
"Arya Dwipa?" Rubah putih mengernyitkan dahinya saat melihat Wulan mengukir nama itu di sebuah batu.
"Apa kau tidak bisa permisi terlebih dahulu sebelum masuk tempat pribadiku?" ucap Wulan kesal saat Rubah putih tiba tiba muncul di ruang latihannya.
"Ah maaf, aku terlalu bersemangat" Rubah putih duduk diatas sebuah batu sambil terus menatap lengan Wulan yang sedang mengukir nama Arya Dwipa.
"Seingatku seorang dewi kematian tak mudah kagum pada seseorang, aku jadi tertarik bagaimana kau bisa kagum pada keturunan trah Dwipa mengingat hubunganmu dengan Naraya yang tak berjalan baik," tanya Rubah putih penasaran.
"Aku sudah melupakan masalahku dengan Naraya setelah aku memutuskan mengangkat Sabrang sebagai muridku. Apa pendapatmu mengenai anak itu?" Wulan menaruh pisau ukirnya dan menoleh kearah Rubah putih.
"Sabrang? dia sangat menarik, aku sudah mengatakannya sejak awal jika dia akan menjadi kunci melawan Masalembo," jawab Rubah putih.
"Apa kau pikir Sabrang "muncul" begitu saja?" tanya Wulan kembali.
"Apa maksudmu?" Rubah putih mengernyitkan dahinya.
"Garis keturunan Naraya tak mungkin tidak mengetahui mengenai darah terlarang yang merupakan hasil pernikahan yang dilarang Masalembo, Sabrang sebagai pengecualian karena Arya dwipa tewas saat dia masih bayi, aku yakin Arya dwipa belum sempat menceritakan semua pada anak itu.
Arya dwipa tak mungkin tidak mengetahui itu, mengapa dia mengambil resiko yang dapat membahayakan keluarganya?"
Wajah Rubah putih berubah seketika seolah mengetahui sesuatu.
"Maksudmu Arya Dwipa mengatur semuanya?"
Wulan mengangguk pelan, "Semangat perlawanan masih berkobar ditubuh keturunan Naraya namun yang sangat menarik jelas Arya dwipa. Aku memang bersembunyi ditempat ini namun sesekali aku masih mengamati trah Dwipa.
Arya Dwipa mungkin yang paling lemah dibanding seluruh leluhurnya namun dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki para leluhurnya, kepintaran. Mungkin dia menyadari kelemahannya yang tak memiliki bakat ilmu kanuragan namun dia memutuskan menggunakan isi kepalanya," Wulan menunjuk kepalanya sendiri.
"Apa kau menyelidiki Malwageni beberapa hari ini?"
"Sama seperti dirimu, saat aku memutuskan mempercayai anak ini aku harus membuat persiapan. Aku menyelidiki gerakan Arya dwipa yang menurutku janggal.
Dia sepertinya tau tak akan mampu melawan Masalembo dengan cara biasa. Dia mencari tau tentang tiga trah besar Masalembo dan mungkin penyelidikannya berakhir pada ibunya Sabrang. Dia memutuskan menikahi keturunan Arjuna agar keturunannya kelak mempunyai kekuatan besar, hal yang selama ini paling ditakuti Masalembo.
Kepintarannya sangat luar biasa, dia memanfaatkan kondisinya yang lemah untuk mengelabui semua orang. Apa kau akan waspada terhadap musuh yang lemah? mungkin memandangnya pun kau tak mau. Masalembo dibuatnya lengah kali ini. Dia mengatur semua pernikahan dan asal usul ibunya Sabrang agar tidak ada yang tau siapa dia.
Sejak awal Arya dwipa ingin "menciptakan" Sabrang sebagai lawan Masalembo. Kau tau, dia lebih mengerikan dari para pemimpin trah Masalembo. Dia seolah mengajarkan kita semua jika untuk mencapai sesuatu tak hanya mengandalkan kekuatan saja namun perlu kecerdikan dan kepintaran saat lawan sangat kuat.
Raja lemah itulah yang ternyata menjadi kartu penentu perlawanan kita semua selama ini, dia menyiapkan semuanya untuk pertempuran besar. Nama Sabrang Damar tanpa Dwipa yang menjadi kebanggan mereka adalah cara menjauhkan anaknya dari sorotan semua musuhnya.
Aku benar benar tak mampu berkata apapun tentangnya, kelemahannya ternyata menciptakan sesuatu yang mungkin akan menghancurkan Masalembo kelak," ucap Wulan pelan sambil menaruh batu bertuliskan Arya dwipa disebuah meja seperti tempat persembahan.
"Yang membuatku paling terkejut adalah orang yang selalu berada didekat Sabrang juga telah dipikirkan oleh Arya. Kau pikir Wardhana datang tiba tiba? Arya dwipa lah yang mencarinya untuk menjadi rekan anak itu. Kepintaran di atas rata rata Wardhana dan darah terlarang dalam tubuh anaknya adalah rencana besar yang disusun tidak sebentar.
Hari ini, aku Wulan, guru dari anakmu berlutut dihadapan ukiran namamu untuk memberi hormat pada salah satu pendekar terbesar Trah dwipa. Mohon terima hormatku Yang mulia," Wulan berlutut dan menundukkan kepalanya selama beberapa saat.
Rubah putih yang selama hidupnya tak pernah berlutut pada seseorang tanpa sadar mengikuti Wulan.
"Kesalahan terbesarku selama ini mungkin tak memiliki rencana matang sepertimu, hari ini Rubah putih berjanji akan mengajarkan seluruh ilmu yang dimiliki pada anakmu, terima kasih kau masih menjaga api semangat perlawanan terhadap Masalembo."
__ADS_1
Wulan bangkit sebelum kembali menundukkan kepalanya.
"Aku sudah menurunkan ajian Inti lebur saketi padanya, kini semua tergantung dirimu untuk mengasahnya. Besok pagi aku akan membawanya ke hutan lali jiwo, muridku harus memberi hormat pada leluhurku. Kau bisa melatihnya setelah aku pulang, semoga kau tidak terkejut dengan kemampuannya kini," ucap Wulan sambil pergi meninggalkan Rubah putih.
***
Hutan lali jiwo adalah sebuah hutan yang sangat jarang dimasuki orang. Hutan yang berada diperbatasan Saung galah ini memang sangat misterius dan dipenuhi dengan banyak keanehan.
Hanya sekte Lintang api yang berani mendirikan markasnya disana, itupun hanya dibagian luar tanpa berani masuk lebih dalam.
Aura aneh yang besar kadang muncul dari dalam hutan membuat semua orang berfikir ratusan kali untuk masuk kedalam hutan.
Namun pagi itu, saat sinar matahari baru menyapa daratan Jawata, Wulan dan Sabrang tampak tak takut sama sekali dengan cerita yang beredar mengenai hutan itu.
Mereka melesat cepat diantara pepohonan dan terus bergerak masuk kedalam hutan. Sabrang tampak mengernyitkan dahinya saat merasakan sebuah aura yang tiba tiba muncul.
"Tak perlu dipikirkan, aura itu berasal dari segel matahari," ucap Wulan seolah tau apa yang dipikirkan Sabrang.
"Segel Matahari?" Sabrang mengerutkan dahinya.
"Hutan lali jiwo dulunya digunakan sebagai tempat menguburkan para pengkhianat Masalembo. Para pendekar hebat Masalembo saat itu hampir semua menguasai segel keabadian, sehingga suatu saat mereka bisa bangkit kembali. Untuk itulah Masalembo menyiapkan tempat khusus untuk menguburkan para pengkhianat agar tak bisa dibangkitkan kembali," balas Wulan pelan.
"Jika tempat itu memang disegel bagaimana kita bisa masuk?"
"Kau pikir selama ini bagaimana aku bisa masuk? jangan kau lupakan aku juga keturunan Tumerah," ucap Wulan sambil menghentikan langkahnya didekat tebing curam.
Wulan kemudian menempelkan telapak tangannya disebuah batu sebelum merapal jurus segel keabadian.
"Tak kusangka ada segel yang lebih kuat dari segel kabut," gumam Sabrang dalam hati.
"Kuburan leluhurku ada diseberang sana, ayo kita pergi," ucap Wulan sambil melangkah kearah jembatan.
"Tak kusangka anda benar benar masih hidup" sebuah suara mengejutkan Wulan dan Sabrang.
Damar muncul bersamaan dengan sembilan anggota Sorik marapi dan puluhan pendekar sekte Lintang api.
"Damar? tak kusangka kau menguasai segel keabadian, harusnya kau sudah mati ditangan Rubah putih," jawab Wulan sinis.
Damar tampak menatap Sabrang yang terlihat tenang walau dia telah melepaskan aura untuk menekannya.
"Rambut putih?" gumamnya dalam hati.
"Anda sebaiknya ikut denganku baik baik nona, kami membutuhkan informasi sedikit dari anda," ucap Damar pelan.
"Apa kau pikir aku punya banyak waktu? sejak dulu, Sorik marapi tak pernah masuk dalam hitunganku dan kau kini mengancamku?" bentak Wulan geram.
"Dunia sudah berputar begitu lama nona, kau pikir kemampuan Sorik marapi tidak berkembang? selama aku menjauhkanmu dari Rubah putih, aku masih memiliki kesempatan mengalahkanmu," balas Damar.
"Seperti yang kau katakan, dunia sudah berputar dan itu berlaku untukmu juga Damar. Kau datang disaat yang tepat, ketika aku bingung mencari orang untuk mencoba sesuatu," balas Wulan sambil tersenyum penuh makna.
__ADS_1
"Apa maksud ucapanmu? kau mengancamku?" tanya Damar kesal.
"Jika kau ingin bicara padaku, temui aku diseberang sana, itupun jika kau mampu," ucap Wulan sambil melangkah pergi.
"Tunjukkan pada mereka jika bukan hanya rambutmu saja yang memutih," Wulan menoleh kearah Sabrang sambil tersenyum.
"Kau benar benar meremehkanku, jika sekte Tapak es utara yang katanya sekte besar saat ini bisa kuhancurkan maka tak ada salahnya mencoba kemampuan dewi kematian yang saat itu ditakuti," Damar memberi tanda pada dua anggota sorik marapi untuk menyerang.
Dua orang pendekar langsung bergerak menyerang, mereka langsung melepaskan aura besar untuk menekan Sabrang.
"Kau benar benar meremehkan Sorik marapi nona, aku akan buktikan kekuatan organisasi pelindung trah dwipa," Damar langsung memberi tanda untuk menggunakan jurus pedang penghancur kegelapan kebanggaan Sorik marapi.
Damar begitu yakin Sabrang akan langsung lumpuh dengan jurus itu karena Rubah putih pun pernah hampir terdesak oleh jurus yang sama.
Wulan tampak terkejut dan langsung menoleh saat berada ditengah jembatan ketika merasakan energi murni seolah meledak hingga membuat tubuhnya lemah.
"Apa yang dilakukan si bodoh itu? kekuatan sebesar itu bisa membunuh kita semua, apa ada yang membuatnya marah?" wajah Wulan tampak berubah seketika.
"Jurus pedang penghancur kegelapan," Dua pedang melesat dengan cepat kearah Sabrang yang belum juga bergerak menghindar. Bola matanya merah menyala sesaat sebelum pedang muncul ditangannya dan menangkis serangan dengan cepat.
Dua pendekar itu tampak terkejut ketika tubuh mereka terdorong di udara, saat mereka mencoba mengatur kembali kuda kudanya Sabrang sudah bergerak dan dengan cepat berada didekat mereka.
"Kecepatannya?" mereka mencoba menyerang kembali walau tanpa persiapan. Keunggulan jurus pedang penghancur kegelapan memang bisa digunakan walau tanpa kuda kuda, bahkan bisa dilepaskan dari udara.
Melihat dua serangan besar mendekat, Sabrang bukannya berusaha mundur dan menghindar, dia justru meningkatkan kecepatannya.
Saat kedua pedang lawan hampir mengenainya, dia memutar tubuhnya pelan sambil mengubah arah pedang.
"Jurus pedang kegelapan tingkat II : Pelebur raga," sebuah tebasan cepat yang bahkan tidak bisa dilihat Wulan membelah tubuh dua pendekar di udara dalam seketika.
Tak ada yang bisa melihat gerakan pedang Sabrang, yang mereka lihat hanya tubuh dua pendekar yang sangat ditakuti pada masanya terbelah dengan sangat mudah.
Sorik Marapi, pendekar terpilih yang bertugas melindungi trah Dwipa hancur dalam satu serangan.
"Siapa dia sebenarnya? mata itu milik trah Dwipa namun energi murni Tumerah meluap dari tubuhnya," ucap Damar terkejut.
Wulan tampak tersenyum lega setelah melihat gerakan pedang Sabrang.
"Aku sempat khawatir kau akan menggunakan jurus itu," ucap Wulan pelan sambil kembali melangkah menjauh.
"Katakan padaku, apa tapak utara telah hancur?" tanya Sabrang sambil mendarat ditanah.
"Apa sekte lemah itu sangat berarti bagimu?"
Wajah Sabrang berubah seketika, mendengar jawaban Damar, dia sudah tau apa yang terjadi dengan tapak es utara.
"Kalian semua tak akan ada yang keluar hidup hidup dari sini, akan kupastikan itu."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
VOTE