
Sabrang memunculkan puluhan serpihan es yang berputar di sekitar tubuhnya sebelum melemparkan kearah lawannya,
"Jurus es?" pendekar misterius itu berusaha menangkis serpihan es itu dengan pedangnya namun karena kecepatan serangan dan jumlahnya terlalu banyak, dia terpaksa melompat mundur.
"Apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan? kau hampir saja terbunuh andai aku terlambat bereaksi," ucap Sabrang khawatir.
"Yang mulia, anda..." tubuh Mentari lemas seketika, jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya dan air matanya mengalir keluar tanpa bisa dihentikan.
Nafas Mentari terasa sesak saat melihat pria yang paling dicintainya muncul tiba tiba setelah lama menghilang, walaupun Mentari tak pernah hilang keyakinan jika Sabrang masih hidup tapi rasa khawatir selalu menyiksanya selama ini.
Sabrang menatap lembut Mentari yang masih diam mematung, muncul rasa bersalah dihatinya saat melihat wanita yang sangat dicintainya itu terus mengeluarkan air matanya.
"Jika anda berada di ibukota, mengapa tidak menemui hamba?" ucap Mentari lirih.
"Tunggulah sebentar," ucap Sabrang sambil membentuk dinding es saat pendekar misterius itu bergerak menyerangnya.
"Apa kau pikir jurus es itu mampu menghentikan serangan pedangku?" pendekar itu mengalirkan lebih banyak tenaga dalam ke pedangnya untuk menghancurkan dinding es yang menghalangi Sabrang.
"Sebaiknya kau tidak menggunakan energiku dalam pertarungan kali ini atau mereka akan langsung tau siapa dirimu," ucap Naga Api.
"Aku tau," ucap Sabrang sambil menggunakan ajian inti lebur saketi untuk menarik energi anom.
"Anom!" Sabrang menempelkan telapak tangan kanannya pada dinding es sesaat sebelum bongkahan es itu hancur seketika.
Pendekar itu tampak terkejut melihat Sabrang menghancurkan dinding esnya sendiri, namun semua kebingungannya terjawab saat belasan energi keris melesat kearahnya diantara serpihan es yang beterbangan di udara.
"Dia sengaja menghancurkan dinding es untuk menyamarkan serangannya," pendekar itu menarik serangannya cepat dan berusaha menghindarinya.
Namun betapa terkejutnya pendekar itu saat belasan energi keris sudah mengepungnya di udara. Sabrang menarik puluhan keris itu sambil bergerak mendekat.
"Sial," Pendekar itu tidak tinggal diam, dia melepaskan aura yang lebih besar dan menangkis serangan yang terarah padanya dengan sempurna.
"Gerakannya sangat cepat," Sabrang memunculkan pedang Pengilon kembar dan menyerang pendekar itu.
Suara benturan pedang terdengar setiap kali kedua pusaka mereka beradu, setelah bertukar belasan jurus di udara, Sabrang jelas terlihat lebih unggul walau belum menggunakan energi Naga Api.
Ketenangan Sabrang membaca pergerakan lawan dan mata bulannya membuat dia mampu mendesak lawannya perlahan.
Pendekar misterius itu bukan tanpa perlawanan, dia sudah mengerahkan semua kemampuan untuk mengimbangi Sabrang yang semakin cepat namun tidak berhasil.
"Tarian rajawali," Sabrang mendekat cepat bersamaan dengan lesatan energi keris yang mengikuti tubuhnya.
Ketika serangan Sabrang mengenai lawannya, sesuatu yang aneh terjadi, pedangnya seolah menembus tubuh pendekar itu.
"Bagaimana mungkin?" Sabrang tampak terkejut melihat pedangnya seolah hanya membelah udara.
Sabrang melompat mundur ketika pendekar itu menyerang balik, dia menajamkan mata bulannya untuk membaca setiap gerakan lawannya.
"Serangannya mulai melambat, apa yang sebenarnya terjadi?" Sabrang tampak bingung saat kecepatan serangan lawannya melambat dengan cepat.
"Sial, separuh tenaga dalamku terkuras karena menggunakan jurus tubuh ilusi, aku harus cepat melarikan diri. Pendekar muda ini benar benar kuat," ucap pendekar itu dalam hati.
Sabrang merubah gerakan tubuhnya tiba tiba, dia menggunakan pedang Pengilon kembar untuk menyerang balik.
Unggul jauh dalam hal kecepatan membuat Sabrang lebih mudah menekan lawannya, dia melepaskan jurus tarian rajawali sambil menggunakan ajian inti lebur saketi tingkat II.
Udara di sekitar pendekar itu menjadi padat seketika membuatnya sulit bergerak.
"Jurus dinding udara kitab Sabdo Loji? tidak, ini bukan jurus itu, udara ini memadat karena efek tenaga dalamnya, bagaimana dia bisa sekuat ini?"
__ADS_1
Beberapa sabetan pedang tepat mengenai tubuh pendekar itu sebelum aura hitam pekat tiba tiba menyelimuti seluruh area pertarungan.
"Apa lagi ini?" umpat pendekar itu kesal, dia berusaha keluar dari dinding udara itu namun betapa terkejutnya dia saat aura hitam itu membentuk puluhan energi keris di udara.
"Energi keris penghancur," Ledakan besar terjadi saat puluhan energi keris itu menghantam tubuh pendekar misterius itu.
"Dia berbeda, bukan hanya ilmu kanuragannya yang bertambah kuat tapi ketenangannya dalam bertarung membuatku kagum," ucap Siren Takjub.
"Tidak ada lagi hawa membunuh yang kadang membuatku takut. Yang mulia, apa sebenarnya yang terjadi saat anda menghilang?" Mentari tak kalah terkejut, dia melihat pertarungan Sabrang dari awal sampai berakhir.
Gerakannya begitu tenang, Sabrang bahkan mampu memaksimalkan kekuatan Anom yang selama ini seolah tertutupi oleh Naga Api, dia bisa membuat Anom terlihat jauh di atas Naga Api.
"Sepertinya dia sudah bisa menekan ego dan hawa nafsunya, dia akan semakin kuat mulai saat ini," balas Siren pelan.
"Kini aku tau kenapa kau memilihnya Naga Api, kau benar benar pintar," ucap Siren dalam hati.
"Dia berhasil kabur?" Sabrang menatap lubang besar akibat ledakan energi keris, tak ada tubuh siapapun di lubang itu. Hanya cipratan darah yang ada di dinding lubang.
Setelah memastikan pendekar itu telah pergi, Sabrang berbalik dan melangkah mendekati Mentari. Puluhan energi keris yang masih beterbangan di udara melesat kearah tubuhnya dan menyatu dengan aura hitam yang menyelimuti tubuhnya.
Aura itu perlahan menghilang bersamaan dengan mata bulan yang kembali normal.
Sabrang membuka penutup wajahnya dan tersenyum lembut pada Mentari.
"Maaf aku baru bisa menemuimu sekarang, banyak yang terjadi setelah hancurnya Gunung Padang," ucap Sabrang pelan.
"Hamba selalu percaya anda masih hidup, tak pernah sedetikpun hamba berpikir anda tewas Yang mulia," Mentari melangkah cepat dan memeluk tubuh Sabrang erat.
Mentari seolah tidak lagi perduli bahwa pria dihadapannya adalah seorang Raja Malwageni, dia terus memeluk Sabrang seolah tak ingin melepaskannya sedetikpun.
"Maafkan aku, Tari," Sabrang mengusap rambut Mentari lembut.
***
Setelah menunjukkan tanda pengenal kerajaan dan surat dari Arkantara, mereka diantar oleh dua orang prajurit Angin selatan menuju Aula utama. Tampak sepuluh orang membawa berbagai macam upeti yang akan diberikan pada Raja Malwageni sebagai hadiah.
Mereka memandang takjub bangunan bangunan megah keraton dalam sambil sesekali mengamati sekitarnya.
Setelah melewati beberapa bangunan, mereka akhirnya sampai di Aula Utama.
Wardhana tampak menyambut di depan gerbang aula bersama Paksi dan Tungga Dewi.
"Selamat datang tuan," sapa Tungga Dewi ramah.
"Terima kasih atas sambutannya ratu, maaf jika kedatangan kami sedikit merepotkan," jawab salah satu utusan itu ramah.
"Jangan terlalu sungkan tuan, sebuah kebanggan bagi kerajaan kami mendapat kunjungan dari Arkantara," Tungga Dewi kemudian memperkenalkan Wardhana dan Paksi pada para utusan itu.
"Beliau adalah tuan Wardhana, patih Malwageni dan ini adalah tuan Paksi, menteri pemerintahan."
"Senang bertemu dengan anda tuan Patih, Hamba Tama dan dia adalah Parulian. Kami adalah utusan dari kerajaan Arkantara," Tama menundukkan kepalanya memberi hormat.
Wardhana hanya mengangguk sambil tersenyum ramah, dia kemudian meminta salah satu prajurit untuk membawa utusan itu ke kamar yang telah dipersiapkan oleh Wardhana.
"Tolong bawa tuan Tama ke aula tamu untuk beristirahat dan pastikan kalian melayani dengan baik," ucap Wardhana pelan.
"Baik tuan Patih. Tuan tuan, mohon ikut denganku," Candrakurama yang mengenakan pakaian prajurit Angin selatan melangkah pergi setelah memberi hormat pada Tungga Dewi.
Tungga Dewi menatap kepergian para utusan itu dengan wajah bingung, dia kemudian menoleh kearah Wardhana untuk meminta penjelasan.
__ADS_1
"Paman menempatkan Candrakurama sebagai pasukan penjaga para utusan?"
"Seseorang memberitahu hamba untuk berhati hati pada utusan Arkantara, beliau merasa ada maksud tersembunyi dari kunjungan mereka. Hamba meminta Candrakurama berada di dekatnya untuk mengamati pergerakan mereka," jawab Wardhana pelan.
"Seseorang?" tanya Tungga Dewi penasaran.
"Maaf Gusti ratu, untuk saat ini hamba benar benar belum bisa mengatakannya tapi dia akan menemui kita secepatnya," balas Wardhana.
Tungga Dewi terdiam, dia sudah bisa menebak siap yang dimaksud oleh Wardhana karena hanya satu orang yang bisa membuat patih Malwageni itu tunduk tapi Tungga Dewi terlalu takut untuk menebak.
"Semoga tebakanku benar karena sebentar lagi putranya akan lahir," balas Tungga Dewi dengan suara bergetar.
"Paman, aku tidak ingin diganggu malam ini, tolong persiapan semua untuk pertemuan besok pagi," Tungga Dewi melangkah pergi dengan senyum merekah di bibirnya.
"Sepertinya aku sudah bisa menebak siapa orang yang kau maksud Wardhana," ucap Paksi tiba tiba.
"Aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari guru, beliau sudah kembali tapi untuk sementara waktu Yang mulia memerintahkan aku merahasiakan semuanya sampai kita mengetahui maksud kedatangan utusan Arkantara," jawab Wardhana pelan.
"Memang sangat aneh bagi kerajaan yang selama ini menutup diri tiba tiba mengirim utusan, terlebih akhir akhir ini terdengar kabar mereka mulai menaklukkan kerajaan kerajaan kecil. Jika tebakanku benar, kali ini kita akan menghadapi perang terbesar sepanjang sejarah Malwageni," balas Paksi.
"Guru juga berfikir demikian ya? lalu apa yang sebaiknya kulakukan saat menghadapi mereka besok?"
Paksi terkekeh mendengar pertanyaan Wardhana, melihat wajahnya saja dia sudah mengerti jika muridnya itu telah memiliki sebuah rencana.
"Aku tidak tau apa yang sedang kau pikirkan tapi kau harus benar benar mengelola situasi ini dengan baik. Jika kita bertempur hari ini, mereka jelas keluar sebagai pemenangnya karena kekuatan militer mereka sangat kuat sedangkan Malwageni baru saja bertempur habis habisan dengan Saung Galah.
Jika aku boleh memberikan sedikit nasehat padamu, kenali kekuatanmu terlebih dahulu sebelum mencari kelemahan musuh, karena kunci kemenangan sebuah pertempuran kadang muncul dari pasukanmu sendiri. Menghadapi musuh yang sangat kuat seperti mereka, kau harus tau *kapan saatnya me**nyerang dan kapan tidak melawan* karena sebuah pertempuran tidak akan ditentukan satu hari.
Pastikan pasukanmu siap untuk pertempuran dalam waktu lama karena itu akan menguras mental dan tenaga, saat semua detail kecil sudah kau perhitungkan, Arkantara hanya sebuah batu kecil bagi Malwageni untuk menguasai Nuswantoro dan saat ini harus kuakui hanya kau yang memiliki kemampuan untuk mewujudkan itu semua," ucap Paksi sambil menepuk pundak Wardhana.
"Kenali kekuatanmu terlebih dahulu sebelum mencari kelemahan musuh ya?" Wardhana mengangguk pelan, dia sangat mengerti maksud ucapan Paksi.
"Pengkhianat yang berasal dari pasukan kita sendiri dan membocorkan kekuatan militer pada musuh memang selalu menyebabkan sebuah kerajaan hancur. Aku akan pastikan Pasukan Malwageni bersih dari semua pengkhianat walau tangan ini harus berlumur darah," ucap Wardhana melanjutkan.
***
"Apa kau sudah lama menjadi prajurit Angin selatan?" tanya Tama tiba tiba pada Candrakurama saat menunjukkan dua buah kamar mewah untuk mereka. Dia seolah tidak terlalu tertarik dengan kamar mana yang akan mereka tempati.
"Baru beberapa purnama tuan," jawab Candrakurama pelan, dia membuka pintu kamar untuk kedua utusan itu dan mempersilahkan mereka masuk.
"Apa yang membuatmu ingin menjadi prajurit?" tanya Tama kembali.
"Hamba hanya ingin membantu kedua orang tua tuan," jawab Candrakurama.
"Membantu keluarga ya? kau adalah pemuda yang baik, semoga Malwageni memperlakukanmu dengan baik," balas Tama sambil tersenyum.
"Maaf tuan, jika tidak ada lagi yang anda perlukan hamba mohon diri. Jika waktunya makam malam, akan ada dayang yang menjemput anda," Candrakurama menundukkan kepalanya sebelum melangkah pergi.
"Kau akan menjadi kunci penaklukkan Arkantara kali ini anak muda," ucap Tama dalam hati.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Beberapa kata yang saya tebalkan seperti kenali kekuatanmu terlebih dahulu sebelum mencari kelemahan musuh dan kapan saatnya menyerang dan kapan tidak melawan, saya kutip dari seorang ahli perang terbaik yang saya kagumi bernama Sun Tzu.
Sangking kagumnya pada Sun Tzu, saya menciptakan karakter Wardhana dengan membayangkan kepintarannya. Kalau Sabrang, saya menciptakan karakter ini sambil melihat diri saya di depan cermin (Gak usah protes lu Mblo!!!).
Terakhir, saya mau ngasih tau lagi kalau PNA akhirnya ada yang dengan khilaf membuatkan Audionya. Silahkan kunjungi dengan mencari di tombol pencarian judul novelnya (Pedang Naga Jomblo eh Naga Api).
Bagi yang mendengarkan saya doakan setiap malam minggu hujan.
__ADS_1
Malem minggu, jika tidak ada halangan kitab Tuna Asmara akan muncul dari gunung Ciremai bersamaan dengan munculnya pendekar Jomblo abadi yang memiliki jurus pamungkas bernama Tebasan hati meringis saat doi bilang gak mau pacaran dulu tapi jadian sama temen lo yang mukanya agak bagusan.
Ah sudah 19 detik saya berkomentar, saatnya undur diri.....