
"Keturunan trah Dwipa?" ucap Darin terkejut saat mendengar penjelasan Wulan padanya.
"Dia adalah anak dari Arya Dwipa, raja Malwageni sebelumnya," balas Wulan menjelaskan.
"Itu dapat menjelaskan matanya, tapi bagaimana dia bisa memiliki energi murni trah Tumerah?" tanya Darin bingung.
Darin memang menyadari sejak awal jika Sabrang memiliki energi murni yang meledak ledak dalam tubuhnya dan itu menjadi salah satu alasan menolaknya menjadi murid selain karena pemuda itu memiliki tubuh sembilan Naga.
Dengan tubuh Sembilan naga saja Sabrang bisa menjadi sangat berbahaya jika memilih jalan yang salah, apalagi di tambah dengan energi murni trah Tumerah.
"Ibunya...ibu Sabrang adalah keturunan terakhir trah Tumerah, itulah yang membuat tubuhnya sangat istimewa," balas Wulan.
Darin mengangguk pelan, kini dia mengerti dari mana Sabrang mendapatkan tubuh sembilan naga sedangkan dia tidak mempelajari jurus apapun yang ada di kitab Sabdo Loji.
"Sepertinya dua energi besar trah Masalembo itu membuat tubuhnya berevolusi menjadi tubuh sembilan Naga," ucap Darin pelan.
"Tubuh sembilan Naga?" tanya Lasmini bingung.
"Tubuh sembilan Naga adalah tubuh abadi yang bisa di pelajari dari kitab Sabdo Loji. Salah satu jurus di kitab itu konon bisa memaksa tubuh meregenerasi seluruh organ dalam dengan sangat cepat. Namun efeknya juga jauh lebih mengerikan, itulah sebabnya kami menyebutnya tubuh kutukan," balas Darin sambil menjelaskan efek dari tubuh itu.
"Yang mulia memiliki tubuh itu?" kejar Lasmini.
"Aku menyadarinya saat dia menemui aku di Gunung sinabung untuk mempelajari kitab pedang Sabdo Palon, itu menjadi salah satu alasan aku menolaknya," jawab Darin cepat.
"Tunggu dulu, anda mengatakan kitab Sabdo Palon? jadi kitab itu ada di tangan Sabrang?" timpal Wulan terkejut.
"Benar, kitab itu kini berada di tangannya. Dengan tubuh sembilan Naga aku tidak bisa membayangkan jika dia menguasai kitab pedang tertinggi Sabdo Palon. Anak itu bisa berubah sewaktu waktu saat energi jahat Tubuh sembilan Naga semakin kuat dan saat itu terjadi, sepuluh Mandala pun aku tak yakin mampu menghentikannya."
"Yang mulia tidak akan berubah, aku mengenalnya saat dia masih tinggal di Sekte Pedang Naga Api," ucap Lasmini cepat.
"Mandala pun pernah mengatakan itu, tapi apa yang terjadi? dia mulai berambisi menguasai semuanya. Berbeda dengan roh pedang yang menguasai tubuh pemiliknya, tubuh sembilan Naga merubah sifat pemiliknya secara perlahan," jawab Darin.
"Mandala?" Lasmini mengernyitkan dahinya.
"Mandala adalah orang pertama yang menguasai ilmu kanuragan di dunia persilatan, dialah yang mencuri kitab terkutuk itu dari tempatnya."
"Jika anda tidak mempercayainya, mengapa anda datang jauh jauh untuk mengajarinya kitab sabdo palon?" tanya Wulan bingung.
"Apa kau pernah mendengar jika Iblis harus di lawan dengan Iblis? saat ini Mandala telah bangkit dan semakin kuat akibat mustika Merah delima dan satu satunya orang yang bisa mengalahkannya adalah anak itu. Aku tidak tau suatu saat dia akan berubah atau tidak tapi aku lebih memilih menghadapi satu iblis dari pada dua," balas Darin.
"Seberbahaya itukah kitab Sabdo Loji?" Lasmini yang belum mengetahui tentang kitab Sabdo Loji bertanya bingung.
"Sabdo Loji adalah induk dari semua ilmu kanuragan di dunia persilatan termasuk jurus tarian rajawali. Tidak ada yang tau siapa yang menyimpan kitab itu di bawah danau Sidihone dan apa tujuannya. Tapi yang pasti, kekacauan di dunia persilatan bermula saat Mandala mencuri kitab itu," balas Darin pelan.
"Maaf tetua, jika menurut anda Mandala telah bangkit dan menjadi lebih kuat, apakah tidak terlambat mengajari Sabrang kitab itu sekarang? apa tidak sebaiknya kita langsung menyerang mereka, karena aku yakin dengan tubuh yang baru bangkit dia membutuhkan waktu untuk beradaptasi," ucap Wulan tiba tiba.
Darin menggeleng pelan, "Walau dia membutuhkan waktu untuk mengenali tubuh barunya tetap akan sangat berbahaya jika menyerang tanpa persiapan. Energi Mustika merah delima bukan pusaka sembarangan dan saat ini aku merasakan Mandala mampu menguasainya itu menandakan tubuh barunya juga lebih kuat.
Pertemuanku dengan anak itu dan nona Lasmini menandakan alam telah mengatur semuanya, juga kitab Sabdo palon yang kini berada di tangannya bukan suatu kebetulan. Alam selalu memiliki cara untuk menyeimbangkan semua yang ada di dunia ini. Yang harus aku lakukan saat ini hanya mengikuti kehendak itu terlepas dari terlambat atau tidaknya dia belajar pedang Sabdo Palon," Darin seperti sedang menghitung sesuatu ditangannya.
__ADS_1
"Jika alam memang ingin semuanya seimbang, untuk apa kitab Sabdo Loji dimunculkan? andai kitab itu tidak pernah ada, tidak akan ada pertumpahan darah," ucap Wulan kesal. Bayangan kematian keluarganya, dan mungkin Wardhana cepat atau lambat membuatnya kembali dihinggapi rasa takut kehilangan.
"Jangan pernah menyalahkan alam atas keserakahan dan ambisi manusia, jangan pernah," Darin menarik nafasnya panjang dan mengambil sebuah batu kecil.
"Kau tau kenapa manusia diciptakan berbeda yang terkadang menjadi masalah yang menyulut permusuhan? karena alam ingin kita belajar dan menghargai perbedaan. Setiap manusia memiliki hak yang sebenarnya tidak boleh dilanggar oleh orang lain. Permusuhan hanya bentuk keegoisan manusia yang menolak perbedaan.
Kitab Sabdo Loji mungkin hanya satu alat untuk menguji perbedaan kita semua namun di tangan orang orang serakah semua menjadi celaka, jadi jangan salahkan alam atas ketidaktahuan maksud baik alam.
Apa efek munculnya Sabdo Loji akan berakhir dengan kerusakan besar? tidak, aku masih yakin alam memiliki cara lain untuk menyeimbangkan kembali kesalahan manusia," ucap Darin sambil menggenggam batu itu erat.
"Kau tau apa yang terjadi jika batu ini kulempar kedalam air? Air yang tadinya tenang akan bergelombang dan menyebar ke segala arah dan akan kembali ketitik semula sampai air itu kembali tenang, itulah kekuatan alam.
Alam tak akan mungkin bisa di lawan oleh pendekar terhebat sekalipun, jadi percayalah dan berusaha kemudian biarkan alam yang menentukan," tutup Darin sambil menghancurkan batu di tangannya.
Wulan terdiam setelah mendengar penjelasan Darin, dan kini dia semakin yakin jika kakek dihadapannya itu bukan orang biasa.
Suara langkah kaki dari luar gua mengejutkan mereka semua sebelum dua orang muncul dengan wajah khawatir.
"Guru, bagaimana kondisi paman?" ucap Sabrang khawatir.
"Tetua?" ucap Sabrang terkejut.
"Jadi kau benar benar seorang raja ya? maafkan atas ketidaktahuanku," Darin bangkit dari duduknya dan memberi hormat.
"Tetua, mohon jangan seperti itu," Sabrang mencegah Darin untuk memberi hormat dan memeluknya.
"Jangan pernah anggap aku seorang raja, harusnya aku yang memberi hormat pada anda," lanjut Sabrang pelan.
Setelah menjelaskan semua ramuan termasuk fungsi dari daun Pohon Pule, Darin mengajak Sabrang keluar gua dan duduk di depan air terjun Lembah pelangi.
"Apa kau pernah mendengar tentang tubuh Sembilan naga?" tanya Darin pelan.
"Tubuh sembilan naga?" tanya Sabrang bingung.
Darin kemudian menjelaskan tentang tubuh abadi itu yang sebenarnya hanya bisa di dapatkan dengan mempelajari kitab Sabdo Loji namun untuk kasus Sabrang sedikit berbeda.
Sabrang kemungkinan mendapatkan tubuh Sembilan naga akibat evolusi dua energi trah Masalembo yang bercampur dengan Dewa api. Darin juga menjelaskan kemungkinan Sabrang akan berubah menjadi iblis dan bisa menjadi lebih kejam dari Mandala sekalipun.
"Itulah alasanku menolak mu dulu, perpaduan tubuh sembilan naga dengan pedang sabdo palon dan mata bulan akan sangat berbahaya jika kau berubah menjadi iblis." ucap Darin sedikit menyesal.
"Jadi menurut kakek aku akan dikuasai tubuh ini?"
"Bukan tubuhmu yang dikuasai tapi sifat dan karaktermu akan berubah tanpa kau sadari. Tapi aku masih berharap kau tidak akan berubah karena jika sampai seperti itu aku tak yakin akan ada yang bisa menghentikanmu," jawab Darin.
"Jadi kakek percaya padaku?"
"Aku tidak tau, hanya saja aku masih percaya alam akan menyeimbangkan kembali semua yang rusak karena Sabdo Loji dan mungkin melalui dirimu.
Dengar, kitab Sabdo Palon diciptakan guruku sebagai penyempurna dari Sabdo Loji dan kau akan membutuhkan banyak tenaga dalam untuk menguasainya. Tapi bukan itu yang kutakutkan karena kau memiliki energi murni yang tidak terbatas dan juga energi Dewa Api.
__ADS_1
Aku akan mengajarimu semua jurus dalam kitab itu tapi aku ingin kau berjanji satu hal padaku, gunakan jurus ini hanya saat kau terdesak," jawab Darin sambil menatap Sabrang.
"Tetua tak perlu khawatir, jika sampai aku merasakan sesuatu yang aneh di tubuhku, detik itu juga akan kumusnahkan semua ilmu kanuragan yang kumiliki," balas Sabrang.
Darin menatap Sabrang lembut, entah mengapa kali ini dia mempercayai ucapan pemuda itu.
"Guru, maafkan aku, semoga kau mengerti keputusanku untuk membantu anak ini," ucap Darin dalam hati.
***
"Ayah, aku datang membawa makanan untukmu," ucap Agam pelan dari luar gua.
"Letakkan saja di sana, aku sedang mengatur tenaga dalamku," balas Mandala dari dalam gua.
"Tapi ayah..."
"Apa kau pikir aku belum bisa berjalan?" Mandala tiba tiba sudah berada di depan gua.
"Ayah?" Agam tersentak kaget, dia benar benar terkejut melihat Mandala sudah bisa berjalan, terlebih aura aneh yang sangat besar terus meluap dari tubuhnya.
Perkiraan Agam, Mandala membutuhkan waktu sampai empat purnama untuk dapat mengendalikan tubuh baru itu.
"Apa kau sudah menemukan di mana pusaka Bilah gelombang?" tanya Mandala tiba tiba.
"Pusaka itu terkubur di Gunung Padang tapi kami masih berusaha menemukan letak pastinya Ayah, mohon bersabar sebentar," jawab Agam pelan.
"Kau harus cepat mendapatkan pusaka itu, karena walaupun aku sudah bisa berjalan untuk saat ini aku tidak bisa menggunakan seluruh kekuatanku untuk sementara waktu. Energi Mustika merah delima lebih kuat dari perkiraanku dan sepertinya aku membutuhkan waktu ribuan tahun untuk bisa menguasai sepenuhnya.
Tapi kita tidak akan menunggu selama itu untuk membalas dendam dan hanya pusaka bilah gelombang yang mampu meningkatkan kekuatanku dengan cepat," ucap Mandala.
"Apa kita akan langsung menyerang?" tanya Mandala pelan.
"Tidak, tubuh ini memang membuatku kagum tapi aku merasakan ada tubuh yang jauh lebih sempurna untuk Mustika merah delima terkurung di dimensi mata ini, jika kekuatanku sudah sedikit pulih aku akan masuk ke dalam dimensi itu dan merebut tubuhnya," jawab Mandala.
"Lakeswara?" tanya Agam pelan.
"Lakeswara?" Mandala mengernyitkan dahinya.
"Lakeswara adalah pemimpin trah Dwipa yang awalnya dipersiapkan untuk tubuh Ayah tapi sesuatu terjadi dan mengacaukan semuanya," balas Agam.
"Begitu ya... pilihanmu memang tepat, tubuhnya jauh lebih baik dan akan aku yakin tubuh Lakeswara akan mampu memaksimalkan semua kekuatanku," ucap Mandala.
"Anda yakin akan menghadapi Lakeswara? dengan tubuh anda saat ini mungkin..." belum selesai Agam bicara, Mandala sudah memotong ucapannya.
"Maka temukan pusaka itu secepatnya, dengan Bilah gelombang aku yakin mampu menghadapi siapapun termasuk Lakeswara."
"Baik ayah," jawab Agam cepat, wajahnya tampak khawatir dengan keputusan ayahnya untuk melawan Lakeswara di dimensi ruang dan waktu karena dia sangat mengerti seberapa kuat pemimpin trah Dwipa itu.
Agam khawatir dengan kondisi Mandala yang belum benar benar pulih justru akan menjadi senjata makan tuan bagi ayahnya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Vote Mblooooo