
Sabrang terlihat mempercepat langkahnya ketika hujan mulai turun, dia sedikit berlari menuju sebuah penginapan di sebuah desa yang berada diperbatasan kadipaten Karang sambung.
Sabrang yang mengenakan jubah lusuh tampak disambut seorang pelayan penginapan.
"Kenapa hujan datang disaat seperti ini," ucapnya pelan.
"Selamat datang tuan, apa anda akan menginap atau sekedar singgah untuk makan?" sapa pelayan itu.
Sabrang terlihat berfikir sejenak, perjalanan menuju hutan dekat kadipaten Karang sambung masih membutuhkan waktu setengah hari perjalanan.
"Sepertinya aku hanya makan sambil menunggu hujan reda nona," balas Sabrang ramah sambil berjalan kesebuah meja kosong.
Sabrang memang tidak menggunakan jurus ruang dan waktunya dan lebih memilih berjalan kaki menuju kadipaten Karang sambung, selain untuk menghemat tenaganya, dia ingim melihat situasi didekat kota Majasari.
"Maaf tuan, hari sudah mulai malam, sebaiknya anda beristirahat sambil menunggu pagi. Jika anda tak memiliki cukup uang, anda bisa duduk disini sampai pagi. Akan berbahaya jika anda melanjutkan perjalanan karena Majasari memberlakukan larangan keluar malam," ucap gadis pelayan itu.
"Larangan keluar malam?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
Gadis itu mendekati Sabrang dan membisikkan sesuatu.
"Kabar yang kudengar mereka kedatangan utusan dari kekaisaran daratan sungai kuning, mereka memperketat penjagaan disekitar keraton dengan memberlakukan larangan keluar malam," ucap gadis itu sambil melangkah pergi untuk mengambilkan makanan pesanan Sabrang.
"Kekaisaran dari sungai kuning?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
Tak lama gadis pelayan itu kembali dengan beberapa piring makanan.
"Silahkan tuan," suara gadis itu membuyarkan lamunan Sabrang.
"Ah, terima kasih nona," jawab Sabrang pelan.
"Sepertinya hujan ini akan lama," ucap Sabrang sambil menyantap makanannya, sementara hujan diluar semakin deras.
Saat Sabrang sedang asik menyantap makanannya, dua orang terlihat masuk kedalam penginapan dan langsung memesan makanan.
Feng ying tampak mengibaskan jubahnya yang basah sebelum melangkah masuk menuju meja yang telah dipesan Gandi.
Dia mengernyitkan dahinya saat menatap punggung Sabrang, ada sesuatu yang menarik perhatiannya namun dia tidak tau apa itu.
"Tuan silahkan duduk, aku sudah memesan makanan untuk anda," ucap Gandi dalam bahasa asing.
Sabrang menghentikan makannya sesaat tanpa menoleh sedikitpun, dia merasa bahasa yang digunakan Gandi asing di telinganya.
"Bahasa asing? mungkinkan," gumam Sabrang dalam hati.
Feng ying tiba tiba duduk dimeja Sabrang sambil memanggil Gandi.
"Tolong terjemahkan, apakah aku boleh makan satu meja dengannya," ucap Feng ying pelan, dia benar benar penasaran mengapa perasaannya begitu tertarik dengan pemuda yang berpakaian lusuh itu.
"Maaf tuan, bolehkah kami duduk bersama anda?" ucap Gandi sopan.
Sabrang menoleh kearah Gandi dengan wajah bingung.
"Begitu banyak meja kosong di ruangan ini, mengapa kalian memilih meja kecil ini," jawab Sabrang.
"Apakah kau seorang pendekar?" tanya Feng ying yang langsung diterjemahkan oleh Gandi.
"Kalian salah sangka, aku hanyalah seorang pedagang yang kebetulan lewat. Bisakah aku melanjutkan makanku?" tanya Sabrang.
Gandi mengangguk pelan, dia memberi tanda pada Feng ying untuk pindah namun dia menolak.
"Aku yakin dia pendekar, ada sesuatu yang dirasakan instingku," ucap Feng ying sambil menatap Sabrang.
Sabrang tampak tak memperdulikan kehadiran Feng ying dan Gandi, dia terus menyantap makanannya.
Feng ying tersenyum kecil sesaat sebelum tangannya tiba tiba mencabut pedang dan mengayunkan pedang kearah Sabrang.
Sabrang tidak bereaksi sedikitpun walau pedang itu hampir memotong lehernya sebelum Feng ying menarik kembali pedangnya.
Wajah Feng ying terlihat bingung, dia mengerahkan hampir separuh tenaga dalamnya namun Sabrang tidak bereaksi sama sekali.
Seorang pendekar yang memiliki ilmu tinggi dan sudah banyak bertarung biasanya tubuhnya akan reflek bergerak jika sesuatu menyerang tiba tiba namun Sabrang sama sekali tak terlihat bergerak.
"Bagaimana dia tidak bergerak sama sekali? apakah dia memang tidak memiliki ilmu kanuragan sama sekali atau dia sangat percaya diri aku tak akan mampu melukainya?" gumam Feng ying dalam hati.
"Tuan, sepertinya dia memang tak memiliki ilmu kanuragan, sebaiknya kita duduk dimeja yang kupesan," ucap Gandi pelan.
Feng ying masih terlihat ragu, dia yakin dengan instingnya, ada sesuatu dalam tubuh Sabrang yang membuatnya bereaksi.
"Tuan?" ulang Gandi.
Feng ying mengangguk pelan, dia bangkit dan melangkah kemeja yang telah dipesan untuknya.
__ADS_1
"Maaf mengganggu makan anda tuan," Gandi menundukkan kepalanya.
"Apa dia menyembunyikan kemampuannya? aku yakin tadi menekannya dengan aura tenaga dalam, apa mungkin kemampuannya jauh di atasku?" Feng ying masih menatap Sabrang.
Sabrang menarik nafas panjang, dia menarik kembali jurus ruang dan waktunya.
"Aku harus berhati hati, tenaga dalamnya jauh lebih mengerikan dari yang kukira," gumam Sabrang dalam hati.
Sabrang memanggil pelayan untuk membayar makanannya.
"Anda yakin akan langung pergi tuan?" tanya gadis itu ragu.
"Aku sedang terburu buru nona, tak perlu khawatir, apa yang bisa dilakukan pedagang ini untuk membuat kekacauan?" balas Sabrang pelan.
Sabrang menundukkan kepalanya pada pelayan itu sebelum melangkah pergi.
"Aku yakin dia seorang pendekar," ucap Feng ying pelan sambil menatap kepergian Sabrang.
"Mungkin anda salah tuan, aku tadi melihat barang bawaannya, dia bahkan tidak membawa pedang," balas Gandi.
"Tidak mungkin insting ku salah, ada sesuatu dalam tubuhnya yang membuat aku waspada," Feng ying masih bersikeras jika dia tidak salah.
"Tuan mungkin dia adalah seorang pendekar namun bukankah tujuan anda saat ini mencari ramuan Amrita dan Soma?" ucap Gandi mengingatkan.
Feng ying mengangguk pelan, dia hampir lupa dengan misi yang diberikan kakak seperguruannya karena melihat Sabrang.
"Apa kau sudah mendapatkan informasi mengenai ramuan itu?"
Gandi menggeleng pelan, dia sudah berusaha mengerahkan semua teliksandi yang berada dibawahnya namun tidak berhasil.
"Tak ada yang tau apakah ramuan itu benar benar ada namun ada kabar yang mengatakan ramuan itu berada di Telaga khayangan api,"
"Telaga khayangan api?" Feng ying mengernyitkan dahinya, dia terlihat kesulitan mengucapkan Telaga khayangan api.
"Namun sepertinya anda terlambat, Pendekar pedang naga api kabarnya menyerang tempat itu, jika dia berhasil menemukan tempat itu dan ramuan keabadian benar benar ada, artinya dia sudah memiliki ramuan Amrita dan soma."
"Pendekar pedang Naga api?" wajah Feng ying berubah seketika, dia terlihat sangat bersemangat.
"Sebaiknya kita pergi tuan, hari sudah mulai malam dan hujan sepertinya sudah berhenti," ucap Gandi mengalihkan pembicaraan.
Dia tidak ingin terlibat masalah jika Feng ying benar benar mencari Sabrang.
***
Lingga yang berteduh disebuah gubuk kecil tampak berdiri menatap hujan semalaman.
Suasana pagi itu terasa mencekam karena tak ada cahaya matahari sama sekali. Suara petir yang memekakkan seolah memberi tanda jika sebentar lagi akan terjadi pertumpahan darah yang besar.
"Suasana seperti ini sangat mendukung penyergapan kali ini," gumamnya dalam hati.
"Kau terlalu kaku tuan, sebaiknya kau beristirahat terlebih dahulu," ucap Lasmini yang duduk dibelakangnya.
Lingga tersenyum sinis sambil menoleh, "Sepertinya ketua sekte Rajawali emas sudah bangun. Kau tidur terlalu nyenyak nona, jika aku adalah musuh mungkin kepalamu sudah terlepas dari tubuhmu," ejek Lingga.
"Tak ada yang benar benar bodoh ingin menghancurkan sekte Gusti ratu berasal, kau tau seberapa besar kekuatan Yang mulia," balas Lasmini.
Lingga hanya tertawa pelan, dia tidak membantah ucapan Lasmini.
Tak lama seseorang melesat diantara hujan deras dan mendekati mereka.
"Tuan, rombongan telah terlihat," ucap Arung melaporkan.
Lasmini langsung bangkit dan memakai topengnya setelah mendengar laporan Arung.
Lingga mengangguk sambil memakai topengnya.
"Bunuh semua tanpa sisa dan bawa bahan makanan ketempat yang telah ditentukan, aku tak ingin ada yang hidup satu orangpun," ucap Lingga pelan sebelum melesat pergi. Arung dan Lasmini tampak mengikuti dibelakangnya.
***
"Cepat kita sudah terlambat," teriak Jaya, salah satu prajurit elit tangan besi milik Majasari.
Beberapa orang tampak berusaha mempercepat langkahnya setelah mendengar teriakan Jaya.
Tiga buah gerobak yang cukup besar terlihat didorong oleh beberapa prajurit, tanah yang licin akibat guyuran hujan yang masih berlangsung menyulitkan mereka.
"Sial, hujan kali ini benar benar besar, harusnya kami sudah sampai di keraton," gumam Jaya kesal.
Jaya menghentikan langkahnya saat melihat seorang pendekar memakai topeng berdiri menghadang jalannya.
"Berhenti," ucap Jaya pelan.
__ADS_1
"Jika kau berniat merampok kami maka lupakan, Majasari tak akan membiarkan kalian hidup," ancam Jaya sambil mencabut pedangnya.
"Apa kau pikir aku takut pada Majasari?" Lingga berjalan santai mendekati rombongan, lengan kanannya sudah memegang gagang pedang.
"Kuperingatkan kau untuk mundur, aku tak akan bicara dua kali," ucap Jaya sambil memberi tanda prajurit lainnya untuk bersiap.
"Tak ada yang bisa mengancamku bodoh," Lingga melesat cepat sambil mencabut pedang dari sarungnya.
"Sial, bentuk formasi tangan besi," teriak Jaya sambil bergerak menyambut serangan namun belum sempat dia mencabut pedangnya, Ujung pedang Lingga telah melubangi tubuhnya.
"Bagaimana bisa?" Jaya hanya dapat melihat Lingga bergerak memutar tubuhnya dan merendahkan lengan kanannya sebelum melepaskan jurus pedang tunggal terbang kelangit.
Kecepatan Lingga benar benar tak mampu diikuti Jaya, pandangannya menjadi kabur sesaat sebelum tubuhnya terpental di udara.
Prajurit lainnya yang mencoba membantu tak mampu berbuat banyak saat Arung dan Lasmini menyerang bersamaan. Serangan dua pendekar muda mampu melumpuhkan sembilan prajurit tangan besi lainnya.
"Masih ada dua rombongan lainnya yang kemungkinan melewati jalur ini, kita bereskan mayat mereka secepatnya sebelum rombongan lainnya muncul," ucap Lingga sambil menggotong tubuh Jaya yang sudah tidak bernyawa.
"Aku tidak pernah menyangka orang yang membunuh Yang mulia Arya dwipa akan mengabdi pada Malwageni," bisik Lasmini pada Arung.
"Bukankah kita semua seperti itu? ada sesuatu dalam tubuh Yang mulia yang membuat kita ingin membantunya," jawab Arung pelan.
Lasmini mengangguk pelan namun tetap tak habis pikir bagaimana musuh utama mereka dulu bisa memutuskan membantu Sabrang.
"Sepertinya Yang mulia akan menjadi raja terbesar sepanjang sejarah Malwageni," gumam Lasmini dalam hati.
***
Satu hari sebelum rencana penyerangan, semua pasukan bergerak senyap dalam beberapa gelombang dan menempati pos yang telah disusun Wardhana.
Setelah mendapat kabar keberhasilan Lingga dalam menahan seluruh pasokan bahan makanan untuk Majasari, Wardhana mulai bergerak.
Dia dan pasukannya membuat perkemahan kecil ditengah hutan sambil menunggu kabar dari ibukota.
Puluhan bendera dan panji kebesaran Malwageni tampak berkibar disekitar perkemahan. Wardhana tampak gagah memakai jubah perang kebanggaannya dengan pedang terselip dipinggangnya.
Jubah perang yang sudah lama tidak dia sentuh sejak kekalahan Malwageni puluhan tahun lalu itu tampak sedikit kekecilan namun tak mengurangi aura pemakainya.
Wardhana tampak memegang jubah yang dibeberapa bagian sudah berlubang akibat sabetan pedang.
"Yang mulia, hari ini hamba memberanikan diri memakai jubah pemberian anda, mohon bantu hamba merebut kembali tanah leluhur Malwageni," gumam Wardhana pelan.
"Hamba mohon menghadap tuan patih," ucap Kertapati sambil memasuki tenda Wardhana.
"Apa sudah ada kabar?" tanya Wardhana pelan.
"Gusti ratu sudah berhasil masuk kedalam ibukota walau agak sedikit sulit karena penjagaan diperketat," ucap Kertapati.
"Penjagaan diperketat?" wajah Wardhana sedikit gelisah.
"Menurut kabar yang berhembus di ibukota mereka kedatangan utusan dari kekaisaran daratan sungai kuning. penjagaan diperbatasan menjadi sangat ketat namun gusti ratu akhirnya berhasil masuk."
"Kekaisaran Shang? ada perlu apa mereka dengan Majasari," balas Wardhana sambil mengernyitkan dahinya.
Kertapati tampak terkejut ketika Wardhana menyebut nama kekaisaran Shang, dia sering mendengar seberapa besar kekuatan militer mereka.
"Tuan," ucap Kertapati.
"Kapan gusti ratu akan bergerak?"
"Saat matahari muncul tuan, beliau bersama tuan Paksi akan membuat keributan didekat gerbang perbatasan," jawab kertapati.
"Baik, perintahkan pada seluruh pasukan untuk bergerak saat dini hari. Bawa semua panji kebesaran Malwageni, kita akan kibarkan di keraton sebagai tanda Majasari telah takluk."
"Hamba menerima perintah tuan," jawab Kertapati cepat.
"Maaf tuan patih, bukankah kekaisaran Shang adalah kerajaan terkuat saat ini, anda harus berhati hati agar tidak menciptakan musuh baru," Wulan sari yang duduk didekatnya bicara.
"Tak ada yang perlu ditakutkan tetua, inilah saat yang tepat merebut kembali Malwageni walau harus berhadapan dengan kekaisaran Shang. Kabarnya mereka terus berusaha memperluas daerah kekuasaannya dan aku yakin Majasari dimanfaatkan oleh mereka.
Aku akan mengirim pesan pada mereka jika tanah Jawata terutama Malwageni tak akan sudi takluk pada siapapun," ucap Wardhana yakin.
Wulan sari mengangguk pelan sambil menatap Wardhana yang terus melihat gulungan yang ada di mejanya.
Wulan sari cukup kagum melihat ketenangan yang diperlihatkan Wardhana dalam menghadapi perang besar kali ini, tak ada sedikitpun keraguan saat Wardhana mengambil keputusan keputusan penting dalam situasi genting seperti ini.
Ratusan bahkan ribuan pasukan Saung galah dan puluhan pendekar dunia persilatan bergerak atas perintah Wardhana, tanpa disadarinya kini dia menjadi aktor utama perang kali ini.
Bayangan kegagalan masa lalu yang membuat Malwageni runtuh sudah tak terlihat lagi diwajahnya, yang terlihat kini adalah pancaran mata yang yakin akan memperoleh kemenangan.
"Anda dan Yang mulia akan membuat nuswantoro tunduk dibawah kekuasaan Malwageni kelak," gumam Wulan sari kagum.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=
Vote Mbang