
Mentari mencabut pedang yang dari tadi terselip di punggunya, dia yakin pertarungan ini akan berat sebelah. Puluhan pendekar bertopeng bermunculan dari balik pohon namun mereka masih mengamati seolah mereka dipersiapkan untuk sesuatu.
"Apa yang mereka lakukan diatas sana?". Mentari menggigit bibirnya. Dia memperkirakan ada tiga puluh pendekar misterius yang menatapnya tajam dari balik pohon.
"Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak ikut campur namun kau terlalu keras kepala tanpa mengukur kemampuanmu. Masih ada waktu untuk mundur dan aku akan melupakannya". Jagratara mencabut dua pedang dan memutarnya dikedua tangannya.
"Aku sudah bosan mendengar ancamanmu". Mentari bergerak cepat kearah Jagratara diikuti bayanang hitam di tanah yang melesat kearah bayangan Jagratara.
Jagratara menggeleng pelan "Kau pikir segel mainanmu akan berfungsi padaku?". Jagratara menyambut serangan Mentari tanpa rasa takut. Jagratara bergerak lincah menghindari bayangan Mentari yang mencoba menangkapnya dari belakang sambil sesekali memberikan serangan cepat kearah Mentari.
"Bagaimana dia bisa menghindari segel bayanganku dengan mudah, seolah dia memiliki mata dipunggungnya". Mentari terus meningkatkan kecepatan serangannya diikuti bayangannya terus berusaha menangkap bayangan milik Jagratara.
"Segel itu benar benar merepotkan". Tiba tiba terjadi perubahan aura ditubuh Jagratara. Hampir semua menoleh kearahnya saat aura hitam menyelimutinya.
Mentari terlihat menjaga jarak setelah merasakan aura menekannya.
"Ini tidak baik, aku harus segera mengalahkannya". Mentari memutuskan menggunakan seluruh kekuatannya. Mentari memang menyimpan sebagian tenaga dalamnya karena khawatir para pendekar misterius itu ikut menyerang namun melihat aura Jagratara yang berubah tiba tiba dia terpaksa bertarung dengan seluruh kekuatannya.
Mereka kembali bertukar jurus diudara, semua mata menatap kagum pertarungan itu termasuk para pendekar misterius yang dari tadi belum bergerak sama sekali.
"Tinju racun pelebur sukma". Mentari melancarkan serangannya saat melihat celah yang terbuka lebar.
Mentari cukup yakin serangannya mengenai sasarannya. Saat tinjunya tepat mengenai sasarannya tiba tiba Jagratara mengayunkan pedangnya kearah Mentari. Andai Mentari tidak bereaksi cepat dengan memutar tubuhnya maka kepalanya sudah terpisah dari tubuhnya.
Saat Mentari kembali mengatur kuda kudanya tiba tiba Jagratara sudah muncul dihadapannya.
"Pedang kembar awan hitam". Jagratara mengayunkan pedangnya sekuat tenaga. Beruntung Mentari masih mampu bereaksi dengan mengangkat pedangnya menangkis serangan itu. Mentari terpental cukup jauh dengan senyum merekah diwajahnya.
Bayangan hitamnya yang dari tadi berusaha menyentuh bayangan Jagratara akhirnya berhasil menyentuhnya.
"Kena kau". Mentari bangkit dan mulai mengalirkan racun raja kalajengking kebayangannya.
"Sudah kukatakan padamu mainan ini tak akan berhasil padaku". Tepat setelah selesai berbicara Jagratara menghilang dari pandangan dan bergerak cepat menyerang Mentari.
"Bagaimana bisa dia lepas dari segel bayangan?". Mentari melompat menyambut serangannya yang terarah padanya.
Saat Mentari kembali berbalas jurus dengan Jagratara, dari luar puluhan murid Astaguna berlari masuk.
"Ketua apa yang terjadi?". Salah satu muridnya menatap heran pertarungan Mentari dengan Jagratara. Walau Mentari terlihat mulai tersudut namun gerakannya tak pernah melambat dan terus berusaha menekan sambil sesekali melompat mundur ketika serangan cepat Jagratara hampir mengenainya.
"Mundur". Astaguna berteriak lantang. Belum sempat mereka mencerna maksud Astaguna puluhan pendekar misterius yang dari tadi hanya melihat kini bergerak cepat kearah mereka.
"Gunakan segel bayangan". Salah satu murid menyadari kedatangan puluhan pendekar itu namun segel itu tak pernah terbentuk karena mereka semua roboh ketanah meregang nyawa dengan luka pedang di tubuhnya.
Astaguna menggeleng pelan, dia menatap tajam Jagratara penuh amarah.
"Kau benar benar sudah keterlaluan Jagratara".
__ADS_1
Mentari yang sempat melihat gerakan pendekar itu bergidik ngeri, dia yakin beberapa detik lalu mereka masih berada diatas pohon bagaimana bisa mereka bergerak secepat itu.
"Jangan alihkan pandanganmu saat bertarung denganku". Satu pukulan Jagratara cukup membuat Mentari terdorong beberapa langkah.
Bayangan Mentari kembali berhasil menyentuh bayangan Jagratara namun lagi lagi Jagratara berhasil lepas sesaat sebelum Mentari mengalirkan racunnya.
"Reaksi tubuhnya benar benar cepat, dia seolah memiliki mata diseluruh tubuhnya". Mentari mencoba mengatur nafasnya.
***
"Gua ini seperti tak ada ujungnya". Sabrang mendengus kesal. Sudah berjam jam mereka berjalan namun mereka belum menemukan tanda tanda ujung gua.
"Bersabar sedikit, kalau kita kembali sekarang bagaimana jika pintu keluarnya berada di ujung sana". Ciha berkata pelan sambil menggoreskan batu di dinding gua.
Dia pun kurang yakin dengan jalan ini namun tidak ada pilihan bagi mereka untuk tidak melankutkan. Satu gua tersisa ikut roboh akibat ledakan pedang Sabrang.
"Apa yang kau lakukan?". Sabrang mengernyitkan dahinya saat melihat Ciha beberapa kali menggoreskan batu di dinding gua.
"Aku hanya membuat tanda". Ucap Ciha singkat.
Sabrang tak melanjutkan pertanyaannya walaupun dia masih bingung tanda apa yang dibuat Ciha.
"Kau sudah pernah ke Dieng?". Sabrang bertanya pada Ciha. Dia memutuskan membunuh kebosanannya dengan berbincang dengan Ciha.
"Sudah, beberapa kali ketua mengajakku kesana menemaninya".
"Memastikan tempat itu tetap tersembunyi".
"Kenapa harus disembunyikan sedangkan kalian bisa bebas keluar masuk ke sana?".
Ciha menghentikan langkahnya sesaat dan menatap Sabrang. Dia menunjukan tangan kirinya yang sudah tidak memiliki jari kelingking.
"Aku menggigit jari kelingkingku sampai putus saat berada di Dieng".
Sabrang sedikit terkejut dengan penjelasan Ciha, bagaimana dia bisa melukai dirinya sendiri.
"Semenakutkan itukah tempat itu?". Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Aku menggigit jariku sampai putus saat menyentuh sebuah pedang yang tertancap di batu, aku melupakan pesan Ketua untuk tidak meyentuh pusaka apapun yang muncul dihadapanku namun sebuah pedang kecil berwarna emas membuatku tertarik.
Saat tanganku menyentuh pedang itu tiba tiba sesuatu masuk dengan cepat dari dalam pedang itu. Tiba tiba yang ada dipikiranku saat itu hanya bertarung dan bertarung.
Ketua menyadari aku kerasukan pusaka itu dan mencoba menghentikanku dengan segel 4 unsurnya namun kekuatan pusaka itu terlalu kuat. Saat aku hampir membunuh ketua, aku memutuskan untuk menggigit jari kelingkingku untuk mengambil kembali kesadaranku". Ciha terlihat menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.
"Tulisan tuan panca yang terukir disebuah batu di gerbang pertama Dieng mengatakan jika kesalahan terbesar tuan panca selama hidupnya adalah menemukan tempat itu. Ada banyak misteri yang bahkan tuan panca sendiri tidak bisa pecahkan mengenai tempat itu termasuk munculnya pusaka pusaka sakti yang entah dari mana dan siap merasuki siapapun yang menyentuhnya.
Konon saat tuan panca menciptakan 5 pusaka terkuat Dieng itupun dia dalam keadaan tidak sadar atau dirasuki oleh sesuatu".
__ADS_1
"Dirasuki sesuatu?". Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Itu yang kubaca di batu peringatan yang ditulisnya. Aku tidak tau apa yang kau cari disana namun tempat itu benar benar berbahaya apalagi untuk pendekar sepertimu. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika kau dirasuki dan menggunakan jurus yang baru kau pelajari. Kau akan menjadi malapetaka bagi dunia persilatan. Jangan sentuh apapun saat kau masuk kesana". Ciha memperingatkan Sabrang.
"Tapi....". Belum selesai Sabrang bicara tiba tiba Ciha menendang sebuah batu dihadapannya.
"Sial". Ciha mengumpat keras.
"Hei, apa terjadi sesuatu?". Tanya Sabrang.
Ciha menunjukan goresan yang tadi digambarnya sepanjang perjalanan.
"Kita hanya berputar dan kembali ketempat semula, ini goresan yang kubuat pertama tadi".
"Bagaimana bisa? bukankah hanya ada satu jalan? harusnya jika kita terus jalan kita akan menemukan ujung gua".
"Ini semacam segel untuk mengacaukan siapapun yang mencoba masuk kesini. Aku benar benar meremehkan tempat ini, sepertinya butuh waktu untuk kita keluar dari sini". Ciha menghempaskan tubuhnya kesebuah batu. Raut wajahnya benar benar buruk.
"Teman temanku mungkin tidak punya banyak waktu" Sabrang kembali melangkah menyusuri gua.
"Percuma! kau akan kembali ketempat semula". Ciha berteriak pada Sabrang.
"Lalu kita hanya akan duduk seharian meratapi nasib disini?". Suara Sabrang meninggi.
"Aku juga mengkhawatirkan sekte bintang langit, jika tuan Daniswara ingin menghancurkan bintang langit kaulah satu satunya harapan kami. Aku akan membawamu keluar dari sini namun biarkan aku berfikir sejenak". Ciha memejamkan matanya. Dia tidak tau harus memulai dari mana untuk mengatasi masalah yang mereka hadapi.
***
Jagratara tiba tiba mundur agak jauh padahal serangan serangan cepatnya mampu membuat Mentari terpojok. Tangan kirinya memberi tanda pada para pendekar bertopeng untuk bersiap bertarung.
"Aura ini benar benar menekanku, siapa pemilik aura ini". Raut wajah Jagratara tiba tiba berubah.
"Tak kusangka sekte bintang langit merupakan tempat persembunyian para pengecut". Lingga terlihat melayang diudara. Aura hitamnya menekan semua yang berada dilokasi pertarunga.
Beberapa pendekar bertopeng bahkan refleks mundur selangkah setelah melihat seorang pendekar melayang diudara. Hanya orang yang memiliki tenaga dalam sangat besar yang mampu melayang diudara.
"Kau baik baik saja?". Lingga berbicara pada Mentari setelah kedua kakinya menapak ditanah.
Mentari mengangguk pelan "Kau lama sekali".
"Maaf, racunmu benar benar merepotkan". Lingga tersenyum dingin. Sebuah senyuman yang untuk beberapa saat membuat Mentari takut.
"Mari kita bicara baik baik tuan, aku yakin semua hanya kesalahpahamanku dengan nona ini". Jagratara mencoba menghindari bertarungan dengan Lingga setelah melihat kekuatannya. Walaupun Jagratara bisa memenangkan pertarungan, dia yakin akan terluka parah.
"Aku tak pernah suka menyelesaikan masalah dengan berbicara". Sesaat setelah bicara Lingga menghilang dari pandangan dan muncul didekat salah satu pendekar bertopeng.
"Tarian Iblis Pedang". Lingga mengayunkan pedangnya dengan cepat. Beberapa detik kemudian pendekar bertopeng itu roboh ditanah dengan kepala terpisah dari tubuhnya tanpa sempat bereaksi.
__ADS_1
"Cepat sekali". Jagratara menggenggam erat kedua pedangnya.