Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Tawaran Sabrang Damar


__ADS_3

Sekte Pedang Iblis sebenarnya adalah salah sekte tertua di bumi Nuswantoro yang berdiri jauh sebelum Iblis Hitam milik Kertasura.


Sekte yang terletak di gunung Slamet dipinggiran kadipaten Wanajaya ini sempat menggemparkan dunia persilatan dengan jurus pedang Iblis.


Namun sejak munculnya Kertasura muda yang menjadi ketua sekte Iblis hitam, nama mereka mulai pudar. Selain karena terlambatnya Pedang Iblis melakukan regenerasi kepemimpinan, saat itu Iblis hitam muncul sebagai kekuatan baru.


Sekte Pedang Iblis yang merasa terusik mencoba menyerang dan menghancurkan Iblis hitam namun itulah awal kehancuran mereka. Lewat pertarungan panjang selam dua hari, Kertasura berhasil memukul mundur mereka. Sejak saat itulah, sekte tertua di Nuswantoro itu perlahan dilupakan.


Pedang Iblis mencoba bangkit dengan memanfaatkan perseteruan Iblis hitam dan sekte Pedang Naga Api pimpinan Suliwa namun perbedaan kekuatan yang cukup jauh menggagalkan rencana mereka.


Ranggawuni akhirnya memutuskan menarik mundur Pedang Iblis dari dunia persilatan sambil mencari kesempatan untuk membangkitkan kembali sekte kebanggaannya.


"Sekte Pedang Iblis?" seorang pelayan wanita di sebuah penginapan mengernyitkan dahinya saat Sabrang bertanya tentang sekte itu.


"Apa jaraknya cukup jauh dari penginapan ini?" tanya Sabrang kembali.


"Tidak tuan, mungkin setengah hari perjalanan anda sudah sampai di kaki gunung Slamet, tapi anda yakin akan pergi ke sana?" jawab pelayan itu pelan sambil memperhatikan penampilan Sabrang yang masih sangat muda.


"Apa maksud nona?"


Pelayan itu menoleh ke sekitarnya sebelum duduk dihadapan Sabrang.


"Sebaiknya anda pikirkan kembali untuk datang ke tempat itu tuan, kudengar mereka sedang berlatih ilmu sesat dengan mengorbankan banyak nyawa. Banyak penduduk desa di sekitar kaki gunung Slamet yang menjadi hilang secara misterius, Adipati Gardika bahkan tidak berani menyentuh mereka," ucap pelayan yang memperkenalkan diri dengan nama Ajeng itu.


"Ilmu sesat? bukankah mereka dulu terkenal sebagai sekte aliran putih?" balas Sabrang bingung.


Sabrang memang mendapat rekomendasi dari Suliwa dan Wardhana untuk berkunjung ke sekte Pedang Iblis jika ingin mencari pendekar berbakat untuk memperkuat Hibata dan Suliwa jelas mengatakan jika sekte itu adalah aliran putih.


"Awalnya mungkin seperti itu tapi dari kabar yang kudengar semua berubah saat Ranggawuni mengambil paksa posisi ketua dari adik perempuannya puluhan tahun lalu tuan. Anda tampaknya lebih mirip seperti bangsawan daripada seorang pendekar, sebaiknya lupakan untuk datang ketempat berbahaya itu," jawab Ajeng pelan.


"Apa kejadian hilangnya para penduduk itu sudah cukup lama?" tanya Sabrang cepat.


"Aku tidak ingat pastinya tapi sepertinya sebelum Saung Galah takluk oleh Malwageni," jawab Ajeng sebelum bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.


"Gardika tidak berani menyentuh mereka? sepertinya aku harus meminta putri Andini mengganti pengecut itu dari posisi adipati Wanajaya," ucap Sabrang kesal.


Setelah menghabiskan makanan dan membayar semuanya, Sabrang kembali melanjutkan perjalanannya dan seperti sebelumnya, Ajeng masih sempat memperingatkan untuk tidak datang ketempat itu.


Sabrang hanya membalas dengan anggukan kecil dan melangkah pergi, dia sudah bertekad untuk mencari tau apa yang terjadi di tempat itu.


Dan apa yang dikatakan Ajeng tepat, setelah berjalan hampir setengah hari, Sabrang mulai melihat sebuah desa di kejauhan dari atas pohon yang paling tinggi.


"Itukah desa yang dimaksud nona pelayan itu?" ucap Sabrang pelan sebelum melompat turun.


Sabrang tidak langsung pergi ke desa itu, rasa haus setelah berjalan cukup lama membuatnya memutuskan beristirahat di sungai yang berada tak jauh dari pohon besar itu.


Saat sedang menikmati air sungai yang begitu dingin, Sabrang dikejutkan dengan kemunculan seorang pendekar muda yang berjalan mendekatinya.


"Siapapun anda sebaiknya segera pergi dari sini, tempat ini tidak cocok untuk bangsawan seperti anda," ucap pendekar muda itu pelan.


"Aku akan pergi setelah menghilangkan dahagaku, apa ada aturan pedagang sepertiku tidak boleh berada di dekat sini?" tanya Sabrang santai, dia masih mengisi wadah minumnya.


"Mohon jangan salah paham, aku mengatakan ini karena perduli pada anda, sudah cukup mereka membunuh banyak orang tak bersalah."


"Membunuh orang tak bersalah? terima kasih sudah mengkhawatirkan aku tapi sepertinya kondisi tubuh anda jauh lebih mengkhawatirkan," Sabrang mengambil sesuatu dan melemparkannya kearah pendekar itu.


"Itu adalah ramuan khusus untuk memulihkan luka dalam buatan istriku, minumlah karena luka dalam yang kau alami cukup parah," Sabrang bangkit dari duduknya setelah wadah airnya terisi penuh dan melangkah pergi.


"Mengapa anda memberikan barang berharga ini padaku? jika tujuan anda adalah kaki Gunung Slamet sepertinya anda akan membutuhkan ini," tanya pendekar itu bingung.


"Tenang saja, istriku membuat ramuan itu cukup banyak, lagipula aku bisa dibunuh istriku jika pulang dalam keadaan terluka," seloroh Sabrang.


"Namaku adalah Elang, salah satu pendekar sekte Pedang Iblis, aku benar benar tidak menyarankan anda pergi ke tempat itu," sahut Elang tiba tiba.


"Pendekar Sekte Pedang Iblis?" Sabrang menghentikan langkahnya dan menoleh dengan cepat. "Kau sangat menarik, sebagai pendekar Pedang Iblis kau justru melarang aku datang ke sektemu."


"Lebih tepatnya mantan pendekar Pedang Iblis sebelum mereka berusaha membunuhku," jawab Elang sambil tersenyum kecut.

__ADS_1


"Bisa kau ceritakan padaku apa yang terjadi dengan sekte itu?" Sabrang berjalan mendekat.


"Apa sebenarnya tujuan anda datang ketempat ini?" tanya Elang balik.


"Aku adalah utusan Malwageni yang ditugaskan untuk mencari tau tentang kabar hilangnya para penduduk di kaki gunung Slamet. Jika kau bisa membantuku, keraton akan sangat berterima kasih padamu," jawab Sabrang pelan.


"Malwageni ya... kupikir kalian sama seperti Saung Galah yang menutup mata karena takut berurusan dengan sekte Pedang Iblis," balas Elang sinis.


"Jika Gusti ratu menutup mata maka aku tak mungkin ada di hadapanmu saat ini. Saung Galah memang berada di bawah kekuasaan Malwageni tapi tidak semua masalah sampai ke keraton, kau bisa membantuku untuk mengungkap apa yang terjadi dengan para penduduk itu," ucap Sabrang.


"Semua berawal dari legenda ruh api merah yang pernah dimiliki oleh sekte Pedang Iblis. Sekte kami pernah ditakuti hampir di seluruh tanah Jawata dengan pusaka Api merah dan kini mereka mencoba membangkitkan nya kembali dengan mempersembahkan puluhan nyawa," balas Elang cepat.


"Ruh Api merah?" Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Kara, apa si bodoh itu mau berlagak di hadapanku? ucap Naga Api tiba tiba.


"Kau mengenalnya?" tanya Sabrang dalam pikirannya.


"Kara adalah ruh api yang tercipta dari sisa sisa energi api batu Satam, jangan pernah menjatuhkan harga diriku dengan meminta bertarung dengan mahluk lemah seperti itu, cukup Anom yang menghadapinya," jawab Naga Api congkak.


"Kau meremehkan aku?" balas Anom kesal.


"Sepertinya guru hampir berhasil membangkitkan ruh Api merah, jika kau datang sendiri sebaiknya kembali dan bawa para pendekar Malwageni karena kau akan langsung terbunuh," ucap Elang yang mengira Sabrang hanya seorang prajurit biasa.


"Kau sepertinya orang baik dan memiliki ilmu kanuragan cukup tinggi, mengapa tidak kau hentikan saat masih menjadi anggota sekte Pedang Iblis?"


"Aku bukan tidak ingin menghentikan mereka tapi para pendekar Bayangan Iblis yang melindungi guru bukan tandinganku, selain itu mereka berjanji akan mempertemukan aku dengan ibu jika mengikuti semua kemauan guru," balas Elang pelan.


"Dan kau berakhir menjadi buruan untuk dibunuh?" sahut Sabrang terkekeh.


"Aku tidak tau jika guru mengingkari janjinya."


"Dengar Elang, aku sudah puluhan kali bertemu orang seperti gurumu yang penuh ambisi. Kau hanya dimanfaatkan oleh mereka dan pada akhirnya berakhir seperti ini. Aku sangat mengerti jika kau sangat ingin bertemu ibumu tapi apakah pantas semua itu harus dibayar dengan banyak nyawa? mungkin ibumu pun tak akan suka dengan caramu," ucap Sabrang pelan.


"Aku...aku..." Elang tak mampu menjawab pertanyaan Sabrang, ratusan orang yang sudah dibunuhnya seolah menghantui ingatannya.


Elang terdiam sesaat, sejak awal dia terus memperhatikan Sabrang, tak ada sedikitpun tenaga dalam yang dia rasakan dari tubuh pemuda dihadapannya itu.


"Apa mungkin dia menyembunyikan kekuatannya?" ucap Elang dalam hati.


"Jika situasi tidak memungkinkan, kita akan lari ibukota dan aku berjanji meminta Gusti ratu mengirim para pendekar terkuat Malwagneni," ucap Sabrang kembali.


"Baik, aku akan mengantarmu ke sekte Pedang Iblis tapi aku tidak menjamin keselamatanmu," balas Elang pelan.


"Kau tenang saja, ksatria Malwageni tak akan mudah mati. Kita akan pergi saat malam tiba, sebaiknya kau minum ramuan itu terlebih dahulu," ucap Sabrang sebelum duduk bersila di pinggir sungai.


"Dia terlalu percaya diri atau sudah gila?" ucap Elang dalam hati, namun dia sedikit lega karena setidaknya Malwageni sudah mulai bergerak.


***


Sabrang dan Elang mulai bergerak saat malam menyelimuti Kadipaten Wanajaya, atas permintaan Sabrang, mereka berhenti sejenak di desa yang berada di bawah kaki gunung.


Sabrang tampak memberikan sebuah batu lempengan kecil dan meminta salah satu penduduk untuk pergi ke kadipaten Wanajaya menemui Gardika.


Berbicara dengan para penduduk desa yang ditemuinya membuat Sabrang mulai mengerti jika sekte Pedang Iblis menggunakan rasa takut untuk menekan mereka semua dan mengirimkan upeti baik berupa hasil tanam maupun anak gadis mereka.


Para penduduk Desa bahkan merahasiakan kelahiran anak mereka jika berjenis kelamin perempuan karena takut suatu saat akan diminta oleh sekte Pedang Iblis.


Mereka bukan tidak ingin melarikan diri tapi selain para pendekar Pedang Iblis sering berjaga, mereka juga memberlakukan hukuman berantai.


Jika salah satu anggota keluarga berusaha melarikan diri maka mereka tidak segan membunuh semua keluarganya yang bahkan tidak terlibat dalam rencana melarikan diri itu.


Sabrang semakin geram karena menurut mereka tak pernah sekalipun pasukan Wanajaya datang ke desa walau sudah ratusan kali penduduk desa meminta perlindungan.


"Gardika benar benar pengecut!" umpat Sabrang dalam hati.


Mereka kembali melanjutkan perjalanannya dan tepat saat tengah malam, Sabrang dan Elang sampai di sebuah hutan di atas gunung yang merupakan markas sekte Pedang Iblis.

__ADS_1


"Jika kau berubah pikiran dan berniat mundur inilah saatnya sebelum kita masuk lebih dalam," ucap Elang pelan.


"Terima kasih tapi aku lebih takut hukuman Gusti ratu karena gagal menjalankan tugas daripada menghadapi mereka," ucap Sabrang sebelum melesat masuk ke dalam hutan.


"Cepat sekali, benar dugaanku pendekar ini menyembunyikan kemampuannya," ucap Elang yang tampak bersusah payah mengimbangi kecepatan Sabrang.


"Lancang sekali kalian berani masuk tanpa izin," sepuluh pendekar muncul bersamaan dengan lesatan belasan pisau terbang yang terarah ke tubuh Sabrang.


Sabrang bergerak cepat dan menghindari serangan pisau itu dengan sempurna dan melompat mundur untuk melihat situasi.


"Apa mereka yang kau sebut pendekar Bayangan Iblis tadi?" tanya Sabrang cepat.


"Bukan, tapi mereka juga tak kalah kuat, kita harus berhati hati," jawab Elang sedikit cemas.


"Tuan muda? apa itu anda?" salah satu pendekar Pedang Iblis mengenali wajah Elang.


"Menyingkir lah, aku ingin bertemu guru," jawab Elang pelan.


"Kami bisa mengizinkan ada masuk tapi tidak dengannya," jawab pendekar itu cepat.


"Sial!" umpat Elang sambil mengambil ranting kayu dihadapannya.


"Tetaplah di sini, aku akan mencoba melumpuhkan mereka," ucap Elang sebelum bergerak menyerang.


"Anda sudah sangat keterlaluan tuan Muda, apa ini balasan atas kebaikan ketua?" sepuluh pendekar Pedang Iblis langsung membentuk formasi untuk mengepung Elang.


"Sekte Pedang Iblis sudah terlalu jauh tersesat, seharusnya kalian tau itu," luapan aura yang cukup besar keluar dari tubuh Elang bersamaan dengan kecepatannya yang terus meningkat.


Para pendekar penjaga tampak terkejut saat melihat tenaga dalam Elang yang cukup besar.


"Benar kata ketua, dia memiliki bakat yang cukup besar," ucap.salah satu pendekar Pedang Iblis sebelum memberi tanda untuk menggunakan formasi tahap duanya.


"Ilmu kanuragannya tidak terlalu tinggi tapi dia memiliki tenaga dalam sebesar ini? sepertinya aku sudah menemukan satu pendekar Hibata," ucap Sabrang sambil tersenyum.


Pertarungan antara Elang dan para pendekar penjaga semakin sengit, walau ilmu kanuragan pendekar Pedang Iblis setara dengan Elang tapi mereka unggul karena bergerak dalam formasi.


"Jika dia dilatih oleh kakek Rubah Putih, aku yakin dia akan menjadi salah satu pendekar terkuat suatu saat," Sabrang masih belum bergerak karena dia menganggap pertarungan mereka seimbang.


Sabrang tiba tiba mengeluarkan pedang Pengilon Kembar dan menarik energi Anom saat melihat puluhan pendekar lainnya bergerak kearah Elang yang sedang bertarung.


"Menggunakan cara kotor seperti itu dalam sebuah pertarungan adalah hal yang paling kubenci."


"Gawat! formasi Angin kegelapan," Elang berusaha mundur saat puluhan pendekar lainnya muncul dari dalam hutan dan bergerak kearahnya.


"Percuma anda menghindar tuan muda, anda adalah orang yang paling mengerti jika formasi Angin kegelapan tak memiliki celah," pendekar itu memberi tanda untuk menyebar dan menyerang secara bersamaan.


Namun saat para pendekar itu sedang membentuk formasi Angin kegelapan, sesosok tubuh bergerak cepat kearahnya bagaikan angin dan detik berikutnya sebuah pedang menghantam tubuh mereka bersamaan.


"Tidak mungkin, aku tidak bisa melihat gerakannya," belasan pendekar terlempar tampa tau apa yang menghantam tubuh mereka.


"Beruntung aku hanya menggunakan punggung pedangku, jika tidak tubuh kalian sudah terbelah menjadi dua," ucap Sabrang yang muncul tepat di belakang Elang.


"Kau.. jadi kau selama ini menyembunyikan kekuatanmu?" ucap Elang terkejut, sama seperti para pendekar Pedang Iblis, dia juga tidak mampu melihat gerakan Sabrang.


"Dia menghancurkan formasi Angin kegelapan dengan mudah.. apa itu mungkin," batin Elang tak percaya.


"Aku akan memberimu penawaran menarik kali ini, bergabunglah besama Malwageni dan akan aku hentikan mereka semua dan mencari keberadaan Ibumu yang mungkin ada di salah satu bangunan ini, bagaimana?" tanya Sabrang yang mulai melepaskan energi Anom untuk menekan lawannya.


"Apa aku memiliki pilihan lain? jika itu bisa menebus kesalahanku selama ini, setelah bertemu ibu aku akan ikut denganmu," jawab Elang cepat.


"Baiklah, ayo kita hancurkan mereka," Sabrang tiba tiba menghilang dan muncul kembali di tengah tengah pendekar Pedang Iblis dan langsung menyerang.


"Auranya besar sekali," tubuh Elang tampak bergetar sebelum bergerak mengikuti Sabrang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Gua sampe lupa kalo tadi malem adalah malam minggu, pantesan Jomblo pada teriak Bonus....Bonusnya masih di usahain mblo jadi sabar ya...

__ADS_1


__ADS_2