
Wajah Wardhana terlihat khawatir saat melihat kepulan asap membumbung tinggi dari dalam keraton, dia mempercepat langkahnya dan masuk dari gerbang selatan keraton.
Wajah Wardhana semakin buruk saat melihat Aula utama rusak parah dan ratusan prajurit Angin selatan sedang terdesak oleh para pendekar Lembayung Merah.
"Tidak mungkin... seharusnya tidak seperti ini rencananya, apa sebenarnya yang sedang dilakukan oleh Ciha saat ini? dia bahkan tidak melindungi keraton dengan segelnya," umpat Wardhana terkejut saat melihat semua rencananya hancur berantakan.
Wardhana pantas terkejut karena seharusnya dengan perangkap yang sudah dia buat, saat ini pasukan Angin Selatan masih bisa mengimbangi ratusan pendekar Lembayung Merah sambil menunggu bantuan dari Kontilola.
Wardhana memang sudah memperkirakan kekuatan lawan setelah mendengar cerita dari Jaya Setra tentang kehebatan Lembayung Merah yang merupakan salah satu kelompok terkuat milik peradaban terlarang, dan dia sadar pasukan angin selatan jelas bukan tandingan mereka.
Setelah diam diam berhasil bekerja sama dengan Ardhani, komandan Kelompok Lembayung Hitam Kontilola melalui Candrakurama, Wardhana membuat jebakan dengan memanfaatkan segel Kabut untuk menahan mereka sementara waktu sambil menunggu bantuan yang dipimpin Layang Yudha.
Wardhana juga meminta Candrakurama untuk membunuh Lembu Sora dan mengambil alih pasukan Angin selatan saat mereka sudah masuk kedalam perangkap.
Namun, apa yang dilihatnya saat ini jauh dari perkiraannya, rencana yang hancur berantakan dan ratusan prajurit yang bergerak sendiri sendiri membuat lawan semakin leluasa mendesak.
Candrakurama dan Ardhani yang seharusnya memimpin pasukan untuk mengulur waktu justru tidak terlihat sama sekali batang hidungnya.
Wardhana semakin dibuat bingung karena sampai detik ini dia masih belum bisa memahami apa yang menghancurkan rencananya.
Rubah Putih, Candrakurama dan Ardhani yang ditunjuk untuk menjalankan rencana besar itu bukan pendekar sembarangan, mereka tidak mungkin melakukan sebesar ini.
Ketika Wardhana masih mematung sambil mencoba memahami keadaan aneh disekitarnya, tiba-tiba dua pendekar Lembayung Merah bergerak mendekat.
"Tuan Patih, menghindar!" teriak beberapa prajurit Angin selatan panik.
Wardhana tersentak kaget, dia berusaha mencabut pedangnya untuk menangkis serangan itu namun terlambat, salah satu pendekar sudah berada di dekatnya dan menghantam tubuhnya dengan gagang pedang.
Tubuh Wardhana oleng, dia berusaha melompat mundur namun dari belakang pendekar lainnya sudah mengincar lehernya.
"Apa semua akan berakhir di tempat ini?"
Saat Wardhana sudah terlihat pasrah, semua yang ada disekitarnya tiba tiba berhenti bergerak.
"Pedang Cahaya merah : Api Masalembo," sesosok tubuh bergerak cepat dan membunuh dua pendekar yang mencoba menyerang Wardhana.
Darah segar menyembur ke udara bersamaan dengan munculnya aura membunuh yang sangat kuat dan menekan semua yang berada di area pertempuran.
"Kau berhutang satu nyawa padaku, Wardhana," ucap Lakeswara sambil menjilat pedangnya yang penuh darah.
"Tuan? bagaimana anda bisa berada di tempat ini, bukankah..."
"Aku tidak tau bagaimana menjelaskannya tapi saat dalam perjalanan ke Hutan Kematian aku seperti mendengar suara Sekar dan memintaku pergi ke keraton. Dia juga mengatakan jika Jurus terlarang mengendalikan waktu akan merusak tatanan yang ada, kau harus segera mengantisipasinya. Berpikirlah, aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi mengingat rencana yang kau buat sudah hancur," ucap Lakeswara sebelum bergerak menyerang.
"Jurus terlarang mengendalikan waktu akan merusak tatanan yang ada, kau harus segera mengantisipasinya? apa sebenarnya yang sedang anda rencanakan ibu ratu," ucap Wardhana dalam hati.
"Bentuk formasi dan hentikan orang itu!" teriak salah satu pendekar Lembayung Merah panik saat merasakan aura membunuh yang sangat besar keluar dari tubuh Lakeswara.
Lakeswara hanya tersenyum kecil sebelum mengayunkan pedangnya, dia seolah sangat menikmati pertarungan itu.
__ADS_1
"Dia tersenyum? orang itu benar benar gila," ucap Wardhana sambil menggeleng pelan.
Tak lama, dari kejauhan Arung muncul bersama ratusan pasukan Angin selatan yang awalnya ditempatkan Lembu Sora di perbatasan.
"Bentuk formasi menyerang! Kertapati, bawa sebagian pasukan ke paviliun ratu dan pastikan Gusti ratu selamat," teriak Arung.
"Baik tuan," Kertapati bersama sebagian pasukan langsung memisahkan diri dan bergerak kearah paviliun ratu.
"Maaf tuan, aku terlambat... " ucap Arung cepat.
"Apa kau bertemu Sora?" tanya Wardhana pelan.
"Dia sudah menghilang saat aku datang tuan..."
"Begitu ya... apa yang sebenarnya sedang terjadi? semua seolah bergerak berlawanan dengan rencana yang kita buat," Wardhana menarik nafasnya sambil terus berpikir.
"Tuan, sebaiknya anda pergi menjauh karena situasi kali ini sangat aneh. Aku akan mencoba membantu yang lainnya, tolong pastikan Gusti ratu selamat," ucap Arung sambil bergerak menyerang.
"Situasi aneh yang kami rasakan...Pesan Ibu ratu tentang Jurus yang merusak tatanan...Apa mungkin Ibu ratu sudah menggunakan jurus itu?" ucap Wardhana dalam hati.
Wardhana mencoba merangkai semua keanehan yang mereka alami termasuk hancurnya rencana yang sudah dia buat dengan sangat hati hati, juga tentang pesan misterius yang di dengar Lakeswara.
"Gawat, jika itu benar maka jurus itu merubah alur yang semestinya. Pantas saja semua rencana yang aku buat hancur begitu saja, aku harus segera menemukan Ciha dan menyusun ulang semua rencana," ucap Wardhana sambil berlari kearah keraton dalam.
"Kertapati, Ikuti tuan Patih dan pastikan kau melindunginya!" teriak Arung saat melihat Wardhana berlari ke keraton dalam.
"Baik tuan," Kertapati melompat mundur dan bergerak mengejar Wardhana.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan tongkat itu?" ucap Sabrang dingin, wajahnya mulai berubah bersamaan dengan meluapnya aura yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
"Maksudmu pusaka Tongkat Cahaya Putih? apa kau mengkhawatirkan wanita itu?" jawab Ken Panca sambil tersenyum mengejek.
"Dimana dia saat ini?" tanya Sabrang kembali, kali ini kobaran api yang menyelimuti tubuhnya membumbung tinggi di udara membentuk seekor Naga raksasa.
Sabrang sebenarnya hampir mengetahui jawaban dari pertanyaan itu namun dia masih berharap akan mendengar jawaban yang berbeda.
"Kau benar benar ingin bertemu dengannya? baiklah, aku akan membantumu menemui gadis itu secepatnya," ucap Ken Panca sebelum tubuhnya menghilang dan muncul tepat dibelakang Sabrang.
"Tari..." Pandangan mata Sabrang tiba tiba menjadi gelap, walau tidak menjelaskan dimana Mentari berada tapi dia sudah menebaknya. Amarah Sabrang tiba tiba meluap saat bayangan wanita yang paling dicintainya itu hadir dalam pikirannya.
"Tarian pedang Iblis tingkat dua : Hawa penghancur Iblis," Ken Panca mengayunkan pedangnya dengan sangat cepat dan mengincar leher lawannya.
Namun betapa terkejutnya dia saat kobaran api yang berbentuk Naga mengibaskan ekornya dan menghantam tubuh Ken Panca.
"Tidak mungkin...Energi pelindung Tongkat Cahaya Putih..." Ken Panca tersentak kaget saat energi pelindung Siren hancur seketika oleh kibasan ekor Naga Api dan melempar tubuhnya cukup jauh.
"Kubunuh Kalian!" suara Sabrang berubah menjadi berat bersamaan dengan matanya yang memerah.
"Naga Api, lakukan sesuatu!" teriak Anom khawatir.
__ADS_1
"Apa kau pikir aku diam saja? sisi gelapnya kembali bangkit dan kini jauh lebih kuat karena amarahnya."
Udara disekitar hutan kematian langsung naik dengan cepat, beberapa pepohonan bahkan langsung terbakar saat tersambar lidah lidah api yang menjulur dari tubuh Naga Api.
Situasi langsung berubah mencekam, puluhan pendekar yang masih bertarung langsung bergerak menjauh, mereka jelas tidak ingin mati dengan tubuh tak tersisa.
Wulan yang sejak awal sudah bisa menebak apa yang terjadi pada Mentari terlihat yang paling khawatir.
"Tantri, pergilah ke ruang ketua sekte dan periksa kondisi Mentari, sepertinya anak itu sudah mendengar kondisi selir kesayangannya. Aku akan mencoba menekan amarahnya dengan segel kegelapan abadi," Wulan bergerak mendekati Setra yang juga bingung dengan perubahan tiba tiba Sabrang.
"Nona, apa terjadi sesuatu padanya?" tanya Jaya Setra bingung.
"Tidak ada waktu menjelaskannya, apa anda menguasai segel yang bisa mengunci kekuatan seseorang?" tanya Wulan cepat.
"Segel untuk mengunci kekuatan? Ratih.. dia menguasai segel bayangan Hitam yang dulu pernah menekan kekuatan batu satam," jawab Setra Cepat.
"Temukan dia secepatnya dan bantu aku menyegel kekuatan Sabrang."
"Menyegel kekuatannya, lalu bagaimana dengan Ken Panca, hanya dia yang..."
"Cepat atau Iblis terkuat akan lepas ke dunia ini," Wulan Bergerak mendekati Sabrang dan mulai menggunakan segel mataharinya.
"Winara, bantu aku... gunakan segel apa saja untuk menghentikan Yang mulia," teriak Wulan.
"Menghentikan..." Winara tidak melanjutkan ucapannya saat melihat tubuh Wulan terlempar begitu saja dan membentur reruntuhan bangunan.
"Cepat bodoh!" teriak Wulan kembali.
"Ba..baik guru," Winara melempar tongkat kembarnya ke udara dan mulai merapal segel tanahnya.
"Semoga..."
"Duarrrr" tubuh Winara terlempar saat tongkat pusaka nya hancur terkena aura merah darah yang melesat kearah Sabrang.
Aura itu berputar di atas kepala Sabrang sebelum membentuk sebuah pedang.
"Megantara? tidak mungkin.. bukankah seharusnya pusaka itu tersegel di tempat itu.. bagaimana bisa dia..." ucap Jaya Setra terkejut.
"Tuan, apa yang terjadi padanya? dia bisa membunuh kita semua jika tidak segera menarik kekuatan Iblis Api," tanya Ratih cepat.
"Aku tidak tau tapi sepertinya aku mulai mengerti maksud nona itu. Ratih gunakan segel Bayangan Hitam untuk menekan kekuatan tuan Sabrang," balas Setra.
"Segel Bayangan Hitam?"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari ini kesibukan saya benar benar padat jadi update kembali terlambat.
Dan besok sepertinya PNA akan libur sehari andai saya tidak sempat update.. tapi tetap akan saya usahakan walau terlambat... Mohon mengerti...
__ADS_1
Untuk yang ingin ikutan Even Geger di Tanah Nusantara bisa menghubungi saya di grup Mangatoon, Instagram di rickyferdianwicaksono atau lewat kolom komentar.
Terima Gajih dan Tips wkwkwkkw