Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Sabdo Waktu (Loji) II


__ADS_3

Area pertempuran mendadak hening, semua pendekar baik aliansi Malwageni maupun pendekar Lembayung merah menghentikan pertarungan karena merasa nyawanya terancam.


Aura membunuh yang berasal dari tubuh Sabrang memang sangat mengintimidasi mereka semua, Ken Panca atau Li Yu Fei yang memiliki ilmu kanuragan sangat tinggi bahkan tanpa sadar mundur beberapa langkah dan langsung meningkatkan kewaspadaannya sebagai reaksi alami ketika sedang terancam.


Tak hanya Ken Panca, Kemamang bahkan langsung menyelimuti tubuh Lingga dengan energinya, dan semua dilakukan roh pusaka itu tanpa sadar.


Semua menahan nafas dan tak ada satupun yang berani bergerak selama beberapa detik, belasan pendekar yang ada disekitar area pertarungan bahkan roboh ketanah tak sadarkan diri akibat tak mampu menerima tekanan aura itu.


"Yang Mulia..." ucap Wijaya lirih, golok ditangannya bergetar saat membayangkan reaksi Sabrang jika mendengar kabar kematian Mentari.


Belasan pendekar Lembayung merah yang melihat pertahanan Wijaya terbuka tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, setelah berhasil lepas dari tekanan aura membunuh Sabrang mereka langsung bergerak menyerang.


"Kalian harus membayar semua ini," teriak Wijaya sebelum kembali menggunakan ledakan tenaga dalam iblis untuk menyerang.


Wulan yang sejak awal sudah curiga jika sedang terjadi sesuatu pada Wijaya langsung bergerak mendekatinya.


"Wijaya, Apa yang kau lakukan di sini? bukankah tugasmu melindungi Tari dan tetua Teratai merah?" teriak Wulan cepat.


Wijaya hanya menoleh sesaat sebelum kembali menyerang namun tatapan mereka sempat bertemu untuk beberapa saat.


"Wajah Wulan berubah seketika, walau Wijaya tidak mengatakan apapun tapi dari tatapan putus asa itu dia bisa tau sesuatu telah terjadi pada Mentari.


"Ini Gawat, jika terjadi sesuatu pada Tari anak itu bisa mengamuk," ucapnya dalam hati sebelum bergerak menjauh, Wulan ingin memastikan sendiri apa yang sebenarnya terjadi pada Mentari.


"Hentikan semua ini kek... aku yakin keturunan Dwipa tidak akan semudah itu kalah, lawan dan jangan biarkan orang lain menggunakan tubuh kakek seenaknya," ucap Sabrang pelan.


"Auranya benar benar mengerikan, jadi kau sudah berhasil menyatukan energi murni dan kekuatan Iblis api ya..." ucap Jaya setra dalam hati, wajahnya tampak lega karena Sabrang datang tepat waktu.


"Keturunan Dwipa? Kau membuatku tertawa nak, kalian hanya sisa sisa suku atlantis yang dibuang karena dianggap tidak memiliki bakat besar seperti lainnya," Ken Panca tertawa mengejek, wajahnya masih terlihat tenang seolah tidak terganggu sama sekali dengan aura Sabrang yang terus menekannya.


"Apa kau berusaha memancing emosiku? trah Dwipa tidak ada hubungannya dengan Atlantis," balas Sabrang cepat.


"Lalu bagaimana kau bisa mendapatkan mata bulan? mata itu hanya dimiliki oleh Atlantis dan keturunannya," jawab Ken Panca sinis.


Sabrang terdiam sebelum menoleh kearah Setra seolah meminta penjelasan.


"Apa kau belum memberitahukan masalah ini padanya Setra? kau tentu masih mengingat bagaimana kejamnya suku Ibumu itu pada keturunan yang tidak memiliki bakat bukan? kalian bahkan mengusir mereka seperti sampah tak berguna," ucap Ken Panca.


"Apa itu benar tuan?" jawab Sabrang pelan.


"Atlantis mungkin kejam tapi itu hanya dilakukan pada sukunya sendiri dan kami tidak pernah..."


"Apa itu benar, tuan?" potong Sabrang cepat.


Jaya Setra menatap Ken Panca geram, dia merasa pria itu sedang berusaha mengadu domba dirinya dan Sabrang.


"Kami menyebutnya seleksi kekuatan tapi itu dulu sebelum kakekku menjadi ketua Atlantis," jawab Jaya Setra pelan.


"Jadi leluhurku adalah suku Atlantis yang kalian buang karena tidak berguna?" tanya Sabrang lagi.


"Tuan mohon bersabar, suku Atlantis mungkin telah melakukan kesalahan tapi hal itu tidak... " belum selesai Agam bicara, Setra memotong ucapannya.


"Melihat mata bulan yang anda miliki, kemungkinan besar benar tuan. Aku tidak pernah setuju dengan perlakuan kejam Atlantis pada keturunannya tapi kami sudah berusaha memperbaiki kesalahan itu. Sebelum kedatangan Suku Sungai kuning, kakek memerintahkan para pendekar tinggi untuk mencari mereka yang terusir ke seluruh penjuru dunia persilatan."


"Apa ilmu kanuragan begitu berarti bagi kalian? ketika hati telah tersakiti dan dipenuhi dengan dendam maka hanya saling bunuh yang bisa memutus mata rantai itu. Perbuatan Li Yu Fei mungkin awal dari semua kekacauan yang terjadi di Nuswantoro tapi kalian juga ikut andil dalam kekacauan ini," Sabrang menggeleng kecewa sebelum mengeluarkan pedang Naga Api di tangannya


"Kita akan bicarakan masalah ini dengan serius setelah menghentikan mereka," ucap Sabrang sambil menarik nafas panjang. "Kakek, maafkan aku tapi saat ini tak ada pilihan lain selain menyerang tubuh kakek untuk menghentikannya."


Sabrang tiba tiba bergerak, gerakan cepat yang bahkan sulit dilihat orang yang berada disekitarnya. Hanya ledakan besar yang terjadi sepersekian detik setelah Sabrang bergerak yang membuat semuanya sadar jika pertarungan kembali dimulai.

__ADS_1


Sebuah lubang besar terbentuk bersamaan dengan berhamburannya bebatuan di udara, belasan pendekar termasuk Agam terlempar tiba tiba akibat efek benturan dua kekuatan dan diantara debu yang beterbangan itulah tubuh Ken Panca tampak ikut terlempar.


Ken Panca dengan wajah terkejut menggunakan udara yang memadat disekitarnya sebagai pijakan, dia mengatur kuda kuda untuk bersiap menyerang.


Belum reda rasa terkejutnya, sebuah tebasan pedang kembali mengincarnya, Sabrang yang sudah berada di dekatnya terus berusaha menekan.


Ken Panca bukan pendekar biasa, ratusan musuh kuat pernah dia hadapi termasuk Purwati dengan darah Atlantis nya tapi serangan kali ini benar benar menekannya.


"Kekuatannya benar benar mengerikan, jadi ini yang mereka katakan menggabungkan dua kitab menjadi satu," Ken Panca berusaha melepaskan diri dari serangan Sabrang, dia bahkan memaksakan mata bulannya untuk membaca gerakan lawannya itu tapi kecepatan Sabrang yang terus meningkat dan gerakan yang selalu berubah seolah menyegel mata kebanggaan suku Atlantis itu.


Beberapa tebasan pedang untuk pertama kalinya menghiasi tubuh Ken Panca, walau belum mengenai area berbahayanya namun mampu melambungkan semangat aliansi Malwageni yang sempat runtuh.


Para pendekar gabungan Teratai merah dan Lembayung hitam yang awalnya hampir putus asa setelah melihat kekuatan Ken Panca kembali bersemangat.


"Bentuk formasi, bunuh semua pengkhianat Lemuria!" teriak salah satu pendekar Lembayung hitam.


"Kehadirannya selalu berhasil membakar semangat semua orang, sekarang kalian dalam masalah," Lingga mengarahkan pedangnya ke depan sambil menatap tajam Gara.


"Pertarungan sebenarnya baru saja dimulai," ucap Lingga sebelum bergerak menyerang.


Situasi berbalik dengan sangat cepat, para pendekar aliansi yang awalnya tertekan mulai bisa mengimbangi lawannya.


"Kalian, bantu tuan Wijaya, sisanya ikut denganku untuk melindungi ketua," ucap salah satu murid Teratai merah sambil bergerak mundur.


Para pendekar Lembayung merah yang masih unggul jumlah tidak tinggal diam, mereka berusaha mengisolasi Wijaya yang mulai kehabisan tenaga.


"Jagan biarkan mereka mendekati orang itu."


"Bunuh semuanya."


Para pendekar Lembayung Merah langsung bergerak membentuk formasi dan menghadang murid teratai merah. Namun situasi semakin mencekam saat belasan bola petir muncul di udara.


"Sejak awal aku tak pernah menganggap kelompok Lembayung merah teman, kalian hanya memikirkan kepentingan sendiri," Ratih bergerak cepat sambil mengarahkan tangannya di udara.


"Hujan Darah Lembayung hitam," ledakan demi ledakan terus mengguncang hutan Kematian, belasan mayat yang terbakar api membuat bau anyir dan daging terpanggang menyatu.


Para pendekar Lembayung hitam berlarian menyelamatkan diri namun Ratih sepertinya tidak berniat membiarkan mereka hidup.


"Siapa wanita itu? dia benar benar gila!" umpat Lingga sedikit menjauh, kobaran api yang membakar belasan pendekar Lembayung Hitam membuat area pertarungan menjadi lautan Api.


***


Jaya Setra menyambar tubuh Agam dan bergerak menjauh saat serangan Sabrang hampir mengenainya.


"Kita harus menjauh, sedikit saja terkena efek serangan mereka tubuhmu bisa hancur," ucap Setra cepat.


"Apa kemenangan sudah berada di pihak kita?" balas Agam pelan, wajahnya pucat karena darah terus keluar dari lukanya.


"Aku tidak tau tapi setidaknya kita bisa mengulur waktu untuk memulihkan kekuatan," jawab Setra ragu.


"Mengulur waktu? Apa anda masih menyembunyikan sesuatu? jika melihat arah pertarungan, kemenangan sudah berada di tangan tuan Sabrang."


"Apa kau ingat kata kata Li Yu Fei sebelum Sabrang muncul? ada alasan kenapa kitab itu disebut Sabdo Waktu (Loji), aku merasa dia masih menyembunyikan sesuatu. Semoga kali ini aku salah," Setra mengalirkan tenaga dalam ke tubuh Agam untuk mengobati lukanya.


"Sabdo Waktu? tapi dengan kondisinya kini, sangat mustahil dia bisa membalikkan keadaan," balas Agam sambil memperhatikan pertarungan Sabrang dari jauh.


Ken Panca merubah gerakannya di udara, dia memanfaatkan efek serangan Sabrang untuk melompat tinggi.


"Menarik, aku bahkan sudah lupa dengan rasa sakit sejak Purwati berhasil melukaiku, tubuhmu benar benar membuatku kagum," Ken Panca bergerak turun dengan pedang penuh tenaga dalam.

__ADS_1


Sabrang menyambut serangan itu, dia bergerak dengan kecepatan tinggi dan di saat bersamaan senyum Ken Panca merekah, dia diam diam menggunakan jurus menghentikan waktu untuk menjebak Sabrang.


Tusukan pedang Ken Panca mampu dihindari Sabrang dengan sempurna, tubuhnya berputar cepat dan menyerang titik buta lawannya.


"Jurus menghentikan Waktu," Ken Panca yang terlihat sangat percaya diri tidak berusaha menghindar, dia mengangkat pedangnya dan bersiap menyerang balik.


Namun betapa terkejutnya Ken Panca saat melihat tubuh Sabrang masih bisa bergerak ketika waktu berhenti.


"Tidak mungkin... bagaimana bisa," tebasan pedang Sabrang hampir menghantam tubuhnya andai Ken Panca tidak cepat bereaksi.


Kedua pusaka itu kembali beradu namun efek serangan Sabrang kali ini jauh lebih besar, tubuh Ken Panca kembali terdorong beberapa langkah.


"Mata itu...Jadi matamu juga sudah berevolusi... Pantas saja jurus menghentikan waktu tak berpengaruh padamu," ucap Ken Panca tersenyum.


"Dia masih terlihat tenang walau situasi tidak menguntungkan, kau harus cepat menghabisinya... menghadapi orang itu selalu membuatku khawatir," ucap Naga Api tiba tiba.


"Aku tau...Bersiaplah untuk serangan terkahir," Aura di tubuh Sabrang kembali meluap bersamaan dengan munculnya puluhan keris di udara.


"Jadi kau sudah ingin mengakhiri pertarungan? baik... kita lihat berapa lama kau mampu bertahan dari jurus pusaran waktuku."


Sabrang bergerak lebih dulu, dengan pedang di kedua tangannya dia berusaha mengendalikan pertarungan secepatnya. Ken Panca tidak tinggal diam, dia menyambut serangan itu dengan tenang, tak ada sedikitpun rasa khawatir tergambar di wajahnya.


Keduanya kembali bertukar serangan dan sesuai dengan ucapan Agam, cukup sulit bagi Ken Panca membalikkan keadaan. Gabungan energi murni dan Naga Api membuat gerakan Sabrang jauh lebih cepat.


Dalam waktu singkat, Ken Panca kembali terdesak, pertarungan dua mata bulan yang sudah berevolusi ke tahap tertinggi sebenarnya seimbang namun Sabrang selalu bisa bergerak lebih cepat beberapa detik dari lawannya.


Tebasan Pedang Naga Api yang menghantam cukup keras membuat tubuh Ken Panca oleng dan itu dimanfaatkan dengan baik oleh Sabrang.


Tubuh Sabrang yang masih bergerak di udara meluncur deras dengan jurus pedang yang siap membunuh lawannya.


"Jurus pedang Sabdo Palon tingkat Enam : Hembusan angin neraka."


Saat Sabrang sudah yakin akan mengakhiri pertarungan, sesuatu yang aneh tiba tiba terjadi.


Gerakan Sabrang tiba tiba melambat sebelum berhenti seketika tapi di saat bersamaan Kecepatan Ken Panca justru meningkat tak wajar.


"Naga Api, apa yang terjadi? bagaimana jurus menghentikan waktu berpengaruh padaku, bukankah..." belum sempat Sabrang menyelesaikan ucapannya, sebuah sabetan pedang menghantam tubuhnya.


"Tidak, waktu tidak berhenti tapi melambat dan bergerak mundur... dan hanya terjadi disekitar tubuhmu," jawab Naga Api bingung.


"Bergerak mundur?" balas Sabrang bingung sambil menahan rasa sakit, darah segar mulai keluar dari mulutnya.


Setra yang sejak awal memperhatikan pertarungan mereka dari jauh tampak sangat terkejut, dia seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.


Mata bulan Setra melihat dengan jelas bagaimana Sabrang begitu mudah terkena serangan yang menurutnya tidak terlalu berbahaya dan yang membuatnya semakin bingung, pertahanan Naga Api yang melindungi tubuh Sabrang menghilang beberapa detik sebelum tubuhnya terlempar.


"Sabdo Loji memiliki arti Sabda Waktu dan inti dari ajaran kitab itu adalah mengendalikan Waktu. Jurus menghentikan waktu mungkin tidak berpengaruh padamu yang memiliki kecepatan tinggi tapi tidak jika aku memperlambat atau bahkan memundurkan waktu beberapa detik," ucap Ken Panca sambil tertawa.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Cuplikan cerita Geger di Tanah Nusantara.


"Maaf tuan Manda, bukan aku meremehkan anda tapi apa yang ada di dalam tubuh anak itu suatu saat akan membahayakan dunia persilatan jika tidak ditangani dengan baik. Tolong izinkan perguruan Awan Putih merawat Elang," ucap Aji Waskita pelan.


"Apa anda sedang berusaha menipuku? Cakra mahkota di tubuh Elang yang menjadi pusat berkumpulnya tenaga dalam sudah cacat dari lahir dan hampir semua orang mengatakan dia tidak mungkin menjadi seorang pendekar, bagaimana anda bisa mengatakan anakku membahayakan dunia persilatan?" jawab Manda ketus.


"Lalu bagaimana anda menjelaskan tentang mimpinya yang datang berulang kali itu? Aku tau ini terdengar mustahil tapi jika mendengar ciri yang dia sebutkan, mahluk yang hadir dalam mimpinya itu adalah ruh Iblis Api."


Seru? banget.. sehari setelah PNA tamat, Geger di Tanah Nusantara akan update di.... Rahasia wkwkwkww

__ADS_1


Follow Instagram Author rickyferdianwicaksono untuk mengikuti perkembangannya...


__ADS_2