
"Hormat pada Gusti ratu," ucap Wardhana sambil menundukkan kepalanya saat menemui Sekar Pitaloka di ruangan raja.
"Apa kau membawa semua yang aku minta?" balas Sekar Pitaloka.
Wardhana mengangguk pelan, dia menyerahkan beberapa gulungan pada Sekar Pitaloka dan menjelaskan nama nama pejabat yang tertulis di gulungan itu.
"Mereka adalah para pejabat pendukung Adiwilaga selama ini, hamba sudah memeriksa diam diam dan ada kemungkinan mereka menggunakan keuangan kerajaan untuk kepentingan pribadi. Saat ini hamba belum memiliki cukup bukti karena pergerakan mereka sangat halus.
Jika masalah ini diselidiki akan membuat gaduh keraton karena beberapa pejabat kepercayaan Yang mulia sepertinya ikut terlibat dan mereka akan melawan dengan segala cara," ucap Wardhana menjelaskan.
Sekar Pitaloka tampak terkejut setelah membaca beberapa nama yang di duga terlibat dalam beberapa kejahatan yang merugikan Malwageni.
"Apa mereka berniat menyingkirkan Yang mulia?" tanya Sekar geram.
"Itu perkiraan hamba Gusti ratu, yang membuat mereka ragu bergerak selama ini adalah kekuatan Yang mulia, andai beliau bukan pendekar terkuat mungkin sudah lama mereka melakukan kudeta. Maafkan hamba karena terlambat menyadari rencana mereka gusti ratu, mereka sepertinya menyusun kekuatan selama hamba dan Yang mulia mengejar Masalembo," balas Wardhana pelan.
Sekar Pitaloka mengangguk pelan, dia mengerti alasan Wardhana karena kejadian ini hampir sama dengan yang dialami Arya Dwipa.
Saat itu Arya Dwipa sibuk menyelidiki Masalembo dan Guntur Api sehingga tidak menyadari beberapa menterinya berkhianat dan menjual rahasia pertahanan pada Majasari.
"Lalu apa yang akan kita lakukan?"
"Seperti yang hamba katakan, jika kita membuka penyelidikan mengenai masalah ini sekarang, mereka akan melawan dan kita tidak memiliki cukup bukti.
Hamba memiliki satu rencana untuk membuat mereka saling bermusuhan, kita akan membiarkan mereka mati perlahan tanpa ada keributan sama sekali namun hamba membutuhkan bantuan anda," jawab Wardhana.
"Katakan" balas Sekar Pitaloka cepat.
Wardhana kemudian menjelaskan rencananya secara detail termasuk siapa saja yang akan ikut terlibat didalamnya.
Sekar Pitaloka mengangguk pelan, dia kemudian bertanya beberapa hal untuk meyakinkan rencana itu akan berhasil.
"Jika anda ingin membunuh ikan didalam sebuah kolam, anda tidak perlu menghancurkan kolam itu beserta isinya karena itu akan sangat merugikan, kita hanya perlu melubangi kolam agar airnya surut dan ikan itu akan mati perlahan," ucap Wardhana pelan.
"Sepertinya kau sudah banyak berubah Wardhana, jika aku tak mengenalmu mungkin aku takut akan rencana kejam yang kau buat itu," ucap Sekar Pitaloka takjub.
"Hamba hanya ingin memastikan Malwageni tidak dirusak oleh mereka dan jika itu harus membuat hamba menjadi iblis kejam maka akan hamba lakukan tanpa ragu."
"Terima kasih atas semua kesetiaan mu pada Malwageni Wardhana, aku sangat menghargainya," ucap Sekar Pitaloka.
"Mohon jangan bicara seperti itu Gusti ratu, hamba hanya menjalankan apa yang hamba anggap benar," balas Wardhana.
"Lalu apa sudah ada kabar dari Arung mengenai keberadaan anakku?" tanya Sekar.
"Maaf gusti ratu, sampai hari ini hamba masih belum berhasil," jawab Wardhana sambil menundukkan kepalanya.
Sekar tampak kecewa mendengar jawaban Wardhana namun dia tetap berusaha menyembunyikannya karena dia tau Wardhana sudah berkerja sangat keras.
"Tidak perlu minta maaf, terus cari keberadaannya karena aku yakin dia masih hidup."
"Hamba akan berusaha sekuat tenaga gusti ratu," balas Wardhana.
"Gusti ratu tuan Rubah Putih dan nona Wulan meminta menghadap," ucap salah satu prajurit penjaga dari balik pintu.
"Suruh mereka masuk," balas Sekar Pitaloka sambil merapihkan gulungan di mejanya.
"Jalankan semua rencana yang kau buat, aku ingin mereka semua ditangkap," perintah Sekar Pitaloka.
__ADS_1
"Terima kasih Gusti ratu, hamba mohon diri," balas Wardhana sambil memberi hormat sebelum melangkah pergi.
Sekar Pitaloka mengangguk, dia menatap kepergian Wardhana sampai Rubah Putih dan Wulan muncul dari balik pintu.
"Duduklah," sapa Sekar Pitaloka pada mereka berdua.
"Sepertinya kondisi Malwageni sedang tidak baik," ucap Rubah putih basa basi.
"Kehilangan sosok Sabrang sangat mengguncang keraton walau mereka tidak tau kejadian yang sebenarnya, kami sedang berusaha kembali memegang kendali keraton," jawab Sekar Pitaloka sambil mengambil sebuah kitab dari sakunya.
"Kalian ingat kejadian saat Sabrang kerasukan Dewa Api, dia berteriak menyebut Bilah Gelombang, sepertinya kitab ini berhubungan dengan kejadian itu," ucap Sekar Melanjutkan.
"Berhubungan dengan sebuah kitab?" Wulan mengernyitkan dahinya.
Wajah Rubah Putih berubah seketika, dia menatap tak percaya kitab dihadapannya.
"Sabdo Loji? dari mana anda mendapatkannya?" tanya Wulan tiba tiba.
"Aku menemukan kitab itu di sebuah makam kuno di gunung Punthuk Setumbu saat menyelidiki tentang Guntur Api. Apa kau mengetahui tentang kitab itu?"
"Tidak, aku hanya merasa pernah mendengarnya," jawab Wulan menutupi, dia kembali teringat ucapan Wardhana untuk tidak menceritakan apa yang mereka temukan di puncak Gunung Padang.
"Gunung Punthuk Setumbu? bukankah itu gunung yang sering di sebut sebagai daratan di atas awan?" tanya Rubah Putih cepat.
"Benar, di sisi barat gunung itu ada sebuah gua menuju makam kuno, di sanalah aku menemukan kitab itu," jawab Sekar Pilatoka.
"Gunung Punthuk Setumbu berdekatan dengan Bukit menoreh, apakah ini suatu kebetulan atau...," Rubah Putih tampak berfikir sambil mengingat cerita gurunya tentang sejarah kelam yang terjadi di Bukit Menoreh.
"Di beberapa bagian kitab itu menyebutkan pusaka Bilah Gelombang. Setelah kembali dari Nagari Siang Padang, aku membaca kitab itu semalaman untuk mencari tau tentang Bilah Gelombang.
Satu yang aku pahami, kitab itu sepertinya adalah pusat dari semua ilmu kanuragan dan seni berperang yang ada di dunia persilatan namun sayang sebagian lembaran terakhir kitab itu sepertinya sudah disobek seseorang," ucap Sekar Pitaloka.
"Hilang? seingatku saat ayah menunjukkan kitab itu padaku, semua halaman masih lengkap," ucap Wulan dalam hati.
Rubah Putih tampak berfikir sejenak sebelum mengembalikan kitab itu pada Sekar Pitaloka.
"Aku akan mencoba memeriksa makam kuno itu, semoga ada petunjuk lainnya," ucap Rubah Putih.
"Berhati hatilah, karena ditempat itu juga menurut cerita seorang pendekar yang dijuluki Dewa Pedang Timur menghilang dua puluh tahun lalu atau tepat setahun sebelum Suliwa menggegerkan dunia persilatan dengan pedang Naga Apinya," ucap Sekar Pitaloka memperingatkan.
"Dewa Pedang Timur?" tanya Rubah Putih penasaran.
"Dewa Pedang Timur adalah julukan bagi seorang pendekar misterius yang saat itu memiliki kekuatan aneh namun mengerikan. Saat namanya mulai terkenal di dunia persilatan entah kenapa dia menghilang dan menurut kabar beberapa orang melihatnya di kaki gunung Punthuk Setumbu sebelum menghilang," jawab Sekar Pitaloka.
***
Sabrang membuka matanya perlahan, dia menatap sekitarnya dan tidak menemukan apapun kecuali beberapa meja kecil dengan sebuah wadah air minum diatasnya.
"Dimana ini?" ucap Sabrang sambil mencoba bangkit, namun dia mengurungkan niatnya saat merasakan sakit yang luar biasa hampir di seluruh tubuhnya.
"Senang kau kembali bodoh," ucap Naga Api dalam pikirannya.
"Jadi aku masih hidup?" tanya Sabrang lega.
"Anom, jelaskan padanya," balas Naga Api kesal.
Anom terkekeh melihat tingkah Naga Api yang seperti anak kecil.
__ADS_1
"Seseorang menyelamatkanmu dengan seluruh kekuatannya, dia merasuki tubuhmu saat kau hilang kesadaran dan mengirim kita keluar dengan jurus ruang dan waktu sebelum menyegel dimensi itu kembali. Sepertinya dia tidak ingin kehilanganmu," sindir Anom sambil terkekeh.
"Aku hanya ingin menyelamatkan diriku sendiri," balas Naga Api cepat.
"Menyelamatkan dirimu sendiri?" ejek Anom sambil tertawa.
Sabrang yang mulai mengerti hanya tersenyum kecil, dia kembali memejamkan matanya untuk mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuhnya namun tak berhasil.
"Untuk beberapa hari mungkin kau tak akan bisa menggunakan kekuatanmu, tubuhmu sudah mencapai batasnya," ucap Naga Api.
"Terima kasih Naga Api, aku tau kau akan melindungi ku," balas Sabrang pelan.
"Kau sudah sadar nak?" seorang pria muncul dari balik pintu sambil membawa tanaman obat.
"Anda?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Panggil saja aku Wahyu tama, kau benar benar beruntung masih hidup dengan luka separah itu. Saat aku menemukanmu di pinggir sungai, kupikir kau sudah mati," jawab Wahyu Tama.
"Ini dimana kek?" tanya Sabrang pelan.
"Kau tenang saja, tak akan ada yang bisa menemukanmu saat ini, bahkan jika mereka mencoba mendeteksi energi Iblis api di tubuhmu," jawab Wahyu Tama.
Wajah Sabrang berubah seketika setelah mendengar ucapan Wahyu Tama.
"Tak perlu terkejut, walau aku sudah lama mengurung diri ditempat ini tapi kemampuanku untuk merasakan energi seseorang belum pudar. Aku tidak tau bagaimana Iblis api itu berada di tubuhmu namun kau sedang memelihara mahluk yang mengerikan," ucap Wahyu Tama.
"Sepertinya kakek bukan pendekar sembarangan," sahut Sabrang.
"Pendekar? aku sudah melupakan julukan itu sejak lama nak."
"Minumlah, ramuan ini akan memulihkan tenaga dalam dengan cepat," Wahyu Tama memberikan ramuan yang baru saja dibuatnya pada Sabrang.
Setelah meminum ramuan itu, Sabrang kembali mencoba menggerakkan tubuhnya.
"Sial masih tidak bisa," umpat Sabrang kesal.
"Tubuhmu masih sangat lemah akibat luka dalam yang kau derita, sebaiknya jangan terlalu memaksakan diri sebelum kau benar benar pulih," ucap Wahyu Tama sambil memeriksa tangan Sabrang.
"Aku harus cepat kembali ke Malwageni, mereka pasti sangat khawatir," balas Sabrang pelan.
"Malwageni?" tanya Wahyu Tama terkejut.
Sabrang mengangguk pelan, "Apa kakek pernah ke Malwageni?"
"Tidak, aku hanya teringat pada seorang wanita yang pernah tinggal bersamaku ditempat ini. Dia kutemukan di lereng gunung sedang terluka parah, jika aku tidak salah ingat, dia juga mengatakan berasal dari Malwageni," jawab Wahyu Tama.
"Ibu?" ucap Sabrang dalam hati.
"Lukamu sudah membaik, sepertinya energi Iblis api mempercepat penyembuhannya, dalam beberapa hari kau akan bisa menggunakan kembali tenaga dalam," ucap Wahyu Tama.
"Terima kasih kek," balas Sabrang sopan.
"Aku akan mencari tanaman obat untukmu di hutan, sebaiknya kau beristirahat," Wahyu Tama melangkah keluar dengan wajah bingung.
"Benar dugaan ku, Kitab Sabdo Palon bereaksi saat berada didekat anak itu," ucap Wahyu dalam hati.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Vote jika menurut kalian PNA menarik