Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kekuatan Minak Jinggo


__ADS_3

Hujan disertai angin besar yang terus mengguyur gunung Pusaran Angin sejak pagi hari tak menyurutkan langkah Ken Panca untuk menembus gelapnya hutan menuju markas Pendekar Lembayung yang terletak di dasar jurang.


Gerakannya begitu cepat seolah tak terganggu dengan suasana hutan yang sangat mencekam. Ken Panca tiba tiba menghentikan langkahnya saat seorang pendekar muncul dan menyambutnya.


"Hormat pada ketua," ucap pendekar itu sopan sambil menundukkan kepalanya.


"Apa Seto dan semua ketua lima kelompok besar sudah berkumpul?" tanya Ken Panca pelan.


"Hanya orang itu yang belum datang ketua," jawab pendekar itu cepat.


"Mungkin dia sedang dalam perjalanan... Antar aku ke ruang pertemuan, sudah saatnya kita menjalankan rencana untuk membangkitkan kembali peradaban Lemuria yang agung," balas Ken Panca.


"Ba..baik ketua," jawab pendekar itu lirih, dia seolah sadar jika tak lama lagi pertumpahan darah akan terjadi di bumi Nuswantoro.


Bangunan bangunan tinggi menjulang langsung menyambut Ken Panca saat mereka keluar dari dalam hutan. Melihat kedatangannya belasan pendekar yang sedang berjaga langsung memberi hormat.


Ken Panca hanya mengangguk pelan sebelum melangkah kesebuah bangunan besar yang terletak tak jauh darinya.


Terlihat enam orang pria tinggi besar berdiri di depan pintu ruangan dan bersiap menyambutnya.


"Selamat datang ketua, mohon terima hormat kami," ucap mereka bersamaan sambil menundukkan kepalanya.


"Apa persiapan kalian sudah selesai?" tanya Ken Panca pelan sambil melangkah masuk.


"Aku sudah membagi tiga kelompok untuk menyerang mereka bersamaan di tiga titik dan sesuai perintah anda, Restapi bersama beberapa pendekar Lembayung sudah berada di sekitar keraton untuk membuka serangan. Semua tinggal menunggu perintah anda," jawab Seto cepat.


"Lalu bagaimana dengan orang orang disekitar dia? selain Wardhana yang memang terkurung di tempat ini, kalian harus memastikan sekali lagi jika lima kekuatan batu Satam terpisah. Aku tidak ingin ada kesalahan sedikitpun yang bisa menghancurkan rencana kita," tanya Ken Panca kembali.


"Seperti yang anda rencanakan, orang itu berhasil memecah lima kekuatan batu satam. Kemamang saat ini berada jauh di Swarna Dwipa sedangkan Iblis api tidak akan bisa berbuat banyak tanpa tuannya yang sedang terluka parah, hanya Siren dan Suanggi milik Rubah Putih yang masih menjadi masalah," jawab Seto pelan.


"Bagaimana dengan Megantara? walau saat ini kekuatannya sedang tersegel tapi kalian tidak boleh melupakan pusaka itu, aku tidak ingin kejadian ribuan tahun lalu di puncak Suroloyo terulang kembali. Pastikan lima kekuatan itu tidak bersatu melawanku karena itulah alasanku belum menyerang mereka sejak dulu," balas Ken Panca tegas.


"Anda tak perlu khawatir ketua, aku sudah mengetahui dimana pusaka Megantara di segel dan saat ini empat pendekar pengguna segel terbaik Lembayung sedang bergerak ke tempat itu untuk mengunci pusaka itu ditempatnya selama kita menyerang," sahut salah satu ketua dari lima kelompok besar Latimojong.


"Begitu ya... jadi kita tinggal menunggu kabar dari orang itu," Ken Panca Panca menarik nafasnya cukup panjang sebelum mengambil sebuah gulungan di atas meja.


Wajahnya tiba tiba berubah saat terbayang kembali pertarungannya dengan Purwati yang mampu mengendalikan lima kekuatan besar Batu Satam di puncak Suroloyo ribuan tahun lalu.


"Maaf tuan... bagaimana dengan Jaya Setra dan kelompok Lembayung hitam yang masih setia pada Purwati? bukankah mereka juga sudah mulai bergerak jika sampai mereka bergabung dengan Iblis api itu dan melawan kita maka..."


"Kau tak perlu khawatir, aku sudah mengatur semuanya... tugas kalian hanya menyerang bersamaan tepat setelah matahari terbit dan pastikan semuanya hancur!" potong Ken Panca sambil menunjuk dua lingkaran di gulungan yang dia gambar.


"Tempat itu...bukankah besok di tempat itu akan ada pertemuan para tetua sekte aliansi Malwageni?" tanya Seto cepat.


"Kau benar... Rubah Putih dan para tetua sekte besar akan berkumpul di keraton tapi bukankah itu celah yang ingin kita ambil?" seorang pria tampak memasuki ruangan dengan sedikit tergesa gesa sebelum menundukkan kepalanya kearah Ken Panca.


"Kau terlambat!" ucap Ken Panca dingin.


"Maaf ketua, banyak hal yang harus aku pastikan di keraton sebelum kita menyerang dan cukup sulit menyelinap keluar diam diam dari tempat itu," jawab Lembu Sora pelan.


"Lalu bagaimana persiapannya?" tanya Ken Panca cepat.

__ADS_1


"Mohon jangan khawatir karena aku sudah mengatur semuanya termasuk membuka jalan masuk bagi Respati untuk membuat kekacauan di keraton dan menculik dua pangeran mahkota," jawab Lembu Sora cepat.


"Lalu bagaimana penjagaan di tempat pertemuan?"


"Aku memusatkan pasukan Angin selatan di gerbang utama untuk melonggarkan penjagaan di dalam keraton. Kecuali Rubah Putih, aku yakin kita mampu menaklukkan mereka dengan rencana ini."


"Rubah Putih akan ada yang mengurusnya... tugasmu hanya mencari lempengan batu kecil berbentuk bintang dan berwarna merah yang ditemukan Wardhana di sisi gelap alam semesta. Aku yakin itu adalah kunci untuk membuka harta terbesar Latimojong," jawab Ken Panca cepat.


"Wardhana mempunyai kunci ruang pemujaan? bagaimana mungkin ketua..." tanya Seto terkejut.


"Aku melihat dia menemukan lempengan itu saat memeriksa batu pemujaan di sisi gelap alam semesta. Temukan batu itu karena tanpa kunci merah itu kita tidak akan bisa membangkitkan peradaban suci Lemuria."


"Baik tuan, setelah keraton berhasil kita kuasai aku akan memerintahkan orang untuk mencari batu itu di setiap sudut keraton," jawab Lembu Sora cepat.


Ken Panca mengangguk pelan sebelum fokus kembali ke gulungannya.


"Seto, kau akan memimpin pasukan untuk menyerang keraton setelah Sora dan Respati memberi tanda, hindari pertarungan dengan Rubah Putih sebelum Mandala datang karena dia bukan lawan kalian. Aku akan pergi ke hutan kematian untuk mengambil tubuh anak itu. Setelah kalian menemukan kunci merah itu, kita akan bertemu di sisi gelap alam semesta dan membuka ruangan pemujaan," ucap Ken Panca cepat.


"Mandala? ketua...bukankah terlalu berbahaya mengeluarkannya dari ruang dimensi, dengan mustika merah delima di tubuhnya akan sangat merepotkan jika dia berbalik melawan kita?" tanya Seto terkejut.


"Apa kau pikir aku tidak membuat persiapan saat menyelamatkannya? aku membuat rencana ini cukup lama, dia akan menuruti semua perintahku,, percayalah," balas Ken Panca sambil tersenyum kecil.


"Sekarang pergilah dan bawa semua pendekar Lembayung ke perbatasan keraton. Saat pagi tiba, bergeraklah dan tunjukkan pada dunia persilatan jika peradaban agung Lemuria masih ada. Aku harus melakukan beberapa persiapan untuk memindahkan ruhku pada tubuh anak itu," Ken Panca bangkit dari duduknya sebelum melangkah pergi.


"Hidup tuan tuan Li Yau Fei," ucap mereka bersamaan sambil menundukkan kepalanya.


"Li Yau Fei...sudah lama aku tidak mendengar nama itu," ucapnya pelan sebelum tubuhnya menghilang.


***


Dia sesekali menatap langit ruangan seolah sedang menunggu sesuatu sebelum memegang perutnya yang mulai sakit. Wardhana memang menyimpan semua makanan yang diberikan padanya seolah sedang mempersiapkan sesuatu.


Saat terdengar pintu utama dibuka, dia langsung merebahkan tubuhnya dan berpura pura sedang tertidur.


Seorang pemuda terlihat membawa makanan dan meletakkannya di ruangan Wardhana.


"Makanlah, kau akan membutuhkannya," ucap pemuda itu sambil melangkah pergi.


Wardhana membuka kembali matanya dan berjalan mendekati makanan itu, dia kembali memasukkan makanannya kedalam bungkusan kain yang disembunyikan di balik pakaiannya.


Namun wajah Wardhana berubah seketika saat melihat gulungan yang sangat kecil terselip diantara dedaunan yang membungkus makanannya.


Wardhana langsung menyambar gulungan itu dan membacanya.


"Semua sesuai dengan rencana yang anda buat, mohon bersabar karena besok akan ada yang menyelamatkan anda. Api abadi tak akan pernah padam karena umpan telah dipasang dan besok semua akan bergerak untuk membuka topeng masing masing."


"Kalian lama sekali, aku hampir putus asa terkurung di tempat ini," umpat Wardhana dalam hati sebelum mengeluarkan seluruh makanan yang disimpannya dan memakannya dengan lahap.


"Kau kembali di saat yang tepat kakang Wijaya, aku benar benar berhutang banyak padamu," mulut Wardhana terlihat penuh dengan makanan, dia tidak perduli walau makanan yang disimpannya mulai mengeluarkan bau busuk.


Setelah menghabiskan semua makanannya, dia meminum habis air yang sebenarnya tidak layak untuk diminum.

__ADS_1


"Saatnya menyerang balik," ucapnya bersemangat.


***


Sesosok tubuh terlihat mengendap endap dan masuk kesebuah ruangan yang ada di dalam gua Surupan. Mulutnya menyeringai saat melihat Sumbi sedang tertidur lelap di atas sebuah batu besar.


Dia berjalan mendekati wanita itu sambil mencabut sebuah pisau kecil yang ada di pinggangnya.


"Tidurlah selamanya, tenang saja... akan banyak nyawa yang menemanimu besok," bisik pendekar itu sebelum menancapkan pisaunya di rubuh Sumbi.


Sumbi langsung terbangun saat merasakan sakit yang luar biasa di perutnya, dia berusaha mencengkram leher pendekar itu namun racun sudah menjalar di seluruh tubuhnya.


"Kau!"


Pendekar itu tersenyum dari balik topengnya sambil menyarungkan kembali pisaunya namun saat dia akan pergi sesosok tubuh sudah berdiri didepan pintu dengan wajah dingin.


"Bagaimana jika kita bertarung lagi? tapi pertarungan sesungguhnya sampai salah satu dari kita mati?" ucap Minak Jinggo pelan.


Pendekar itu tampak terkejut saat melihat Minak Jinggo, dia tidak menyangka orang yang tadi diracuni nya masih bisa berdiri dihadapannya.


"Apa kau pikir aku akan mati setelah meminum racun itu? kuberi tahu satu hal padamu, aku tidak akan mati sebelum melampaui Yang mulia, Wicaksana," ucap Minak Jinggo kembali.


"Jadi kau sudah tau siapa aku? Kau ternyata lebih pintar dari yang lain tapi itu tidak akan merubah apapun karena satu satunya orang yang bisa menyelamatkan rajamu sudah mati di tanganku," Wicaksana membuka topengnya sambil tertawa mengejek.


"Sepertinya murid sekte Angin biru jauh lebih bodoh dari yang kupikirkan, apa menurutmu nenek tua itu akan mati dengan mudah?"


Wajah Wicaksana berubah seketika saat mendengar ucapan Minak Jinggo, dia langsung menoleh kearah tubuh Sumbi yang sudah berubah menjadi asap putih.


"Namanya segel tanah, walau aku tidak ingin mengakuinya tapi ilmu aneh Nara benar benar membuatku kagum," ucap Minak Jinggo sambil mencabut pedangnya.


"Segel aneh? apa kau tidak pernah bisa menghargai ilmu milik orang lain?" umpat Winara yang muncul bersama Gendis, Tantri, Elang dan Sumbi.


"Kalian semua...?" Wicaksana semakin bingung setelah melihat semua rekannya, dia yakin sudah memasukkan racun kedalam makan siang mereka.


"Kalian semua menjebak aku..." ucap Wicaksana kesal.


"Bukan kami tapi sang naga tidur dari Malwageni," balas Tantri cepat.


"Naga tidur? bukankah dia..." Wicaksana semakin bingung karena seingatnya Wardhana saat ini sedang ditahan di Gunung Pusaran Angin.


"Cukup..cukup... siapapun orangnya aku tidak perduli, apa aku boleh membunuhnya?" tanya Minak Jinggo tiba tiba.


"Lakukan sesukamu," jawab Tantri pelan.


"Baik.." tepat setelah Minak Jinggo bicara, tubuhnya menghilang dan muncul dihadapan Wicaksana.


"Ayo teman, saatnya menentukan siapa yang terkuat," Minak Jinggo mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Fitur baru di Mangatoon setelah di update bisa membuat kalian memberi tips berupa bunga, Kopi, piala dan lain lain dan itu masuk kedalam pendapatan Author.. jika berkenan silahkan berikan tips kalian....

__ADS_1


Sampai jumpa besok lagi....


__ADS_2