
"Hei nona mau sampai kapan kau akan tidur terus" Sabrang membangunkan Mentari dari tidurnya. Mentari membuka matanya, wajahnya memerah seketika karena wajah Sabrang hanya beberapa inci di wajahnya.
"Tu.... tuan Muda apa yang anda lakukan?" Mentari melengos kesal karena kali ini Sabrang menggodanya untuk kesekian kalinya.
Sabrang tertawa puas melihat tingkah Mentari yang selalu marah setiap kali dia membangunkannya.
"Kau selalu marah saat ku bangunkan" Sabrang menatap Mentari yang masih menampakan wajah kesal.
"Dasar bodoh!!!" Mentari mengumpat dalam hati.
"Aku akan mencari makanan, tunggulah sebentar". Sabrang bangkit meninggalkan gua tempatnya menginap bersama Mentari. Sudah berhari hari mereka berjalan sejak meninggalkan sekte Kencana Ungu namun belum melihat tanda tanda keberadaan pemukiman.
Mereka terpaksa menginap di gua yang mereka temui sepanjang perjalanan.
Mentari kembali mengingat pertemuannya dengan Sabrang pertama kali, terlihat wajahnya makin memerah. Dia tak menyangka pemuda yang membantunya lepas dari cengraman Kalajengking hitam adalah seorang Pangeran Malwageni.
Tak lama Sabrang sudah kembali membawa dua ekor kelinci di tangannya. Dia menyerahkan pada Mentari untuk diolah menjadi makanan. Tak lupa kembali dia menggoda Mentari yang membuat Wajahnya kembali memerah.
Setelah mereka makan Sabrang kembali berlatih ilmu tenaga dalam. Dia mengingat dengan jelas tak bisa berbuat apa apa di hadapan Dayun dari Sekte Iblis Pedang. Dia harus terus bertambah kuat.
Setelah di rasa cukup dia membuka matanya, terlihat tangannya dilapisi Es tipis yang tak lama kemudian mencair.
"Ah tenaga dalam ku masih kurang, aku harus terus berlatih" Gumamnya. Tak jauh dari tempatnya bermeditasi terlihat Mentari sedang berlatih pedang.
"Kemampuan dasar pedangmu sudah mulai terlihat, kau hanya perlu membiasakan dengan berlatih. Aku akan mengajarimu ilmu Pedang Api Abadi jika tenaga mu sudah dirasa cukup".
Mentari mengangguk pelan, dia memang meminta Sabrang mengajarinya ilmu bela diri agar bisa menjaga dirinya.
"Tuan sudah berhari hari kita berjalan, namun belum terlihat sebuah desa sekalipun. Apa tidak sebaiknya kita mengubah arah?".
Sabrang menggeleng pelan, dia yakin arahnya benar karena menurut Mantili arah bukit cetho memang kearah yang mereka tuju.
"Tidak nona kita harus berjalan terus kedepan, aku yakin arahnya benar".
.............................
"Mau lari kemana kau nona manis, percuma saja kau berlari kami pasti akan menangkapmu". Terdengar suara tertawa bengis dari beberapa pendekar yang sedang mengejar seorang wanita.
Wanita tersebut berlari sekuat tenaganya, matanya meneteskan air mata. Dia berlari seperti kesetanan tanpa melihat kebelakang. Wajahnya pucat karena ketakutan. Dia sadar jika para pendekar tersebut berhasil menangkapnya maka itu akhir hidupnya.
__ADS_1
Tak ingin sedikitpun dia membayangkan jika tertangkap oleh mereka.
Makin lama jarak antara dirinya dengan para pendekar yang mengejarnya semakin dekat. Dia merasa sangat putus asa dan ingin menangis sekeras kerasnya.
Saat harapannya hampir sirna dia melihat seorang wanita sedang berlatih ilmu Pedang. Muncul kembali semangatnya yang sempat hilang.
Dia berlari sekuat tenaga kearah wanita tersebut. Mentari yang sedang berlatih pedang menyadari kedatangan wanita tersebut dan terkejut melihat pendekar yang mengejar dibelakangnya.
"Nona pendekar tolong bantulah aku" Wanita tersebut bersembuyi dibelakang Mentari.
"Siapa mereka nona?" Mentari memegang pedangnya dalam posisi siaga. Belum sempat wanita tersebut menjawab para pengejar sudah berada dihadapan Mentari. Mereka tersenyum licik.
"Tak kusangka hari ini kita bisa mendapatkan dua gadis cantik tuan" Salah satu pendekar berkata pada temannya.
"Wanita ini lebih cantik, dia bagianku". pria tersebut mendekat namun tetap mejaga jarak karena Mentari mengayun ngayunkan pedangnya kearah pria tersebut.
"Jatuhkan pedangmu nona, ikutlah dengan kami baik baik".
"Jangan bermimpi kau, pergilah sebelum membuatku marah" Mentari menggertak para pendekar dihadapannya. Jantungnya berdeguk kencang, dia sadar bukan tandingan mereka. Mentari memang diajari Ilmu pedang oleh Sabrang namun dia baru belajar beberapa hari.
Mereka tertawa mengejek mendengar ancaman Mentari, sedangkan wajah Mentari dan wanita itu berubah pucat.
"Dimana Pangeran bodoh itu, kenapa saat seperti ini dia menghilang" Dia menatap wanita dibelakangnya kemudian berbisik "Larilah, aku akan memancingnya".
Wanita tersebut menggeleng, dia tidak ingin Mentari tertangkap sedangkan dia selamat. Dia memungut sebuah ranting dan siap menyerang bersama Mentari.
"Baiklah majulah kalian berdua" Pria tersebut maju menyerang Mentari dan wanita yang ada disampingnya.
Mentari mengayunkan pedangnya namun dapat dihindari dengan mudah oleh pendekar tersebut. Pendekar lainnya ikut menyerang dan menangkap wanita yang dikejarnya dengan mudah.
Wanita tersebut meronta namun cengkraman pria tersebut terlalu kuat.
Mentari mundur beberapa langkah dia terlihat bingung menghadapi situasi ini. Dia menggigit bibirnya, tangannya gemetaran memegang pedang, matanya hampir meneteskan air mata saking takutnya.
"Baiklah nona pintar serahkan pedangmu dan menyerahlah". Seorang pendekar mencoba membujuknya.
"Menjauh darinya" Sabrang muncul tiba tiba dari belakang mereka.
Mereka menoleh kearah Sabrang dengan wajah kesal "Pergilah nak tidak usah ikut campur, Anggap kau tidak melihat apa apa".
__ADS_1
Belum selesai pendekar tersebut bicara tubuh Sabrang sudah ada dihadapannya.
"Tapak Dewa Es Abadi" tubuh pendekar tersebut terpental mundur. Sebagian tubuhnya diselimuti Es.
"Cepat sekali" Salah satu temannya mengambil sikap siaga melihat gerakan cepat Sabrang.
"Serang dia" Pendekar tersebut memberi perintah. Mereka bergerak bersama mengepung Sabrang.
Sabrang memegang pedangnya, tiba tiba tubuhnya menghilang dari hadapan para pendekar yang mengepungnya.
"Tarian Rajawali" Tiba tiba tubuh para pendekar tersebut roboh sektika. Mereka tak sadarkan diri terkena hantaman sarung Pedang milik Sabrang.
"Kau tidak apa apa nona?" Sabrang mendekati Mentari yang masih syok atas kejadian tadi.
Mentari mengangguk pelan, dia merasakan kelegaan setelah melihat Sabrang ada disisinya.
Setelah berhasil menguasai keadaan Mentari berjalan ke arah wanita yang berada tak jauh darinya. Wanita tersebut mematung melihat kehebatan ilmu pedang Sabrang.
"Anda baik baik saja nona? Siapa mereka".
........................
"Oh jadi ini wilayah Sekte Serigala hitam?" Wanita tersebut mengangguk pelan. Dia masih mengeluarkan air matanya menceritakan kejadian yang dialami Desanya.
Dua hari lalu desanya di Serang kelompok Serigala hitam, semua wanita yang ada di sana dibawa oleh mereka. Hanya Gayatri yang berhasil melarikan diri. Namun tempat persembunyiannya ditemukan dan dikejar sampai Sabrang menyelamatkannya.
"Aku mohon tuan bantulah desa kami, ku lihat kemampuan Pendekar sangat tinggi" Gayatri berlutut memohon.
Mentari terlihat menggeleng memberi tanda agar Sabrang menolaknya.
"Baiklah nona aku akan coba membantumu, seberapa jauh letak desamu dari sini?".
"Setengah hari perjalanan tuan" Wajah Gayatri berbinar mendengar Sabrang bersedia membantunya.
"Mari tunjukan jalannya nona" Sabrang memberi tanda Mentari untuk bersiap siap.
"Tuan harus berhati hati, ini sudah masuk wilayah sekte aliran hitam jangan sampai mereka mengetahui identitas tuan yang berasal dari alirah putih, akan sangat berbahaya". Mentari berbisik memperingatkan Sabrang.
Sabrang mengangguk pelan dan mengacak acak rambut Mentari.
__ADS_1
"Tenang saja nona kita hanya perlu berhati hati" Kembali terlihat wajah mentari memerah.