Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Peramal Tongkat Cahaya Putih


__ADS_3

"Tetua tolong tanyakan siapa yang mengizinkan tiga pemimpin dunia tinggal disini, mereka sudah lama tinggal ditempat ini dan mengisolasi diri, cukup aneh membayangkan mereka langsung menerima kehadiran orang asing," ucap Wardhana pelan.


Wulan tampak bingung dengan pertanyaan Wardhana namun dia tetap menanyakan pada Kusna.


"Gropak Waton adalah sebuah kerajaan, jika tuan Agung telah memberi perintah maka semua akan mengikutinya, kurasa tanpa izinnya mereka bertiga tak akan bisa tinggal disini," jawab Kusna pelan.


Wulan kemudian menyampaikan apa yang diucapkan Kusna padanya.


"Apa kau mengetahui sesuatu?" tanya Wulan penasaran.


"Anda pernah mendengar legenda pertapa sakti pemilik tongkat cahaya putih?" Wardhana balik bertanya.


"Legenda tongkat cahaya putih? Peramal sakti yang meramalkan kemunculan tiga pendekar sakti yang akan menyelamatkan dunia dari kehancuran. Bukankah itu hanya legenda?" ucap Wulan bingung.


Wardhana menggeleng pelan, dia mengambil sebuah tongkat kecil yang berada didalam peti mati itu dan menunjukkan pada Wulan.


"Sepertinya cerita itu bukan hanya legenda, Rakin Aryasatya lah sang peramal itu," jawab Wardhana pelan.


Wulan tersentak kaget saat melihat sebuah tongkat kecil berwarna putih dengan corak emas di beberapa bagian.


Cerita peramal tongkat cahaya putih sudah menjadi legenda di tanah Nuswantoro, cerita ini sangat digemari oleh anak anak saat itu. Karena cerita inilah banyak yang bercita cita menjadi seorang pendekar sakti dan berharap merekalah tiga pendekar ramalan itu.


"Lalu apa hubungan tongkat itu dengan semua ini?" tanya Wulan.


"Sang peramal itulah yang menciptakan semua kekacauan ini, jika perkiraan ku benar akan menjadi sebuah ironi bagi Rakin Aryasatya," jawab Wardhana.


"Maksudmu?" Wulan mengernyitkan dahinya.


"Rakin Aryasatya lah yang meramalkan kehancuran dunia dan kehadiran tiga pendekar penyelamat dunia itu. Mungkin dia ingin membantu menyelamatkan dunia yang diramalkannya hancur.


Kemunculan tiga orang penguasa dunia yang memiliki kelebihan masing masing itu membuat dia yakin merekalah tiga pendekar dalam ramalan itu. Atas izin Rakin, mereka bisa tinggal disini selama bertahun tahun.


Rakin mengajari semua ilmu kanuragan yang dimiliki pada mereka bertiga, namun ternyata keputusannya salah. Mereka yang dia persiapkan untuk menyelamatkan dunia justru menjadi malapetaka.


Para pemimpin dunia itu justru membunuh dia dan semua penduduk Gropak Waton. Sebuah ironi saat seumur hidupnya di habiskan untuk menyelamatkan dunia, dia tanpa sadar menciptakan iblis sesuai ramalannya. Dengan kata lain, dia meramalkan kehancuran yang dia buat sendiri," ucap Wardhana lirih.


Wulan terdiam setelah mendengar penjelasan Wardhana, tak lama dia menggeleng pelan seolah menyesali apa yang dilakukan Rakin.


"Ramalan hanya ramalan, bisa benar bisa juga salah. Harusnya Rakin tidak mendahului kehendak alam, jika memang harus muncul tiga pendekar sesuai ramalannya biarkan alam yang mengaturnya kapan mereka muncul. Memaksakan kehendak alam seperti yang dilakukan Rakin justru membuat alam murka," ucap Wulan pelan.


"Benar, dia menyangka mereka bertiga lah pendekar ramalan itu namun ternyata dia salah," ucap Wardhana menimpali.


"Jadi semua kekacauan ini berasal dari seorang pertapa yang sebenarnya ingin menyelamatkan dunia ya," Wulan tersenyum kecut.


"Tiga cahaya putih akan menyinari dunia dan menyelamatkan dari kehancuran. Menua namun muda, alam dan kobaran api akan memimpin mereka dalam kemenangan," ucap Wardhana tiba tiba.


Kalimat itu?," tanya Wulan sambil berusaha mengingat ingat.


"Benar, itulah isi ramalan dari pertapa tongkat cahaya putih. Aku pernah membacanya disalah satu kitab milik guru Paksi.


Rakin mungkin mendapat bisikan ramalan itu dari tongkat cahaya putihnya. Tiga cahaya putih mungkin digambarkannya sebagai tiga pendekar sakti yang akan menyelamatkan dunia.


Kobaran api digambarkan sebagai tenaga dalam milik trah Ampleng yang tidak terbatas dan Lakeswara sebagai pemimpinnya karena dia memiliki bakat tertinggi diantara mereka. Itulah kesalahan Rakin, dia salah menterjemahkan bisikan ramalan itu.


Dia memang orang baik namun sifat terburu buru dan angkuhnya justru membuatnya menciptakan para pemimpin dunia," Wardhana terlihat berfikir sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.


"Namun kita masih memiliki harapan untuk mengalahkan mereka sesuai ramalan itu. dia salah mengartikan Menua namun muda.


Jika perkiraanku benar maka ini menunjukkan tiga pendekar berambut putih. Kobaran api akan memimpin mereka dalam kemenangan, entah kenapa aku yakin ini mengarah pada Yang mulia dengan Pedang Naga Apinya" ucap Wardhana pelan.


"Rubah Putih dan Sabrang ya, mereka muncul alami tanpa dipaksakan, bahkan rajamu itu tak menguasai ilmu apapun sampai bertemu denganku, mungkin benar ramalan itu mengarah pada mereka," balas Wulan pelan.


"Kita tinggal mencari satu...," belum selesai Wardhana bicara, Wulan sudah memotongnya.


"Kau ingin mengulangi kesalahan Rakin? jika pendekar terakhir itu harus muncul maka biarkan alam yang mengaturnya.


Apa kau pikir pertemuan kita hanya kebetulan? aku merasa alam membimbing kita menemukan tempat ini dan memberi kita peringatan agar tidak melakukan kesalahan yang dilakukan Rakin.


Yang bisa kita lakukan sekarang adalah berusaha menemukan para pemimpin dunia dan mencoba menghentikan mereka dengan semua yang kita miliki. Hanya itu, lalu biarkan alam yang mengatur hasilnya."


Wardhana mengangguk pelan, dia meletakkan lagi tongkat cahaya putih didalam peti mati dan menutupnya kembali.


"Tempat ini harus dihancurkan dan biarkan tongkat cahaya putih terkubur selamanya disini. Aku merasa kejadian ini akan kembali terulang jika tongkat cahaya putih kembali memiliki tuannya. Seperti yang anda katakan biarkan alam mengatur semuanya, kita hanya perlu menjalani hidup dengan baik dan berusaha semampunya," Wardhana berdiri dan melangkah keluar.


"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Wulan.


"Kembali ke Malwageni dan menemukan para pemimpin dunia. Bukankah semua yang ingin kita ketahui sudah terjawab semua?" balas Wardhana sambil tersenyum.


"Aku akan membantumu sekuat tenaga, dua cahaya putih lebih baik dari satu bukan? kuharap semangat mu tidak hilang tanpa tiga cahaya putih," ucap Wulan.


"Saat aku merebut Malwageni, banyak yang menganggap aku gila karena dengan sedikit kekuatan berani melawan Majasari, dan ternyata alam mendukungku.


Aku sudah terbiasa menantang maut dengan sedikit kekuatan, jika kali ini akan terjadi lagi maka aku sudah siap mempertaruhkan semuanya kembali," jawab Wardhana pelan.

__ADS_1


"Entah kenapa aku semakin menyukaimu tuan," gumam Wulan dalam hati.


"Jadi pendekar dalam ramalan ada tiga ya bukan satu," ucap Wardhana dalam hati.


Wulan menoleh kearah Kusna yang dari tadi hanya diam.


"Tempat ini harus dihancurkan, kuharap kau bersiap untuk meninggalkan rumahmu," ucap Wulan pelan.


Kusna hanya mengangguk pelan tanpa menjawab satu patah katapun.


***


"Aryasatya?," Mentari tampak bingung dengan ucapan ayahnya.


"Benar, Rakin Aryasatya adalah leluhur kita dan namamu adalah Mentari Aryasatya," jawab Guntoro.


Airin yang berdiri sedikit jauh dari mereka tampak berusaha mencuri dengar.


"Lalu apa hubungannya dengan Yang mulia?" tanya Mentari kesal.


"Menurut cerita kakekmu dulu, leluhur kita tinggal disebuah tempat yang bernama Gropak Waton dan menjadi raja di sana sebelum kemunculan tiga orang dari luar yang membunuh mereka semua.


Tuan Angung Rakin sepertinya menyadari sesuatu dan meminta anaknya yang masih kecil untuk melarikan diri sebelum kejadian itu," jawab Guntoro.


"Aku masih tidak mengerti," jawab Mentari bingung.


"Gropak Waton dihancurkan oleh tiga orang pendekar yang diselamatkan tuan Agung dan salah satu dari mereka bernama Lakeswara Dwipa," Ucap Guntoro geram.


"Tidak ayah, setahuku Yang mulia pun berusaha menghentikan leluhurnya. Apa yang dilakukan leluhurnya bukan berarti harus ditanggung oleh keturunannya," balas Mentari.


"Menghentikannya? kau percaya? trah Dwipa sangat licik. Mereka akan melakukan apapun untuk mencapai tujuannya," jawab Guntoro kesal.


"Aku ikut berjuang bersamanya ayah, dan aku percaya pada Yang mulia sepenuhnya," jawab Mentari sinis.


"Kau!" Guntoro tampak menahan amarahnya.


"Setidaknya dia yang menyelamatkanku dan tidak sekalipun membuangku," ucap Mentari dingin.


Guntoro menarik nafas sesaat sambil memejamkan matanya.


"Baik, anggap saja rajamu berbeda dari leluhurnya, apa dia mampu menghentikan mereka? kau harus ingat tiga pendekar itu telah menguasai seluruh ilmu kanuragan milik leluhur kita, jika tuan Agung saja tak bisa mengalahkan mereka bagaimana anak itu bisa mengalahkannya?


Ayah hanya ingin hidup denganmu nak, dulu ayah meninggalkanmu karena nyawa ayah terancam. Namun kini berbeda, ayah telah menemukan tempat yang tepat untuk bersembunyi. Mereka tidak bisa dikalahkan, satu satunya cara adalah bersembunyi, ikutlah bersama ayah," bujuk Guntoro.


Ayah selalu berfikir dengan melarikan diri semua selesai? Itulah yang membuatku sangat membenci ayah," jawab Mentari.


Guntoro terdiam, dia menatap tajam Mentari.


"Penyusup ditemukan!" teriak salah satu prajurit yang muncul tiba tiba.


Wajah Mentari tiba tiba berubah, dia terlihat bingung para prajurit itu bisa menemukannya.


"Bagaimana mereka?" belum sempat Mentari berfikir beberapa prajurit sudah menyerangnya.


Mentari yang tidak membawa pedang melompat mundur sambil membentuk perisai es, dia bergerak cepat sambil menangkis serangan pedang dengan tangannya.


"Tapak Es utara," sebuah pukulan menghantam salah satu prajurit dan membeku seketika.


"Jurus es?" prajurit lainnya tampak terkejut.


"Kalian berani menyerangku?" Mentari membuka penutup wajahnya.


"Nyonya?" prajurit itu tampak bingung sesaat sebelum tubuhnya terbelah menjadi dua.


"Ayah apa yang kau lakukan? mereka prajurit ku!" teriak Mentari panik.


Guntoro tak menghiraukan teriakan Mentari, dia terus membantai prajurit Malwageni itu.


Mentari bergerak cepat, dia mencengkram pedang ayahnya dan memukul mundur dengan tapak es utara.


"Apa yang kau lakukan pada ayahmu? aku hanya membantumu!" teriak Guntoro.


"Aku tak butuh bantuan ayah! mereka adalah prajurit Malwageni," balas Mentari.


Penyusup!!! penyusup!!" teriak ratusan prajurit dari kejauhan.


"Ikutlah dengan ayah, kau bisa mati oleh ratusan prajurit itu," ajak Guntoro.


"Tidak, aku akan menjelaskan pada mereka semua. Yang mulia tak mungkin membunuhku," jawab Mentari.


"Maaf nyonya jika aku ikut bicara, apa yang dikatakan tuan itu benar, sebaiknya anda menghilang terlebih dahulu. Saat ini Yang mulia tidak ada ditempat, mereka bisa menyerang anda," ucap Airin pelan.


Mentari tampak bingung menghadapi situasi itu, dia benar benar tidak tau harus berbuat apa.

__ADS_1


"Mereka sudah mendekat," ucap Guntoro sambil menarik tangan Mentari.


"Airin, tolong sampaikan pada gusti ratu aku akan menemuinya secepatnya untuk menjelaskan masalah ini," ucap Mentari sebelum melesat pergi.


"Baik nyonya," jawab Airin pelan.


***


Perjalanan di gunung Damalung ditutup oleh Wardhana dengan menceritakan semua kenyataan yang selama ini tersembunyi didasar gunung itu.


Juga tentang siapa sebenarnya Rubah putih dan ramalan mengenai kemunculan tiga pendekar cahaya putih. Semua tampak terdiam, mereka semua tak menyangka jika semua permasalahan ini muncul akibat sebuah ramalan.


Setelah beristirahat selama dua hari, Sabrang dan yang lainnya memutuskan kembali ke Malwageni untuk menyusun rencana menghentikan Masalembo walau pendekar terakhir belum muncul.


Mereka yakin alam memiliki suatu rencana dengan tidak memunculkan pendekar terakhir itu.


Kusna memutuskan untuk ikut terkubur di dalam gunung itu, dia ingin mati bersama semua penduduk Gropak Waton.


"Kau yakin tidak ingin ikut kami?" tanya Wulan untuk kesekian kalinya saat sudah berada di gerbang keluar di pinggir jurang.


"Terima kasih nona atas perhatian anda namun aku sudah memutuskan untuk ikut terkubur bersama ayah dan yang lainnya," balas Kusna sambil tersenyum hangat.


"Baiklah, terima kasih atas bantuanmu selama ini, aku tak akan melupakanmu," ucap Wulan sebelum melompat naik keatas.


"Tolong hentikan mereka," gumam Kusna pelan sambil melihat dinding tebing kembali tertutup perlahan.


"Menjauhlah," ucap Sabrang sesaat sebelum menghancurkan batu kenteng songo dengan pedangnya.


"Dengan ini, tak ada yang bisa membuka Gropak Waton lagi," ucap Wulan pelan.


"Sebaiknya kita melanjutkan latihan lagi nak, lawan yang akan kita hadapi bukan sembarangan," ucap Rubah Putih.


Sabrang mengangguk pelan, "Paman, tolong jaga Malwageni sampai aku kembali," ucap Sabrang pelan.


Belum sempat Wardhana menjawab, Arung muncul dengan wajah letih.


"Arung?" Wardhana mengernyitkan dahinya.


"Maaf Yang mulia, ada kabar buruk yang harus hamba sampaikan," ucap Arung sambil berlutut dihadapan Sabrang.


"Kabar penting?" tanya Sabrang bingung.


"Maaf Yang mulia...," Arung terlihat takut melanjutkan ucapannya.


"Cepat katakan!" ucap Wardhana sedikit berteriak.


"Nyonya...nyonya Mentari melarikan diri dari keraton dan membunuh puluhan prajurit Malwageni," ucap Arung pelan.


Semua tersentak kaget setelah mendengar kabar yang disampaikan Arung termasuk Wulan. Dia sudah bertemu beberapa kali dengan Mentari selama tinggal di keraton, tak ada sedikitpun Wulan merasakan niat jahat dari gadis itu.


"Apa kau tau apa yang...," Wardhana menghentikan ucapannya saat Sabrang tiba tiba menyerang Arung.


Arung yang tidak siap dengan serangan tiba tiba itu tak mampu menghindar, tubuhnya terpental dan membentur pepohonan.


Belum sempat Arung bergerak, Sabrang sudah berada didekatnya dan mencengkram lehernya. Lengan kanannya mengeluarkan keris penguasa kegelapan dan menempelkan dileher arung.


"Berani bicara buruk lagi tentang Mentari, akan ku bunuh kau dengan tanganku," ancam Sabrang dingin.


"Yang mulia," Wardhana mencoba menenangkan Sabrang.


"Siapapun! siapapun yang berani bicara buruk tentangnya akan ku bunuh termasuk paman," balas Sabrang.


Wardhana terdiam, ini pertama kalinya Sabrang terlihat lepas kendali.


"Sebaiknya kau tenang bodoh, mereka semua adalah pengikut setiamu. Gadis itu pasti memiliki alasan jika melakukan itu, sebaiknya kita cari tau apa yang terjadi sebenarnya dari pada harus saling bunuh," Rubah putih mencoba menengahi.


Sabrang terdiam sebelum menarik keris dari leher Arung.


"Aku ingin paman dan Candrakurama mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Jangan coba sentuh dia sedikitpun karena lain kali tak ada yang bisa menghentikanku," perintah Sabrang.


"Baik Yang mulia," jawab Wardhana dan Candrakurama bersamaan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ada beberapa komentar menggelitik kemarin saat Airin muncul. Apakah PNA kini seperti sinetron pelakor?


Mungkin yang mengikuti cerita PNA akan menyadari bukan itu arah kemunculan Airin. Gadis yang terobsesi pada Sabrang ini hanya akan menjadi jembatan pada sesuatu yang masih tersembunyi.


Tak akan ada sedikitpun cerita percintaan Sabrang dan Airin, dan saya pastikan tak akan ada pelakor pelakoran di PNA.


Dulu ada komentar yang meminta masa lalu Mentari dan baru kali ini saya munculkan yang ternyata keturunan Rakin, sang peramal tongkat cahaya putih.


Semua ada waktunya........

__ADS_1


Terakhir, PNA sudah terlempar dari 10 besar, jika kalian merasa cerita ini bagus tolong VOTE... ojo mung njaluk crazy up teroooossss


__ADS_2