Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Menyusun Persiapan Perang


__ADS_3

"Maaf kami terlambat tuan" ucap Wardhana saat memasuki sebuah rumah kecil dipinggiran keraton Saung galah bersama Arung.


Jaladara mengangguk pelan, dia tak mempermasalahkan keterlambatan Wardhana karena jarak antara Tapak es utara dengan Saung galah cukup jauh.


"Apakah ada masalah? bukankah pertemuan kita seharunya beberapa hari kedepan?" tanya Jaladara bingung.


"Kemarin lima pendekar Bintang kegelapan menyusup tapak es utara, beruntung Yang mulia menyadari kedatangan mereka dan melumpuhkannya. Kedatanganku berhubungan dengan hal ini," ucap Wardhana.


"Bintang kegelapan?," Jaladara mengernyitkan dahinya, wajahnya menunjukkan rasa terkejut saat mendengar salah satu organisasi pembunuh paling ditakuti itu menyerang Malwageni.


"Mereka bekerja untuk Majasari, sasarannya saat itu adalah nyawaku. Ada penyusup didalam pasukan angin selatan, mereka bekerja sama dengan pangeran Pancaka dan sepertinya didalam pasukan Saung galah pun dia berhasil menyusupkan mata mata. Kita tak bisa menyerang mereka seperti rencana awal."


"Pancaka?," raut wajah Jaladara terlihat memerah.menahan emosi.


"Aku mengerti permasalahan anda dan jika kita tetap memaksa menyerang hasilnya pun akan tidak maksimal, aku akan sampaikan pada Yang mulia bahwa rencana penyerangan mundur," jawab Jaladara.


Wardhana menggeleng pelan, "Aku tidak akan memundurkan rencana menyerang Majasari, kedatanganku kesini untuk menyampaikan jika empat hari lagi kita akan menyerang mereka."


Wajah Jaladara langsung berubah seketika, dia tidak menyangka jika Wardhana akan senekat itu. Mengumpulkan ribuan pasukan untuk bersiap perang bukan hal mudah, belum lagi mempersiapkan perlengkapan logistik prajurit.


"Apa kau sudah gila? untuk mempersiapkan logistik pun tak akan sempat, butuh waktu meminta biaya perang pada bagian keuangan kerajaan. Aku tak akan setuju jika kau berperang tanpa persiapan dan tergesa gesa karena Saung galah akan terkena imbasnya," ucap Jaladara.


"Untuk itulah aku meminta anda bertemu pagi ini, anda masih memiliki waktu untuk bicara pada Yang mulia dan meminta biaya perang, kurasa waktu dua hari cukup untuk mempersiapkannya. Sementara menunggu kami bisa membantu sedikit untuk logistik selama beberapa hari kedepan.


Apa yang anda sampaikan tadi aku yakin juga dipikirkan oleh Majasari, mereka tak akan menyangka kita begitu gegabah menyerang saat terjadi penyerangan kemarin. Itu yang akan menjadi kunci kemenangan kita, saat ini mereka sedang lengah tuan," ucap Wardhana meyakinkan.


Jaladara masih terlihat ragu, mempersiapkan pasukan butuh waktu tak sebentar apalagi dengan jumlah ribuan.


"Tapi aku butuh waktu untuk bicara pada Yang mulia, dan aku tidak bisa menjamin dia akan setuju," jawab Jaladara.


"Tuan, penyerangan kemarin adalah kesalahan terbesar mereka, jika ada waktu yang paling tepat untuk meruntuhkan mereka maka inilah saatnya."


Jaladara memandang tajam Wardhana, walau dia merasa Wardhana sudah gila namun dia setuju dengan ucapannya. Pengalaman berperang nya selama ini telah membuktikan bawha akan jauh lebih mudah menaklukkan musuh yang tidak siap tapi Jaladara juga merasa resiko kali ini jauh lebih besar jika gagal.


"Apa rencanamu?"


Wardhana segera membuka gulungan yang dia bawa dan membentangkannya di meja.


"Kadipaten Sukasari dan Rogo geni adalah jalur utama kehidupan mereka, dari dua jalur inilah semua logistik dan makanan disalurkan. Jika kita bisa menguasai dua jalur ini secara bersamaan maka kekuatan mereka akan jauh berkurang.


Sedangkan ini adalah letak keraton Majasari, tak jauh dari keraton ada hutan yang menghubungkan dengan kadipaten Karang waringin. Kita bisa bergerak mendekat melalui hutan ini saat pasukan pengecoh membuat kekacauan di tengah kota.


Kita akan menyerang dari tiga arah untuk menghancurkan mereka." ucap Wardhana menjelaskan.


"Apa kau yakin ini akan berhasil?"


"Aku tak akan pernah membahayakan Rajaku jika tidak yakin, asal semua pasukan mengikuti rencanaku dengan baik maka kemenangan akan berada di pihak kita," jawab Wardhana yakin.


"Yang mulia akan memimpin pasukan angin selatan dan para pendekar aliran putih dari arah barat, sedangkan pasukan Saung galah akan kupecah dua. Anda akan bergerak melalui Kadipaten karang waringin bersama sebagian pasukan sedangkan aku akan melewati jalur yang berlawanan dengan Yang mulia.


Tim pengecoh akan membantu dari gerbang utama sementara Hibata akan menyusup dan menghancurkan dari dalam. Kita akan bertemu tepat didalam keraton saat sore hari dan saat itulah Majasari runtuh," ucap Wardhana sambil menitik beberapa tempat di gulingannya.


Jaladara cukup takjub dengan strategi Wardhana, walau penyerangan tidak sesuai jadwal yang ditentukan namun dia dengan cepat merubah startegi sampai ke hal yang sangat detai.


"Kapan aku harus menggerakkan pasukan?" Jaladara mulai tertarik.


"Besok malam kami akan mulai bergerak dalam beberapa kelompok kecil untuk menghindari kecurigaan. Saung galah akan jauh lebih mudah karena bebarapa Kadipaten berbatasan langsung dengan Majasari sehingga pengerahan pasukan tak terlalu menarik perhatian.


Anda bisa mulai bergerak besok malam, kami akan menanggung sementara biaya logistik sampai Saung galah mengeluarkan biaya perang. Setelah mendapat tanda dari tim pengintai, kita bergerak bersama," jawab Wardhana.


Jaladara terlihat berfikir sejenak sebelum mengangguk setuju.


"Baik, aku akan meyakinkan Yang mulia untuk menyetujui rencana mu namun kau harus ingat perjanjian kita tentang pembagian wilayah."


"Aku tau tuan, selain wilayah Malwageni yang lama, semua wilayah Majasari akan dibagi dua. Anda tak perlu khawatir, aku akan menepati janji," jawab Wardhana.


Jaladara mengangguk pelan, dia bangkit sambil menundukkan kepalanya.


"Baik, aku akan segera menemui Yang mulia untuk meyakinkannya," ucap Jaladara sambil melangkah keluar ruangan.


"Apa mereka akan benar benar membantu kita?" tanya Arung ketika Jaladara telah pergi.


"Mereka pasti membantu dengan sekuat tenaga karena mereka tak punya pilihan lain, aku sudah mempersiapkan kejutan untuk Jaladara," jawab Wardhana pelan.


"Ayo kembali, kita akan sangat sibuk beberapa hari ini," Wardhana melangkah pergi diikuti Arung dibelakangnya.


***


Sabrang yang sedang berlatih di halaman belakang tapak es utara tiba biba menarik semua auranya dan memasukkan kembali pedang Naga api kedalam tubuhnya.


Dia terlihat tersenyum sinis sambil memandang kesatu tempat.

__ADS_1


"Keluarlah, percuma kau mencoba menyembunyikan tenaga dalammu," ucap Sabrang pelan.


Lingga Maheswara keluar dari balik pohon dengan wajah masam.


"Kau semakin mengerikan, aku tak tau sampai kapan kau akan terus berkembang," Lingga melangkah mendekati Sabrang.


Sabrang duduk disebuah batu dan bersila, dia terlihat mengatur nafas dan memulihkan tenaganya.


"Akhirnya kau akan merebut kembali Malwageni, aku masih ingat bagaimana kerajaan itu hancur," ucap Lingga.


Sabrang membuka matanya perlahan, dia sedikit terganggu dengan ucapan Lingga.


"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?" tanya Sabrang dingin.


"Dengan kekuatanmu saat ini kau bisa membunuhku dengan mudah, akulah yang membunuh ayahmu. Apa yang sebenarnya kau pikirkan?."


"Apa dengan membunuhmu ayah bisa hidup kembali?"


"Setidaknya kau bisa membalaskan dendam Arya dwipa."


"Aku tidak tertarik membunuh orang yang lemah sepertimu," ejek Sabrang.


Lingga tertawa keras sebelum tiba tiba menyerang, dia mengayunkan pedangnya kearah Sabrang dengan cepat namun dia menghentikan gerakannya saat pedang miliknya hanya berjarak beberapa inci dileher Sabrang.


"Kenapa kau diam saja?," tanya Lingga kesal.


"Sudah kukatakan kau tak akan mungkin bisa melukaiku saat ini," jawab Sabrang.


"Apa kau masih menyimpan dendam padaku?"


"Kematian ayah adalah keinginannya sendiri, dia bisa saja menggunakan kekuatan Anom dan mengalahkan mu saat itu namun dia lebih memilih mati karena tak bisa mengendalikan sisi gelap trah Dwipa.


Saat bertemu denganmu untuk pertama kali, aku sangat ingin membunuhmu dan memotong tubuhmu namun kini aku sadar, jika aku bisa memberi kesempatan kedua pada paman Wijaya kenapa aku tidak bisa memberikan hal yang sama padamu.


Sifat dan perangai mu selama ini telah berubah tanpa kau sadari dan aku sangat berterima kasih atas bantuanmu baik saat di Dieng maupun Masalembo.


Kau bebas memilih pergi sekarang, masalah Masalembo atau Malwageni murni tak ada hubungannya denganmu, kuharap kelak kau tidak kembali terjerumus dalam kesalahan yang sama.


Harus kuakui kau turut andil dalam perkembangan ilmu kanuraganku, rasa dendamku padamu saat itu membuatku terus bertambah kuat," Sabrang bangkit dari duduknya, dia menundukkan kepalanya kearah Lingga sebelum melangkah pergi.


Untuk pertama kalinya, Sabrang membuang semua dendam dalam hatinya, beberapa kali berjuang bersama membuat Sabrang sadar Lingga adalah orang baik walau sangat kaku.


"Ayah maafkan aku, kuharap ayah mengerti keputusanku," gumam Sabrang dalam hati.


Ada perasaan aneh dalam dirinya saat membantu orang dan mendapatkan ucapan terima kasih, perasaan senang yang selama ini tak pernah dia rasakan.


Sabrang tersentak kaget saat melihat Lingga berlutut, hal yang menurutnya mustahil bagi pendekar kaku dan menjunjung harga diri seperti Lingga.


"Apa aku sedang bermimpi? apa yang sebenarnya kau pikirkan?"


"Aku sudah memutuskan untuk mengabdi pada Malwageni untuk.menebus dosa masa laluku, kau harus menerimaku atau membunuhku," jawab Lingga.


Sabrang mengernyitkan dahinya sebelum tersenyum.


"Kau memohon atau memaksaku?"


"Terserah apa penilaianmu."


"Cabut pedangmu?," ucap Sabrang kemudian.


"Cabut pedangku?" Lingga mengernyitkan dahinya.


"Setelah kupikir aku belum pernah bertarung denganmu, temani aku latihan dan anggap ini sebagai tes bagi prajurit Malwageni."


"Jika itu keinginanmu aku tak akan sungkan lagi," balas Lingga sambil tersenyum, sebuah senyuman lega setelah mendapatkan pengampunan dari anak Arya dwipa, orang yang dulu dibunuhnya dengan kejam.


***


"Aku akan ikut berperang," Tungga dewi tiba tiba membuka pintu ruangan saat Wijaya membahas taktik perang yang akan digunakan.


Wijaya, Mentari dan Emmy langsung menundukkan kepalanya saat melihat Tungga dewi masuk.


"Hormat pada gusti ratu," ucap mereka bersamaan.


"Apa kalian menghindari aku?," tanya Tungga dewi kesal.


"Maaf gusti ratu bukan kami menghindari anda namun perintan Yang mulia anda tak boleh ikut bertempur," Mentari berusaha menjelaskan karena Tungga dewi tampak tak senang.


"Bukankah aku sama seperti kalian? aku adalah pendekar dari Rajawali emas."


"Hamba tau namun posisi anda sebagai ratu Malwageni menjadi pertimbangan Yang mulia untuk melarang anda bertempur," jawab Mentari kembali.

__ADS_1


Tungga dewi menggeleng pelan, dia tetap kukuh pada pendiriannya untuk ikut bertempur, dia merasa memiliki kewajiban membela Malwageni karena sekarang posisinya adalah ratu.


"Nanti aku akan memohon pada Yang mulia untuk mengizinkanku berperang, sekarang tidak ada larangan aku ikut membahas strategi perang kan?" ucap Tungga dewi.


"Hamba tidak berani gusti ratu, silahkan duduk," ucap Wijaya sopan.


"Tim kecil ini akan menjadi pasukan pengecoh, ada seorang pedagang pakaian yang akan masuk Majasari dan tim ini akan masuk bersama mereka.


Agar gerakan kita tidak mencolok, Yang mulia meminta para pendekar wanita yang menjadi tim ini. Hamba sempat ragu saat nyonya selir mengajukan diri namun akhirnya Yang mulia mengabulkannya.


membuat kekacauan di tengah kota musuh sangat berbahaya, hamba harap anda berhati hati," ucap Wijaya pada Mentari dan Emmy sedikit khawatir karena bagaimanapun kedudukan mereka berdua hanya setingkat dibawah Tungga dewi.


"Kami bisa menjaga diri tuan, anda tak perlu khawatir" jawab Emmy pelan.


"Aku akan memimpin pasukan pengecoh, tolong jelaskan detailnya paman," ucap Tungga dewi tiba tiba.


"Gusti ratu," Wijaya tersentak kaget, dia tidak tau harus berkata apa karena gadis yang ada dihadapannya adalah ratu Malwageni.


"Aku pernah memimpin Hibata, kami terbiasa menyusup kedalam markas musuh. Aku yakin kemampuanku akan berguna."


Wijaya menoleh kearah Mentari dan Emmy meminta persetujuan. Dua gadis itu mengangguk pelan sambil tersenyum manis. Mereka sudah paham sifat keras kepala Tungga dewi tak bisa dicegah.


Wijaya mengangguk pelan dengan berat.


"Namun anda harus meminta izin pada Yang mulia terlebih dahulu gusti ratu," ucap Wijaya.


Tungga dewi mengangguk pelan, dia terlihat bersemangat sambil melompat dan merangkul dua sahabatnya itu.


"Gusti ratu mohon jangan seperti ini," ucap Emmy tiba tiba.


"Apa aku salah?," balas Tungga dewi kesal, dia merasa dua sahabatnya itu berubah sikapnya setelah dia menjadi ratu, mereka seolah sangat hormat padanya.


"Paman, apakah perintah ratu hampir sama dengan perintah Yang mulia?," tanya Tungga dewi.


"Benar gusti ratu, apa yang anda perintahkan bisa dikatakan perintah Yang mulia," jawab Wijaya bingung.


Tungga dewi mengangguk pelan, "Kalian dengar? perintahku adalah perintah Yang mulia. Dia merubah posisi duduknya dan menarik kursinya mendekat kearah Mentari dan Emmy.


"Sekarang dengarkan perintahku, bersikaplah biasa seperti pada Tungga dewi. Aku tidak ingin kalian berubah, kalian lah sahabatku selama ini."


Mentari dan Emmy tampak ragu, karena bagaimanapun Tungga dewi saat ini adalah seorang ratu.


"Apa kalian akan membantah perintahku?"


"Hamba tidak berani gusti ratu, hamba akan mencoba menjalankan perintah anda," jawab Mentari pelan.


Tungga dewi kembali memeluk dua sahabatnya itu namun kali ini tak ada penolakan dari Mentari dan Emmy.


"Terima kasih, kumohon tetaplah seperti ini dan jagan berubah dan meninggalkan aku," ucap Tungga dewi sambil memeluk erat mereka.


"Kami yang seharusnya berterima kasih pada anda gusti ratu," Emmy mulai berani membalas pelukan Tungga dewi.


***


Sementara itu, Sabrang tampak bergerak cepat diantara rimbunnya hutan diikuti satu pendekar bertopeng dibelakangnya. Suasana gelap malam itu tak menghambat gerakannya sedikitpun. Tenaga dalam yang besar membuat gerakannya sangat senyap dan tak menimbulkan suara sedikitpun.


Setelah berlatih dengan Lingga, Sabrang memutuskan langsung pergi saat salah satu anggota Hibata menemuinya dan mengatakan mereka telah mengetahui markas Bintang kegelapan.


Dia menghentikan langkahnya saat Candrakurama terlihat disalah satu pohon besar didekat sungai. Ada beberapa bangunan gubuk yang berada di hulu sungai.


"Yang mulia," Candrakurama menundukkan kepalanya.


"Jadi ini tempat organisasi Bintang kegelapan bersembunyi?" tanya Sabrang setengah berbisik.


"Benar Yang mulia, sepertinya Majasari sangat berhati hati, mereka bahkan tidak menempatkan organisasi Bintang kegelapan di istana untuk menghindari kecurigaan.


Namun tak semua anggota Bintang kegelapan datang kemari Yang mulia, hanya beberapa tetua dan pasukan elit mereka," jawan Candrakurama.


"Tak apa, kita akan beri mereka peringatan untuk tidak main main dengan Malwageni," Sabrang mengeluarkan pedang naga apinya sambil menoleh kearah salah satu anggota Hibata.


"Bisa ku pinjam topeng Hibatamu?"


Pendekar itu mengangguk sambil melepaskan topengnya dan menyerahkan pada Sabrang.


"Ayo pergi, saatnya memberi mereka pelajaran," Ucap Sabrang sambil memasang topeng Hibata.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


ikuti IG Author


@rickyferdianwicaksono

__ADS_1


yang ingin membantu Author dalam bentuk lain bisa melalui karyakarsa.com/ RickypakeC


__ADS_2