Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Sabrang vs Biantara II


__ADS_3

Suara ledakan akibat benturan tenaga dalam terus terdengar seiring dengan kecepatan Sabrang dan Biantara yang terus meningkat.


Energi Dewa api terus meluap dari tubuh Sabrang saat dia menggunakan Ajian inti lebur saketi tingkat V.


Biantara tampak terkejut dengan kekuatan Sabrang, dia tidak menyangka pemuda dihadapannya masih menyimpan tenaga dalam yang begitu besar.


"Bagaimana dia bisa sekuat ini?" umpat Binatara kesal.


Biantara diam diam meningkatkan tenaga dalam untuk memperluas dinding udaranya, melihat kecepatan Sabrang yang terus meningkat membuatnya yakin jika hanya dinding udara lah yang bisa menekan kecepatan lawannya.


Sabrang bukan tidak tau jika udara disekitarnya terus memadat, namun dia seolah tak perduli, saat ini yang ada dipikirannya adalah menunjukkan seberapa kuat dirinya dihadapan Biantara sesuai permintaan Wardhana.


Wardhana ingin menekan semangat bertarung Biantara sebelum memulai negosiasi, karena hanya itu cara untuk memaksa orang yang sangat membenci trah Dwipa itu bicara.


Sabetan pedang Sabrang kembali hanya menebas udara karena gerakannya melambat akibat dinding udara yang terus memadat.


"Jurus pedang kilat penghancur," sebuah serangan balasan hampir memotong lengan Sabrang andai dia tidak cepat menghindar.


"Naga api bersiaplah, aku tidak akan bisa mengalahkannya secepat yang diminta paman Wardhana karena dia terlalu kuat namun aku bisa meruntuhkan semangat bertarungnya sementara waktu," ucap Sabrang dalam pikirannya.


"Kau akan menggunakan matamu? jika kau salah perhitungan maka gerbang dimensi yang sudah tersegel akan rusak," balas Naga Api.


"Tidak, menarik sesuatu kedalam ruang dimensi sangat berbeda dengan jurus menghentikan waktu, itu tidak akan mengganggu ruang dimensi," jawab Sabrang.


"Menghentikan waktu akan membutuhkan energi yang sangat besar, jika dia menyadari kau melemah setelah itu maka tamatlah riwayatmu," ucap Naga Api.


"Aku harus bertaruh, aku yakin bisa mengalahkannya karena dia tidak sekuat Lakeswara tapi akan memakan waktu cukup lama dan kita tidak punya banyak waktu. Aku harus mengentikan pertarungan secepatnya atau Guntur api akan mencium pertarungan ini sebelum kita sempat bernegosiasi," balas Sabrang sambil merapal ajian inti lebur saketi tingkat akhir.


"Kau terlalu terburu buru bocah, apa kau ingat pertarungan dengan Lakeswara? tenagamu habis setelah menghentikan waktu."


"Itu harga yang pantas untuk tetap menyegel Pagebluk Lampor."


Sabrang kembali menekan, gerakan pedangnya yang semakin bervariasi memaksa Biantara bertahan namun bergerak di dinding udara tak pernah mudah.


Biantara masih mampu mengimbangi walau tidak semua serangan bisa dihindarinya.


"Dia terlalu percaya diri dengan tenaga dalamnya, aku akui kau adalah lawan terkuat yang pernah aku hadapi tapi kau salah jika aku hanya mengandalkan dinding udara," Biantara menarik pedangnya ke depan sambil merapal kuda kuda yang sangat dikenal oleh Sabrang.

__ADS_1


"Jurus itu?"


"Pedang Cahaya merah : Api Masalembo," tubuh Biantara melesat cepat kearah Sabrang, bersamaan dengan lesatan dua energi pedang.


"Walau tak sekuat milik Lakeswara namun pedang cahaya merah tetap menakutkan," Energi pedang itu berhenti tepat sebelum menembus tubuh Sabrang.


"Apa yang terjadi dengan tubuhku?" ucap Biantara terkejut saat dia merasa waktu disekitarnya berhenti.


"Pedang Cahaya merah, api masalembo," sabetan pedang Sabrang menghantam tubuh Biantara yang membuat tubuhnya terpental beberapa langkah.


Melihat Biantara terlempar, para pendekar Cakra tumapel yang sedang bertarung dengan Rubah Putih dan Candrakurama serentak menjaga jarak untuk melihat situasi.


"Kau? bagaimana bisa menguasai jurus itu?" ucap Biantara kesal saat waktu kembali berputar.


"Tenagaku langsung terserap cukup banyak, jurus menghentikan waktu benar benar mengerikan," ucapnya dalam hati sambil menyarungkan pedangnya.


Biantara mengernyitkan dahinya saat melihat sikap Sabrang.


"Aku bisa membunuhmu kapan saja dengan jurus itu, tapi bukan itu yang aku inginkan. Kudengar kau sangat membenci Lakeswara tapi satu yang harus kau pahami aku pun sangat ingin membunuhnya.


Saat ini musuh kita bukan hanya Masalembo, dan mungkin mereka sedang menuju ke keraton karena mendengar pertarungan kita. Aku ingin menawarkan kerjasama padamu untuk menghentikan Guntur Api," ucap Sabrang.


"Apa yang dikatakan Yang mulia benar, saat ini mungkin mereka sedang mengamati pertarungan kita. Percayalah, siapapun pemenang dari pertarungan ini akan berakhir di tangan Guntur Api," Wardhana melangkah mendekati Sabrang.


"Guntur api? apa kau ingin aku percaya? dendam pada Masalembo membuatku sangat menderita, apa yang mereka lakukan dengan membuangku benar benar tidak dapat dimaafkan setelah kesetiaan yang aku tunjukkan pada Masalembo.


Aku menyelidiki semua catatan Masalembo dan tidak menemukan informasi mengenai Guntur api. Kalian sama saja dengan mereka, ingin menguasai pusaka Pagebluk Lampor," balas Biantara.


"Menguasai Pagebluk Lampor? jika itu tujuan kami maka seharusnya kau sudah mati saat ini, untuk apa Yang mulia menyerang mu tadi dengan punggung pedang? bukankah akan jauh lebih mudah jika kau mati?"


Biantara terdiam, dia juga bingung dengan serangan terakhir Sabrang, harusnya saat ini tubuhnya sudah terbelah menjadi dua andai Sabrang menyerang dengan mata pedangnya.


"Kami bisa saja menghancurkan kalian semua disini andai Rakiti tidak memohon padaku," jawab Wardhana.


"Rakiti?" Wajah Biantara berubah seketika.


"Maafkan aku ketua, apa yang dikatakan tuan Wardhana benar. aku yang memohon pada mereka untuk bekerja sama," ucap Rakiti yang muncul dari salah satu bangunan.

__ADS_1


"Rakiti? kau?" wajah Biantara tampak geram setelah melihat Rakiti.


Rakiti berjalan mendekati Biantara dan mencabut pedangnya, dia kemudian mengacungkan di udara.


"Apa ketua merasakannya? tak ada sama sekali tenaga dalam yang mengalir dari dalam tubuhku. Mereka telah memusnahkan seluruh tenaga dalamku," balas Rakiti.


"Mereka?" tanya Biantara.


"Guntur Api ketua," jawab Rakiti cepat.


"Guntur api katamu?"


"Apa yang mereka katakan benar ketua, Guntur api ada dan aku yang menghadapinya sendiri. Kekuatan mereka sangat mengerikan, dan saat ini mereka mungkin sedang menuju kemari karena tujuan mereka adalah membuat kita saling bertempur dan membunuh siapapun pemenangnya," jawab Rakiti.


"Sejak awal mereka sengaja menyulut permusuhan diantara Cakra Tumapel dan Malwageni. Saat aku menuju Trowulan sesuai perintah anda, aku tak sengaja bertemu orang orang mencurigakan di sana.


Saat itulah aku mengetahui jika mereka sengaja memancing kita dan Malwageni untuk bergerak mencari Pagebrluk Lampor. Aku mendengar sendiri mereka menyebut Pagebluk Lampor adalah sebuah wabah penyakit yang mematikan dan mereka berniat menghancurkan Nuswantoro.


Setelah itu aku tak sadarkan diri dan terbangun di Malwageni. Kami merencanakan untuk menjebak Guntur api dengan menyebarkan berita jika aku dan Rakirawa akan dihukum mati. Yang mereka inginkan saat ini adalah kita bertarung sampai mati dan mengambil semua keuntungan dari permusuhan kita.


Ketua, Pagebluk Lampor adalah sebuah wabah penyakit dan kita semua telah dimanfaatkan oleh mereka untuk membuka segel itu. Aku mohon untuk kali ini percayalah padaku, jika rencana mereka untuk menyebarkan wabah penyakit itu tidak dihentikan maka Nuswantoro akan musnah," ucap Rakiti pelan.


Biantara terdiam, dia sebenarnya masih tidak percaya dengan kemunculan Guntur Api tapi dia percaya Rakiti tidak mungkin berbohong.


"Anda boleh memilih, melanjutkan pertarungan dengan Yang mulia atau membantuku untuk menghentikan rencana gila Guntur api," ucap Wardhana.


Semua tiba tiba terdiam saat merasakan aura besar mendekat dengan cepat.


"Sepertinya mereka datang lebih cepat dari perkiraanku, aku tidak memaksamu percaya padaku karena kekuatan kami jauh lebih cukup untuk menghadapi kekuatan kalian. Aku dengan senang hati bertarung bersama kalian atau pun berhadapan dengan Guntur Api dan Cakra Tumapel bersamaan," ucap Wardhana.


"Ketua," ucap Rakiti pelan.


"Aku masih belum percaya dengan apa yang kalian ucapkan, tapi seperti yang kau katakan saat ini musuh kita sama. Aku akan melupakan sebentar permusuhan kita tapi setelah itu kau harus menunjukkan padaku letak Nagari Siang padang untuk memastikan jika kau tidak berbohong," ucap Biantara.


"Aku akan..." belum selesai Wardhana bicara sebuah energi pedang melesat kearah mereka.


"Menghindar," Sekar Pitaloka muncul bersamaan dengan bongkahan es yang melayang dan berputar mengikuti gerakannya.

__ADS_1


"Dinding es dewa abadi," Ledakan besar terjadi saat energi pedang menghantam dinding es Sekar Pitaloka.


"Kuat sekali," tubuh Sekar pitaloka terlempar akibat efek ledakan.


__ADS_2