Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Senjata Rahasia itu Bernama Wardhana


__ADS_3

Gunung Damalung adalah sebuah gunung yang terletak dipinggiran wilayah Malwageni, dan secara Administrasi Damalung adalah wilayah tak bertuan karena tidak masuk kedalam daerah kekuasaan Malwageni maupun Saung galah.


Gunung yang sangat tinggi ini dikelilingi hutan Sowo khas tropis dengan pepohonan yang tinggi menjulang.


Gunung Damalung tak seperti gunung lainnya yang di hari tertentu didatangi para pendekar yang ingin bertapa brata, sangat jarang para pendekar datang ke gunung ini karena jalur pendakian yang sangat curam dengan segala cerita mengerikan yang menyelimutinya.


Selain itu, hanya hamparan rumput hijau yang ada dipuncak gunung Damalung, akan menyulitkan mereka untuk bersemedi, kebiasaan para pendekar selalu bersemedi didalam gua untuk melindungi diri dari hewan buas selama bersemedi.


Candrakurama dengan topeng khas Hibata tampak berdiri di atas sebuah pohon besar dipinggiran hutan Sowo sambil menatap sebuah gunung raksasa dihadapannya.


"Jadi gunung ini yang dimaksud tuan Patih, entah kenapa aku merasa ada sesuatu dari dalam gunung itu yang membuat hatiku tak tenang," gumam Candrakurama dengan wajah sedikit gelisah.


Tak lama Ciha muncul bersama Wardhana dan Wulan. Candrakurama langsung melompat turun dan memberi hormat pada Wardhana.


"Hormat pada tuan Patih," ucap Candrakurama pelan.


Wardhana mengangguk pelan, dia kemudian memperkenalkan Wulan pada Candrakurama.


"Kau memiliki kemampuan yang sangat unik, jika kau mampu memaksimalkan bakatmu maka kau akan menjadi pendekar pilih tanding. Perhatikan beberapa gerakan raja mu jika sedang bertarung bersamanya, kalian memilki beberapa kemiripan," sapa Wulan sopan.


"Terima kasih tetua, aku akan mengingat kata kata anda," balas Candrakurama.


"Apa kau sudah menyebar anggotamu?" tanya Wardhana.


Candrakurama mengangguk pelan, "Seluruh pendekar Hibata telah ku tempatkan di beberapa titik yang kemungkinan dilewati orang, mereka akan langsung melaporkan jika ada yang mencurigakan," jawab Candrakurama.


"Bagus, sepertinya perjalanan kali ini akan memakan waktu beberapa hari jadi pastikan tak ada yang mengganggu kita."


"Aku mengerti tuan Patih," balas Candrakurama.


"Lalu dari mana kita akan memulai tuan patih? Kita tak mungkin mengelilingi setiap jengkal gunung ini karena membutuhkan waktu yang sangat lama," tanya Wulan pelan.


"Aku tak berniat tinggal lama berada di gunung ini, perasaanku mengatakan akan sangat berbahaya jika berada di gunung ini," Wardhana berjongkok sambil membentangkan gulungan yang diberikan Wulan padanya.


Wulan, Ciha dan Candrakurama langsung mengelilingi gulungan yang dibentangkan di tanah.


"Kunci untuk memulai semua pencarian sepertinya adalah kalimat ini (Air membawa jalan kehidupan) jika perkiraanku tidak salah, maksud kalimat ini adalah mencari sumber air," Wardhana tampak menatap gunung Damalung sesaat sebelum menatap langit pagi itu, walau tampak samar, dibeberapa tempat sinar matahari berhasil menembus rimbunnya hutan Sowo.


Wardhana kemudian menggambar gunung Damalung dan memberi tanda panah dibeberapa tempat sesuai dengan arah sinar Matahari.


"Pepohonan khas hutan daratan Jawata akan mengikuti arah cahaya matahari muncul, semakin hijau daunnya menandakan pohon itu sering tersinari matahari, namun bukan itu saja faktor utamanya. Mereka tetap membutuhkan air yang cukup banyak untuk tumbuh besar.


Kalian lihat sinar matahari itu? berarti arah timur sebelah sana, ini adalah gambar gunung Damalung dan posisi kita ada di sini," Wardhana memberi tanda titik tepat dibawah gambar gunung.


"Jika mengikuti arah sinar matahari pagi muncul maka seharusnya tebing gunung sini ini tempat yang paling cocok dengan kata kata Air membawa jalan kehidupan. Kita tak perlu mengelilingi gunung Damalung karena tujuan kita adalah disini," Wardhana kembali memberi tanda titik di salah satu sisi gunung.


"Apa kau tau segalanya?" tanya Wulan yang kali ini kembali dibuat takjub oleh kepintaran Wardhana.


"Tidak semuanya tetua, beberapa kali aku pun pernah melakukan kesalahan namun Yang mulia Arya dwipa pernah memberiku nasehat, hal terbaik dalam hidup adalah belajar dari kesalahan agar tidak mengulanginya," balas Wardhana pelan.


"Arya Dwipa? setiap solusi seolah berasal dari dirinya, aku benar benar penasaran dengan sosoknya," gumam Wulan pelan.


"Ciha, bisakah kau pasang segel udara disekitar sini? aku takut kita tak sendiri ditempat ini. Aku akan membuat persiapan untuk mendaki keatas sana, sepertinya kita bisa mengambil jalur ini," ucap Wardhana sambil memasukkan kembali gulungannya.


Setelah semua persiapan selesai dan Ciha telah memberi tanda telah memasang segel udaranya, Wardhana memutuskan untuk mulai menaiki gunung tinggi itu.


"Ayo kita pergi, saatnya melihat apa yang terpendam di gunung ini," Wardhana melangkah lebih dulu diikuti yang lainnya.

__ADS_1


***


Perjalanan menuju puncak gunung Damalung ternyata jauh lebih sulit dari perkiraan Wardhana. Julukan gunung punggung naga yang disematkan kepada gunung itu ternyata bukan isapan jempol.


Jalan yang sangat terjal, ditambah cuaca yang selalu berubah rubah membuat jalur untuk mendaki menjadi sangat licin.


Wardhana yang awalnya memprediksi akan sampai puncak saat malam hari hanya tersenyum kecut ketika mereka baru melewati setengah perjalanan saat malam tiba.


"Sebaiknya kita istirahat sebentar, akan sangat berbahaya berjalan dalam gelap dengan kondisi jalur yang licin," ucap Wardhana sambil merebahkan tubuhnya di tanah yang agak datar.


"Tak sesuai perkiraan tuan? seharusnya anda senang karena jika benar tempat ini menjadi sumber informasi tiga trah besar Masalembo maka tak mungkin mudah didatangi," balas Wulan sesaat sebelum melompat keatas pohon untuk mengamati situasi.


Candrakurama dibantu Ciha tampak mengumpulkan ranting pohon untuk membuat perapian untuk menghangatkan badan.


Walau hujan yang selalu menemani mereka sepanjang perjalanan sudah berhenti namun tak membuat udara dingin mereda.


Saat ini mereka sudah berada ditengah perjalanan, semakin dekat kepuncak gunung terasa semakin dingin.


Telapak tangan Wardhana tampak menyentuh tanah yang dipijaknya.


"Apa yang sebenarnya kau sembunyikan," ucap Wardhana pelan.


"Tuan sebaiknya anda mendekat ke perapian, dengan suhu seperti ini tubuh kita akan membeku dan mati," ucap Ciha pada Wardhana.


Tubuh Ciha tampak menggigil, dia tidak berani terlalu jauh dari api. Suhu udara malam itu memang tiba tiba turun begitu cepat, semua tampak mengelilingi perapian kecuali Wulan.


Energi murni yang dimilikinya dapat membantu melawan rasa dingin yang sangat menusuk itu. Wulan masih tampak asik duduk di atas pohon sambil menatap ke sekelilingnya, tak ada tanda tanda kehidupan di gunung itu, hanya kegelapan dan udara dingin yang menusuk tulang.


Angin malam sesekali bertiup kencang menambah dingin udara disekitarnya.


Saat Ciha dan Candrakurama sudah mulai terlelap dalam tidurnya, Wardhana membuka kembali gulungannya. Dia masih penasaran dengan arti tulisan yang ada di gulungan Naraya.


"Kematian merubah siang menjadi malam, batu kehidupan. Apa sebenarnya arti tulisan ini," Wardhana tampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sebaiknya kau mengikuti dua temanmu tuan, dengan tenaga dalam rendah sepertimu akan sangat berbahaya jika kau tidak mengistirahatkan tubuhmu, udara ini bisa membunuhmu," ucap Wulan dari atas pohon.


"Terima kasih atas nasehatnya tetua, aku tak akan bisa tidur jika belum menemukan apa yang kucari. Jika aku takut mati maka sudah lama aku pergi karena Yang mulia seolah selalu dekat dengan kematian," jawab Wardhana sopan sambil terus mengamati gulungan itu.


"Apa sebegitu berartinya keluarga Dwipa bagimu?"


"Yang mulia Arya dwipa tidak hanya menyelamatkan hidupku saat kedua orang tuaku dibunuh dengan sangat kejam namun beliau juga memberikanku tujuan hidup baru ketika dunia ku runtuh sejak orang tuaku tewas.


Ini bukan hanya soal kesetiaan karena rasa terima kasih namun jauh lebih dari itu. Yang mulia pernah berpesan padaku sesaat sebelum Malwageni hancur. Urip kudu urup, hidup untuk sesama dan aku yakin dengan prinsip yang dipegang Yang mulia, Malwageni akan berguna untuk orang banyak."


"Dengan berkuasa? Masalembo pun ingin berkuasa demi mengatur dunia sesuai keinginannya, apakah ada yang menjamin jika suatu saat Sabrang tidak akan mengulangi kesalahan Masalembo? Sifat manusia akan berubah seiring dengan bertambahnya kekuatan yang dimiliki dan saat ini dia adalah pendekar terkuat," ucap Wulan.


Wardhana terkekeh mendengar ucapan Wulan, dia menoleh keatas pohon sambil menggeleng pelan.


"Tak ada yang menjamin Yang mulia ataupun diriku akan terus berjalan di jalur yang seharusnya namun aku yakin prinsip hidup yang diajarkan Yang mulia Arya dwipa harus diperjuangkan.


Jika suatu saat kami berubah, aku tetap yakin akan ada Wardhana dan Yang mulia baru yang akan menghentikan kami karena alam selalu membuat keseimbangan dengan caranya sendiri," jawab Wardhana.


"Begitu ya, sepertinya Arya dwipa benar benar mendidik mu dengan keras," balas Wulan.


Wardhana kembali melanjutkan aktifitasnya, dia benar benar bingung dengan beberapa kata yang tertulis di gulungan itu, semakin dia berfikir dengan keras petunjuk itu seolah semakin menjauh.


"Apakah malam ini purnama mencapai puncaknya?" tanya Wulan tiba tiba.

__ADS_1


Wardhana tampak mengernyitkan dahinya, dia kemudian menghitung sesuatu dengan tangannya.


"Belum, harusnya masih beberapa minggu lagi," jawab Wardhana heran.


"Begitu ya, ada yang aneh dengan gunung ini, sekilas tadi untuk beberapa detik lereng gunung itu terlihat cukup terang, aku sampai berfikir jika ini malam purnama," ucap Wulan bingung.


Wajah Wardhana tampak berubah seketika, dia kemudian menaruh gulungan itu dan melompat cepat kearah Wulan.


"Apa anda yakin tidak salah lihat?" tanya Wardhana yang kini telah berdiri disebelah Wulan.


"Aku sangat yakin lereng itu sangat terang, bagaimana aku bisa salah melihat cahaya dimalam gelap ini?"


"Sinar terang? hujan dan suhu udara yang sangat dingin," Wardhana terlihat berfikir sejenak sambil memejamkan matanya.


"Apa ada yang aneh?" tanya Wulan penasaran.


"Tidak, aku hanya merasa jika ada sesuatu yang membuat tempat ini dipilih selain jalurnya yang sangat sulit dilewati, pasti ada hal lain," ucap Wardhana pelan.


"Hal lain?" Wulan mengernyitkan dahinya.


Wardhana tidak menjawab pertanyaan Wulan, dia terus berfikir sambil mulutnya bergumam sesuatu.


"Kematian merubah malam menjadi siang," ujarnya pelan.


"Arya Dwipa, sepertinya pertaruhanmu pada Wardhana akan dimulai malam ini, apakah dia bisa menjadi senjata rahasia melawan Masalembo sesuai keinginanmu?" ucap Wulan dalam hati sambil memperhatikan Wardhana yang masih memejamkan matanya.


"Air membawa jalan kehidupan, kematian merubah siang menjadi malam, sepertinya aku sedikit mengerti arti dari kata kata itu," ucap Wardhana tiba tiba.


Wardhana melompat turun dan membangunkan Candrakurama dan Ciha.


"Kita sebaiknya cepat melanjutkan perjalanan, aku ingin paling lambat sore hari kita sudah berada dipuncak gunung," ucap Wardhana sedikit tergesa gesa.


"Anda sudah mendapatkan jawabannya?" tanya Ciha pelan.


"Belum seluruhnya namun jika perkiraanku benar, ada sesuatu yang tidak ternilai menunggu kita di atas sana. Dengarkan aku, aku membutuhkan beberapa dedaunan yang cukup besar dan lebar. Aku akan bersiap terlebih dahulu sebelum kita mulai mendaki kembali, tolong carikan aku dedaunan itu," ucap Wardhana bersemangat.


"Dedaunan?" Candrakurama dan Ciha saling menatap.


"Ikuti saja permintaannya, sepertinya senjata rahasia milik kita mulai mengarahkan serangannya pada Masalembo," jawab Wulan dari atas pohon sambil tersenyum.


"Baiklah tuan Wardhana, kita akan melihat apakah anda bisa membongkar sesuatu yang mungkin selama ini terpendam di gunung ini. alam selalu membuat keseimbangan dengan caranya sendiri ya? sepertinya ucapan anda benar, bukan trah dwipa ataupun rubah putih yang digunakan alam untuk membuat keseimbangan kali ini namun dari seorang manusia biasa yang bahkan ilmu kanuragannya sangat rendah," gumam Wulan dalam hati.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Lima hari! Lima hari saya merancang misteri dan teka teki yang ada di gunung Merbabu ini, beberapa kali saya rubah kembali karena sedikit tidak puas dengan alurnya...


Semoga kali ini misteri yang ada di gunung Merbabu benar benar "Meledak" dan membuat kalian puas.


Sedikit informasi mengenai tanaman hijau khas tropis yang disebutkan Wardhana.


Jika teman-teman memerhatikan, tumbuh-tumbuhan berwarna hijau akan berbelok mengikuti arah cahaya Matahari, lo.


Kira-kira mengapa begitu, ya?


Ternyata cahaya Matahari sangat berpengaruh terhadap zat klorofil yang penting bagi tumbuhan berwarna hijau.


Sekian dari saya dan terima Vote

__ADS_1


__ADS_2