
Ketika malam semakin larut dan sinar bulan perlahan muncul setelah hujan cukup lama mengguyur keraton, Pandita terlihat melangkah kearah ruangan Wardhana dengan langkah gontai, ini untuk keempat kalinya dia mencoba menemui Wardhana.
Udara dingin malam itu seolah tak menyurutkan langkahnya untuk menemui Mahapatih Malwageni itu. Dia bukan tidak sadar jika sedang dipermainkan oleh Wardhana tapi saat ini salah satu menteri yang cukup berkuasa itu tak dapat berbuat apapun kecuali mengikuti permainan Wardhana.
Sudah tiga malam berturut turut dia datang keruangan Wardhana namun selalu ditolak dengan alasan sedang banyak pekerjaan.
"Sial, aku benar benar terjebak diantara perseteruan mereka," umpat Pandita sambil menahan udara dingin yang menusuk tubuhnya.
Dia menghentikan langkahnya saat melihat beberapa penjaga di pintu masuk ruangan, penolakan yang terjadi sebelumnya kembali terbayang dalam pikirannya.
"Tuan, anda telah ditunggu tuan Patih," ucap salah satu prajurit membuyarkan keraguan Pandita. Wajahnya menjadi bersemangat, dia melangkah cepat masuk kedalam ruangan mewah itu.
"Hormat pada tuan Patih," ucap Pandita memberi hormat.
"Duduklah," balas Wardhana datar.
Mendapat sambutan tak bersahabat, Pandita tetap mencoba tersenyum walau terpaksa, dia tidak ingin situasi semakin rumit jika menyinggung Wardhana.
"Apa kau menerima pesanku?" tanya Wardhana pelan.
Pandita mengangguk cepat, "Benar tuan, terima kasih sudah bersedia mengundangku," balas Pandita basa basi.
Wardhana menyerahkan beberapa gulungan pada Pandita.
"Pengangkatan Pangeran sebagai ketua Pejabat pemeriksa mengharuskan kita membuka semua masalah di masa lalunya termasuk dugaan keterlibatan selir Anjani dalam percobaan pemberontakan terhadap Malwageni.
Posisi beliau sebagai Pejabat pemeriksa sangat penting saat ini, aku ingin membuka kembali kasus pemberontakan itu untuk membersihkan nama Pangeran dan aku mau kau membantuku," ucap Wardhana pelan.
Wajah Pandita mulau berubah, kini dia mengerti kemana arah rencana Wardhana yang secara tidak langsung ingin mengungkap keterlibatannya dalam percobaan pemberontakan itu.
Pandita memang salah satu pejabat yang terlibat menghasut selir Anjani untuk memberontak namun setelah Paksi berhasil mengungkap semuanya, dia melimpahkan semua kesalahan pada Anjani, sehingga hanya Anjani dam beberapa pejabat menengah yang menerima hukuman dari Arya Dwipa.
"Apa ini tidak terlalu beresiko tuan? hamba takut pangeran tersinggung dan marah dengan dibukanya kembali kasus ini," jawab Pandita hati hati, dia sadar yang dihadapinya kali ini adalah ahli siasat terbaik Nuswantoro.
"Aku selalu percaya jika nyonya selir hanya korban dari keserakahan para pejabat dimasa lalu. Saat ini pangeran hidup dengan menanggung beban itu, beliau selalu di cap anak pengkhianat Malwageni, aku berniat membersihkan namanya dengan mengungkap pelaku sebenarnya, apa menurutmu dia akan marah?"
Pandita kembali terdiam, jika benar Wardhana ingin mengungkap pelaku sebenarnya maka dia adalah orang pertama yang akan diseret masuk tahanan.
"Maaf tuan, apa sebenarnya yang anda rencanakan? mengapa anda meminta hamba membantu, bukankah jabatan hamba sebagai Menteri Pakirakiran saat ini tidak berhubungan dengan masalah ini?" tanya Pandita.
"Apa kau lupa jika dulu kau yang memimpin pemeriksaan mereka? kau juga yang merekomendasikan nyonya selir dan pejabat lainnya untuk dihukum. Aku ingin meminta penjelasan darimu mengenai dasar yang membuatmu memutuskan mereka bersalah saat itu," jawab Wardhana cepat.
Wajah Pandita menjadi pucat pasi, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Wardhana karena saat itu dia memalsukan semua bukti dan saksi untuk menjerat Anjani.
"Tuan, mengenai masalah itu...," belum sempat Pandita menyelesaikan ucapannya, Wardhana langsung memotong.
"Apa kau terlibat? semua bukti yang telah aku periksa semuanya lemah dan tanpa dasar, aku tidak bisa membayangkan andai Pangeran yang kini memiliki posisi penting mengetahui masalah ini. Kau tidak hanya harus berhadapan denganku tapi dengan seluruh penghuni keraton," ucap Wardhana cepat.
"Tuan..." Pandita terlihat panik, dia tidak tau harus menjawab apa karena memang semua yang dikatakan Wardhana benar, terlebih dia melihat bukti bukti palsu telah disita oleh Wardhana.
"Dengar tuan Pandita," suara Wardhana mulai mengeras setelah berhasil menghancurkan pertahanan Pandita selama ini.
"Aku tau kau dan Adiwilaga terlibat dalam masalah ini, tapi aku akan mencoba melindungi mu karena dulu kau adalah orang kepercayaan Yang Mulia Arya Dwipa dengan beberapa syarat.
Pertama bantu aku menjebak Adiwilaga karena bagaimanapun harus ada yang masuk tahanan dan dihukum atas kasus kali ini untuk membersihkan nama pangeran. Aku ingin kau menceritakan secara detai peran Adiwilaga dalam masalah ini dan mencari bukti penyelewengan keuangan kerajaan yang digunakan olehnya agar dia membusuk di tahanan.
Yang kedua, setelah semua masalah selesai, mundur lah dari posisi Menteri dan pergi sejauh mungkin dari Malwageni, aku tidak ingin melihat wajah para pengkhianat di keraton. Kupikir itu adalah balasan yang setimpal dari pada kau dan semua keluargamu mati di tiang gantungan," ucap Wardhana sedikit mengancam.
Pandita menarik nafas panjang, dia merasa kali ini benar benar disudutkan oleh Wardhana, semua akses jalan keluar seolah tertutup dengan dibukanya kembali kasus pemberontakan itu.
__ADS_1
"Pemberontakan itu adalah kesalahan terbesarku dan tidak ada hubungannya dengan anak dan istriku, kumohon tuan bantulah aku maka akan kulakukan apapun perintah anda," suara Pandita bergetar, dia benar benar telah putus asa karena saat ini nyawa keluarganya ikut terancam.
Wardhana tersenyum puas setelah mendengar ucapan Pandita, kini situasi telah sepenuhnya berada dalam genggamannya.
"Seperti yang aku katakan tadi bantu aku menjebak para pengkhianat yang mendukung Adiwilaga. Langkah pertama yang harus kau lakukan adalah mencari dukungan para menteri untuk mengawal titah gusti ratu mengenai penyelidikan ulang semua laporan keuangan kerajaan.
Aku yakin Adiwilaga akan menolak keras dan berusaha mempengaruhi para menteri lainnya dan tugasmu memastikan itu tidak terjadi. Saat ini Adiwilaga mungkin sudah mengetahui jika anda berhubungan denganku dan dia pasti mengincar keluargamu, hanya aku yang bisa melindungimu saat ini," ucap Wardhana pelan.
Pandita memejamkan matanya sambil menarik nafas, kini dia mengerti mengapa Wardhana menolak bertemu sampai tiga kali.
Wardhana ingin Adiwilaga mengetahui jika Pandita berhubungan dengannya sehingga semakin memojokkan posisi Pandita.
"Semua sudah direncanakannya dengan sangat matang termasuk membuat hubunganku dengan Adiwilaga memburuk, kini satu satunya pilihanku hanya membantunya. Dia benar benar mengerikan," ucap Pandita dalam hati.
"Apa anda benar akan menjamin keselamatan keluargaku?"
"Kau tak perlu khawatir, semua sudah kulakukan sejak Lembu Sora menemui mu di hutan itu," jawab Wardhana cepat.
"Baik, akan kulakukan semua perintah anda tuan Patih. Aku memiliki beberapa bukti keterlibatan Adiwilaga dalam pemberontakan nyonya Anjani dan beberapa laporan keuangan kerajaan yang digunakan olehnya," balas Pandita pelan.
Wardhana mengangguk pelan, dia terlihat berfikir sejenak sebelum memberi tanda untuk mendekat.
"Aku ingin memintamu melakukan sesuatu," Wardhana membisikkan sesuatu pada Pandita.
"Tuan, itu..." Pandita tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Lakukan saja, aku yang akan bertanggung jawab semuanya," jawab Wardhana.
"Ba...baik tuan," ucap Pandita bingung.
***
"Apa hanya itu kemampuanmu? kau bahkan lebih lambat dari orang tua sepertiku," Wahyu Tama berlari cepat sambil membawa wadah air penuh di kedua tangannya.
"Bakat alaminya memang sangat besar," ucap Wahyu Tama dalam hati saat melihat kedua wadah air yang dibawa Sabrang tidak ada yang tumpah.
"Ayo kita turun lagi kek," ucap Sabrang kesal, dia yakin kali ini akan memenangkan perlombaan dengan Wahyu Tama.
"Cukup, aku sudah melihat kekuatan kedua pergelangan tanganmu, kini kau bisa menggunakan semua jurus pedangmu secara sempurna," Wahyu Tama membereskan semua air yang mereka bawa sebelum mengajak Sabrang masuk.
"Ada yang ingin kutunjukkan padamu," ucap Wahyu Tama sambil melangkah masuk.
Wahyu Tama meminta Sabrang duduk dihadapannya sambil duduk bersila.
"Kau sepertinya belum pernah menggunakan energi Iblis api sejak tinggal disini bukan? saat ini kondisi tubuhmu telah membaik, aku ingin kau menarik energi itu dan menyelimuti tubuhmu dengan api itu," pinta Wahyu Tama pelan.
Sabrang terlihat bingung dengan permintaan Wahyu Tama tapi dia tetap melakukannya. Dia memejamkan matanya dan mulai menggunakan Ajian Inti Lebur Saketi.
"Inti Lebur Saketi? dia bahkan menguasai jurus itu, sampai dimana sebenarnya batas bakat alaminya?" ucap Wahyu Tama terkejut.
"Naga Api," pinta Sabrang cepat.
"Aku tau," jawab Naga Api sambil mengalirkan energinya ke tubuh Sabrang. Perlahan namun pasti, kobaran api mulai menyelimuti tubuh Sabrang dan semakin membesar. Wahyu Tama bahkan harus mundur beberapa langkah saat tubuhnya terasa sangat panas.
"Jadi ini kekuatan Iblis Api? bagaimana dia tidak merasakan panas sama sekali saat api itu ada di seluruh tubuhnya?" ucap Wahyu Tama takjub.
Matanya tampak tertuju pada beberapa bagian tubuh Sabrang yang kobaran apinya terlihat paling besar.
"Energinya saling berbenturan? apa mungkin?" Wahyu Tama terlihat memperhatikan kobaran api itu sebelum meminta Sabrang untuk menarik kembali semua energinya.
__ADS_1
"Apa kau merasakan sakit saat menggunakan energi Iblis api?" tanya Wahyu Tama tiba tiba.
Sabrang mengangguk pelan, "Tubuhku memang belum siap menerima kekuatan Dewa api seluruhnya," jawab Sabrang pelan.
"Tidak, bukan itu masalahnya, kau dianugerahi tubuh yang sangat istimewa dan aku yakin saat ini mampu menampung energi sebesar apapun termasuk Iblis api namun kau melakukan kesalahan fatal...tidak, lebih tepatnya pencipta jurus Api Abadi yang melakukan kesalahan itu," jawab Wahyu Tama pelan.
"Tubuhku mampu menampung energi Dewa Api?" tanya Sabrang terkejut, bukan hanya Sabrang, Naga api pun sangat terkejut dengan ucapan Wahyu Tama.
"Dia hanya membual, kau hanya perlu melatih kekuatan tubuhmu," balas Naga Api kesal, dia merasa diremehkan oleh Wahyu Tama.
"Yang membuat tubuhmu tak mampu menampung kekuatan Iblis api adalah tubrukan tenaga dalam antara tenaga dalam milikmu dengan Iblis Api dan itu disebabkan oleh jurus Api Abadi.
Sifat jurus api abadi yang lembut sangat bertentangan dengan energi Iblis api yang meledak ledak dan itulah yang membuat dua energi di tubuhmu saling berbenturan. Iblis api mungkin bisa menyesuaikan energinya namun kau tidak akan bisa memaksimalkan energinya sampai kapanpun jika terus seperti ini, dengan kata lain, Jurus Api abadi tidak cocok dengan Iblis api.
Bukankah sudah kukatakan padamu bahwa kesalahan terbesar para pendekar saat ini adalah melupakan hal hal kecil seperti ini dan lebih mengutamakan jurus yang hebat," jawab Wahyu Tama.
"Jadi menurut kakek?"
"Musnahkan jurus Api abadi dan jangan pernah kau digunakan lagi, setelah itu kita akan melihat kekuatan Dewa Api yang sesungguhnya dengan menggunakan jurus pedang ini," Wahyu Tama mengambil sebuah kitab disaku nya dan menunjukkannya pada Sabrang.
"Kitab Sabdo Palon?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Aku akan menjelaskannya nanti, ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu," jawab Wahyu Tama.
Wahyu Tama memejamkan matanya sesaat, dia terlihat ragu menyerahkan kitab pedang Sabdo Palon pada Sabrang karena gabungan kekuatan jurus kitab pedang itu dan bakat alami Sabrang bisa menjadi mengerikan jika pemuda itu salah jalan dan memiliki ambisi besar.
"Apa kau percaya dunia persilatan suatu saat akan damai? kau mungkin bisa membunuh semua musuh dengan kekuatanmu untuk menciptakan kedamaian, tapi apakah itu bisa disebut kedamaian jika kau menciptakannya dengan saling membunuh?" tanya Wahyu Tama serius.
Sabrang tampak terkejut dengan pertanyaan Wahyu Tama, mulutnya terasa kaku untuk menjawab pertanyaan itu. Wahyu Tama seolah mempertanyakan prinsip semua pendekar di dunia persilatan yang ingin menciptakan perdamaian dengan pertumpahan darah.
"Temui aku jika kau sudah mendapat jawabannya dan jika jawaban itu membuatku puas bukan hanya kitab ini yang akan kuberikan padamu tapi seluruh ilmu kanuragan yang kumiliki," ucap Wahyu Tama sambil melangkah meninggalkan Sabrang sendiri.
***
"Tunggu, aku merasakannya," ucap Siren Tiba tiba saat Mentari dan Sekar Pitaloka berlatih di bekas reruntuhan sekte Tapak Es utara.
"Merasakannya?" Mentari tiba tiba melompat mundur dan meminta Sekar Pitaloka untuk berhenti sebentar.
"Energi Naga Api, walau sangat lemah tapi aku yakin tadi merasakannya," balas Siren Cepat.
"Apa kau terluka tari?" ucap Sekar Pitaloka yang langsung memeriksa tubuh Mentari.
"Mohon jangan terlalu khawatir ibu ratu, aku baik baik saja," Mentari memegang kedua tangan Sekar Pitaloka dengan wajah bahagia, air matanya mulai mengalir.
"Ibu ratu, Siren berhasil merasakan energi Naga Api walau sesaat," ucap Mentari bersemangat.
"Benarkah? syukurlah, kau ingat apa yang kukatakan kemarin? aku yakin Sabrang masih hidup," balas Sekar Pitaloka lega.
Mentari mengangguk pelan, dia benar benar tidak bisa menahan air mata keluar dari mata indahnya.
"Sekarang, kita kembali ke istana dan kau harus menjaga kandunganmu agar saat dia kembali, itu akan menjadi hadiah terindahnya," ucap Sekar Pitaloka lembut.
"Baik, ibu ratu hamba akan mengingat semua pesan anda," balas Mentari bersemangat.
"Siren, terus cari dimana energi Naga Api berada, kali ini aku tidak ingin kau kehilangan jejak kembali," perintah Mentari.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Cover untuk kitab Tuna Asmara, yang merupakan kitab paling mematikan di dunia telah selesai setelah ditempa ratusan tahun, kini hanya perlu melewati proses terakhir untuk update di Mangatoon. Proses terakhir ini sedikit sulit karena kitab ini harus di tiup oleh 4 perawan di 4 arah mata angin untuk memaksimalkan kekuatannya..
__ADS_1
Sambil nunggu, mending kita VOTE dulu yak wkwkkwkwkw