Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Ruang Kahuripan


__ADS_3

Sabrang menancapkan pedang Naga Api di tanah untuk menopang tubuhnya yang mulai limbung, deru nafasnya menunjukkan dia sudah kehabisan tenaga dalam. Perlahan namun pasti mata bulannya mulai kembali normal bersamaan dengan melemahnya energi Eyang Wesi di kedua matanya.


Dia terus menatap kepulan debu dan bebatuan yang beterbangan dihadapannya seolah takut sesuatu akan terjadi setelah debu itu menghilang.


"Sudah berakhir....?" ucap Sabrang sambil mengatur nafasnya perlahan.


"Sebaiknya kau cepat memulihkan tenaga dalam karena aku masih bisa merasakan energinya walau lemah," sahut Eyang Wesi cepat.


"Tidak mungkin...aku yakin serangan tadi tepat mengenai tubuhnya," jawab Sabrang tak percaya.


"Aku tau ini terdengar mustahil tapi..." Eyang Wesi menghentikan ucapannya saat Tongkat Cahaya Putih kembali muncul di udara dan berputar sambil melepaskan auranya.


"Sial...jadi dia masih hidup," Sabrang mencabut kembali pedangnya dengan sisa sisa tenaganya dan mengarahkan ke atas.


"Tunggu nak, aku tidak merasakan energi Ken Panca dalam pusaka itu, sepertinya Tongkat Cahaya Putih sudah terlepas dari pengaruh Ken Panca," cegah Eyang Wesi tiba tiba.


"Kau yakin? bukankah kau tadi mengatakan masih merasakan energinya?" Sabrang masih belum menurunkan kewaspadaannya.


"Ada yang aneh... Kita harus memeriksa tubuh Ken Panca," jawab Eyang Wesi sambil mengalirkan kembali energinya ke seluruh tubuh Sabrang.


"Tapi tongkat itu..." Sabrang tampak terkejut saat Tongkat Cahaya Putih tiba tiba melesat pergi.


"Pusaka itu tidak akan pergi jauh, setelah lepas dari pengaruh Ken Panca dia akan kembali pada tuannya," jawab Eyang Wesi.


"Tuannya? Jadi maksudmu Tari masih hidup?" tanya Sabrang cepat.


"Seharusnya begitu, tapi semua tergantung dengan daya tahan tubuh wanita itu. Menarik paksa energi pusaka yang bersemayam didalam tubuh akan membuat ruh penggunanya terkurung didalam ruang dimensi pusaka itu sendiri. Jika ruh wanita itu mampu bertahan maka dia akan selamat."


"Syukurlah... Tari pasti bisa bertahan, pasti!" wajah Sabrang tampak lega, dia merasa separuh energi kembali setelah mendengar penjelasan Eyang Wesi.


"Sekarang sebaiknya kita periksa tubuh Ken Panca, semoga apa yang kurasakan kali ini salah," ucap Eyang Wesi sedikit khawatir.


Sabrang mengangguk cepat sebelum bergerak masuk kedalam pusaran debu dan melompat kedalam lubang besar yang terbentuk karena efek serangannya.


Tubuh Ken Panca terlihat hancur di dasar lubang dan hanya menyisakan beberapa bagian tubuhnya saja.


Sabrang mendekati tubuh itu dan memeriksanya perlahan, raut wajahnya terlihat sedih saat melihat tubuh leluhurnya itu hancur tak bersisa.


"Ajian ulat sutra adalah ilmu kanuragan paling jahat yang ada di dunia persilatan, dia mengambil tubuh orang lain seenaknya dan menggunakan demi kepentingan penggunanya. Kuharap setelah ini, ajian itu benar benar menghilang dari dunia persilatan," ucap Sabrang lirih.


"Sepertinya apa yang kau takutkan tidak akan terjadi, tubuhnya benar benar hancur tak bersisa," Ucap Naga Api.


"Begitu ya...Jika dia benar benar tewas lalu energi apa yang tadi aku rasakan?" jawab Eyang Wesi bingung.


"Mungkin hanya sisa sisa energinya sebelum dia hancur, aku yakin dengan serangan anak ini tadi cukup sulit bagi pendekar manapun untuk selamat," balas Naga Api.


"Semoga saja..." Namun baru saja Eyang Wesi akan menarik auranya, sebuah lubang dimensi tiba tiba terbuka dan menghisap Sabrang dengan sangat cepat.


"Lubang dimensi?" Sabrang berusaha melompat keluar dengan sisa sisa tenaga dalamnya namun na'as, lubang itu sudah tertutup kembali.


"Kakek.." teriak Sabrang panik, dia bergerak ke segala arah untuk mencari jalan keluar.


"Gerbang kesembilan... kita terkurung di tempat paling menakutkan di dunia ini, tapi bagaimana mungkin Ken Panca bisa membuka segel terakhir yang dulu di buat oleh Dewa Waktu," jawab Eyang Wesi cepat.


"Gerbang kesembilan?"

__ADS_1


***


Mata Mentari perlahan terbuka saat mendengar suara pertarungan, wajahnya tampak bingung ketika menemukan dirinya berada diantara pertarungan ratusan pendekar yang sama sekali tidak dikenalinya. Hal pertama yang dirasakannya setelah sadar adalah bau belerang yang sangat menyengat.


"Bunuh mereka semua!"


"Jangan sampai kitab Gerbang langit jatuh ke tangan mereka!"


Teriakan teriakan dari kedua kelompok yang bertarung itu membuat bulu kuduk Mentari berdiri, dia bahkan memalingkan wajahnya untuk beberapa saat ketika melihat seorang pendekar memenggal dan meminum darah lawannya.


Saling bunuh dengan cara memenggal kepala, bahkan beberapa pendekar terlihat meminum darah lawannya membuat perut Mentari menjadi mual.


Mentari bukan pendekar sembarangan, dia sudah cukup lama berkelana di dunia persilatan bersama Sabrang dan melihat banyak kematian tapi yang dilihatnya kali ini sangat menakutkan.


Para pendekar itu seperti sedang dirasuki oleh sesuatu yang haus darah, senyum mereka mengembang setiap kali berhasil membunuh lawannya.


"Apa aku sudah mati?" Mentari menatap ke sekelilingnya , dia berusaha mengenali tempat aneh itu.


Sembilan gunung tampak menjulang tinggi seolah mengurung tempat itu, hamparan padang rumput hijau yang terlihat sangat indah mulai berwarna kemerahan karena terkena darah para pendekar yang bertarung.


Pandangan Mentari terhenti disebuah batu besar yang berada tak jauh dari area pertempuran.


"Kuil Songo, Gerbang kesepuluh menuju pusat dimensi."


"Pusat Dimensi?" Mentari mengernyitkan dahinya.


"Pusat dimensi atau kami menyebutnya Ruang Kahuripan adalah sebuah tempat terlarang yang terbuka karena efek dari jurus Mengendalikan waktu yang aku ciptakan. Di tempat itulah kekuatan terbesar Alam semesta tersegel," Seorang pria setengah baya tiba tiba muncul didekat Mentari.


"Sejak kapan?" Mentari tampak terkejut, dia berusaha menggerakkan tubuhnya namun tak berhasil.


"Ruang dimensi? siapa kau sebenarnya dan bagaimana aku bisa ada ditempat ini?" balas Mentari cepat.


"Yasha Wirya atau orang lebih mengenalku dengan nama Dewa Waktu tapi kau boleh memanggilku dengan nama apapun," jawab pria itu.


"Dewa Waktu?"


"Julukan yang hebat bukan? tapi jika boleh memilih, aku akan sangat senang jika nama itu tak pernah ada."


Mentari terdiam, dia masih berusaha mencerna ucapan pria dihadapannya itu.


"Latimojong adalah sebuah peradaban yang dianugerahi oleh alam kemampuan dan kepintaran yang luar biasa. Dengan anugerah itulah kami membangun tempat ini, semua terlihat baik baik saja sampai aku kehilangan anakku karena kecerobohan diriku sendiri. Rasa bersalah dan penyesalan membuatku mengurung diri selama bertahun tahun.


"Puncak penyesalanku terjadi ketika istriku tewas, saat itu dunia seperti runtuh dan aku mulai berpikir untuk mencari cara mengembalikan mereka. Lalu terciptalah ajian Mengendalikan waktu yang sampai hari ini sangat aku sesali," lanjut Yasha Wirya pelan.


"Anda mencoba melawan kehendak alam? kematian adalah pasti dan tak akan bisa dirubah, apa yang anda lakukan hanya merusak sesuatu yang harusnya berjalan apa adanya," ucap Mentari sambil menggeleng pelan.


"Itulah kesalahan terbesarku. Kesedihan dan rasa kehilangan orang yang sangat aku cintai benar benar membuatku gila, saat itu yang terpikir dalam benakku hanya berkumpul lagi dengan mereka."


"Lalu anda berhasil?" tanya Mentari.


Yasha Wirya menggeleng pelan, "Jurus mengendalikan waktu hanya mampu memutar waktu beberapa menit, tidak lebih dan hanya bisa digunakan dua kali karena jurus itu akan menghisap habis energi kehidupan sebagai bayarannya. Dari situlah awal mula kesalahanku.


"Kegagalan yang seharusnya menjadi peringatan untukku agar menghentikan semua kegilaan ini justru membuatku terus mencari cara lain. Aku ciptakan banyak jurus baru dan menyempurnakan Ajian mengendalikan waktu untuk mengakali keterbatasan penggunaan jurus terlarang itu tapi semua berujung kegagalan."


"Mencari cara? bukankah jurus itu hanya bisa digunakan dua kali?"

__ADS_1


"Kau benar, satu tubuh manusia hanya bisa menggunakan jurus itu dua kali tapi bagaimana jika aku memiliki banyak tubuh?"


"Anda... jangan jangan..." Wajah Mentari berubah seketika.


"Kau sudah tau? apa mungkin Ajian Ulat Sutra abadi dikuasai seseorang saat ini?"


"Jadi yang menciptakan Ajian Ulat sutra adalah dirimu? Kau benar benar melakukan kesalahan besar tuan, saat ini banyak tubuh manusia tak bersalah yang dimanfaatkan oleh pengguna jurus ciptaanmu itu."


Yasha Wirya terlihat semakin merasa bersalah saat mengetahui jurus ciptaannya masih memakan korban setelah ribuan tahun dia tewas.


"Lalu apa yang terjadi kemudian? Kau tadi mengatakan jika sebuah ruangan terlarang telah terbuka akibat jurus terlarang itu?" kejar Mentari, dia mulai bisa merangkai sumber semua kekacauan selama ini.


"Ruang Kahuripan adalah pusat dari seluruh ruang dimensi yang menyerap energi alam semesta. Energi itu perlahan membentuk sebuah ruh jahat yang memiliki kekuatan mengerikan. Namun ruh itu tidak akan bisa keluar dari Ruang Kahuripan karena segel waktu alamiah menutup rapat tempat itu, setidaknya sebelum aku menciptakan jurus Mengendalikan waktu," jawab Yasha Wirya.


"Dan jurus ciptaan anda merusak segel itu?"


"Benar, efek dari jurus Mengendalikan waktu tidak hanya merusak ruang dimensi tapi juga mengikis segel alami itu perlahan hingga kekuatan roh jahat itu sedikit demi sedikit keluar dari ruang Kahuripan. Saat menyadari kesalahan itu, aku menciptakan segel waktu dan pusaka penjaga waktu untuk menekan kekuatan yang terus berusaha keluar dari ruangan itu.


Namun karena keterbatasan tenaga dalam, segel yang aku buat tidak akan bisa bertahan lama, itulah sebabnya aku meminta Pusaka Penjaga Waktu untuk mencari tuan baru yang memiliki kekuatan besar agar bisa menyegel tempat itu selamanya seperti semula."


"Yang mulia... hanya Yang mulia yang saat ini memiliki kekuatan untuk melakukan itu," balas Mentari cepat.


"Yang mulia? jadi energi yang secara tidak sengaja melemparmu masuk ke dimensi milikku bernama Yang mulia?"


"Melempar aku ketempat ini?" tanya Mentari bingung.


"Hanya orang yang diakui oleh Megantara yang bisa masuk kedalam dimensi ini, sepertinya benturan energi pusaka Penjaga waktu dan ruh pusaka milikmu secara tidak sengaja membuka gerbang dimensi milikku," jawab Yasha Wirya.


"Jadi itu yang menyebabkan aku terlempar ketempat ini," balas Mentari mulai mengerti.


"Aku tidak tau apa ini hanya sebuah kebetulan tapi harapanku kembali menguat setelah Megantara menemukan tuan barunya. Kau lihat orang orang yang sedang bertarung itu? mereka semua telah dikuasai oleh ruh haus darah yang berhasil keluar dari Kahuripan," Yasha Wirya terlihat menghitung sesuatu dengan jarinya.


"Maksud anda ruh itu sudah keluar dari Kahuripan?" tanya Mentari terkejut.


"Belum, apa yang merasuki tubuh mereka hanya sebagian kecil kekuatannya yang berhasil keluar karena melemahnya segel waktuku. Masih ada waktu sampai peradaban Maja muncul untuk mempelajari segel waktu, kalian harus menyegel tempat itu atau alam semesta akan hancur."


"Segel waktu? dimana aku harus mempelajari jurus itu?"


"Kuil Songo Gerbang kesembilan, di sanalah aku menyimpan kitab Segel waktu itu, Letak kuil itu berada di..." Yasha Wirya menghentikan ucapannya saat tubuhnya mulai menghilang.


"Gawat, energi kehidupanku sudah habis, temukan kitab itu dan pastikan..."


Mentari tiba tiba terbangun dari tidurnya, dia terlihat bingung saat melihat Ratih dan dua pendekar medis Lembayung merah menatapnya khawatir.


"Syukurlah, anda akhirnya sadar juga nona," ucap Ratih lega, dia menghentikan aliran tenaga dalam yang masuk ke dalam tubuh Mentari.


"Paman Wardhana, apa anda tau dimana paman saat ini?" tanya Mentari tiba tiba.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Candi Gedung Songo adalah nama sebuah kompleks bangunan candi peninggalan budaya Hindu yang terletak di desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Indonesia tepatnya di lereng Gunung Ungaran. Di kompleks candi ini terdapat sembilan buah candi.


Banyak orang percaya jika sebenarnya ada candi kesepuluh yang tersembunyi di alam Gaib.


Pedang Naga Api terinspirasi dari Candi Gedung Songo menciptakan Kuil Songo sebagai misteri yang akan muncul di Api di Bumi Majapahit.

__ADS_1


Terima Vote


__ADS_2