Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pertempuran Di Mulai


__ADS_3

Hutan Kerihun adalah sebuah hutan yang berada di sisi selatan Keraton Malwageni yang juga merupakan tempat desa Trowulan berada.


Suasana hutan yang sangat lebat, ditambah hampir semua dikelilingi jurang membuat hutan ini menjadi tempat persembunyian paling aman bagi siapapun yang melarikan diri.


Namun kali ini, Paksi tampak berfikir tidak biasa, dia justru ingin menggunakan tempat yang paling sulit untuk bertempur sebagai pertempuran terakhir mereka.


"Perdaya langit untuk melewati samudra ganas?" tanya Sabrang bingung setelah mendengar ucapan Paksi.


"Benar Yang mulia, hamba mempelajari taktik ciptaan Wardhana ini beberapa waktu lalu dan sangat menarik. Ini akan sangat membantu kita kali ini karena apa yang Wardhana tuangkan dalam taktik ini tak mungkin bisa dibaca oleh lawan.


Semua orang akan berfikir untuk mencari tempat terbuka dan sudah dikuasai untuk menjadi medan pertempuran apalagi jika lawannya sekuat Masalembo namun kali ini taktik Wardhana seolah putus asa dengan menyerang area musuh yang medannya tidak kita kuasai.


Namun disitulah letak kejeniusan Wardhana, dia bisa merubah kelemahan menjadi kekuatan yang tak akan diperkirakan lawan. Taktik ini sepertinya memang dipersiapkan untuk Masalembo dan harus hamba akui kini dia jauh di atas hamba," jawab Paksi pelan.


Paksi membuka gulungan yang ada ditangannya dan menunjukkan pada Sabrang dan Rubah Putih.


"Suka tidak suka, kekuatan mereka jelas akan mendesak kita dan itulah kelemahan yang akan kita rubah menjadi kekuatan. Bawa mereka kesini dan titik ini akan menjadi pusat rencana kita dan gusti ratu yang akan mengakhirinya," ucap Paksi.


"Dewi?" Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Maaf hamba terlambat Yang mulia," Tungga Dewi dan Mentari muncul tiba tiba.


Sabrang mengangguk sambil tersenyum kecil.


"Maaf jika aku merepotkan, bagaimana dengan kandunganmu?" tanya Sabrang pelan.


"Hamba baik baik saja Yang mulia, mohon jangan khawatir," balas Tungga Dewi sambil menundukkan kepalanya.


"Tugasmu kali ini akan sedikit berat dan berbahaya, ku harap kau tetap mengutamakan kandungan mu dan jangan terlalu memaksakan diri," ucap Sabrang yang dibalas anggukan Tungga Dewi.


Paksi kemudian menjelaskan rencananya secara detail pada mereka sambil menunjuk beberapa titik yang akan menentukan saat pertarungan besok.


"Keuntungan kita kali ini adalah lawan memang jauh lebih kuat, sehingga tak sulit menarik mereka kemari, hamba harap semua ingat pada posisinya karena satu kesalahan kecil maka semua akan hancur," ucap Paksi kemudian.


"Apa kau yakin ini akan benar benar berhasil?" Rubah Putih kembali memastikan, dia tidak ingin jika Tungga Dewi atau siapapun berkorban untuk hal yang sia sia.


Paksi menggeleng pelan, dia menoleh kearah Rubah Putih dengan wajah masam.


"Aku bukan seorang pendekar namun aku sedikit tau tentang hawa kehadiran. Yang aku takutkan Laeswara menyadari jika disekitar sini dipersiapkan untuk membuka ruang dimensi dan mengurungnya, hanya itu yang masih menggangguku sampai hari ini," balas Paksi pelan.


"Seharusnya Naga api tak memiliki masalah dengan hal itu karena energi uniknya mampu menyamarkan energi apapun, apa dia tidak belajar sama sekali?" ucap Seorang pria tua yang menggendong anak umur lima tahun.


"Mpu Sedayu, sosok misterius yang sampai hari ini aku tidak tau siapa identitas aslinya, mohon terima hormatku," Rubah Putih menunduk hormat.


"Kau sudah dewasa nak, namun sepertinya kau belum mampu menguasai golok ciptaan ku itu," balas Mpu Sedayu.


"Golok ciptaan kakek?" Sabrang menoleh kearah Rubah Putih meminta penjelasan.


"Sama seperti anak itu, aku diasuh oleh Mpu Sedayu saat aku terbangun ditengah hutan dengan ingatan kosong. Dialah yang mengajarkanku ilmu kanuragan dan memberikan golok pusaka ini sebagai hadiah.


Namun ada yang aneh dengannya, hampir semua muridnya memiliki ilmu kanuragan tinggi termasuk Arjuna tapi beliau tidak bisa menggunakan jurus satupun," ucap Rubah Putih sambil tertawa.


"Kau masih menyimpan pertanyaan itu? aku hanya tidak ingin terjun ke dunia persilatan, sejak ayahku tewas aku sudah bertekad untuk menjadi pembuat pusaka agar bisa membantu para pendekar yang masih memiliki hati nurani.


Kau sepertinya lupa dengan ajaranku yang paling utama Rubah Putih, jangan banyak tau atau kau akan terbunuh," balas Mpu Sedayu sambil tersenyum ramah.


Semua tersentak kaget mendengar ucapan Sedayu, bagaimana bisa seorang kakek lemah yang menurut Rubah Putih tidak memiliki ilmu kanuragan apapun bisa berkata bunuh dengan wajah santai dan senyum ramahnya.


"Ada sesuatu yang disembunyikan tua bangka itu," ucap Naga Api tiba tiba.


"Kau yakin?" tanya Sabrang.


"Aku tidak tau, namun sejak kedatangannya aku mulai gelisah oleh sesuatu yang ada ditubuhnya," jawab Naga Api.


Ken Panca kemudian memecah keheningan akibat ucapan Sedayu dan menjelaskan rencananya untuk menjebak para pemimpin dunia ditempat itu pada Mpu Sedayu.

__ADS_1


Mpu Sedayu terlihat berfikir sejenak sambil menganggukkan kepalanya sebelum menoleh kearah Mentari yang kebetulan berada didekatnya.


"Nona, bisa kau bantu aku menggendong anak ini sebentar? dia sepertinya terlalu memaksakan diri berlatih hingga tertidur lelap," pinta Mpu Sedayu pelan.


Mentari mengangguk pelan, dia mengambil anak itu dan menggendongnya.


Saat Mentari menggendong anak itu, tiba tiba pandangannya gelap dan seperti berputar.


Perlahan namun pasti dia melihat seorang Seorang pria setengah baya tampak berdiri di pinggir jurang sambil memegang pedang berwarna hitam legam dengan corak Naga Kembar di gagangnya. Mengenakan pakaian serba hitam dengan penutup wajah, dia berdiri dibawah sinar bulan purnama malam itu, diantara tumpukkan mayat para pendekar dunia persilatan dari berbagai aliran yang berhasil dia bunuh.


Tetesan darah diujung mata pedangnya terlihat semakin memerah karena terkena sinar bulan purnama. Walaupun dia berhasil membunuh para pendekar terkuat dunia persilatan saat ini, tak ada raut bahagia diwajahnya.


Aura besar yang meluap dari tubuhnya tak bisa menutupi wajahnya yang sudah menua.


Dia menatap langit sambil menarik nafasnya panjang, seolah menyalahkan langit atas apa yang terjadi dimalam berdarah itu.


Seorang pendekar yang berhasil selamat walaupun terluka parah menatap kagum pria setengah baya dihadapannya yang bergelar Iblis pedang itu.


"Dengan ilmu kanuragan yang anda miliki, sepertinya hanya sang waktu yang dapat mengalahkan anda tuan Mahesa," ucap pendekar itu hormat.


"Hampir seratus tahun aku berusaha menjadi kuat untuk menghentikan kehancuran dunia persilatan dalam ramalan, tak kusangka akulah yang memicu kehancuran itu, sungguh sebuah ironi," ucap Mahesa lirih.


"Kau akan kubiarkan hidup agar menjadi saksi betapa mengerikannya kitab pedang Pengilon kembar. Kitab ini harus terkubur bersamaku dan ramalan bodoh itu atau akan ada Mahesa lainnya yang akan muncul," ucap pria setengah baya itu pelan.


"Siapa dia?" Mentari menajamkan matanya untuk melihat sosok yang berdiri di atas tumpukkan mayat.


Namun tiba tiba Mentari tersentak kaget saat merasakan energi Naga Api masuk ke tubuhnya.


Dia membuka matanya dan menemukan dirinya sudah berada dipangkuan Sabrang.


"Hei kau baik baik saja?" tanya Sabrang cemas.


Mentari tampak bingung sambil mengangguk pelan, "Apa yang terjadi dengan hamba Yang mulia?" tanyanya.


Mentari terdiam sambil menoleh kearah anak kecil yang terlihat menangis di pelukan Tungga Dewi.


"Mahesa?" ucap Mentari tiba tiba.


Mpu Sedayu menatap Mentari bingung, dia yakin belum pernah memperkenalkan murid kecilnya pada mereka.


"Bagaimana anda bisa tau nama anak itu nona?" tanya Mpu Sedayu bingung.


"Ah tidak, aku hanya menembak saja tuan," jawab Mentari pelan, dia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat Mahesa dewasa membantai ratusan pendekar di pinggir jurang.


"Jadi pendekar yang kulihat tadi adalah benar anak ini?" gumamnya dalam hati.


"Tak perlu terkejut, seiring dengan kemampuanmu yang terus meningkat kau akan terus melihat ramalan ramalan masa depan namun satu yang harus kau pahami, ramalan itu tidak selalu benar namun juga tidak selalu salah.


Kau hanya perlu menyimpan kepingan kepingan penglihatan yang diberikan alam untukmu dan menyatukannya kelak menjadi satu agar kita tau apa itu keinginan alam, jangan ulangi kesalahan Rakin yang melawan kehendak alam," ucap Siren tiba tiba dalam pikiran Mentari.


"Menyatukannya kelak?" Mentari mengernyitkan dahinya.


"Alam tidak akan memberi kita petunjuk lengkap tentang sesuatu, alam ingin kita berusaha dengan melihat apa yang dia tunjukkan, karena hakikat manusia adalah berusaha," balas Siren.


Mentari terdiam dengan sejuta pertanyaan, dia menatap wajah polos Mahesa yang tadi dilihatnya sangat menakutkan dalam ingatannya.


"Apa yang sebenarnya ingin ditunjukkan alam?" gumamnya dalam hati.


Mpu Sedayu yang sepertinya sudah melupakan keanehan Mentari mulai menjelaskan tentang keunikan energi Naga Api.


"Energi Dewa api bisa dikatakan energi terkuat di dunia karena gabungan kekuatan Sabdo palon dan Iblis api Banaspati.


Gabungan dua kekuatan itulah yang membuat Dewa api menjadi unik, Energi Naga api bisa menyamarkan energi apapun selama kau mampu menggunakannya.


Berbeda dengan Mariaban, Naga Api bisa berubah bentuk dengan semaunya. Jika ada energi yang mampu menembus dimensi ruang dan waktu maka Naga api yang mampu melakukannya," ucap Mpu Sedayu pelan.

__ADS_1


"Jadi apa yang harus aku lakukan kek?" tanya Sabrang pelan.


"Bertarung lah seperti biasa, dan tutupi perlahan sekitar hutan ini dengan energi Naga Api, namun sifat Naga Api yang tergesa gesa bisa membuat rencana ini berantakan.


Gadis itu mungkin kunci dari semua ini namun tanpa energi Naga Api, Lakeswara akan langsung mengetahui jika gerbang dimensi mulai terbuka. Kau harus benar benar memastikan Naga api mengikuti perintah mu, aku akan membimbing dari jauh," jawab Mpu Sedayu pelan.


Semua terdiam setelah mendengar penjelasan Mpu Sedayu, mereka sadar tak mudah mengendalikan Naga Api yang terkenal sulit ditaklukkan. Naga Api mungkin saat ini mengakui Sabrang sebagai tuannya namun dalam pertarungan kadang Sabrang pun masih sulit mengendalikannya karena kadang Naga api yang terkenal senang dengan pertarungan mengambil inisiatif tanpa perintah Sabrang.


"Aku tidak tau apa yang akan kau lakukan namun aku sangat menantikan perkembangan mu pemimpin cahaya putih," ucap Mpu Sedayu dalam hati.


***


Sebuah ledakan api di pagi hari meluluhlantakkan reruntuhan Desa Trowulan. Suasana pagi yang masih gelap karena matahari belum menampakkan sinarnya tiba tiba berubah terang akibat kobaran api yang menyelimuti tubuh Sabrang.


Sabrang terlihat berdiri diapit oleh Rubah Putih dan Candrakurama.


"Bukankah hau hanya diminta untuk memancing mereka keluar dan bukan membuatnya marah?" umpat Rubah Putih kesal.


"Apapun yang aku lakukan bukankah sama saja? mereka akan tetap marah saat melihat kehadiran kakek?" balas Sabrang.


Rubah Putih tersenyum kecil, ada rasa khawatir dalam dirinya karena akan bertemu kembali dengan Lakeswara, pengalaman terkurung di ruang waktu masih sangat membekas dihatinya.


"Rubah putih, tak kusangka kau bisa lepas dari ruang waktuku, harus kuakui kau adalah lawan berat untukku," sebuah suara yang memekakkan telinga tiba tiba terdengar di udara.


Tak Lama seorang pendekar dengan mata bulan yang bersinar terang muncul dari udara bersama enam pendekar menggunakan topeng berwarna merah.


"Lakeswara Dwipa, kau harus membayar atas apa yang dulu kau lakukan padaku," balas Rubah Putih geram.


Lakeswara tampak tidak memperdulikan Rubah Putih, dia sangat tertarik melihat mata bulan Sabrang.


"Jadi kau adalah keturunanku? aku tak tau apa yang terjadi padamu namun mata bulan milikmu membuatku tertarik, mata itu seolah bisa menarik masuk apa saja kedalam ruang dan waktu.


Naraya telah melakukan kesalahan namun kau masih belum terlambat. Kemarilah dan bantu aku mewujudkan dunia tanpa pertumpahan darah," ucap Lakeswara pelan.


"Tanpa pertumpahan darah? bagaimana jika darahmu sebagai simbol berhentinya pertumpahan darah di dunia ini?" Sabrang tiba tiba menghilang dan muncul didekat Lakeswara, dia langsung menyerang dengan kekuatan penuh.


Udara disekitar hutan itu langsung naik dengan cepat.


"Ilmu api abadi tingkat II : Tarian api abadi," Kobaran api melesat cepat dan membakar tubuh Lakeswara.


"Kau pikir kekuatanmu sudah cukup menghadapi ku? kau salah besar," Lakeswara melesat keluar dari kobaran api dan menyerang Sabrang.


Suara ledakan akibat benturan pusaka dan tenaga dalam terdengar sampai keraton Malwageni.


Sabrang tersentak kaget ketika tubuhnya terdorong mundur dengan mudah padahal dia sudah menggunakan hampir separuh energi Naga Api.


Tubuhnya tak bisa dikendalikan, dia menghilang tiba tiba dan muncul kembali didekat pepohonan sebelum membentur pohon.


Rubah Putih terlihat sangat terkejut.


"Lakeswara menggunakan jurus ruang dan waktu untuk melukai Sabrang, bagaimana bisa? bukankah dia tidak bergerak sedikitpun?" gumam Rubah Putih dalam hati.


"Apa kau sudah sadar seberapa besar perbedaan kekuatan kita?" Lakeswara mencabut pedang pusaka nya dan bersiap menyerang kembali.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Beberapa hari ini gw di protes sama Ahmad Shoheh karena gak bales komen dia.. mohon maaf jika tidak sempat membalas.. hari ini akan saya balas spesial...


Ahmad Shoheh: Ceritanya terlalu berbelit belit.


Oke untuk kakak Ahmad saya buatkan novel sendiri besok.. Cukup 1 Bab dan semua musuh langsung mati.. ditunggu kakak...


Oh iya.. akan ada Cerita sendiri mengenai Pusaka Pengilon Kembar yang akan terbit setelah PNA tamat dengan judul Geger di Tanah Nusantara.. kapan tamatnya? masih lama wkwkwkkw tapi yang jelas Pengilon Kembar akan sangat berperan di Api di Bumi Majapahit yang sampai saat ini belum saya lanjutkan.. akan saya usahakan secepatnya...


Terima kasih dan Vote Gaskeun...

__ADS_1


__ADS_2