Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pengguna Segel Terbaik II


__ADS_3

"Naga api, hentikan!" Sabrang tiba tiba menarik semua energi Naga Api masuk ke tubuhnya membuat suasana danau Ranu Kumbolo kembali gelap.


"Sebaiknya kita hentikan pertarungan ini karena aku hanya ingin bicara dan menawarkan sesuatu padamu," Sabrang mengarahkan lengannya kearah Pedang Naga Api yang tergeletak di tanah.


Pedang itu tiba tiba terangkat dan bergerak tepat ke genggaman tangan Sabrang sebelum berubah menjadi kobaran api dan masuk kedalam tubuhnya.


"Kau harus menerima tawarannya Winara karena sekuat apapun melawan, saat ini dia bukan tandingan kita," ucap Kirana dalam pikiran pemuda itu.


"Apa kau bercanda? aku tidak akan bicara atau membuat kesepakatan apapun dengan dunia persilatan yang selalu menyembunyikan ambisi kotor dibalik wajah tak berdosa seperti dirinya," Winara tiba tiba melepaskan aura aneh sebelum merapal segel Dewa bumi yang membuat kabut tebal kembali menyelimuti danau itu.


"Kau memang keras kepala seperti yang kudengar," Sabrang kembali memunculkan belasan energi keris di udara dan meminta Elang menjauh.


"Menjauh dari pertarungan dan jangan pernah percaya dengan apa yang kau lihat selama kabut ini masih menyelimuti tubuhmu," ucap Sabrang pelan sambil terus memperhatikan kabut tebal di sekitarnya.


"Kau telah membuat kesalahan Winara, kita tak akan sanggup melawan anak itu," umpat Kirana sedikit kesal, dia merasa tuannya itu terlalu bodoh dengan membuang satu satunya kesempatan untuk selamat.


"Rasa takutmu sepertinya terlalu berlebihan Kirana, selama aku menggunakan segel Dewa bumi, dia tidak akan tau dari mana kita akan menyerang," Winara mulai bergerak saat melihat Sabrang seperti kebingungan.


Segel Dewa Bumi memang hampir sama dengan segel kabut milik Ciha yang menggunakan kabut putih sebagai pelindung namun ada perbedaan kekuatan yang cukup jauh antara keduanya.


Jika segel milik Ciha hanya bisa digunakan untuk menyamarkan atau menyembunyikan sebuah tempat, Segel Dewa Bumi sengaja diciptakan untuk menguasai arena pertarungan bahkan bisa menyamar sebagai musuh seperti yang dilakukan Winara saat bertemu Elang.


Pengguna segel Dewa Bumi bisa bergerak leluasa tanpa diketahui walaupun berada di dekat musuhnya, aura yang dihasilkan dari segel itu mampu menyembunyikan hawa kehadirannya sehingga bisa menyerang kapan sana tanpa takut diketahui keberadaannya.


Beberapa orang yang tidak kuat dengan tekanan aura yang dihasilkan oleh segel Dewa Bumi bahkan bisa menjadi gila. Mereka tidak dapat lagi membedakan mana dunia nyata dan ilusi segel itu.


Kekuatan itulah yang membuat Winara masih cukup yakin mampu mengimbangi Sabrang walau ruh tombak telah memperingatkannya beberapa kali untuk tidak main main dengan pengguna Naga Api.


Dua tombak pusaka terlihat berputar di udara saat jarak Winara dan Sabrang semakin dekat, Dia kemudian melompat keatas sambil menyambar pusaka itu sebelum memutar tubuhnya di udara.


"Jurus tombak kembar penghancur batu karang," Winara melempar salah satu tombaknya sekuat tenaga dan di saat bersamaan dia melesat dan menyerang dari sisi berlawanan.


"Tenang saja, aku tidak akan membunuhmu," ucap Winara sambil memutar tombaknya dan menghantamkan ke tubuh Sabrang.


Namun betapa terkejutnya dia saat gerakan pedang Sabrang mengarah kearah lehernya, walau hanya menggunakan punggung pedang tapi cukup membuat Winara ciut karena serangan itu mengandung tenaga dalam yang cukup besar.


"Dia?" Winara menarik serangannya cepat dan melompat menghindar sementara tombak lainnya menghantam dinding es yang tiba tiba muncul disekitar Sabrang.


Belum selesai rasa terkejutnya, Sabrang sudah muncul dihadapannya dan berusaha menghantamkan tapak es utara di perutnya.


Winara tidak tinggal diam, dia menggunakan hampir seluruh tenaga dalamnya untuk menghindar di detik terakhir. Saat dia merasa sudah berhasil menghindar, tiba tiba sebuah tebasan pedang menghantam punggungnya dengan keras yang membuat dia terlempar beberapa langkah sebelum membentur dinding es yang sejak awal berputar di sekitar area pertarungan.


"Di sana kau rupanya," ucap Sabrang sambil tersenyum kecil.


"Bagaimana mungkin dia bisa membaca semua gerakanku?" Winara mencoba kembali bergerak kearah kabut tebal untuk bersembunyi kembali dalam segel Dewa Buminya tiba tiba tak bisa bergerak saat tubuhnya membeku dengan cepat.


"Sudah kukatakan untuk tidak meremehkannya karena siapapun pendekar yang dipilih Iblis api jelas bukan orang sembarangan bodoh!" Karina melepaskan energinya untuk membantu menghancurkan bongkahan es yang menyelimuti tubuh Winara.


"Jangan lalukan hal bodoh Kirana," kobaran api merah tiba tiba muncul disekitar tubuh Winara membentuk lingkaran dan mengurungnya.


"Iblis api, aku tau kau sangat kuat tapi akan kulakukan apapun untuk melindungi tuanku," balas Kirana cepat.


"Kau tak akan mampu, aku bahkan bisa dengan mudah menembus perisai yang sedang kau buat. Satu satunya cara menyelamatkan dia adalah dengan mengikuti perintah tuanku untuk bicara," ucap Naga Api.

__ADS_1


Kirana terdiam sesaat sebelum menarik kembali energinya, "Dia hanya pemuda polos yang kecewa dengan dunia persilatan setelah kematian kedua orang tuanya oleh para pendekar dunia persilatan, kuharap kau masih memberinya belas kasihan."


"Bukan aku yang memutuskannya walau aku sangat ingin membakar kalian sampai habis," balas Naga Api sinis.


Sabrang berjalan mendekati tubuh Winara yang sudah membeku dan mencairkan balok es di wajahnya agar bisa bicara.


"Sekarang, apa kita sudah bisa bicara?" ucap Sabrang pelan.


"Apa sebenarnya yang membuatmu begitu ingin bicara padaku? kita tidak pernah saling mengenal dan aku tidak akan tertarik dengan dunia persilatan yang penuh dengan kepalsuan. Kau pun tak mungkin menginginkan pusaka milikku karena pedangmu jauh lebih kuat," jawab Winara pelan.


"Aku hanya ingin kau menemaniku menikmati pemandangan Danau Ranu Kumbolo saat matahari terbit, itu saja," jawab Sabrang santai.


"Hah?" balas Winara dan Kirana bersamaan.


***


Sinar matahari pagi yang mulai muncul disekitar danau Ranu Kumbolo seolah menutup pertarungan Sabrang dan Winara.


Sabrang terlihat duduk di pinggir danau bersama Winara tanpa bicara sepatah katapun, sesekali dia menciptakan serpihan serpihan es dan melemparnya ketengah danau.


Elang yang memperhatikan mereka dari jauh tampak bingung dengan sikap Sabrang yang sama sekali tidak membahas ajakan bergabung dengan Hibata pada Winara.


Pantulan sinar matahari di air danau yang membentuk bias bias cahaya menambah indah pemandangan membuat Sabrang tak berkedip sedikitpun.


"Tempat ini begitu tenang, pantas saja kau tak pernah ingin meninggalkan tempat ini. Andai saja dunia persilatan bisa setenang ini," ucap Sabrang tiba tiba.


"Apa kau datang hanya untuk duduk ditempat ini? benar benar bodoh," balas Winara sinis, dia tidak habis pikir Sabrang bisa begitu tenang duduk didekatnya setelah tadi malam hampir membunuhnya.


"Aku hanya ingin seperti dirimu, menikmati situasi seperti ini sebelum semuanya hancur oleh ambisi kotor para pendekar dunia persilatan," jawab Sabrang pelan.


"Lupakan, aku sedang tidak ingin membicarakan masalah itu, dan dengan kekuatan Naga Api aku pasti bisa melindungi diriku sendiri andai terjadi kekacauan lalu untuk apa kita harus memikirkan orang lain?" pancing Sabrang.


Winara terdiam setelah mendengar ucapan Sabrang, dia merasa tertampar karena selama ini tidak perduli dengan semua yang terjadi di dunia persilatan.


"Aku tau kau sedang menyindirku tapi apa yang bisa diharapkan dengan menyelamatkan dunia yang sudah hancur ini? orang tuaku dulu pernah bertaruh nyawa demi menyelamatkan sebuah sekte dari serangan aliran hitam tapi kau tau apa yang terjadi kemudian? mereka akhirnya dibunuh karena sekte yang dibantunya ternyata mengincar ilmu kanuragan yang dimiliki orang tuaku.


Tak ada gunanya membantu para pendekar itu karena pada akhirnya semua akan berkhianat demi melindungi kepentingan masing masing," ucap Winara pelan.


"Jadi menurutmu pengorbanan yang dilakukan kedua orang tuamu sia sia?" tanya Sabrang cepat.


"Dengan apa yang mereka terima setelah berjuang mati matian melindungi dunia persilatan, apa ada kata yang lebih pantas dari pada sia sia?"


Sabrang tersenyum sinis setelah mendengar jawaban Winara. "Orang tuamu akan menangis melihat anak kebanggaannya telah salah memilih jalan," ucap Sabrang tajam.


"Apa katamu?" balas Winara geram, emosinya mulai terpancing.


"Tak ada yang sia sia dari membantu orang lain dan aku yakin walau pada akhirnya terbunuh kedua orang tuamu tak akan pernah menyesal telah melakukan hal baik itu karena rasa belas kasih yang membuat kita terlihat sebagai manusia sesungguhnya.


"Aku pernah berada di posisi yang hampir sama sepertimu, marah pada dunia persilatan setelah ayahku mati ditangan seorang pendekar dari sekte Iblis Hitam. Saat itu aku marah besar dan bersumpah akan membunuhnya berkali kali agar amarahku reda, tapi setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya aku mulai berfikir ulang dan mencoba mengerti jalan yang dipilih ayah.


"Kau tau, ayahku bisa saja memenangkan pertarungan dengan pendekar Iblis hitam itu tapi dia tidak melakukannya karena akan banyak rahasia terbongkar jika dia memenangkan pertarungan dan demi melindungi dunia persilatan ayah akhirnya memilih mati sebagai ksatria.


"Apakah tindakan ayahku sia sia? tidak, kau boleh percaya atau tidak padaku tapi kita masih hidup sampai saat ini sedikit banyak karena peran ayah," jawab Sabrang pelan sebelum bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.

__ADS_1


"Elang ayo kita pergi, masih banyak yang harus kita lakukan," ucap Sabrang sambil mengulurkan tangannya dan menarik Elang bangkit.


"Pergi? lalu dia?" tanya Elang bingung.


"Dia sepertinya tidak tertarik bergabung dengan kita karena menyelamatkan dunia yang sudah kacau ini menurutnya sia sia. Masih ada beberapa orang yang ingin aku temui sebelum kembali ke air terjun Lembah pelangi di hutan larangan," Sabrang sengaja mengeraskan suaranya saat menyebut air terjun Lembah pelangi di hutan larangan.


"Lalu kemana lagi kita akan pergi?" Elang berlari mengejar Sabrang yang sudah bergerak lebih dulu.


"Menemui seorang wanita cantik," jawab Sabrang cepat.


"Wanita cantik?" wajah Elang langsung bersemangat namun tidak bertahan lama setelah menyadari sesuatu.


"Mana ada wanita cantik yang mau berurusan dengan monster sepertinya," umpatnya dalam hati.


"Apa kau akan pergi ke hutan larangan?" tanya Kirana tiba tiba saat Winara kembali duduk di pinggir danau.


"Aku tidak berniat meninggalkan tempat ini sampai kapanpun," jawab Winara pelan sambil menulis sesuatu di tanah.


"Begitu ya..." Kirana menahan tawa saat tulisan air terjun Lembah pelangi di hutan larangan terukir di pinggir danau.


***


"Tuan, kumohon lepaskan aku!" teriak seorang wanita saat empat orang pria menariknya paksa kedalam hutan dengan kedua tangan terikat kebelakang dan mata tertutup.


Mendengar wanita itu memohon, empat pria itu justru semakin bernafsu dan terus menarik tubuhnya dengan kasar.


Salah seorang dari mereka bahkan berusaha mencium bibir wanita itu sebelum di cegah oleh yang lainnya.


"Hei apa kau sudah bosan hidup? jika ketua tau kau menyentuhnya maka kita semua bisa di bunuh," bentak temannya.


Pria itu tampak tersenyum kecut sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Dia cantik sekali, kau juga pasti berfikir apa yang kupikirkan bukan?"


"Tapi tidak sekarang! kita bisa mati karena tindakan bodohmu!" bentak temannya.


"Sudah jangan bertengkar, kita sudah sampai," lerai yang lainnya saat melihat sebuah rumah kecil di dalam hutan yang dijaga beberapa pendekar.


"Sudah sampai?" suara wanita itu tiba tiba terdengar dingin yang membuat mereka saling berpandangan, tak ada lagi jeritan dan tangis seperti saat mereka menangkap wanita muda itu di sebuah desa.


"Apa yang kalian tunggu? bawa wanita itu kemari," teriak salah satu penjaga.


"Ah... baik tuan," mereka kembali menarik tubuh wanita itu tapi kini tak berhasil.


"Jadi disini markas perampok Kapak beracun? aku bisa mendapatkan banyak uang kali ini," wanita itu tersenyum kecil sebelum tubuhnya menghilang.


"Dia?" belum sempat para pendekar itu berfikir sebuah tebasan pisau menggorok leher mereka dengan sangat cepat.


"Jangan pernah sekali lagi tangan kotor kalian menyentuh tubuh indahku," wanita itu berjalan santai mendekati rumah yang dijaga beberapa pendekar sambil menjilat pisaunya yang sudah berlumuran darah.


"Hentikan wanita itu!" teriak salah satu penjaga panik setelah melihat wanita itu membunuh empat temannya dengan sangat mudah.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Selamat tahun baru dan sampai jumpa tahun depan.. sehat selalu untuk kita semua...Aminnn


__ADS_2