Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kelompok Teratai Merah


__ADS_3

Ki Ageng terlihat merenung di dalam kamarnya, dia masih terbayang perkataan Sudarta, tetua sekte Rajawali Emas tentang kemungkinan keberadaan Suliwa.


Ingatannya kembali saat terakhir kali dia bertemu dengan gurunya, sesaat sebelum menghilang gurunya pernah berpesan padanya.


“Ageng, selalu ada harga untuk ilmu hebat apapun di dunia ini. Ingatlah pesanku jangan ajarkan siapapun ilmu Api Abadi sampai tingkat tinggi atau akan ada Suliwa lainnya,” ucap Suliwa lirih.


“Bahkan pedang ini tidak pernah mengakuiku sebagai tuannya hingga detik ini. Aku menjual jiwaku pada pedang ini sebagai harga atas kekuatan pedang ini yang bahkan hanya separuh dari kekuatannya, sungguh bodoh jalan yang telah ku pilih,” Suliwa menunjuk pedang yang dibungkus oleh kain putih di genggamannya.


“Mundurlah dari dunia persilatan untuk sementara waktu, aku akan menghilang bersama pedang ini sampai ada orang yang benar benar bisa mengendalikan Pedang Naga Api," setelah berkata demikian Suliwa menghilang dikegelapan malam.


“Kelompok Teratai Merah ya? apa aku harus memastikannya?” gumam ki Ageng pelan.


Dia terlihat memejamkan matanya sesaat, “Guru apa yang harus aku lakukan? dunia persilatan semakin kacau, apakah sekte Pedang Naga Api harus terus berdiam diri?”


“Kakek, aku akan pergi ke hutan untuk beberapa hari,” suara Sabrang mengagetkan ki Ageng dari lamunannya.


Dia kemudian membuka pintu dan melihat Sabrang sudah berdiri dihadapannya.


“Pergi kehutan?” tanya ki Ageng heran.

__ADS_1


“Aku akan berburu di hutan, aku harus makan daging yang banyak agar staminaku kuat. Belajar tenaga dalam sangat menguras staminaku kek," jawab Sabrang.


Ki ageng menatap Sabrang yang sudah siap dengan panah di tangannya. “Kau bahkan belum beristirahat nak, belajar ilmu tenaga dalam memang penting tapi kau juga harus mengistirahatkan tubuhmu sendiri."


Sabrang bersingut mendapatkan jawaban dari kakeknya, tetapi tekadnya sudah bulat, dia terus merengek pada ki Ageng. Kejadian penyerangan di sekte Rajawali Emas menyadarkannya bahwa ilmunya masih jauh dari harapan.


Dia benar benar ingin kuat agar dapat melindungi kakeknya dan semua anggota sekte Pedang Naga Api.


“Aku akan beristirahat di hutan kek sambil berburu, dalam dua hari aku akan pulang,” rengek Sabrang.


Ki Ageng menggeleng pelan, dia tidak dapat berbuat banyak, dia sangat paham sifat Sabrang yang keras kepala. Jika dia melarangnya maka Sabrang akan pergi diam diam seperti beberapa tahun lalu.


“Baik kek, Sabrang akan ingat pesan kakek,” dia memeluk kakeknya.


***


Di sebuah ruangan yang sedikit gelap terlihat seorang wanita berambut putih sedang duduk sambil memejamkan matanya. Wajahnya terlihat cantik dan umurnya sekitar empat puluh tahun.


Saat suara langkah kaki terdengar mendekati ruangannya dia membuka matanya.

__ADS_1


“Guru, aku izin menghadap,” seorang wanita muda berumur sekitar tujuh belas tahun berdiri tepat di depan pintu.


“Apakah sudah ada kabar dari kakak seperguruanmu?” suara lembut terdengar dari dalam ruangan.


“Maaf guru, kami belum mendapat petunjuk apapun tentang keberadaan kakak, tapi menurut kabar, dia terlihat di serang oleh beberapa pendekar Iblis Hitam sebelum menghilang,” wanita muda tersebut berbicara dengan nada khawatir.


Namanya adalah Tantri salah satu murid paling berbakat Kelompok teratai merah.


“Tua Bangka itu masih belum menyerah mengincar Kitab Dewi Obat milik Teratai Merah, suatu saat aku harus memberinya pelajaran. Kirim beberapa orang untuk mencari informasi keberadaan kakak mu," perintah Wanita itu.


Tantri mengangguk pelan, “Baik Guru."


“Jika tidak ada lagi yang ingin kau sampaikan, kau boleh pergi."


Tantri masih berdiri didepan pintu ruangan gurunya, dia agak ragu ingin menyampaikan sesuatu tetapi karena menurutnya sangat penting, dia pun memberanikan diri mengatakannya.


“Guru, sebenarnya ada kabar satu lagi yang ingin aku sampaikan. Beberapa hari ini dunia persilatan sedang hangat membicarakan kemunculan kembali sekte Pedang Naga Api, tapi aku belum berani menjamin kebenarannya," ucap Tantri pelan.


Wanita berambut putih tersebut sedikit terkejut mendengar kabar yang disampaikan muridnya sebelum tersenyum kecil.

__ADS_1


“Jika kabar itu benar maka semua akan semakin menarik, si tua itu pun pasti akan kaget mendengar berita ini," balas wanita itu.


__ADS_2