Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pendekar Wanita Celebes II


__ADS_3

"Maaf atas kelancangan adik seperguruanku". Arung menundukan kepalanya sambil memaksa adiknya ikut menunduk.


"Aku tidak salah kak, dia mencuri lihat saat aku berlatih". Emmy membela diri.


" Emmy!". Bentak Arung pada adiknya.


"Tidak apa apa, apa yang dikatakannya benar alu tidak sengaja melihatnya berlatih". Sabrang merasa tidak enak melihat mereka bertengkar.


"Bukan seperti itu maksudku, tidak mungkin seorang pengguna Naga api mencuri ilmu sekte kecil seperti kami". Arung masih tidak enak hati pada Sabrang.


Emmy tersentak kaget mendengar Arung menyebut Naga api. Pengguna Pusaka terkuat dari tanah Jawata yang kemarin menyelamatkan sektenya ternyata masih sangat muda bahkan seumurannya.


"Sudah, lupakan. Aku tidak mempermasalahkannya".


"Kakak mencariku?". Emmy mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Iya guru memanggilmu, ada yang ingin dia bicarakan".


"Denganku?". Emmy mengernyitkan dahinya heran.


"Benar, ayo ikut denganku". Ajak Arung.


"Anda juga mari ikut denganku, tuan adipati sedang bertemu guru".


Sabrang mengangguk pelan dan mengikuti dari belakang.


***


Wardhana langsung berdiri dan berlutut ketika melihat Arung datang bersama Sabrang.


"Hormat pada Yang mulia". Ucap Wardhana pelan.


"Bangunlah paman, tak usah terlalu formal".


"Yang mulia?". Emmy mengernyitkan dahinya dan menoleh kearah Arung meminta penjelasan.


"Dia adalah putra mahkota salah satu kerajaan ditanah Jawata". Bisik Arung.


"Pantas saja sikapnya seenaknya, anak Raja". Umpat Emmy dalam hati.


"Emmy duduklah kemari, tuan adipati ingin meminta bantuanmu menggambar suasana hutan kabut awan". Panggil Malewa.


"Hutan kabut awan?". Tanya Emmy bingung.


Malewa lalu menceritakan maksud kedatangan para pendekar dari tanah Jawata itu dan kemungkinan gerbang menuju kota emas berada di hutan Kabut awan.


Emmy mengangguk setelah mendengar penjelasan gurunya. Tangan mungilnya mulai menggambar diatas gulungan Wardhana, sesekali dia terlihat berfikir dan mengingat kembali keadaan hutan itu.


Emmy memang pernah beberapa kali masuk hutan itu saat belajar ilmu kanuragan, dia merasa konsentrasinya bisa berlipat jika berada ditempat sunyi. Namun dia tidak menyangka sedikitpun tempat itu merupakan pintu masuk kota legenda Wentira.


"Jika tuan mencari tanaman sejenis bambu, aku melihatnya di pinggir jurang ini dekat dengan sebuah jembatan hantu yang sudah putus". Tunjuk Emmy pada salah satu gambarnya.


"Jembatan hantu?". Wardhana mengernyitkan dahinya.


"Kami menyebutnya jembatan hantu karena tidak ada yang benar benar pernah melihatnya namun beberapa orang pernah memberi kesaksian jika mereka melihat sebuah jembatan yang sudah putus dijurang itu". Arung memberi penjelasan.


"Apa kau pernah melihatnya nona selama berada dihutan itu?".

__ADS_1


Emmy menggeleng pelan "Selama aku berlatih disana, jembatan itu tak pernah muncul".


"Menarik". Gumam Wardhana pelan.


"Hanya ini yang bisa aku gambarkan tuan, namun apakah tidak apa apa jika anda kesana saat hutan itu dijaga para pendekar Lereng merah darah?".


"Tidak apa apa, gambarmu akan sangat membantuku untuk membuat rencana".


"Guru, izinkan aku ikut". rengek Emmy pada gurunya.


"Emmy misi kali ini akan sangat berbahaya, aku tidak mau kau dalam bahaya. Aku akan merasa bersalah pada mendiang kedua orangtuamu jika terjadi apa apa denganmu". Malewa menggeleng pelan.


"Guru, hanya aku yang mengenal hutan itu, aku yakin bisa membantu".


Malewa menarik nafas panjang, dia paling mengerti sifat keras kepala Emmy. Jika dia mempunyai keinginan maka akan sulit dicegah.


"Baiklah, tapi aku tidak mengizinkanmu jauh dariku selama dihutan itu".


"Terima kasih guru". Raut wajah Emmy terlihat bersemangat. Wajah cantiknya terlihat makin bersinar saat senyum terbentuk dibibirnya. Hal inilah yang dari tadi menjadi perhatian Sabrang.


"Besok sebelum matahari terbit kita berangkat, jangan sampai kau terlambat".


"Baik guru".


***


Suasana malam sekte Naga langit yang berada diatas gunung sangat gelap dan hening yang diperparah dengan tertutupnya bulan malam itu.


Semua anggota sekte sepertinya sedang mempersiapkan perjalanan besok menuju hutan kabut awan.


"Anom". Sabrang menarik keris diudara dan mengarahkan ke tanah. Keris itu tampak melesat dengan kecepatan tinggi dan menancap ditanah sebelum kembali menghilang menjadi aura hitam.


"Apakah tidak sulit mengendalikan dua pusaka sekaligus?". Suara Emmy mengagetkan Sabrang.


"Apakah tindakanmu ini juga mencuri lihat?". Ejek Sabrang sambil menarik kedua pusakanya dan menghilang ditubuhnya.


"Pusaka itu masuk ketubuhnya?". Gumam Emmy dalam hati.


"Aku hanya sedikit terganggu dengan suara pedang beradu dan kemari untuk melihatnya".


Sabrang tersenyum kecil sebelum duduk disebuah batu untuk mengatur kembali nafasnya.


"Apakah tidak sulit mengendalikan pusaka terkuat Naga api?". Emmy kembali mengulangi pertanyaannya dan duduk disebelah Sabrang.


Sabrang menggeleng pelan "Jika kau sudah merasa menyatu dengan pedangmu maka tak ada jurus yang sulit kau kuasai. Kau harus menganggap pedangmu sebagai temanmu karena hanya pedang itu yang dapat menyelamatkanmu dalam pertarungan". Tunjuk Sabrang pada pedang digenggaman Emmy.


"Menyatu?". Emmy terlihat bingung.


"Jurus pedangmu tadi sangat mematikan namun kau masih terlihat kaku dan terlalu banyak berfikir, hal itu yang membuatmu sedikit lambat".


"Boleh kupinjam pedangmu?". Sabrang mengulurkan tangannya.


Emmy mengangguk pelan dan menyerahkan pedangnya.


Sabrang mengambil beberapa kayu bakar dan membakarnya dengan api yang muncul ditangannya. Dia ingin membuat perapian sebelum menunjukan sesuatu pada Emmy.


"Sepertinya kau tidak membutuhkan batu untuk menyalakan api". Ejek Emmy sambil tersenyum.

__ADS_1


"Daripada berfikir, ilmu pedang lebih menitikberatkan pada insting. Biarkan instingmu menuntun gerakan apa yang harus kau gunakan saat itu. Jika kau menyatu dengan pedangmu maka tubuhmu akan mengeluarkan semua kemampuan yang tersembunyi". Sabrang memperagakan jurus pedang milik Emmy.


Emmy tersentak kaget melihat gerakan Sabrang. "Bagaimana dia bisa menguasai jurus pedang kabut milikku?".


Emmy menatap takjub gerakan pedang yang diperagakan Sabrang. Kecepatan, ketepatan dan posisinya benar benar sempurna.


"Semoga bisa membantumu berkembang". Sabrang menundukan kepalanya sebelum menyerahkan pedang pada Emmy dan melangkah pergi.


"Bisakah kau temani aku sebentar?". Suara parau Emmy menghentikan langkah Sabrang. Ada rasa sedih terkandung disuaranya.


Sabrang terlihat sedikit bingung menatap Emmy, gadis kasar yang tadi menyerangnya kini terlihat murung.


"Baiklah, toh aku sudah terbiasa tidur dialam terbuka". Sabrang berjalan mendekat dan duduk kembali disebelah gadis itu.


"Aku minta maaf karena menyerangmu tadi". Ucapnya pelan.


"Tak usah dipikirkan, aku akan melakukan hal yang sama jika berada diposisimu".


"Ayah dan ibuku adalah sepasang pendekar dari sekte Naga langit, mereka dibunuh para pendekar lereng merah darah tepat di hutan kabut awan. itulah sebabnya aku sering datang kesana untuk mengingat mereka. Orang tuaku terbunuh saat menyelidiki hutan itu, mereka sangat percaya jika kota emas itu benar benar ada. Kini kau datang juga demi kota itu, apakah sepenting itu kota emas bagi kalian?".


Sabrang menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia bingung harus menjawab apa.


"Orang tuaku dibunuh saat aku baru lahir, ketika aku mulai mengetahuinya dendam dalam diriku berkobar saat itu. Aku ingin menguliti orang orang yang membunuh orang tuaku namun perlahan aku sadar akan satu hal. Kekuatan besar mengandung tanggung jawab yang besar juga. Dan kau tau? orang yang membunuh orang tuaku kini bersamaku untuk mencoba menghentikan kekacauan dunia persilatan.


Apa yang ada didalam kota emas itu bisa membahayakan seluruh dunia persilatan termasuk kita, aku merasa memiliki tanggung jawab untuk menghentikan semuanya dan melindungi dunia ini demi orang orang yang berarti dalam hidupku. Hanya itu tujuanku mencari kota emas".


Emmy menoleh kearah Sabrang dan menatapnya, terlihat wajah tampan yang siang tadi hampir dibunuhnya. Sesuatu terjadi saat itu, Emmy merasa jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya. Wajahnya memerah seperti terkena serangan tenaga dalam.


Dia kembali membuang wajahnya demi menutupi rasa gugupnya.


"Kekuatan besar mengandung tanggung jawab yang besar ya? kata kata itu keluar dari mulut ayahku sebelum ditemukan tewas dihutan itu".


"Kau harus bangga pada mereka, mereka menggunakan kelebihannya untuk membantu sesama".


"Begitu ya?". Emmy memberanikan diri meletakkan kepalanya dibahu Sabrang. Sudah lama dia menanggung beban dendam kedua orang tuanya dan baru kali ini dia merasa lega setelah mendengar ucapan Sabrang.


Sabrang semakin serba salah karena jarak antara keduanya sangat dekat, dia bahkan bisa mendengar detak jantung Emmy yang semakin kencang.


"Apakah seorang Raja selalu memiliki selir banyak?". Tanya Emmy tiba tiba.


"Hah?". Sabrang mengernyitkan dahinya bingung dengan pertanyaan Emmy.


"Jawab saja!". Ucap Emmy sedikit kesal.


"Bagaimana aku bisa tau, aku besar dan tumbuh dalam pelarian bersama guruku namun kudengar ayah memiliki satu selir".


Emmy terlihat tersenyum mendengar jawaban polos Sabrang. Dia kemudian memejamkan matanya, untuk pertama kalianya dia tidur dengan damai tanpa dihantui dendam kedua orang tuanya. " Terima kasih". Gumamnya sebelum terlelap dibahu Sabrang.


***


Suara Arung membangunkan Sabrang dari tidurnya. Dia menoleh kearah Emmy duduk semalam dan tidak menemukannya.


"Dia sudah pergi untuk bersiap dengan wajah memerah, kau benar benar dalam bahaya". Ejek Arung terkekeh sambil mengingat dua wanita yang saling bertarung demi menarik perhatiannya.


Sabrang terlihat bingung mendengar ucapan Arung.


"Dasar bodoh! Sudahlah, ayo bersiap guru sudah menunggu didepan. Kita harus cepat menuju hutan kabut awan karena kabar yang kudengar Ketua Lereng merah darah sampai datang sendiri ke hutan itu, sepertinya mereka sudah menemukan petunjuk penting". Ajak Arung.

__ADS_1


__ADS_2