab Lenny seolah tau apa yang akan disampaikan Parbo padanya.


"Beberapa jebakan yang kita pasang sudah rusak karena para pendekar dari tengkorak merah dan hutan batu mulai berani masuk lereng kerinci. Apa tidak sebaiknya kita mencari tempat baru untuk sementara waktu?".


Lenny menarik nafasnya panjang sambil berfikir sejenak.


"Parbo, bawalah semua suku hutan dalam sejauh mungkin dari tempat ini. Aku harus tetap berada disini untuk menjaga danau yang ditemukan ayahku". Ucapnya pelan.


Lenny memang bukan suku asli hutan dalam, dia datang bersama ayahnya setelah menemukan petunjuk mengenai keberadaan gua emas. Ayahnya meninggal saat menyelam didanau embun, sejak saat itu para suku hutan dalam mengangkatnya sebagai ketua karena ilmu kanuragan yang cukup tinggi.


Parbo terdiam setelah mendengar ucapan Lenny, dia tidak mungkin meninggalkan ketuanya dan menyelamatkan diri sendirian.


"Jika anda ingin menjaga tempat ini sampai titik darah penghabisan maka kami akan mengikuti anda".


Lenny menggeleng pelan "Tidak Parbo, lawan yang akan kita hadapi adalah dua sekte terkuat ditanah ini. Kalian akan mati konyol jika mengikutiku, tak ada alasan bagi kalian mempertahankan danau ini".


"Berjuang bersama ketua kami yang telah menjaga dan mengajari kami saat orang lain menyingkirkan kami sudah menjadi alasan yang cukup bagi kami untuk berjuang dan mati bersama anda."


"Kalian benar benar bodoh". Ucap Lenny sambil meneteskan kepalanya.

__ADS_1


"Apa rencana anda selanjutnya?".


"Buat jebakan jebakan disekitar pemukiman hutan jauh, aku ingin semua sudut dipasang jebakan. Jika keadaan tidak menguntungkan pimpin yang lain untuk lari kedanau ini, jalur yang cukup sulit akan sedikit mengulur waktu bagi kita untuk nempersiapkan pertempuran terakhir di danau ini".


"Baik ketua". Ucap Parbo, dia melangkah pergi untuk mempersiapkan semua jebakan.


"Ayah, apa yang akan kau lakukan jika berada diposisiku? Ayah pernah mengatakan apa yang ada didalam gua emas itu pasti sangat menakutkan, itulah sebabnya aku ingin menjaga tempat ini walau harus mati". Lenny bangkit dari duduknya dan melangkah pergi menyusul Parbo.


***


Seseorang terlihat memasuki sebuah bangunan yang cukup besar ditengah hutan, Sebuah papan nama sederhana bertuliskan Gunung batu terpampang besar di gerbang masuk.


Puluhan pendekar terlihat berlatih ilmu kanuragan dihalaman sekte.


Azed, salah satu pendekar muda berbakat sekte Gunung batu melangkah masuk keruang ketua sekte.


"Hormat pada tetua semua". Ucap Azed sopan.


"Apa kau berhasil menangkap mereka?". Tanya Nalm, ketua dari sekte Gunung Batu.


Azed menggeleng pelan "Maaf ketua, mereka berhasil melarikan diri. Selain ilmu kanuragan mereka cukup tinggi, jebakan jebakan disekitar lereng Kerinci sangat menyulitkanku".


Raut wajah Nalm sedikit kecewa namun dia dapat memaklumi kegagalan anak buahnya karena semenjak Lenny menjadi ketua hutan dalam mereka berkembang cukup pesat dalam ilmu kanuragan.


"Bagaimana menurut kalian?". Tanya Nalm pada para tetua sekte lainnya.


Tetua yang lain tampak mengangguk setuju karena bagaimanapun Suku Hutan Dalam tidak bisa diajak bekerja sama.


Nalm tampak berfikir sejenak sebelum menulis pesan diatas gulungan dan menyerahkan pada Azed.


"Pergilah ke sekte Tengkorak merah dan sampaikan pesanku pada mereka. Katakan pada ketua bahwa penyerangan ke gunung kerinci tidak bisa ditunda lagi".


"Baik ketua, aku mohon diri". Ucap Azed sambil menundukan kepalanya.


"Apa yang sebenarnya ada didalam gua emas itu?" gumam Nalm pelan.


"Mungkinkah peradaban kumari kandam?". Tanya Isman tiba tiba.


"Kumari kandam? bukankah peradaban itu berada didaratan Jawata, tidak mungkin ada peninggalan mereka disini".


"Kau yang bodoh, jika kami berhasil menemukan tempat itu kau adalah orang pertama yang akan kubunuh". Isman bergumam dalam hati.


***


Sebuah kapal tampak bersandar disebuah gua kecil yang berada dipinggir daratan Swarnadwipa. Dua orang terlihat berdiri diatas dek kapal sambil mengagumi daratan yang begitu hijau dan luas.

__ADS_1


"Kau lihat Ciha, bukan daratan ini yang aku kagumi namun gambar yang kita temukan di Wentira. Siapapun yang membuat gulungan itu, dia menggambar dengan sangat detail hingga sama persis dengan aslinya.


Tima tiba Wardhana menyadari sesuatu saat melihat daratan yang begitu luas dan hijau itu. Dia buru buru mengambil gulungan dalam pakaiannya dan membukanya.


"Daratan asli". Gumamnya dalam hati sambil mencocokan gambar digulungan dengan pemandangan yang dilihatnya.


"Apa ada yang salah tuan?" Ciha mengernyitkan dahinya.


"Hanya gambar disisi ini yang lebih detail dan nyata, sepertinya hanya dibagian ini dia menggambar dengan sangat nyata. Aku yakin dia menggambar bagian kecil ini dari tempat kita berdiri. Apa yang sebenarnya ingin dia tunjukan dalam peta ini?".


Ciha segera melihat gambar itu dan memandang daratan yang begitu luas dihadapannya.


"Sepertinya pesan tersembunyi yang ingin dia sampaikan ada disini". Ciha menunjuk sebuah gunung.


"Rumah para dewa?". Tanya Wardhana pelan.


Ciha menggeleng pelan "Sepertinya bukan, rumah para dewa dibangun dimasa kehancuran Kumari kandam sedangkan peta ini dibuat jauh sebelum telaga khayangan api dibuat. Sepertinya sesuatu yang lebih besar dari sekedar Telaga khayangan api".


"Paman, ayo kita turun" teriak Sabrang dari kejauhan. Dia terlihat berjalan disebelah Emmy.


Wardhana menundukan kepalanya sambil tersenyum sebelum berjalan cepat kearah Sabrang. "Sepertinya gadis itu sudah benar benar jatuh dalam pelukan anda Yang mulia".


Wardhana kembali mengingat pertemuannya dengan Sabrang sesaat setelah Sabrang menghancurkan sekte serigala hitam. Saat itu Sabrang begitu muda hingga Wardhana hampir tak percaya jika Sabrang telah menghancurkan sekte menengah itu.


***


Mentari terlihat menghentikan langkahnya tiba tiba yang membuat Tungga dewi dan Suliwa bingung.


"Apa yang kau lakukan? kita harus cepat sampai disekte Angin biru sebelum malam. Gerakan aneh sekte Iblis hitam sepertinya berhubungan dengan Pendekar langit merah". Ucap Tungga dewi sedikit kesal pada saingannya itu. Dari tadi malam entah kenapa perasaan Tungga dewi sedikit tidak enak.


"Kalian adalah pemimpin misi kali ini, bisakah kesampingkan dulu ego kalian?". Suliwa yang terjebak diantara persaingan dua wanita itu sedikit salah tingkah.


"Ah maaf, aku hanya merasa perasaanku tidak enak". Ucap Mentari pelan, dia tidak ingin bertengkar dengan Tungga Dewi saat perasaannya tidak baik.


Tanpa mereka berdua sadari, perasaan tidak enak yang menyelimuti mereka berdua adalah insting seorang wanita ketika sudah mendapatkan saingan yang jauh lebih berat dari seorang pendekar Wanita asal Celebes.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sedikit Infromasi


Danau Kaca adalah sebuah danau yang berada di provinsi Jambi tepatnya didesa Lempur kec. Gunung raya. Danau ini berada di kawasan Nasional Kerinci Seblat.


Keunikan danau ini adalah airnya yang sangat jernih bahkan bisa terlihat dasar danau yang sangat dalam.


Keunikan lainnya yang khas yang jarang dimiliki oleh danau-danau lain yang ada di Indonesa adalah Danau Kaco dapat mengeluarkan cahaya yang terang, terutama pada saat bulan purnama.

__ADS_1


Banyak mitos dan cerita cerita yang menyelimuti danau ini.


PNA terinspirasi dan membuat danau embun sebagai salah satu misterinya.


__ADS_2