Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Tamu tak Terduga


__ADS_3

"Segel udaramu merasakan kehadirannya sesaat sebelum tiba tiba menghilang?" Wardhana mengernyitkan dahinya saat mendengar penjelasan Ciha.


Ciha mengangguk pelan "Memang terdengar aneh, aku cukup yakin dia berada ditengah segel udaraku namun setelah aku merasakan seseorang memasuki segelku tiba tiba dia menghilang tanpa jejak, bagaikan menghilang begitu saja diudara".


"Kau yakin segelmu tidak diketahuinya?".


"Aku sangat yakin, karena setelah pertempuran di Dieng, aku menyempurnakan segel udaraku. Segel ini bahkan mampu mendeteksi walau anda belum menyentuh segelku".


"Bagaimana manusia bisa tiba tiba menghilang diudara?" gumam Wardahana dalam hati.


"Aku akan terus berusaha mendeteksinya tuan, jika tubuhnya sudah menyentuh segelku maka aku akan merasakannya saat berada didekatku karena segelku menempel ditubuhnya. Sebelum itu ada yang ingin aku tunjukkan pada anda benda yang kami temukam diruang rahasia Tapak es utara". Ciha mengambil sesuatu didalam bungkusan kain dan membukanya.


"Pisau?" Wardhana mengernyitkan dahinya.


"Seperti sebelumnya, tidak ada petunjuk apapun di ruangan itu dan hanya ada sebilah pisau kecil ini yang terbungkus kotak yang terbuat dari emas".


"Kau sudah yakin memeriksa seluruh ruangan itu?".


"Aku sudah memeriksa setiap inci ruangan bersama tetua Brajamusti dan Mantili, tak ada tulisan atau gambar atau petunjuk apapun".


Wardhana mengambil pisau itu dan menggabungkannya kedalam bungkusan lainnya. "Sepertinya kita harus menangkap pemuda misterius itu untuk mencari kebenarannya".


"Lalu apa rencana anda selanjutnya?" tanya Ciha pelan.


"Sepertinya kita akan tinggal selama beberapa hari disini sebelum melanjutkan perjalanan mencari rumah para dewa selanjutnya. Aku perlu mengatur ulang rencanaku karena kemunculan pemuda itu". Wardhana terlihat berfikir sejenak. "Apa kau sudah memasang segel udara disekitar sini?".


Ciha mengangguk " Aku sudah memasang segel udara sampai perbatasan wilayah Tapak es utara tuan".


"Kau yakin tidak ada yang masuk kewilayah sekte ini setelah kemunculannya di gua kegelapan?".


"Aku bisa merasakan semuanya tuan, hanya ada 4 orang yang baru masuk kesini dan itu adalah anda dan rombongan".


"Baiklah, antarkan aku keruang rahasia itu. Aku harus melihat ruangan itu untuk menggambarkannya dikepalaku dan mencocokkannya dengan dua ruang rahasia lainnya".


"Baik tuan". ucap Ciha.


Saat mereka melangkah keluar tiba tiba seorang murid Tapak es utara berlari dan memanggil namanya.


"Tuan didepan ada puluhan prajurit kerajaan lengkap dengan senjata perangnya, mereka mencari anda". ucap murid itu terbata bata.


"Mencariku? apakah Majasari akan menyerang? raut Wajah Wardhana berubah seketika, dia meminta Ciha memanggil Sabrang sedangkan dia berlari kedepan sambil memegang pedangnya.


"Kenapa harus disaat seperti ini, kemana Sora sampai tidak bisa menyelesaikan masalah seperti ini" umpat Wardhana kesal.


Tampak puluhan murid Sekte Tapak es utara berjajar didepan gerbang menghadang pasukan kerajaan itu.


Wardhana sedikit bernafas lega saat mengenali jika pakaian yang dikenakan para prajurit itu bukan milik Majasari.


"Saung galah? apa yang mereka lakukan disini?". Wardhan berjalan cepat diantara puluhan murid Tapak es utara yang berjajar rapih.


"Lama tak bertemu tuan Adipati". Lokajaya, yang merupakan komandan pasukan elit Toopeng galah menundukkan kepalanya.


"Lokajaya apa yang kau lakukan ditempat ini? pasukanmu bisa memicu perang ditempat ini" bentak Wardhana.


"Bukankah kalian yang sedang mengibarkan bendera perang pada kami?" suara lembut seorang wanita terdengar dari dalam tandu kebesaran kerajaan Saung galah.


Wardhana mengernyitkan dahinya sambil menatap seorang gadis cantik yang keluar dari dalam tandu.

__ADS_1


"Tuan putri?" ucap Wardhana pelan.


"Tundukkan kepalamu tuan, dia adalah putri mahkota Saung galah". seru Lokajaya pada Wardhana.


"Tundukkan kepalaku? sejak kapan Malwageni tunduk pada Saung galah?". Wardhana tersulut emosinya, dia masih tidak mengerti mengapa Saung galah bersikap agresif padanya.


"Kalian manusia manusia hina yang manis didepan namun menusuk kami perlahan".


"Apa maksudmu tuan putri?" Wardhana masih belum mengerti permasalahannya. Dia masih berusaha mengulur waktu dan berhitung karena beberapa tetua sedang keluar sekte untuk membangun koalisi dengan sekte aliran putih lainnya.


Mentari bersama dua gadis lainnya muncul dan mendekati Wardhana.


"Apa ada masalah tuan?" tanya Mentari pelan.


Wardhana menggeleng pelan, dia masih mencoba memahami situasi.


"Apa kau mengenal pangeran Pancaka? anak Arya Dwipa bersama selirnya tertangkap menyusup keraton Saung galah. Apa itu namanya bukan menusuk kami dari belakang?" ucap Andini sinis.


Andini adalah satu satunya keturunan raja Saung galah sekaligus putri mahkota yang kelak akan menjadi Ratu menggantikan ayahnya.


"Kalian tak pantas menyebut nama ayahku sembarangan" puluhan energi keris muncul tiba tiba diudara seiring dengan suhu udara yang meningkat cepat.


Sabrang terlihat melayang diudara sesaat sebelum mendarat tepat dihadapan Wardhana.


"Satu gerakan tanganku mampu membunuh kalian semua". ancam Sabrang sambil melepaskan aura yang sangat besar.


Lokajaya yang merupakan salah satu pendekar yang diperhitungkan didunia persilatan sebelum bergabung dengan pasukan topeng galah harus mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk menekan aura Sabrang.


Andini terlihat terduduk ditanah karena kakinya terasa lemas.


"Sepertinya bukan pilihan bijak pangeran menghunuskan pusaka pada pasukan topeng galah terlebih penerus tahta Saung galah ada diantara kami" ancam Lokajaya.


Anom melesat cepat kearah putri mahkota Saung galah itu sebelum Lokajaya menangkisnya dengan pisau terbangnya.


"Dia bersungguh sungguh ingin membunuh Tuan putri" gumam Lokajaya pucat.


Sabrang menarik kembali puluham energi keris dan mengarahkannya pada Andini.


Andini menatap Sabrang dengan wajah takut sambil menelan ludahnya.


"Katakan apa yang kalian inginkan lalu pergi dari sini, bibi tak akan diam saja sektenya dikepung pasukan kerajaan". ucap Sabrang dingin.


"Pangeran Pancaka ditangkap saat mencoba menyusup kekeraton Saung galah, Yang mulia memintaku menyelidiki keterlibatan Malwageni dalam masalah ini" ucap Lokajaya sopan. Dia tidak ingin menyinggung Sabrang karena dia tau satu gerakan tangannya bisa membunuhnya. Ditambah keselamatan Putri mahkota Saung galah berada ditangannya.


"Kalian pikir aku serendah itu? Jika aku ingin menusuk kalian dan mengingkari perjanjian antara Saung galah dan Malwageni hari ini aku bisa membunuh kalian semua. Kau pikir kecepatan pisau terbangmu lebih cepat dariku? jika aku ingin maka tuan putrimu sudah menjadi mayat".


Andini tersenyum dingin sambil berjalan mendekati Sabrang.


"Jika aku harus mati hari ini ya mati saja". Andini mendekatkan wajahnya ke wajah Sabrang. "Sekarang tarik senjatamu yang melayang diudara" tantang Andini.


Sabrang terlihat bingung dengan tingkah Andini, dia bukan tidak mampu membunuh tuan putri Saung galah itu namun Sabrang tak pernah berfikir untuk benar benar membunuh wanita walau dia sering mengancam.


"Apa kau takut tuan Pangeran?" ejek Andini.


"Tuan muda" Mentari hendak menarik pedangnya namun Sabrang menahannya.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Sabrang pelan.

__ADS_1


"Aku ingin kau bertanggung jawab atas tindakan adik tirimu".


"Apa yang dilakukannya bukan atasnama Malwageni, jika kalian ingin menghukumnya maka hukumlah".


Andini tersenyum dingin "Kau mau mengorbankan adikmu sendiri?".


"Tuan putri itu benar benar membuatku kesal, biar kurobek mulutnya". Tungga dewi mencabut pedangnya dan bergerak kedepan namun Mentari menahannya.


"Biarkan tuan muda menyelesaikan masalah ini, bersabarlah" ucap Mentari pelan.


Sabrang tersenyum pelan sambil menyerap energi alam disekitarnya.


"Lokajaya, bawa tuan putrimu pergi dari sini, aku jamin apa yang dilakukan Pancaka adalah tidakan pribadinya dan tidak ada hubungannya dengan Malwageni. Paman Lembu sora akan mengurusnya, semua keputusan yang dia ambil adalah keputusanku. Sekarang pergilah atau aku berubah fikiran".


Lokajaya belum sempat memahami ucapan Sabrang saat aura yang sangat besar tiba tiba menyelimuti area Tapak es utara. Bebatuan disekitarnya tiba tiba melayang diudara.


"Kekuatannya benar benar mengerikan". Lokajaya menelan ludahnya.


Andini dalam seketika tak sadarkan diri akibat tekanan yang diterimanya. Saat tubuhnya hampir tumbang, Sabrang menyambar tubuhnya.


"Bawa dia pergi". ucap Sabrang pelan.


Lokajaya hanya mengangguk pelan, dia berjalan mendekat dan menggotong tubuh calon ratu Saung galah itu.


Semua prajurit Saung galah tak ada yang berani berucap satu katapun karena sadar Sabrang bukan lawan yang bisa dihadapi.


"Terima kasih atas jawabannya pangeran, aku akan sampaikan pada Yang mulia raja Saung galah". Lokajaya menundukkan kepalanya sebelum pergi bersama puluhan prajurit elit Topeng galah.


"Paman, kirim pesan pada paman Sora untuk mengurus Pancaka. Beri dia hukuman yang berat atas tindakannya, kita akan tetap pada rencana awal untuk mencari sisa rumah para dewa" ucap Sabrang sambil melangkah pergi.


"Baik Yang mulia". Wardhana menundukkan kepalanya.


Mentari terlihat berjalan mengikuti Sabrang dari belakang. Saat Tungga dewi hendak mengikutinya, Emmy menahannya.


"Biarkan mereka berdua pergi, saat ini hanya Mentari yang bisa menenangkannya, aku yakin dia sangat kecewa pada sikap adiknya".


"Apa kau ingin mengalah?" tanya Tungga dewi.


"Aku tidak akan pernah mau mengalah dari siapapun namun kemarin kita sudah sepakat bukan?. Siapapun yang dipilihnya menjadi ratu yang lain harus rela menjadi selirnya, tak ada permusuhan dan bersaing secara sehat walau sebenarnya akulah yang akan menjadi ratunya" ucap Emmy menggoda Tungga putri.


"Apa mulutmu ingin kurobek juga?" Tungga dewi mengejar Emmy yang berlari menjauh.


***


"Tuan putri, sebaiknya anda makan terlebih dahulu sebelum kita melanjutkan perjalanan kita" ucap Lokajaya pelan. Dia memutuskan beristirahat sejenak disebuah penginapan mewah dipinggiran Majasari.


"Aku tidak lapar" balas Andini dari dalam kamar.


"Siapa dia berani sekali memperlakukan ini padaku, lihat saja akan kubalas kau" umpat Andini dalam hati.


Andini memang lahir dan besar dikeraton yang semua kemauannya selalu dituruti. Dia tidak dapat menerima sikap Sabrang padanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bagi yang ingin mendukung Author bisa mengunjungi


https://karyakarsa.com/ Rickypakec

__ADS_1


hapus spasi didepan huruf R


Terima kasih.....


__ADS_2