
"Lalu dari mana kita harus mulai mencari rumah para dewa itu jika tak ada petunjuk apapun?" Wardhana membenamkan wajahnya dikedua telapak tangannya.
Ciha tampak tersenyum kecut sambil memandang wajah bingung Wardhana. Ini pertama kalinya mereka tak memiliki petunjuk apapun mengenai rumah para dewa karena Umbara membunuh semua orang yang ada di Balidwipa.
Sudah beberapa hari ini Wardhana duduk disalah satu ruangan milik sekte Kerta putih bersama Ciha namun belum menemukan petunjuk apapun.
"Aku akan mencari udara segar sebentar, tolong jika kau menemukan sesuatu segera beritahu aku" ucap Wardahana pelan.
"Baik tuan".
Wardhana melangkah gontai keluar ruangan sambil memijat keningnya yang terasa sakit.
Dia berjalan sambil memperhatikan sekitarnya berharap menemukan petunjuk apapun yang bisa digunakan untuk menemukan ruang rahasia itu.
Sabrang tampak memperhatikan Wardhana dari jauh, dia tidak ingin mengganggu Adipatinya itu karena untuk sementara waktu.
"Bukankah kau seharusnya memberinya semangat? kali ini dia benar benar dalam kesulitan" ucap Arung pelan.
Sabrang menggeleng pelan "Dia membutuhkan ketenangan, aku yakin dia mampu membongkar semua misteri ini dan menangkap pemuda misterius itu".
"Aku tau itu namun kali ini kita benar benar dalam masalah karena tidak ada petunjuk apapun".
"Kau lihat pedang yang selalu dibawanya itu? Ayah memberikan pedang itu sebagai hadiah saat dia pertama kali memenangkan pertempuran sebagai ahli siasat. Jika ayah percaya padanya maka tidak ada alasan lain buatku untuk tidak percaya. Kita hanya perlu bersabar sedikit sampai Naga itu menangkap mangsanya".
Wardhana tampak berdiri dihalaman sekte sambil memejamkan matanya.
"Jika aku adalah sekte Kerta putih maka aku akan melakukan penjagaan yang sangat ketat didekat rumah para dewa itu". Wardhana membuka matanya dan menatap sekitarnya.
"Tempat ini dibangun untuk menutupi ruang rahasia itu, jika aku menjadi mereka maka aku akan membangun sebuah tempat yang jarang didatangi dan paling dijaga ketat untuk menutup akses menuju ruang rahasia maka tempat yang paling cocok adalah ruang ketua sekte atau tempat yang paling disucikan".
Wardhana kembali menggeleng pelan, dia sudah lebih dulu memeriksa ruangan ketua sekte namun tidak ada apapun disana.
"Jika pikiranmu buntu maka cobalah berfikir dari sisi berbeda. Melihat dari berbagai sisi akan membantumu melihat sesuatu yang tersembunyi". Wardhana kembali teringat ucapan Paksi, guru siasatnya yang kini dia tahan di penjara Rogo geni.
"Apa yang akan kau lakukan jika berada diposisiku tuan" gumam Wardhana dalam hati.
"Berfikir dari sisi yang berbeda?" Wardhana terus berusaha berfikir sambil berdiri ditengah halaman.
"Bagaimana jika mereka membangun dengan pikiran yang sama denganku?. Aku bodoh sekali, semua akan berfikir seperti itu maka untuk menyamarkannya mereka akan membangun ditempat yang sering dikunjungi. Psikologis manusia akan berfikir tidak ada yang bisa disembunyikan ditempat yang ramai". Wajah Wardhana tampak mulai bersemangat. "Ruang latihan".
Wardhaba berlari menuju ruangannya dan memanggil Ciha. "Ikut denganku" ucapnya sambil berlari kearah ruang latihan.
Ciha tersenyum lega sambil membawa gulungan yang ada diatas meja. "Tampaknya Naga itu mulai menemukan mangsanya".
Ciha sempat berpapasan dengan Sabrang dan Arung yang sedang berlatih ilmu kanuragan.
"Ikutlah denganku, tuan Wardahana sepertinya menemukan sesuatu". teriak Ciha sambil terus berlari tanpa menunggu jawaban.
Sabrang menarik beberapa energi keris yang dia gunakan berlatih tanding dengan Arung setelah mendengar ucapan Ciha.
"Hei, kau mau ikut?" teriak Arung pada Lingga yang sedang bermeditasi.
__ADS_1
"Pergilah, aku tidak tertarik dengan hal seperti itu" balas Lingga tanpa membuka matanya.
***
Pandangan Wardhana langsung tertuju pada sebuah batu bersusun yang terletak didekat tempat penyimpanan pedang dipojok ruangan. Dia menatap sesaat sebelum mendekati batu itu.
Tak lama Ciha dan yang lainnya muncul dengan wajah cerah.
"Dia berhasil menemukannya" ucap Ciha sambil tersenyum.
Wardhana meraba batu yang mirip dengan sebuah kursi dan menemukan tuas dibelakangnya, dia menarik tuas itu sekuat tenaga.
Tak lama lantai ruang latihan itu bergetar dan terbelah menjadi dua. Sebuah tangga kecil dari batu tampak menyambut mereka.
"Tuan, anda berhasil" teriak Ciha sambil menuruni tangga itu menuju ruangan bawah tanah namun Wardhana tetap mematung seperti memikirkan sesuatu.
"Apa ada yang mengganggu pikiran paman?" ucap Sabrang pelan.
"Ah tidak Yang mulia, aku hanya merasa semua terasa begitu mudah" balas Wardhana.
"Begitu mudah? Kita sudah hampir tiga hari berada disini, apa yang tidak bisa ditemukan oleh paman?".
Sabrang berjalan menuruni tangga bersama Arung, tak lama Wardhana mengikutinya dari belakang.
"Apa hanya perasaanku saja" gumam Wardhana dalam hati.
Setelah berada cukup lama didalam ruang rahasia itu dan mendapatkan kunci pecahan telaga khayangan api dan sebuah pisau kecil di dalam ruang rahasia lainnya mereka memutuskan naik dan menutup kembali ruangan itu.
Semua sudah memikirkan langkah selanjutnya karena mereka merasa semakin dekat dengan apa yang mereka cari namun tidak dengan Wardhana, dia merasa ada sesuatu yang salah namun dia belum tau apa itu.
Wardhana tampak kagum melihat saluran saluran air yang dibuat cukup rumit untuk mengaliri setiap penampungan air di pemukiman Kerta putih.
"Mereka benar benar membangun tempat ini dengan sangat detail" gumamnya dalam hati.
Wardhana membenamkan wajahnya kedalam sungai untuk mendinginkan kepalanya yang terasa panas. Perasaannya mengatakan dia sedang dipermainkan oleh Umbara namun dia tidak tau dari mana harus memulai mencari tau.
"Paman tak seperti biasanya" suara Sabrang mengangetkan Wardhana.
"Yang mulia, anda....".
"Aku merasa sudah merasa sangat dekat dengan paman walau aku tidak tumbuh didekat paman. Aku tau ada yang menggangu pikiran paman saat ini".
"Maaf Yang mulia, hamba hanya merasa ada yang salah namun hamba takut ini hanya perasaan saja".
Sabrang tersenyum hangat, sebuah senyuman yang membuat Wardhana merasa begitu dilindungi. Senyuman yang pernah dia lihat saat Arya Dwipa menghadiahkan pedang padanya.
"Arung mengatakan besok kita akan pergi kerumah para dewa terakhir di Hujung tanah namun aku memintanya menunda selama dua hari".
Wardhana sangat terkejut mendengar ucapan Sabrang.
"Yang mulia sebaiknya keberangkatan kita jangan diundur lagi, aku takut ini hanya perasaanku saja, selain itu kita sudah menemukan apa yang kita cari".
__ADS_1
Sabrang menggeleng pelan "Aku mungkin adalah Raja yang bodoh namun aku sangat mempercayai paman lebih dari apapun. Kejarlah apa yang mengganggu perasaan paman, aku akan mendukungmu walau seperti ayah mempercayakan pedang itu pada paman". Sabrang duduk disebelah Sabrang sebelum dia merebahkan tubuhnya ditanah. "Lagipula pemandangan indah ditempat ini sayang jika tidak kunikmati terlebih dahulu".
"Yang mulia" Wardhana menundukkan kepalanya.
Butuh waktu lama bagi Wardhana untuk menyadari jika Rajanya itu sudah terlelap dalam tidurnya.
Wardhana memberanikan diri menatap Sabrang yang tertidur dipinggir sungai.
"Terima kasih Yang mulia anda memberiku waktu dua hari, akan kupastikan dalam waktu dua hari semua misteri akan tersingkap". Wardhana berlutut dihadapan Sabrang sebelum melangkah pergi. Dia memutuskan memulai pencarian ruang rahasia di Balidwipa dari awal. Wardhana tak ingin ada satu petunjukpun yang terlewatkan kali ini.
***
Brajamusti tampak memperhatikan permaian pedang Tungga dewi dari jauh, sesekali dia berdecak kagum walau masih ada beberapa bagian yang masih terasa kasar.
"Melihat pendekar muda sehebat dia, aku merasa sudah saatnya mundur dari dunia persilatan". gumam Brajamusti sambil melangkah mendekat.
Sudah beberapa hari ini Brajamusti memperhatikan Tungga dewi berlatih. Dia memang tertarik pada Tungga dewi bahkan saat Tungga dewi masih bayi. Brajamusti merasakan ada energi murni dalam tubuh gadis itu. Memang masih terasa samar namun Brajamusti yakin itu karena Tungga dewi tidak menyadarinya dan tidak melatihnya. Jika Tungga dewi mampu memaksimalkan energi murninya dia yakin gadis itu bisa menjadi pendekar wanita terhebat didunia persilatan.
"Aku pernah mendengar kehebatan jurus Tarian Rajawali namun tak kusangka bisa sehebat ini".
"Ah tetua, maaf aku tak menyadarin kehadiran anda". Tungga dewi menyarungkan pedangnya dan memberi hormat pada Brajamusti.
"Apa aku mengganggu?".
"Tidak tetua, aku memang sudah mau mengakhiri latihanku. Apa ada yang ingin anda bicarakan denganku?".
Brajamusti mengangguk pelan dan mengajak Tungga dewi duduk dibawah pohon.
"Maukah kau menjadi muridku?" tanya Brajamusti tiba tiba.
"Murid anda?" Tungga dewi tersentak kaget mendengar pertanyaan Brajamusti.
"Ada potensi dalam dirimu yang tidak kau sadari, aku berencana mundur dari dunia persilatan setelah urusan ini selesai. Pendekar seperti Sabrang dan dirimu lah yang bisa membuatku tenang meninggakkan dunia persilatan".
"Sabrang?" Tungga dewi mengernyitkan dahinya.
"Apa Sudarta dulu tak memberitahukanmu jika ada perjodohan antara dirimu dengan anak itu?".
"Perjodohan?" tanya Tungga dewi makin bingung.
"Ibumu adalah murid Sekte Angin biru sebelum dia menikah dengan salah satu pendekar Rajawali emas. Saat itu hanya ada dua pendekar wanita yang bakatnya paling menonjol di dunia persialatan, ibumu dan Sekar pitaloka. Mereka mulai berteman sejak ada turmanen yang diselenggarakan Sekte Tapak es utara.
Namun sayang dua generasi emas itu layu sebelum berkembang. Ibumu memutuskan menikah dengan ayahmu dan Sekar pitaloka menjadi Ratu Malwageni.
Kedekatan mereka terus berlanjut bahkan saat ketika kalian lahir. Ibumu mengundangku untuk memberikan nama untukmu, saat itu Sekar pitaloka ikut hadir bersama Yang mulia. Saat itulah Sekar pitaloka memutuskan menjodohkan kalian berdua".
Wajah Tungga dewi memerah seketika setelah mendengar perjodohannya dengan Sabrang.
"Jadilah muridku, akan kubangkitkan kembali generasi emas yang dulu sempat layu".
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Sebelumnya mohon maaf pada semua Reader PNA, saya benar benar sangat sibuk memasuki masa New Normal ini. Perkerjaan sudah mulai menumpuk, namun saya akan usahakan up 2 kali sehari namun jika tidak sempat saya harap maklum...
Chapter kali ini saya gabungkan 2 Chapter untuk menutupi kemarin yang tak sempat update..