Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Suku Terkuat Bermata Biru II


__ADS_3

Benturan benturan keras terdengar disetiap sudut lembah merah saat pedang mereka beradu di udara. Dalam waktu singkat mereka sudah bertukar pulujan jurus.


Lingga terlihat terdesak menerima serangan serangan cepat Pendekar iblis petarung. Dia terpaksa menghadapi 2 pendekar Iblis petarung karena Sabrang tak sadarkan diri akibat serangan ditubuhnya.


"Kecepatan mereka benar benar tak masuk akal". Lingga terus berusaha mengimbangi serangan pendekar iblis petarung.


Dia memutar tubuhnya diudara sebelum melepaskan diri dari kepungan dua pendekar iblis petarung. Dia mengarahkan pedangnya kedepan dengan tangan kiri memegang punggung pedang. Lingga kembali bergerak dengan serangan yang lebih besar. Saat serangannya sudah mendekat Lingga merubah gerakannya.


"Jurus Pedang tunggal terbang kelangit". Dia memutar pedangnya kearah pendekar iblis petarug namun mereka sudah membaca gerakan Lingga melalui mata bulan. Pendekar itu bergerak satu detik lebih cepat dari gerakan Lingga dan melepaskan pukulan telak kepunggung Lingga.


Sementara kondisi Madrim sedikit lebih baik, dengan jurus api abadinya dia bisa sedikit mengimbangi musuh dihadapannya. "Tak kusangka mereka sehebat ini". Madrim benar benar takjub pada ilmu kanuragan iblis petarung.


Madrim menoleh kearah pertarungan Lingga dan mendapatkan Lingga semakin terpojok.


"Aku harus mencari cara agar mereka tidak keluar gua ini atau dunia persilatan akan kacau". Ucap Madrim dalam hati.


Madrim melepaskan aura yang lebih pekat, dia terlihat menarik pedangnya kesamping dan sedikit membungkukan tubuhnya.


"Jurus pedang pemusnah raga". Madrim menghilang dari pandangan dan muncul dibelakang salah satu pendekar iblis petarung. Dia mengayunkan pedangnya dengan cepat namun serangan pendekar lainnya lebih dulu menghantam tubuhnya. Tubuh Madrim terpental dan membentur dinding gua.


"Bagaimana dia bisa mematahkan jurus pemusnah raga dengan mudah". Madrim berusaha bangkit namun tiba tiba seseorang muncul dan mencengkram lehernya.


"Bagaimana kalian bisa begitu lemah". Ucap Pendekar iblis petarung itu pada Madrim. Lengan kirinya mengeluarkan kobaran api yang membentuk sebuah pedang.


Lingga berusaha membantu Madrim namun sebuah tusukan pedang lebih dulu menghujam tubuhnya. Dia terpental mundur dengan luka ditubuhnya.


"Mahluk lemah seperti kalian harus segera kusingkirkan". Pendekar itu mengarahkan pedang apinya ketubuh Madrim namun tiba tiba sebuah sabetan pedang mengarah padanya. Dia berniat menagkis serangan itu dengan tangannya namun tiba tiba dia mengurungkan niatnya dan melompat mundur. Dia melempar tubuh Madrim kebelakang dan memberi tanda pada yang lainnya untuk mendekat.


"Pusaka Dieng ya? Kalian seenaknya memakai pusaka milik orang lain". Pendekar itu mengusap darah dipipinya akibat sabetan pedang langit milik Kertasura.


"Bagaimana mungkin? aku yakin menyerangnya dengan jurus tingkat akhir". Kertasura menatap tajam pendekar berpakaian aneh yang terlihat baik baik saja setelah menerima serangan jurus pedang mengguncang langit tingkat 9 miliknya. Selama ini tak pernah ada yang selamat dari jurus andalannya itu.


Kertasura baru mengerti situasinya ketika melihat Lingga terluka parah.


"Ketua". Ucap Lingga dengan suara bergetar. Kertasura menatap 4 pendekar aneh yang kini terfokus padanya. Tak lama Suliwa muncul dari luar dan menatap bingung keempat pendekar yang semuanya bermata biru muda.


"Siapa mereka?". Suliwa mengernyitkan dahinya, dia merasa pernah melihat mata biru muda itu.


"Suku Iblis petarung, Suku kuno yang mendiami Dieng sejak jutaan tahun lalu". Madrim mengalirkan tenaga dalamnya keseluruh tubuh untuk menekan lukanya.

__ADS_1


"Iblis petarung?". Kertasura tersentak kaget. "Bukankah suku itu telah musnah jutaan tahun lalu?".


"Ceritanya panjang tuan, namun saat ini kita harus mencegah mereka keluar Dieng apapun caranya".


"Anda tuan Madrim? sang pendekar dalam legenda?". Suliwa memberi hormat.


"Tak perlu sungkan, saat ini yang terpenting adalah menyelamatkan anak pengguna Naga api itu dan mencegah mereka keluar dari Dieng". Ucap Madrim pelan.


"Sabrang terluka?". Suliwa tersentak kaget mendengar ucapan Madrim.


"Sudah saatnya". Salah satu pendekar iblis petarung berbisik pada temannya.


Temannya menganggukan kepalanya dan terlihat meraba dinding gua didekat pintu ruangan magma. Setelah memastikan sesuatu dia mengarahkan gagang pedangnya kearah dinding gua dan menghantamnya dengan keras.


Tak lama kemudian dinding gua dan tanah bergetar hebat.


"Lepaslah dan hancurkan semuanya". Pendekar itu tersenyum dingin.


"Apa yang dilakukannya?". Tanya Kertasura penuh waspada.


"Aku tidak tau namun sepertinya tidak baik". Madrim menoleh kearah Lingga yang terluka parah. Dia menggeleng pelan, posisi mereka saat ini tidak menguntungkan.


"Tuan, aku ingin meminta bantuanmu". Ucap Madrim pada Suliwa. Terlihat Madrim membisikan sesuatu pada Suliwa.


"Itulah satu satunya harapan kita, Aku yakin saat ini Naga api sedang berusaha memulihkan kondisi anak itu. Cepatlah sebelum terlambat, aku akan mencoba menahan semampuku". Madrim bersiap menyerang.


"Kalian pikir dengan kemampuan seperti itu bisa menahan kami? Saat ini prajurit abadi Dieng sedang bangkit dari tidur panjangnya. Tak akan ada yang bisa menghentikan Suku Hwuang ho mendapatkan pedang Megantara dan menguasai tanah bertuah ini". Setelah pendekar itu menyelesaikan perkataannya tubuhnya menghilang dan dalam sekejap muncul di hadapan Kertasura dan menyerangnya.


Kertasura kali ini terlihat lebih siap, dia memutar pedang langitnya dan mengayunkan kearah pendekar itu dan berhasil memaksa pendekar iblis petarung menghindar mundur.


"Tak kusangka gerakanmu sangat cepat, menarik!".


"Cepatlah, aku akan menahannya". Ucap Madrim sesaat sebelum dia ikut membantu Kertasura.


***


"Apa nenek merasakan gempa itu?". Raut wajah Mentari berubah setelah merasakan tanah bergetar. Dia merasa gempa tadi berbeda dengan yang sebelumnya.


Wulan sari mengangguk pelan, "Berhati hatilah, sepertinya akan terjadi sesuatu".

__ADS_1


Tak lama kemudian puluhan pendekar bermata hitam muncul dari luar gua dan langsung menyerang mereka berdua.


"Bagaimana mereka bisa muncul lagi? bukankah tuan muda sudah membakar semuanya".


"Sepertinya gempa tadi berhubungan dengan kemunculan mereka. Pertahankan tempat ini sekuat tenaga sampai Sabang kembali". Wulan sari langsung menyerang para pendekar itu.


****


Saat semua sedang bertarung, disuatu tempat di gerbang kedua sebuah pintu rahasia terbuka lebar. Ratusan bahkan ribuan pendekar bermata hitam keluar dari pintu rahasia itu. Mereka menyebar keseluruh Dieng untuk mencari mangsa.


****


"Anda yakin ini tempatnya?". Tanya Lembu sora pada Wardhana.


Wardhana mengangguk pelan sambil menatap gerbang pertama Dieng. Puluhan pasukan angin selatan yang dipimpin oleh Kertajaya berjajar rapi dibelakang Wardhana.


"Sebelumnya ada yang ingin aku katakan pada kalian terlebih dulu. Firasatku mengatakan tempat ini sangat berbahaya dan aku tidak menjamin keselamatan kalian. Setelah aku membaca kembali catatan yang ditinggalkan tetua Wulan sari mengenai Dieng, aku yakin ada mahluk mengerikan di dalam sini. Yang mulia Raja pasti ada didalam bersama nona Mentari dan tugasku adalah melindungi Yang mulia raja walau nyawa taruhannya. Jika ada yang ingin mundur sekaranglah saatnya, aku tidak akan memaksa kalian menempuh bahaya bersamaku". Ucap Wardhana pelan.


"Mohon maafkan kami tuan Adipati, Sejak kami berikrar sumpah setia pada Kerajaan Malwageni sejak saat itu nyawa kami milik Malwageni. Mohon ijinkan kami ikut melindungi Yang mulia Raja". Kertapati dan seluruh pasukan angin selatan serentak berlutut dihadapan Wardhana.


"Terima kasih". Ucap Wardhana penuh haru.


"Maaf kami terlambat". Nilam sari bersama puluhan murid sekte kencana ungu muncul tiba tiba.


"Terima kasih nona, maaf merepotkan kalian". Wardhana menundukkan kepalanya memberi hormat.


"Tak perlu sungkan tuan Adipati, Tuan Sabrang telah menyelamatkan sekte kami dari cengrkaman Lembah tengkorak (Baca Chapter 36 : Sekte Kencana Ungu). Kami banyak berhutang budi padanya". Ucap Nilam sari.


"Bahadur pun tak akan tinggal diam jika memang tuan Sabrang dalam bahaya". Bahadur berjalan bersama puluhan murid sekte Kelelawar hijau dan memberi hormat pada Wardhana.


Wardhana terlihat menoleh kesegala arah seperti mencari sesuatu. "Sekte Rajawali Emas tidak mengirim utusan? atau pesanku yang tidak sampai pada mereka". Gumam Wardhana dalam hati.


Wardhana terlihat menarik nafas panjang. "Terima kasih karena sudi membantu kami. Menurur catatan leluhur Tertatai merah yang kubaca, sesuatu yang jahat sedang berusaha keluar dari tempat ini dan aku ingin memastikan mereka tetap terkubur didalam tempat ini. Ayo kita masuk". Ucap Wardhana sambil melangkah masuk ke gerbang pertama Dieng.


"Kau tidak ingin menungguku tuan Adipati?". Suara seseorang mengagetkan Wardaha.


"Ah tuan patih, maaf aku mengirim pesan tiba tiba". Wardhana menundukan kepalanya memberi hormat pada Wijaya.


"Tak perlu sungkan, keselamatan Yang mulia Raja diatas segalanya. Jadi inilah gerbang masuk Dieng?". Tanya Wijaya.

__ADS_1


Wardhana menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, mari selamatkan Yang mulia Raja".


__ADS_2